40 MITOS SERAM DI INDONESIA

40 MITOS SERAM DI INDONESIA
Lintasan Kereta Api Bintaro


__ADS_3


Kisah 19 Oktober 1987 yang merenggut ratusan jiwa pastinya tak bisa terlupakan dengan mudah begitu saja. Tragedi ini dikenal dengan Tragedi Bintaro. Kecelakaan kereta api di kawasan Pondok Betung Bintaro, Jakarta Selatan adalah tragedi terburuk sepanjang sejarah perkereta apian di Indonesia.


Kecelakaan yang terjadi antara dua kereta api dengan nomor kereta KA 255 (Rangkasbitung–Jakarta) dan KA 220 (Tanah Abang – Merak) memakan korban ratusan orang tewas dan luka-luka. Suara benturan sangat kencang, asap hitam mengepul dan banyak mayat-mayat begelimpangan, sebagian dalam keadaan tidak utuh. Bau darah anyir memenuhi udara. Tubuh-tubuh yang lain terjepit di antara besi-besi, sebagian masih hidup.

__ADS_1


33 tahun setelah kejadian ini, banyak orang yakin banyak penampakan terjadi di area ini. Mahfud, warga yang tinggal bertahun-tahun di daerah ini mengaku sering melihat organ tubuh tak bertuan, yang senantiasa menampakkan diri yang membuat suasana diareal lintasan kereta tersebut menjadi kawasan angker.


Di lintasannya sendiri juga sudah berulang kali terjadi kecelakaan yang memakan korban nyawa. Konon, lintasan ini dianggap angker karena sering terdengar suara orang menangis dan menjerit.


Imam, teknisi rel yang bekerja sejak tahun 1996 pernah melihat makhluk yang wujudnya seperti orang berbalut sarung hitam. Meski kereta sudah bolak-balik lewat melindasnya, makhluk ini tak mau pergi seperti sengaja meledek. Akhirnya di rel tersebut diadakan pemotongan kerbau. Ia juga pernah bertemu makhluk serupa perempuan Belanda dizaman kolonial dan melintas di rel.

__ADS_1


Peristiwa itu mengingatkan Mahfud pada tragedi yang pertama. Sehari sebelum tragedi itu terjadi, ia melihat penampakan anak kecil yang bermain di rel. ”Sudah sering di sini kecelakaan. Mulai dari motor keserempet, Metro Mini lah. Nah yang terbesar kan Tragedi Bintaro I, kalau dulu jam 07.15 hari Senin pagi. Dan yang kedua kan Senin juga, cuma siang jam 11.15 WIB,” ungkap Mahfud yang mengaku duduk di kelas 2 SMP saat Tragedi Bintaro I terjadi.


Dirinya juga berujar, di usia 13 tahun ia sudah harus melihat jenazah dievakuasi ke rumahnya saat Tragedi Bintaro I. Tak kalah penting juga saat Tragedi Bintaro II terjadi, dirinya juga membantu evakuasi korban dari dalam gerbong dan melihat jatuhnya korban.


Ada yang menarik yang diceritakan Rojak (91) yang tidak lain adalah ayah Mahfud. Kata Mahfud, ayahnya mengatakan, dalam sejarah kecelakaan besar kereta yang terjadi, peristiwa Pondok Betung adalah tragedi yang kali ketiga. Menurutnya, sebelum Tragedi Bintaro I, ada kecelakaan kereta pada 1948 yang menewaskan para pejuang dari Banten. Namun saat itu berbeda, para pejuang tersebut sedang menuju markas para penjajah Belanda. ”Persisnya pembantaian ya. Ada pejuang dari Banten naik kereta semua (menuju) ke markas Belanda yang kini jadi Stasiun Kebayoran Lama atau Tangsi. Ditembakin di sepanjang jalan perlintasan sini. Nggak ke ekspose aja,” cerita Mahfud.

__ADS_1


Setelah itu, jenazah para pejuang tersebut dibiarkan terlantar dan tidak langsung dimakamkan. ”Jenazah itu tergeletak di sepanjang rel dari Bintaro ke Pondok Betung. Dulu, rel kereta api itu posisinya di bawah rumah,” ujar Mahfud menirukan cerita pria kelahiran 1922 itu.


nah guys serem kan mendengar kejadian kejadian di lintasan ini jadi kejadian nya terjadi 2 kali pada tahun 2013 dan tahun 1987. kalau gitu sampai jumpa di mitos mitos lainya


__ADS_2