
"Haa! Jika seperti iko kita akan merugi!". Angku yang naik pitam.
"Tapi Angku... kualitas padi sawah dari Desa Rangkiang yang bagus banyak peminatnyo."
"Pokoknya awak tak mau tau, gagalkan hasil panen sawah mereka!"
"Tapi Angku..?"
"Cepat!" Angku dengan membentaknya.
Keempat anak buah Angku pun langsung pergi untuk memikirkan caranya menggagalkan hasil panen desa Rangkiang.
"Gimana caranyo?" Tanya Ubel.
"Mana awak tau?" Jawab Anwir.
"Bagaimana kita datang langsung ke sungai, tutup alirannyo biar sawah mareko gagal panen!." Brone memberi ide.
"Wah... Bagus tu, besok kita bawa kayu!." Anwir menyuruh untuk membawa kayu.
"Awak takut nantinyo ketahuan." Jolon ragu-ragu.
"Alah... Kau tu penakut kali, tenang sajo kita kerjakannyo malam hari biar warga desa Rangkiang tak tau kita akan menutup aliran sungai ke sawahnyo." Jawab Anwir.
***
Malam besoknya mereka mulai melancarkan rencana jahatnya untuk menutup aliran sungai.
Mereka menuju sungai dan melihat-lihat untuk memantau kondisi sekitarnya, merasa cukup aman dari orang-orang, mereka langsung memasukan kayu-kayu pohon yang sudah mereka kumpulkan kedalam sungai untuk membendung aliran sungai.
"Coba kau tengok, aman Lon?" Tanya Anwir.
"Iyo aman, sepi." Jawab Jolon.
"Jom kita mulai angkat kayu-kayu tu!"
Satu persatu kayu pohon yang masih utuh ditancapkan kedalam sungai.
"Uhh... Berat!"
"Yo! Ciek... Duo.. Tigo..." Mereka bergotongan membawa kayu pohon untuk membuat sebuah bendungan.
Setelah itu mereka selesai membendung aliran sungai kini harus menunggu hasilnya.
"Bron, kau ambil juga batu-batuan tu buat tahan kayunyo!"
"Iyo!."
Akhirnya mereka selesai mengerjakan rencananya, mereka langsung bergegas ke juragan Angku untuk melaporkan rencana mereka.
Setelah tiba dikediaman juragan Angku.
"Lapor, kita sudah lakukan pekerjaan yang Angku perintah."
"Kalian lakukan apo?"
"Kami tutup aliran sungainyo yang biasa mengaliri sawah milik warga Rangkiang."
"Hoo... Bagus! Sekarang kalian dapat upah tambahan."
"Eh.. yang benar Angku?"
"Iyo, kalian kerjanyo sangat bagus! Awak tak pernah memikirkan cara licik seperti itu!".
Angku memberi masing-masing beberapa kantung beras dan beberapa ayam untuk keempat anak buahnya.
"Ehehe.... Terima kasiah Angku." Ucap Anwir.
"Terima kasiah nih Angku." Ucap Brone.
"Biasanyo kita hanya dapat sekantung beras, ini dapatnyo banyak." Ubel kaget mendapat beras yang tidak biasanya.
"Akhirnyo bisa makan puas." Jolon menghayal bisa makan sampai kenyang dan puas.
"Iko karena kalian sudah bekerja dengan baik."
Setelah itu, juragan Angku dan para anak buahnya segera menuju sawah miliknya untuk memantau keadaan padi-padi di sawah, karena sebentar lagi akan datang masa panen.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Anwir dan Ubel ingin memeriksa bendungan yang mereka buat.
Dari kejauhan ada seorang anak laki-laki yang sedang mengangkat kayu-kayu yang menutup aliran sungai, mereka segera menghampiri anak itu.
Setelah mereka menghampiri anak itu, Anwir menegurnya dan menyuruh anak itu pergi dari dari sungai.
Anak laki-laki itu akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apo budak tu penduduk dari desa Rangkiang?" Ubel bertanya.
"Mana awak tahu?! Mana tu harimau seram kali sampai awak takut diterkam.". Jawab Anwir. "Sudahlah jom pergi!"
Jolon dan Brone yang masih ada di sawah milik juragan Angku sedang menjaga padi-padi di sawahnya tidak dimakan oleh burung - burung.
Tidak lama juragan Angku menghampiri Jolon dan Brone untuk menanyakan keberadaan Anwir dan Ubel.
"Lon.. kemana Anwir dan Ubel?"
"Waduh... awak tak tahu?, kita dari tadi disini, Angku."
"Tadi awak lihat mereka pergi ke arah sungai." Jawab Brone.
Tidak lama kemudian, Anwir dan Ubel datang. Mereka berdua ingin melaporkan situasi terbaru yang baru dilihatnya.
"Patani desa Rangkiang sepertinyo akan kesusahan air, tidak lama lagi padi-padi mereka akan mati, akhirnyo gagal panen." Ucap Ubel.
"Awak habis pantau keadaan di sana, tadi ada budak sempat ambil kayu-kayu yang menutup aliran sungai." Anwir menceritakan yang baru Ia alami. "Awak langsung ancam tu budak!"
"Hahaha..."
"Hahaha... kejam kali kau!"
Mereka pun tertawa setelah mendengar ceritanya.
Namun Angku yang mendengar cerita mereka berdua mencurigai nanti akan adanya saksi mata yang mengetahui dan bisa melaporkan kepada warga Rangkiang.
***
Hari berikutnya, Anwir, Ubel, Brone dan Jolon ingin pergi melihat keadaan sungai dan mereka akan berangkat pada malam harinya. Sebelum itu mereka berpamitan kepada juragan Angku.
Mereka pun berangkat menuju sungai yang mereka sudah bendung dengan kayu-kayu yang mereka pasang di sana.
Mereka berdua ditegur oleh Anwir dan mengancamnya sehingga akhirnya orang yang barusan ingin membersihkan sungai dari kayu-kayu dan batu yang menyumbat aliran air pergi meninggalkan sungai.
"Loh.. tengok tu budak yang pernah kita ancam kemarin?" Ubel bertanya kepada Anwir.
"Iyo, budak tu mungkin mengadu ke apak-nya." Ucap Anwir. "Jom, kita angkat lagi kayu-kayu-nyo!"
Mereka berempat kembali menaruh kayu-kayu yang sebelumnya sudah diangkat keluar dari dalam sungai.
"Akhirnyo selesai, jom kita pulang!"
Setelah jauh berjalan Jolon mengungkapkan perasaan kecemasannya.
"Awak khawatir nanti mereka melaporkan ke warga."
"Tak usah kau pikirkan, Lon!" Jawab Ubel. "Kita aman tenang sajo!"
Mereka pulang kerumah masing-masing untuk beristirahat.
***
Pagi harinya Jolon ingin menemui juragan Angku dan memberitahukan bahwa dirinya akan berhenti dari pekerjaannya.
Ia pun langsung menuju tempat kediaman juragan Angku. Setelah tiba di kediaman juragan Angku, Jolon mengetuk pintu.
*Tok* *tok* *tok*
"Angku... Angku..?"
"Iyo.. Iyo.." Juragan Angku membuka pintunya. "Eh... ada apa, Lon?"
"Iko, awak mau berhenti kerja."
"Loh kenapo?" Juragan Angku pun bertanya kenapa Jolon ingin berhenti bekerja. "Upah kau kurang?"
"Bukan, awak sudah tak mau bekerja macam iko lagi, awak takut..."
Jolon ingin berhenti bekerja karena takut nanti terseret dalam kejahatan yang mereka telah lakukan.
__ADS_1
*Hahh!!* "Kau tu penakut s'kali! Jangan berhenti kerja dulu! Tunggu sampai panen depan!"
"Tapi Ngku..."
*Husha* "Ndak ada tapi - tapi!"
Jolon pun tidak jadi untuk berhenti dari pekerjaannya dan harus melakukan pekerjaan sampai panen di sawah milik Juragan Angku.
"Yah... gagal!" Jolon pun kecewa dan pergi ke sawah milik juragan Angku.
Setibanya di sawah, Ia melihat Ubel, Anwir dan Brone sedang keliling memantau dan menjaga sawah milik juragan Angku.
Mereka berbincang-bincang tentang rencana selanjutnya dan akan merusak sawah milik para petani desa Rangkiang.
Jolon yang mendengar hal itu tidak ingin ikut kedalam rencana mereka bertiga, namun nasi sudah menjadi bubur, Ia sejak awal sudah mengikuti rencana Jahat yang mereka perbuat.
***
Malam pun tiba. Anwir, Brone dan Ubel akan segera melancarkan rencananya, namun Jolon terlambat datang ditempat seperti biasanya.
Akhirnya mereka hanya bertiga saja yang pergi, Jolon tidak ikut karena terlambat datang pada malam itu.
Mereka bertiga sudah berada di sawah milik warga desa Rangkiang dan akan segera merusak lalu mengobrak-abrik.
Setelah mengobrak-abrik sawah yang dimana padi-padinya sudah mulai menguning, mereka bertiga memutuskan untuk pulang karena kelelahan.
***
Keesokan paginya, para penduduk yang ingin menuju ke sawah kaget setelah melihat sawahnya rusak berantakan seperti ada yang merusaknya.
....
Singkat cerita, Jolon yang mendengar cerita Brone bahwa mereka bertiga telah merusak sawah milik orang lain, Ia segera melihat secara langsung ditempat kejadian.
Jolon pun pergi kedesa Rangkiang untuk melihatnya, setibanya didesa Rangkiang Ia pun melihat sawah-sawah milik petani rusak bak diterjang badai.
Jolon melihat ada seorang anak yang pernah diceritakan oleh Anwir bahwa anak itu memiliki seekor harimau bersamanya.
Ia menghampiri anak tersebut dan ingin memberitahukan kepadanya tentang perusakan sawah milik warga, Jolon mulai mendekati ke anak itu.
"Hei... sanak mau tau siapo pelakunyo?" Jolon berbisik-bisik. "Kasih tau kesemua orang suruh datang ke sungai malam iko!"
Anak itu mendengarkannya, lalu tidak lama Ia menyampaikannya kepada warga untuk datang ke sungai pada malam harinya.
***
Malam pun tiba, Anwir, Ubel, dan Brone yang sedang bersenda gurau di gubuk, tidak lama Jolon datang dan memberikan informasi bahwa kayu-kayu yang membendung sungai telah bergeser dan tidak lama lagi akan rusak.
Mereka berempat bergegas menuju aliran sungai, dan benar saja mereka mendapati kayu-kayu itu telah berpindah tempat dan mulai bocor, tidak lama lagi sungainya akan kembali mengalir ke sawah milik petani desa Rangkiang.
Akhirnya mereka membetulkan kembali bendungan agar kayu-kayu bendungan itu mampu menahan aliran sungai.
Tidak lama kemudian, beberapa orang dari desa Rangkiang mendatangi sungai itu dan melihat empat orang yang sedang melakukan sesuatu di aliran sungai.
Karena dicurigai oleh beberapa warga, mereka berempat pun melarikan diri, namun karena mereka berempat larinya lambat apalagi Jolon yang memiliki badan besar membuatnya kesulitan untuk berlari cepat.
Mereka berempat pun akhirnya tertangkap oleh para warga, warga yang sempat emosi pun memukuli keempat orang itu, setelah itu para warga membawa keempat orang itu ke balai desa Rangkiang untuk diintrogasi.
Setelah mereka membawa keempat orang itu, tibalah di balai desa Rangkiang, satu persatu orang itu di ajukan pertanyaan, apakah mereka yang merusak sawah para warga?, dan siapa yang menyuruh mereka.
Namun Anwir, Ubel, Brone dan Jolon sama sekali tidak mau menjawabnya pada malam itu, akhirnya warga membiarkan mereka tetap di balai desa semalaman dan akan dilanjutkan pada keesokan paginya.
"Onde Mande.... kenapo pula ketahuan..." ucap Brone.
"Yah... kabaji nian!" Anwir bergumam.
*Higs..higs* Ubel sedang menangis.
Namun Jolon disitu berbeda dengan ketiga temannya itu, dia merasa tenang.
***
Keesokan paginya, semua warga berkumpul dibalai desa Rangkiang, Pak Itang sebagai penghulu desa akan memberikan pengumuman kepada orang-orang desa Rangkiang, hukuman apa yang pantas untuk keempat orang tersebut.
Mereka pun berembuk untuk memberi hukuman yang pantas dan setimpal kepada para perusak sawah milik warga.
Namun, Pak Itang mengusulkan untuk membebaskan keempat pelaku perusakan sawah, tanpa harus meminta pertanggung jawaban.
Para warga tak terima atas keputusan Pak Itang yang harus melepaskan begitu saja tanpa memberi pelaku hukuman.
__ADS_1
Anwir, Brone, Ubel dan Brone dilepaskan ikatan talinya oleh para warga, mereka berempat akhirnya bisa pulang tanpa harus menanggung hukuman.