
Ini kisah, Fey. Gadis berusia 17 tahun yang hidupnya sedang menggebu-gebu. Berawal dari menyukainya dalam diam hingga membunuh yang ia kagumi dalam diam.
Semua itu berawal dari sini, Agravi Residen. Perumahan elit tempat tinggal Agna. Laki-laki itu bernama Cavero, si laki-laki pintar yang hobinya belajar. Badannya lebih tinggi dari Fey, kulitnya berwarna sawo matang. Terkadang dia terlihat dingin dan kaku, terkadang juga ia terlihat ramah kepada semuanya. Dia terlalu murah senyum kepada semua orang, sehingga membuat perempuan terpikat padanya. Termasuk Fey.
Fey menyukainya sejak 2 tahun yang lalu, saat pertama kali Fey datang ke tempat ini. Awalnya Fey datang ke tempat ini dengan tujuan hanya untuk menghampiri temannya yang bernama Agna. Tapi entah bagaimana ceritanya Fey malah terpikat pada Cavero yang notabene adalah sepupu Agna. Hari ini Fey memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Cavero. Iya hari ini, mungkin jika melihat sinetron di televisi atau membaca novel romansa, kisah cinta semacam ini akan berjalan mulus. Tapi entah dengan kisah cinta mereka.
Fey duduk di tepi ranjang sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Ia sedang merangkai kata untuk di ucapkan pada Cavero nanti. Sebenarnya ia berniat menghubunginya lewat DM, karena gadis ini tak memiliki nomor ponselnya. Selain alasan itu, Cavero sebenarnya tidak mengenal Fey. Jadi sekalipun ia bertemu dengannya, Cavero tidak akan tau siapa itu Fey.
"Perkenalkan diri dulu, habis itu misi dan visi kehidupan. Pake biodata gini aneh ngga sih?" gumamnya,
Fey menampar dirinya sendiri, "Lu tuh mau menyatakan perasaan buka ngelamar pekerjaan" ujarnya,
Gadis ini menghapus semua pesan yang sudah ia ketik, ia mengurungkan niatnya untuk mengirimkannya pada Cavero. "Follow dulu aja habis itu minta follback" ujar Fey,
Pada akhirnya Fey mengikuti akun Instagram milik Cavero, gadis ini juga mengirim DM padanya agar akunnya di ikuti kembali oleh Cavero. Rencana Fey, ia akan menghubungi Cavero lewat sosial media dahulu, kalau Cavero sudah merasa nyaman baru ia akan beralih ke WhatsApp.
"Fey, ada Agna ni" Seru eyang putri dari luar kamar Fey,
Gadis itu terkejut, bukan karena suara Eyang melainkan karena kedatangan Agna yang tiba-tiba. Biasanya sebelum Agna datang ia akan memberitahukan kepada Fey terlebih dahulu. Walaupun sebenarnya tidak masalah, Agna sudah terbiasa ada di sini, tidak terlalu penting apakah dia kesini dengan memberi tahu pada Fey terlebih dahulu atau tidak.
Agna menampakan senyumnya saat Fey sudah berada di hadapannya. Gadis aneh. Sungguh tidak biasanya ia begini, ia tidak pernah senyum begitu pada Fey. Senyuman Agna ini memiliki makna ganda. Yang pertama ia tersenyum memang karena ingin, yang kedua ia tersenyum untuk menyembunyikan sesuatu agar terlihat natural dan biasa saja. Gadis ini lupa kalau Fey sudah berteman dengannya selama lebih dari 3 tahun lamanya.
Fey duduk di sebelah Agna, satu alisnya terangkat, gadis ini masih heran dengan kedatangan Agna yang tiba-tiba.
"Gue dapet lowongan" Ucap Agna,
Dari nadanya Agna sudah terlihat aneh, Fey mencoba untuk mengikuti permainan yang Agna lakukan. Urusan cari tahu belakang saja, karena Fey yakin maksud Agna pasti baik. Agna tidak mungkin berniat jahat padanya.
"Oh iya? Lowongan apa?" Tanya Fey, dengan ekspresi yang di buat-buat.
"Pokoknya lu ikut gue"
Fey mengangguk, "Oke gue ikut, bentar ya"
Gadis itu berjalan ke kamarnya, mengambil sling bag dan ponselnya. Walaupun masih ragu dengan lowongan pekerjaan yang Agna katakan. Tapi tidak apa. Fey percaya pada Agna, tidak mungkin sahabatnya itu menjualnya ke Om-om hidung belang. Atau menjualnya ke bandar perdagangan manusia.
"Ayo berangkat" Ajak Fey,
Agna langsung berdiri, dengan semangat 45 tak lupa juga ia berpamitan pada eyang lalu keluar dari rumah Fey. Perasaan Fey mendadak jadi campur aduk. Melihat Agna tersenyum sinting, hal itu semakin menguatkan pikiran negatif Fey.
"Sebenernya kita mau kemana sih?" Tanya Fey,
Agna menghela nafasnya, "Lu percaya aja sama gue. Gue yakin habis ini lu pasti seneng banget" ujar Agna sambil melayangkan kakinya melewati atas jok motornya lalu mendarat di bawah pijakannya.
__ADS_1
Fey mengangukan kepalanya sebagai jawaban. Mereka berdua naik motor, dan Agna yang menyetir. Tentu saja Agna, kalau Fey yang menyetir bisa-bisa mereka berakhir di selokan. Itu bisa saja terjadi, karena Fey tidak bisa mengendarai sepeda motor. Gadis ini pernah mengendarai motor namun ia terjatuh, alhasil gadis ini menjadi takut jika di suruh mengendarai motor.
Di sepajang perjalanan mereka diam, Agna fokus menyetir, sedangkan Fey sibuk mengendalikan pikirannya yang sudah terbang jauh sampai ke Paris. Fey menyeritkan dahinya ketika jalan yang mereka lalui adalah jalan ke rumah Agna.
Gadis ini mendekatkan dirinya agar Agna bisa mendengar suaranya. "Na, lu ngga salah jalan?" tanya Fey,
Agna hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum lebar di balik maskernya. Walaupun Fey tidak tau apa maksud Agna, gadis ini yakin Agna merencanakan sesuatu di rumahnya.
Sesampainya di rumah Agna, Fey langsung dibawa ke lantai dua oleh Agna. Mereka sempat berpapasan dengan Ibunda Agna, Fey menyapanya namun Agna segera menarik Fey begitu saja. Terlihat ekspresi tidak enak dari Ibunda Agna, wanita itu sepertinya tidak menyukai kehadiran Fey.
Saat Fey dan Agna sampai di lantai dua, tiba-tiba saja Fey berhenti melangkahkan kakinya. Hal itu membuat Agna menabrak tubuh Fey. "Lu ngapain dah?" tanya Agna, lalu gadis ini berjalan melewati Fey yang tengah mematung.
Fey terkejut bukan main saat melihat seorang laki-laki bernama Cavero duduk di teras lantai dua dengan balutan baju hitam. Laki-laki itu saat ini tengah bersama buku-buku kesayangannya. Fey terdiam, kedua bola matanya sibuk mengabadikan penampakan Cavero yang membuat jantungnya maraton dua kali lipat.
Agna menoleh ke arah Fey, sudah ia duga Fey pasti diam di depan Cavero seperti orang tak pernah bertemu manusia. "Ehem"
Fey menoleh ke arah Agna, gadis ini tersenyum tanpa alasan. "Ada apa?" tanya Fey,
Agna menaruh buku yang ia pegang di meja dekat Cavero, "Baca gih, biar ngga bosen. Gue mandi dulu" karang Agna,
"Eh, Na"
Agna berhenti melangkahkan kakinya, "Ape?"
"Iyalah masa di kandang kuda, mau jadi jerami lu? Udah, baca aja di situ sekalian cuci mata" jawab Agna blak-blakan.
Cavero menaikan alisnya, ternyata laki-laki ini sedari tadi mendengarkan apa yang Fey dan Agna katakan. Namun bukannya marah atau bertanya maksud perkataan Agna, laki-laki itu malah menyuruh Fey duduk di sebelahnya. Dia tidak tau, hanya dengan menganggap Fey ada, Cavero sudah membuat Fey menaruh harapan padanya. Sesimpel itu.
Fey duduk di sebelah Cavero, ia membuka buku yang Agna suruh untuk dibacanya tadi. Gadis ini sebenarnya tidak membacanya, ia hanya memegang buku dan membolak-balikkan halaman agar terlihat sedang membaca.
"Baca bukunya jangan kebalik, nanti pusing" Ucap Cavero,
Pipi Fey memanas saat telinga Fey menangkap suara maskulin milik Cavero. Fey ingin berteriak jika tak ada orang di sekitarnya saat ini. Rasanya seperti mimpi, laki-laki yang selama dua tahun lamanya ia sukai dalam diam akhirnya mengajaknya mengobrol.
"Namamu siapa?" Tanya Cavero,
Fey mendadak seperti orang bisu, suaranya tercekat begitu saja. Entah kenapa, mungkin karena ia terlalu panik ada di sebelah Cavero. Terlebih jarak tempat ia duduk dan juga Cavero bisa dibilang sangat dekat.
Cavero menatap ke arah Fey, gadis ini belum juga menjawab pertanyaannya. "Namamu siapa?" Ulang Cavero,
"Fey" Ucap Fey singkat, akhirnya ia bisa mengeluarkan suaranya.
Cavero mengangguk-anggukan kepalanya, laki-laki ini berdiri dari tempat duduknya. Ia mengambil buku dan pulpen yang ada di atas meja lantas menatap ke arah Fey. Ia tersenyum lalu mengacak-acak puncak kepala Fey sebelum akhirnya pergi.
__ADS_1
Lagi-lagi Fey terdiam, jantung gadis ini berdetak dengan kencang. Apa yang baru saja Cavero lakukan? Apa ia tidak salah melakukan itu padanya. Rupa-rupanya tanpa sepengetahuan mereka berdua, Agna mengintip dari balik pintu kamarnya. Gadis itu berdiri sambil mendekatkan dirinya ke celah pintu yang terbuka.
Agna menggelengkan kepalanya, "Dengan tanpa dosanya Cavero baperin anak perawan Tante Lezi? Jangan sampe dia ngegoshting temen gue. Ngga bisa di biarin" Gumamnya dengan kesal,
Agna keluar dari persembunyiannya, gadis ini segera menyadarkan sahabatnya yang tengah di mabuk cinta. "Weh Fey, sadar woy" seru Agna sembari menggoyangkan tubuh Fey,
"Susah ya ngomong sama orang lagi jatuh cinta. Berasa ngomong sama patung jadinya" lanjutnya,
Fey menghela napasnya, gadis ini mengusap pipi Agna dengan lembut. "Lu mana tau rasanya Na" ucapnya sambil tersenyum.
"Lu pikir gue ngga pernah jatuh cinta? Ya gue tau lah rasanya" tutur Agna,
Fey mengambil helmnya lalu memakainya di kepalanya. Gadis ini bersiap untuk pulang ke rumahnya. Agna yang melihatnya sontak mengerutkan dahinya. Sahabatnya ini mau pulang begitu saja?
"Lu ngapain dah?" tanya Agna,
Fey menoleh, "Hah? Oh iya anterin gue pulang" ucap Fey seperti orang linglung.
"What? Lu mau pulang? Lu kerumah gue cuma numpang duduk sama gebetan lu gitu? Wah asli parah lu wah" timpal Fey dengan kesal,
Fey menghela nafasnya, "Agna sayang, lu udah bohongin Eyang gue. Ya kali gue mau tetep di sini sampe sore. Pokoknya gue mau pulang" ucap Fey,
"Iya juga si, jadi ngerasa bersalah. Ya udah deh gue anterin lu pulang"
Akhirnya Agna memutuskan untuk mengantar Fey pulang ke rumahnya. Bagi Fey bisa berinteraksi dengan Cavero sudah membuat dirinya bahagia. Ia tidak perlu berlama-lama di sini. Terlebih di rumah hanya ada Eyangnya. Fey tidak tega meninggalkan Eyangnya sendirian di rumah. Ia takut Eyangnya membutuhkan sesuatu tapi tidak ada yang membantunya.
Sekilas informasi, Fey merupakan anak pertama di keluarganya. Ibu dan Ayahnya sudah lama bercerai, mereka bercerai sejak Fey menduduki bangku sekolah dasar. Saat ini Fey tinggal bersama Ibu dan Eyangnya. Namun Ibunya sibuk berkerja untuk menafkahi keluarganya. Akhirnya Fey tinggal bersama Eyangnya. Merekalah yang selalu merawat Fey. Sementara Ayah Fey yaitu Arsyad, dia sibuk bersama keluarga barunya.
...***...
Cavero menyesap sedikit teh yang ada di hadapannya. Bayangan tentang Fey terus menerus ada di kepalanya. Gadis itu membuat Cavero penasaran. Laki-laki itu membuka ponselnya, lalu membuka aplikasi sosial medianya. Ia melihat sebuah notifikasi pesan dari sosial medianya.
Kurang lebih begitu kalimat yang tertera di layar ponsel Cavero. Entah kenapa Cavero tersenyum hanya dengan membaca nama gadis itu. Detik berikutnya Cavero membuka Pesan dari Fey.
Lagi-lagi Cavero dibuat tersenyum oleh gadis itu. Ini pertama kalinya Cavero melihat pesan orang meminta follback tapi di awali pembukaan dan di akhiri penutupan seperti ini. Cavero menjadi semakin penasaran dengan Fey. Sepertinya gadis itu menarik untuk Cavero.
"Coba gue deketin kali ya" gumamnya,
Cavero tidak membalas pesan Fey, laki-laki ini hanya mengikuti kembali akun sosial media Fey. Cavero kembali melanjutkan kegiatannya, laki laki ini merupakan seorang mahasiswa semester awal di Fakultas Ekonomi. Banyak sekali tugas-tugas yang menunggunya. Maka dari itu ia memutuskan untuk mengerjakan tugas-tugasnya terlebih dahulu, setelah itu ia baru akan memikirkan soal Fey.
__ADS_1
Jangan heran kalau Cavero mementingkan tugasnya dari pada yang lain. Karena perlu kalian ketahui, Cavero ini sangat suka belajar. Obsesinya terhadap pelajaran dan tugas-tugas membuat ia semakin tertutup di lingkungan keluarga. Dia cukup pendiam dan tidak aneh-aneh. Bahkan laki-laki ini sering telat makan karena ia selalu mementingkan tugas dan juga pelajarannya. Keluarganya juga sering membanggakan prestasi yang Cavero dapat.