Affair With CEO

Affair With CEO
Jadi janda karena janda


__ADS_3

Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah keluar. Sidang putusan perceraian yang diajukan oleh Kirana disetujui dan dikabulkan, mengingat beberapa bukti perselingkuhan dan kekerasan yang dilakukan pria itu.


Awalnya Zidan menolak bahkan mengajukan mediasi, tetapi Kirana menolak. Bahkan pria itu benar-benar merasa terpojok, karena dia tak mendapatkan apa pun sebagaimana surat perjanjian yang pernah ditandatangani atas klausul dari Kirana. Bahwa, bilamana mereka bercerai, maka dia tak akan bisa menuntun bisnis yang mereka rintis bersama. Itu sudah disetujui olehnya, dulu, dalam keadaan sadar.


Dia bukan hanya kehilangan wanita yang menemaninya dalam keadaan suka dan duka, tetapi juga kehilangan tiga puluh persen omset yang sebelumnya masih diberikan.


Bukankah itu kehilangan yang paling menyakitkan? Saat harta membutakan mata, semua hal itu terampas. Meninggalkannya dengan keadaan seperti sepuluh tahun lalu.


Kamis siang, keduanya mendatangi pengadilan untuk menandatangani berkas terakhir. Melihat penampilan mantan istrinya, Zidan hanya bisa menelan saliva susah payah. Wanita itu kembali menjadi sosok yang cantik, kuat dan cerdas seperti pertama kali mereka bertemu.


Mengapa justru di saat terakhir, dia ingin memeluk wanita itu dan mengucapkan ungkapan hati bahwa dia masih sangat mencintainya.


Setelah menandatangani surat perceraian, mereka mendapatkan surat putusannya.


Kirana menyunggingkan senyum lebar. Dia menatap mantan suaminya dengan tatapan mengejek.


“Lihatlah, di sini siapa yang terlihat paling menyedihkan,” ucapnya.


“Kamu senang bisa membuatku menjadi seperti ini?”


Mengangguk dengan puas. “Sangat bahagia. Kamu merasakan rasanya tidak dihargai, bahkan tidak dibutuhkan. Tapi kamu harus tahu bahwa, aku tak pernah menyesal pernah menikah denganmu. Berkatmu, aku mendapatkan dua malaikat yang cantik.”


“Kamu kejam!”

__ADS_1


“Sebelum bicara, sebaiknya kamu berkaca!”


Keluar dari ruang persidangan, Kirana disambut cacian Ajeng dan tatapan mematikan dari Luna yang terlihat tidak suka dengan apa yang didapatkan.


Langkah kaki mendekati dua wanita tersebut. Bibirnya menyeringai sebelum menunduk sedikit ke arah Ajeng.


“Nikmati anak laki-laki dan cucu laki-lakimu, Nyonya Ajeng. Dan, ya, aku turut prihatin dengan anakmu yang saat ini menjadi gila. Kasihan sekali,” ucap Kirana, diakhiri tawa pelan.


“Untuk kamu, nikmati hasil dari mengambil milik orang lain. Kamu bebas memilikinya sendirian, berjuanglah dari awal, semangat, ya.”


Setelah mengejek dua wanita itu, Kirana berpaling. Ia menoleh ke arah mantan suaminya dengan seringai tipis.


“Selamat, kamu berhasil menjadikan wanita yang melahirkan dua anakmu jadi janda demi memungut janda lain yang ditinggalkan suaminya.”


Kendrick berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Pria itu tersenyum dan memeluknya erat.


“Jadi, sudah resmi jadi janda baru,” goda pria itu dengan senyum tipis.


“Of course, yes. Janda kaya raya tentunya.”


Keduanya pergi, meninggalkan sosok pria yang tak sengaja melihat pemandangan itu. Bahkan, kedua tangannya mengepal dengan erat.


...✿✿✿...

__ADS_1


Keduanya baru saja memasuki sebuah apartemen mewah di daerah kota. Mereka sengaja tak kembali ke kantor, karena ingin merayakan hari kebebasan saat ini.


Sesekali Kirana berdecak kagum melihat indahnya apartemen yang ternyata tempat tinggal pria itu. Matanya bergerak liar, mengamati sekeliling ruang tamu luas dengan barang-barang mewah yang tersusun rapi.


“Ini indah sekali,” ucapnya.


“Tapi di sini membosankan, tidak ada tetangga cantik yang menjadi pemandangan,” sahut Kendrick menimpali. Pria itu segera melepas dasi yang dipakai, membuka beberapa kancing kemeja atas hingga dadanya yang bidang tampak menggoda untuk disentuh.


“Kamu nggak pernah tinggal di sini?”


“Sesekali saat terlalu larut pulang ke rumah, aku menginap di sini.”


Kendrick memejamkan mata, lalu mencium bibir Kirana. Detik demi detik berlalu menunggu kabut gairah untuk menyelimuti tubuh, membuat darah mengental dan menguasai pikiran. Namun, gangguan datang ketika telepon berbunyi, membuat pria itu mendesis kesal.


“Mandi saja dulu. Aku sudah memesan makan siang dan wine,” ucap Kendrick.


“Oke. Pastikan bahwa kamu benar-benar memberikan hadiah istimewa hari ini, Ken.”


Kendrick terkekeh melihat wanita itu mengedipkan mata nakal.


“Tentu, Baby. Aku akan memberikannya sampai kamu tidak akan sanggup untuk melupakannya.”


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2