
AKU MENYERAH.MENJADI ISTRIMU
"Din, kamu mau ke mana?" tanyaku pada Andin yang tampak sedang berdandan di depan kaca rias.
Penampilannya terlihat bersinar dengan sapuan make up tipis yang dipoleskan ke wajahnya.
Mengenakan tunik panjang berwarna krem, jilbab sepunggung serta sepatu bertumit tinggi yang tampak melekat pas membalut kaki kurusnya, penampilan istriku itu kelihatan muda dan menawan.
Aih, mau ke mana istriku ini pagi-pagi begini sudah rapi?
"Din, kamu mau ke mana?" tanyaku dengan tatapan ingin tahu kuarahkan padanya.
Tanpa berpaling, Andin membuka mulutnya.
__ADS_1
"Mau ke kantor, Mas. Hari ini aku mulai masuk kerja," sahutnya singkat.
Mendengar jawabannya, sontak aku mendongak kaget. Jadi ia benar-benar serius soal hendak bekerja kembali kemarin?
Apa dia tak mendengar keberatan dan penolakan dariku?
"Kamu mau kerja lagi? Kerja apa? Kamu sudah gila ya? Kalau kamu kerja terus ibu sama siapa? Sekar Seruni sama siapa?" hardikku keras, penuh rasa tak suka.
"Kerja di perusahaan tempat aku kerja dulu, Mas. Kemarin aku sudah kubilang kalau mulai hari Senin ini aku akan mulai masuk kerja, kan? Aku sudah minta Mas cari pengasuh buat ibu, tapi Mas cuek aja. Sekar Seruni sudah aku carikan pengasuh yang nanti kubayar dengan gajiku sendiri. Sementara ibumu, kalau belum ada yang jaga, bisa minta tolong sekalian. Tapi cuma bisa untuk paling lama dua hari saja, Mas karena gak mungkin pengasuh anak-anak mau merawat ibu sekalian, terlalu berat," sahutnya tegas.
Kamu pikir mas nggak sanggup bayar pengasuh? Sanggup sekali! Tapi bukan itu masalahnya. Mas hanya nggak percaya menyerahkan ibu dalam pengasuhan tangan orang lain! Lagipula siapa yang memberi izin kamu bekerja lagi? Mas masih kuat memberi kamu makan, lalu apalagi yang kurang?!" teriakku penuh emosi.
Mendengar kata-kataku, Andin mendongak kaget. Ada kilat tak suka di wajahnya.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Apa aku menikah denganmu cuma untuk jadi pengasuh ibumu? Dia ibu kamu bukan? Kamu yang paling bertanggungjawab atas keselamatannya, bukan aku!
Selama ini aku sudah mengorbankan hidupku demi menjalankan baktiku padamu sebagai seorang istri, tapi apa balasan yang kamu berikan? Pengkhianatan!
Kamu menikah lagi dan memberikan kemewahan untuk perempuan lain itu sementara untukku yang sehari-hari harus merawat ibumu, menyuapinya makan, membersihkan kotorannya, memandikannya, tak pernah mendapat apa-apa darimu! Pakaianku kumal, tubuhku tak terurus, semua karena aku mendahulukan ibumu. Tapi apa balasan yang kamu berikan atas semua pengorbananku itu!
Saat ini aku memutuskan kerja lagi mungkin nggak minta izin kamu dulu, aku lancang. Tapi aku sudah siap dengan segala resikonya, Mas! Ini surat pengunduran diriku menjadi istrimu.
Aku sudah mendaftarkan gugatan perceraian kita ke pengadilan agama. Sejak aku tahu kamu tidak pernah menghargai pengorbananku, bahkan dengan mudah mengkhianati perkawinan kita, sejak itu pula perasaanku padamu menjadi hambar. Dan rumah tangga yang baik bukanlah rumah tangga yang dibangun dalam kehampaan, bukan?
Aku izin tinggal di rumah ini sampai permohonanku dikabulkan pengadilan dan masa Iddah ku telah selesai. Tapi kalau kamu tidak mengizinkannya, dengan sukarela, aku akan membawa anak-anak meninggalkan rumah ini!" sahut Andin lagi dengan tegas dan tenang.
Matanya memandang tajam ke wajahku. Dan memang tak kulihat rasa takut di sana. Ah, tumben Andin bisa seberani ini? Apa yang membuat ia berubah seperti ini?
__ADS_1
"Apa-apaan kamu, Din? Kamu memang sudah benar-benar gi*la ya! Minta cerai tanpa alasan dan pembicaraan sebelumnya. Maumu apa! Dasar istri durh*ka!" pekikku lagi penuh emosi.
Tanpa sadar, tanganku terangkat ke udara lalu terayun ke arah pipinya dengan keras.