Asland

Asland
Bab 16


__ADS_3

Kesalahan terbodoh adalah meninggalkan orang, yang benar-benar mencintai kita. Karena seseorang paling kuat sekali pun akan berpikir dua kali untuk kembali menerima cintanya '


Dua tahun yang lalu


Rumah Alena


Pukul, 01.23


Rumah bernuansa klasik itu gelap. Tak ada cahaya yang meneranginya. Bulan bersinar dengan gagah. Sinarnya menerobos celah fertilasi rumah klasik itu. Sehingga rumah itu telihat indah di bawah siraman sang rembulan.


Di salah satu ruangan dari dalam rumah. Dengan dinding berwarna coklat muda. Dan beberap figura yang menggantung angkuh, menempel di dinding. Juga sebuah lemari besar, tempat pakaian sang empu terdiam manis. Ada juga nakas kecil di samping tempt tidur. Di atasnya terdapat lampu tidur yang sengaja dimatikan.


Pantulan wajah perempuan diterpa sinar rembulan, sedikit menghidupkan ruangan itu. Suara sesenggukan memenuhi ruangan itu. Isah tangis yang berdu dengan suara jangkrik.


Semakin lama suara itu semakin lenyap. Seiring dengan helaan nafas sang perempuan yang mulai teratur. Matanya sembab. Bekas kristal-kristal bening yang terjatuh dari sudut matanya terlihat jelas. Bibir mungilnya mengatup. Dan beberapa anak rambut, nakal, jatuh di sekitar pipi. Dan ada yang menempel nyaman di dahi.


Tubuhnya tengkurap. Memeluk guling erat. Permukaan guling itu basah. Menyisakan bulatan-bulatan kecil yang merembes sampai ke dalam.


Perempuan itu menggeliat. Kejadian itu terulan. Seperti putaran film di bioskop. Dan ia bisa melihatnya dengan jelas.


Seorang perempuan muda terduduk di tanah. Membisu di atas gundukan tanah yang masih baru.


Sangat baru.


Orang-orang sudah pergi. Tinggal dirinya, dan Mamanya yang juga terdiam. Tetapi perbedaannya, Mamanya tidak mengeluarkan air mata sedikit pun. Wanita paruh baya itu hanya memandangi gundukan tanah itu lama, dengan pandangan kosong. Seolah separuh jiwanya telah pergi, meninggalkannya.


Wanita itu, duduk di atas kursi roda yang senantiasa menemaninya beberapa tahun terakhir. Ia tak akan menangis. Untuk apa? Bukankah sejak 'mereka' datang, cintanya sudah hilang. Hilang bersama penderitaan yang menimpa hidupnya.


Untuk apa menangisi kepergian, orang yang telah menyakiti kita?


Nyatanya, hatinya berkata lain. Walaupun otaknya terus meneriakkan agar membunuh cinta itu, tapi hatinya berontak. Ia mencintai suaminya, meski begitu banyak luka yang ia torehkan di hatinya.


Dan cinta itu semakin nyata saat Alena lahir.


Alena memeluk nisan Papanya. Air matanya tak terbendung. Sudah terlalu lama ia menangis. Hingga matanya membesar dan bengkak. Tapi ia tak peduli. Tuhan tidak adil, ia telah mengambil orang yang paling di sayanginya.


Ia tetap menyayangi Papanya. Sekalipun Papanya telah mengkhianati Mamany. Ia tetap mncintainya. Dan cinta itu tidak akan pernah hilang. Ia pernah mencoba membenci Papanya, tapi itu sia-sia.


"Lena..." Mama Alena berkata lirih. Pandangannya yang tadinya melihat gundukan tanah itu,mengarah ke Alena. Wanita itu menatap putrinya iba.


"Ayo, kita pulang."


Alena menggeleng keras. Ia memeluk nisan Papanya semakin erat. Seolah papan itu akan hilang jika ia tak memegangnya.


"Papa sudah tenah di sana."

__ADS_1


Suara itu lirih, rendah dan lesu. Seperti menyimpan kesedihan yang lebih mendalam, tak terbendung walaupun itu diungkapkan dengan tangisan. Karena kesedihan yang paling berbahaya adalah kediaman. Kediaman.


"Mama," Alena menatap Mamanya. Wanita paruh baya itu menunduk. Memandangi dedaunan yang berjatuhan.


Ia menatap gundukan itu sekali lagi. Lalu seiring angin berhembus, matanya mulai terpejam. Mengalirkan butiran kristal bening yang meluncur dari sudut matanya.


Alena memeluk nisan itu, untuk yang terakhir kalinya. Selah ingin mengucapkan, 'Papa.. Aku mencintaimu.'


Lama, dan ia melepasnya dengan setengah hati. Lalu beranjak meraih kursi roda Mamanya, dan mendorongnya pelan. Sepelan angin yang berhembus menerpa wajahnya. Dan mengibarkan beberapa helai rambut curlynya.


Tak sadar, bahwa ada sepasang mata yang megawasi perempuan itu, sedari tadi. Mata elang itu menatap Alena intens, hingga Mereka hilang, tertelan tikungan jalan.


Pemilik mata elang itu mendesah pelan. Matanya beralih, memandangi gundukan tanah itu.


Lambaian dedaunan mengiringi langkah laki-laki itu. Matahari yang tadinya tersenyum cerah, menghilang. Tergantikan dengan gumpalan awan hitam yang mengambang angkuh. Dengan latar belakang langi hitam. Juga desiran-desian nakal dari angin yang berhembus.


Seiring jatuhnya tetesan air dari langit, dari air mata langit, tetesan yang lain jatuh dari sudut mata Mama Alena.


Laki-laki itu berjalan menunduk. Sampai di ujung jalan setapa, terlihat sebuah mobil metalik menunggunya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, laki-laki itu masuk ke mobil. Dan sekejap kemudian mobil itu melaju, membelah kemacetan yang sedang melanda Jakarta.


Jakarta selatan


Pukul, 08.00


Ia tak peduli pada tumpukan berkas yang menjulang di meja.


Pikirannya tengah kacau, memikirkan gadis itu. Entah, kenapa wajah muramnya selalu memenui pikirannya.


Saat laki-laki itu berbalik, hal pertama yang ia lihat adalah seorang perempuan yang tengah menatapnya iba. Kedua tangannya bersedekap. Mata itu menatapnya lembut.


"Leon, apa yang kamu lakukan?"


Perempuan itu mendekat, menatapnya prihatin. Leon membisu, tubuhnya menegang melihat oerempuan itu menatapnya lembut.


Jas Leon berantakan, dengan kancing yang tidak terpasang di lubangnya. Wajahnya terlihat kusut. Dan mata elang yang biasanya tajam itu terlihat sayu. Kantung mata hitam menggantung dibawah matanya. Ana yakin jika semalam Leon tidak tidur.


Dan ia sangsi jika Leon sudah sarapan.


"kamu belum sarapan, makanlah dulu."


Leon menggeleng, ekspresinya tidak bisa dibaca. Biasanya jika Ana datang, wajahnya akan berseri-seri, tapi sekarang. Mungkin karena perkataan Ana kemarin siang. Dia akan pergi.


"Leon..."

__ADS_1


Ana mendesah pelan. Ditariknya lengan Leon ke arah kursi.


"Pergilah."


Hanya itu, hanya kata itu yang meluncur dari bibirnya. Ia muak melihat perempuan ini. Munafik. Perempuan ini munafik. Untuk apa ia berbaik hati datang ke kantornya jika ujung-ujungnya, dia akan pergi. Selamanya, mungkin.


"Makanlah."


Ana tak menghiraukan ucapan Leon. Tangannya dengan terampil membuka rantang makanan.


"Pergilah."


Suara Leon tajam dan dingin. Ana menghentikan aktivitasnya, ia melangkah mundur.


Ini Leon yang berbeda, Leon tidak akan pernah berkata dengan nada seperti itu. Leon yang ia kenal akan menatapnya dengan lembut, dengan cinta yang menggebu. Leon tidak akan pernah mengabaikannya seperti tadi, Leon akan menghampirinya dan tersenyum lembut padanya.


Ana menghembuskan nafasnya. Leon sedang banyak pikiran, jadi wajar jika ia menjadi dingin, pikir Ana.


"kamu mungkin lelah, kalau begitu aku akan memesankan teh mint untukmu."


"Tidak perlu."


Leon menjawab cepat. Matanya menatap Ana tajam, hingga perempuan itu gelagapan.


"Atau kamu mungkin ingin yang lain, mungkin..."


"Aku hanya ingin kamu pergi dan jangan pernah kembali."


Aku hanya ingin kamu pergi dan jangan pernah kembali


Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar hati Ana. Apa yang lebih sakit dari kenyataaan bahwa, orang yang paling kita cintai mengharapkan kita pergi. Percayalah, itu lebih sakit dari sekedar patah hati. Rasanya seperti ribuan volt menyambar tubuh kita. Sakit hingga ke dalam rongga dada.


Tak ada yang lebih membahagiakansaat berada di sisi Leon. Tapi mungkin kenyataan itu akan hioang, seiring berjalannya waktu.


Tapi, tidak, Leon mungkin butuh waktu untuk sendiri. Leon hanya mencintainya, ia sangat yakin. Dua tahu, dua tahun Leon mungkin akan menyesal bahwa ia membutuhkan dirinya.


Leon akan menyesal, dan Ana akan memaafkanny, dan mereka akan bahagia.


Ana tersenyum membayangkannya. Ia menatap Leon penuh cinta.


Ana menegakkan punggungnya.


"Baiklah, aku akan pergi. kamu harus makan."


Leon menatap perempuan itu miris. Ana mungkin sudah tidak mencintainya lagi. Padahal, bulan depan adalah pertunangan mereka. Tapi, ia bersikeras ingin pergi. Meninggalkannya sendiri dengan rasa cinta yang berlahan akan menghilang. Tergantikan dengan rasa benci yang tak bertepi.

__ADS_1


Leon tersenyum miris. Apa yang harus ia katakan pada Mamanya nanti?


__ADS_2