
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, kini Zahra menjalani sidang skripsi. Dengan perasaan yang campur aduk, Zahra memasuki tempat Sidang.
Dua jam berlalu, Kini Zahra keluar dari ruang sidang dengan memasang wajah gembira. Zahra terlihat gembira karena ia lulus. Ia langsung bergegas pulang untuk memberi tahu kabar kelulusanya kepada orang tuanya. Dengan menaiki angkot, Zahra semakin tak sabar ingin cepat sampai di rumahnya. Disepanjang jalan ia membayangkan bagaimana respon Orang tuanya melihat kabar kelulusanya. Tak lama menempuh perjalanan dari kampus, akhirnya Zahra tiba di depan rumahnya. Ia langsung masuk ke dalam rumahnya. Namun, saat di halaman rumahnya, Zahra melihat ada sebuah mobil. Namun mobil itu bukan milik Abi maupun Abangnya, tapi kelihatannya milik Fatan. Dengan penasaran, Zahra langsung menuju ke dalam rumah.
"Assalamualaikum." Ucap Zahra sembari membuka pintu depan.
"Waalaikumsalam" suara salam Zahra di balas dengan kompak oleh Abi, umi dan keluarga Fatan.
Mendengar jawaban salam yang terlihat begitu banyak yang menjawab, Zahra langsung menuju sumber suara itu. Dan ternyata, keluarga Fatan ada di rumahnya. Zahra yang awalnya terlihat girang mau menyampaikan berita kelulusanya pun langsung tertunduk malu melihat kedatangan keluarga Fatan ke rumahnya.
"Eh anak Abi udah pulang." Ucap Abi Zahra.
"Iya Bi." Jawab Zahra dengan halus.
"Ganti baju dulu Nak, nanti kalau udah kesini ya." Sahut Umi.
"Iya Umi." Jawab Zahra. Zahra langsung menuju ke kamarnya. Ia langsung bersih-bersih badan dan langsung ganti baju. Beberapa menit kemudian, Zahra pun keluar dari kamarnya dan langsung menemui Abi, Umi dan keluarga Fatan yang berada di ruang tengah. Dengan memakai baju gamis warna peach, Zahra terlihat sangat anggun.
"Sini, samping Umi Nak." Ucap Umi.
"Iya Mi" Jawab Zahra dengan malu.
"Zahra, gimana Sidangnya?." Tanya Fatan.
"Iya Nak, Gimana hasilnya?." Tanya Abi.
Zahra hanya melontarkan senyum kepada semua orang yang ada di rumahnya. Melihat respon Zahra yang hanya melontarkan senyuman manisnya, semua langsung penasaran.
"Gimana Nak Zahra, apakah lancar sidangnya?." Tanya Abinya Fatan.
"Semuanya dengarkan Zahra ya. Sidangnya tadiiiii, Alhamdulilah lancar. Zahra lulus, bentar lagi Zahra lulus." Jawab Zahra.
Mendengar jawaban Zahra, Abi, Umi dan keluarga Fatan langsung terlihat senang. Apalagi Fatan, karena wanita yang akan jadi istrinya sebentar lagi lulus dan akan menjadi dokter.
Orang tua Zahra pun memeluk Zahra dengan rasa kagum dan bersyukur. Namun, saat orang tuanya memeluknya, Zahra menanyakan soal rencana perjodohanya dengan Fatan.
"Umi, Abi. Zahra mau tanya. Setelah Zahra di wisuda, apakah Umi dan Abi langsung menikahkan aku dengan Fatan?."
"Kalau menurut Umi dan Abi, lebih cepat lebih baik pernikahan kalian. Kalian juga udah pada lulus." Jawab Abi Zahra.
"Iya Zahra, dari pada menunda-nunda, lebih baik secepatnya." Ucap Abinya Fatan.
"Iya Nak Zahra. Fatan insya Allah juga siap kok. Iya kan Fatan?." Sahut Uminya Fatan.
"Insya Allah aku siap." Jawab Fatan dengan pelan.
Mendengar semua itu, Zahra terdiam dan tunduk di samping Uminya. Ia berfikir apakah ia harus menunda dulu pernikahanya atau mencari kerja dulu. Akhirnya beberapa menit kemudian, Zahra menjawab tentang pernikahanya dengan Fatan.
"Baik, Zahra siap untuk menikah setelah wisuda nanti. Tapi Zahra harus bekerja, meskipun Zahra menjadi seorang istri. Zahra ingin bekerja."
__ADS_1
"Baik, aku tidak masalah jika kamu ingin bekerja Ra, aku izinkan." Sahut Fatan.
"Alhamdulilah. Kalau gini kan udah jelas." Ucap Uminya Fatan.
"Iya Umi, alhamdulilah anak kita mau dijodohkan." Ucap Uminya Zahra.
Tak lama kemudian, keluarga Fatan memutuskan untuk pulang kerumah. Mereka pun berpamitan kepada keluarga Zahra. Dan meminta keluarga Zahra untuk memberi tahu kalau Zahra wisuda, karena mereka akan datang.
Setelah keluarga Fatan pulang, Abi dan Uminya pun menanyakan soal kapan wisudanya Zahra.
"Ra, kamu kapan wisuda? Biar Abang mu Abi telfon." Tanya Abi.
"Satu minggu lagi Bi." Jawab Zahra.
"Yaudah Abi telfon Abang mu. Agar pulang melihat Adiknya Wisuda."
"Iya Bi." Jawab Zahra.
Zahra langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya. Di dalam kamar ia tidak memikirkan wisudanya, namun memikirkan bagaimana nanti kalau ia sudah menikah dengan Fatan. Ia membayangkan bagaimana rasanya menikah tanpa adanya rasa cinta yang begitu besar.
~~~~~
Tiga hari setelah diberi tahu kalau Zahra akan wisuda, Akhirnya Abang Zahra pulang dari luar kota. Mengetahui kalau adiknya akan wiauda, Abangnya terlihat Bahagia. Namun dibalik kebahagiaan itu, Abangnya juga menyimpan rasa sedih kalau harus melepas Adiknya untuk menikah. Abanya seakan tak rela kalau Zahra harus menikah muda. Namun dibalik sedihnya itu, Abangnya tak pernah memperlihatkan kesedihanya itu di depan Zahra. Setelah pulang dari luar kota, ia justru memanjakan Adiknya. Mulai dari di ajak makan di lestoran mahal, diajak pergi ke Mall, diajak jalan-jalan, bahkan ke tempat kesukaan Zahra, yaitu toko Buku terbesar di Kotanya.
Zahra yang merasakan tingkah aneh Abangnya itu pun bingung. Zahra langsung menanyakannya pada Abangnya itu.
" Bang, kenapa sih Abang kok sekarang jadi aneh gini." Tanya Zahra.
"Masa Zahra gak minta kemana-kemana, Abang selalu ajak Zahra pergi. Perginya juga ke tempat-tempat yang Zahra suka."
"Kan Abang pingin nyenengin Adiknya. Masa enggak boleh?".
"Biasanya Abang kalau Zahra ajak kan bilangnya gini.*Apaan sih pergi mulu, buang-buang uang.* gitu. Sekarang kok malah kebalik."
"Hahahahaha..Abang lagi gajian, pingin nyenengin Adiknya kok."
"Kan bisa di tabung aja Bang. Nyenengin Abi dan Umi kan bisa. Pasti ada apa-apa nih Abang kek gini. Hayo, ada apa. Jujur lah Bang." Zahra semakin penasaran kenapa Abangnya aneh.
"Oke. Oke. Abang jujur. Abang kek gini itu, ingin merasakan bagaimana kebersamaan dengan Adik. Kamu kan bentar lagi bakal nikah, kita bakal enggak serumah lagi. Sebelum kamu dengan laki-laki pilihan Abi dan Umi. Abang ingin merasakan kebersamaan seperti kita waktu kecil, Zahra. " ucap Abang Zahra dengan meneteskan air matanya.
"Y Allah, Abang. Zahra kan masih bisa bertemu Abang. Zahra kan masih bisa bersama-sama Abang. Abang jangan sedih, doa in Zahra aja Bang." Ucap Zahra dengan tersedu-sedu.
Mereka pun langsung saling berpelukan. Dan Zahra berusaha memberi penjelaskan pada Abanya kalau ia tak akan meninggalkan Abangnya meskipin nantisudah menikah. Zahra berharap Abanya menerima semua itu.
~~~~~~
Waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba, kini Zahra menjalani Wisuda di kampusnya. Bentar lagi ia akan menjadi seorang dokter. Wisudanya kali ini, ia diantar oleh keluarganya dan juga keluarga Fatan. Dengan memakai toga berwarna putih kuning, Zahra terlihat sangat cantik. Fatan yang melihatnya pun terpesona.
Zahra langsung menghampiri teman-temanya yang duduk di kursi mahasiswa. Keluarganya dan keluarga Fatan menunggu di tempat khusus keluarga. Tak lama kemudian, acara dimulai. Hingga akhirnya pengguuman mahasiswa terbaik diumumkan. Saat salah satu dosen menguumkan, Zahra tak menyangka jika ia berhasil mendapat gelar comlude. Zahra pun langsung di panggil ke depan untuk naik ke atas panggung. Dengan rasa bahagia, Zahra berkali-kali mengucap syukur dan berterima kasih kepada keluarganya yang selama ini selalu mendukungnya.
__ADS_1
Acara pun selesai, semua mahasiswa mulai meninggalkan kampus. Begitu juga dengan Zahra, ia langsung pulang dengan orang tuanya, keluarga Fatan bersama-sama ikut ke rumah Zahra. Di sepanjang perjalanan ke rumah, Zahra tak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih kepada Abi, Umi, dan Abangnya yang selama ini selalu mensuport Zahra.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Zahra tiba di rumah. Ia langsung masuk ke rumah, begitu juga dengan keluarga Fatan yang ikut kerumah Zahra.
Maksut pertemuan dua keluarga itupun bermaksut untuk merayakan wisuda Zahra dan memperjelas urusan pernikahan yang akan digelar.
"Assalamualaikum warrahmatulahi wabarokatuh." Ucap Abi Zahra.
"Waalaikumsalam warrahmatulahi wabarokatuh" jawab semua orang yang ada di rumah Zahra.
"Umi, Abi. Lebih baik kita tanyakan pada Zahra dan Fatan. Apakah mereka sudah siap untuk menikah minggu depan." Ucap Abinya Zahra.
"Iya Bi. Silahkan Nak Fatan, Zahra." Ucap Abinya Fatan.
"Baik Abi, Umi. Kalau emang Abi dan Umi meminta untuk segera menikah. Fatan siap untuk menikah dengan Zahra minggu depan." Ucap Fatan.
"Iya Bi, Mi. Zahra siap kalau minggu depan Zahra menikah." Ucap Zahra.
Mendengar jawaban Fatan dan Zahra. Semua orang yang ada di rumah Zahra langsung tersenyum bahagia dengan mengucap*ALHAMDULILLAH*.
"Kalau gitu kita cari hari yang pas untuk acara pernikahanya." Ucap Uminya Fatan.
"Bagaimana kalau acaranya besok hari Rabu. Soalnya Abangnya Zahra hari jumat udah balik ke luar kota" Sahut Uminya Zahra.
"Iya Benar. Rabu saja. Aku ingin melihat adek perempuan ku menikah. Kali ini aku harus ikhlas melepas Adekku." Ucap Abangnya Zahra.
"Baik, kalau gitu Rabu. Acara kita gelar di gedung Catra karana bagaimana?." Sahut Abinya Fatan.
"Iya Bi. Tempat itu sangat luas dan nyaman." Sahut Abinya Zahra.
"Bi, Mi. Zahra ingin akad nikah di adakan di Masjid Agung bagaimana?"
"Kalau itu keinginan kamu, aku setuju Ra." Sahut Fatan.
"Abi dan Umi nganut Nak. Iya kan Bi, Mi?" Tanya Uminya Zahra.
"Iya"
"Terus kalau soal mahar, Zahra ingin apa?" Tanya Uminya Fatan.
"Zahra hanya minta seperangkat alat sholat kok Mi. Yang penting Fatan nanti bisa jadi calon imam yang baik bagiku."
"Subhanallah" jawab Umi dan Abinya Fatan.
"Yaudah kalau gitu. Kalau gini kan udah jelas. Kalau gitu kami dan keluarga pamit. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Keluarga Fatan pun pulang kerumah setelah acara pertemuan dua keluarga selesai.
__ADS_1
Selamat membaca.