Bercinta dengan Playboy

Bercinta dengan Playboy
07. Rok Hitam


__ADS_3

ALVA merasa sedikit terkejut saat melihat Ralf tiba-tiba saja datang menghampirinya. Mereka memang cukup berteman baik selama ini. Alva, Alan, dan Ralf. Mereka bertiga bisa dibilang sebagai teman sejati.


Alan dan Alva yang masih bersaudara, tapi sering bertengkar karena masalah sepele dan Ralf yang akan berada di tengah-tengah untuk melerai pertengkaran di antara mereka. Sosok Ralf cukup berjasa, karena hadirnya pria itu juga membuat tali erat hubungannya dengan Alan tidak putus di tengah jalan.


"Risa gimana keadaannya?" tanya Ralf begitu Alva keluar dari mobil dan berdiri di hadapannya.


Alva berdecak. "Begini sambutan lo pagi-pagi waktu ngelihat sahabat lo sendiri?"


Ralf mendengkus. "Nggak usah lebay. Lo sehat wal afiat gini, apa masih perlu gue tanyain soal gimana kesehatan lo, ha?"


Alva mengembuskan napasnya panjang. "Risa baik-baik aja, harusnya dia bisa masuk sekarang. Lo nggak perlu sekhawatir itu juga kali! Kalau Sienna denger lo ngomong kayak gitu, dia pasti mikir lo ada apa-apa sama adik tingkat kesayangan lo itu."


Ralf mendengkus sekali lagi, ditambah sebuah sikutan dia berikan untuk salah satu teman SMA sekaligus teman sekantornya itu. "Jangan ngomong aneh-aneh. Kalau Sienna denger omongan lo, dia bakal mulai mikir yang enggak-enggak soal gue sama Risa."


Alva meringis sembari memegangi perutnya yang terkena sikutan. "Kenyataannya emang begitu, kan?"


"Hm."


Alva melirik pria itu sinis. "Lo serius punya rasa sama dia?"


"Sebelumnya, tentu saja pernah." Ralf menatap Alva dengan wajah datar dan tatapan yang terlihat amat sangat mematikan. "Risa tahu soal itu, karena gue udah pernah ngasih tahu dia."


Alva tersenyum kecut. "Nggak nyangka gue, serius! Gue kira lo cuma bisa bucin sama Sienna sampai mampus!"

__ADS_1


"Ada kalanya sebuah hubungan jarak jauh berada di dalam titik jenuh dan saat itulah, gue berpikir buat selingkuh." Ralf mendesah panjang. "Dan gue bersyukur, Risa nolak dan malah menyadarkan gue yang hampir kehilangan arah."


"Kapan itu? Sebelum dia pacaran sama Alan?" tanya Alva kelewat penasaran.


Ralf hanya menyipitkan mata dan menatap Alva dengan pandangan curiga. Memang di antara mereka bertiga, Alva adalah orang terakhir yang mengenal Risa. Ralf dan Risa sendiri dulunya masih satu jurusan, jadi mereka sudah lama saling mengenal. Alan sendiri mengenal Risa karena pernah datang ke kampus, lalu kebetulan Risa bekerja pada pria itu.


"Pikir aja sendiri," jawab Ralf cuek lalu melangkah lebih cepat mendahului Alva.


Alva berdecak, tanpa sadar dia berhenti melangkah. Bibirnya menggerutu dengan suara teramat pelan, "Mana bisa gue mikir sendiri, kalau nggak ada buktinya, woi?"


"Lo kenapa, Va?"


"Nggak kenapa-napa, cuma lagi kesel aja sama si Ralf." Alva menoleh ke samping.


Seksi, batinnya yang lantas menelan ludah susah payah. Matanya bahkan sampai tak berkedip memandangi dada Risa yang tampak begitu terlihat jelas di matanya walau dua buah itu masih terlapisi kain kemeja.


Risa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Alva. "Dasar playboy mesum!" umpat perempuan itu yang kemudian melangkah lebih dulu.


Alva masih tak berkedip. Dia melirik paha Risa yang sedikit terlihat dari belahan rok yang agak tinggi. Paha putih mulus yang membuatnya berkali-kali lipat lebih seksi.


Gue jadi pengin narik lo ke hotel secepatnya kalau kayak gini ceritanya, Risa!


...***...

__ADS_1


"Pagi, Ralf!" sapa Risa begitu ia menyamai langkah seniornya semasa kuliah dulu yang sekarang menjadi rekan kerjanya itu.


"Pagi juga, R-ris?"


Ralf menelan ludahnya, kemudian matanya menyipit, tampak heran melihat penampilan Risa hari ini yang terlihat cantik, manis, dan elegan. Walaupun biasanya juga begitu, tapi Risa kali ini memakai rok span alih-alih celana panjang membosankan miliknya seperti biasa.


"Tumben lo pakai rok?" Ralf menatap raut wajah Risa yang tampak memerah sesaat sebelum tersenyum lebar untuk menutupi rasa malunya.


"Baju gue abis, baru tadi pagi gue anterin semuanya ke laundry. Kenapa, rok nggak cocok sama gue, ya?" tanya Risa sembari melihat sendiri rok yang dikenakannya.


"Cocok banget malahan. Lo kayak gitu aja terus, gue jamin seisi kantor bakal sujud di bawah kaki lo semua!"


Risa memandangi Ralf dengan tatapan ngeri. "Maksudnya?"


Ralf hanya menyeringai. "Iya, gitu." Dia mengedipkan sebelah matanya. "Apalagi kalau Alan sampai lihat lo bisa secantik ini. Gue yakin dia makin bucin banget sama lo."


Risa mendengkus pelan. Dia mendahului Ralf masuk ke dalam lift. "Entahlah, gue nggak yakin lagi sama dia."


"Kenapa? Lo punya masalah sama dia?"


Risa hanya menggeleng dan Ralf berhenti bertanya. Dia tahu, Risa bukanlah orang yang terbuka atas semua masalahnya. Untuk itulah dia hanya diam, walau seluruh hati dan otaknya mulai memikirkan banyak asumsi tentang apa yang telah terjadi dengan hubungan Risa dan Alan yang sebentar lagi sampai ke tahap pernikahan itu.


Semoga tidak ada masalah apa-apa di antara mereka, batin pria itu yang merasa sedikit kasihan, seandainya hubungan Risa dan Alan putus di tengah jalan.

__ADS_1


__ADS_2