Bermain Dengan Takdir

Bermain Dengan Takdir
Bab 21 : Dunia Baru


__ADS_3

Another Shire POV


Aku berjalan diantara bunga-bunga yang indah, suara gitar yang mengalunkan iringan klasik menenangkan telingaku.


Aku berjalan tanpa ragu menyusuri bunga-bunga yang dihinggapi banyak kupu-kupu indah itu. Anehnya, tidak ada gangguan suara-suara masa depan yang menakutkan, aku merasa bagai di surga.


Tunggu, tiba-tiba muncul cahaya sangat terang dari ujung jalan. Seseorang datang dari arah cahaya itu, langkahnya damai namun membuatku penasaran.


Kemudian ia berkata "Terimalah semua hadiah Tuhan, anggaplah itu hadiah.. bukan kutukan. maka kamu akan baik-baik saja". Aku terkejut menyadari sosok itu ternyata adalah ayah Leon yang pernah memberikan gitar kepadaku.


"Tuan, dari mana saja? Leon sangat sedih mencari keberadaan anda.."


"Aku tidak jauh, aku selalu ada disana.." Ucap ayah Leon sambill menunjuk cahaya putih itu.


"Dimana?" Mataku sedari tadi merasa sangat silau hingga tidak bisa melihatnya.


Aku berlari dan terjatuh saat mengejar ayah Leon. Namun tiba-tiba aku bangun, dan semua itu hanyalah mimpi.


Aku bangun dan kebingungan melihat seluruh sudut ruangan yang sangat asing. "Leon??". Aku memanggilnya.


Terdengar suara gemuruh dari luar ruangan, dan suster masuk ke dalam ruangan itu membawa peralatan medis.


Kepalaku pusing karena kesulitan membedakan kenyataan, namun semakin lama aku menyadarinya bahwa semua ini ternyata hanyalah mimpi.


Rasa cinta dan sakit yang ku lalui selama ini hanya mimpi? Leon dan semua suara itu ternyata hanya mimpi yang tak berarti.


Tak lama seorang pria dan wanita yang sangat ku kenal datang.


"Ibu, ayah". Aku menangis sejadi-jadinya.


Melihat ibuku masih hidup dan sehat, aku begitu bahagia.


Dokter datang dan memberi kabar baik bahwa aku bisa pulang dalam beberapa hari. Aku dinyatakan sadar dari koma setelah 1 tahun akibat kecelakaan bus yang biasa kunaiki sepulang sekolah.


Ibu bilang semua orang meninggal ditempat kecuali diriku yang selamat.


"Ibu apakah aku bisa bermain gitar?" Tanyaku.


"Apa? tentu saja tidak, kamu itu suka basket dari dulu, ibu nggak berfikir kamu punya bakat musik. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya?". Jawaban ibu membuatku menghela nafas.


"A..ah.. jadi aku tidak punya alat musik dirumah?"


"Nggak punya, keluarga kita nggak ada yang suka musik".


"Nak kamu kenapa tiba-tiba bersikap aneh? Oke, kamu sekarang istirahat saja gak usah mikir aneh-aneh ya.. nanti ibu tanyakan ke dokter". Ibu nampak khawatir.


"Ahh... nggak-nggak! a.. aku cuman nanyain yang di mimpi aku bu". Jawabku


Ibu menghela nafas lega.


"Syukurlah.. ibu sangat bersyukur ada orang baik yang menyelamatkanmu waktu itu".


"Siapa itu bu?"


"Namanya Noel"


1 Bulan setelah keluar dari Rumah sakit


Aku berjalan-jalan di sekitar rumahku sambil merenungi mimpi-mimpiku saat koma yang nampak sangat nyata. Aku sangat gabut karena belum masuk sekolah juga, dan ada kemungkinan aku mengulang lagi kelas 1.


Padahal dimimpiku aku sudah kelas 2 dan jadi orang sibuk, dalam mimpi saja sudah nampak melelahkan.


Tak lama kemudian ada sebuah truk pindahan melewatiku, dan aku melihat tanaman bunga yang nampak tak asing, lalu aku mengikuti truk itu.


Yang benar saja, tiba-tiba aku ingat bahwa itu adalah bunga yang selalu muncul di mimpiku. Namun sampai sekarang aku tidak tahu bunga apa itu.


Truk itu berjalan sangat pelan dan akhirnya berhenti tepat di sebelah rumahku, yang mana merupakan rumah kontrakkan milik ayahku.


Aku terkejut melihat ada Leon dan ayahnya turun dari truk itu. Aku langsung berlari dan memanggilnya.


"Leon!!"


Namun saat Leon menoleh ia nampak kebingungan dan nampak tidak mengenaliku.


Saat berhadapan dengannya aku sekali lagi memanggilnya. "Kamu Leon?".

__ADS_1


Tak lama setelah kebingungan ia tiba-tiba tersenyum dan memanggilku.


"Shire? kamu sudah sadar?".


"Kamu kenal aku?" Tanyaku.


"Tentu, aku orang yang menolongmu saat kecelakaan? kamu nggak inget ya pasti hehe?" Jawabnya.


Aku terdiam cukup lama.


Lalu sadar ternyata semua itu hanya mimpi tidak berguna.


"Terimakasih sudah menyelamatkanku. Noel".


Lelaki itu nampak sibuk


"Sama-sama, aku senang bisa membantu. Aku juga sangat berterimakasih sama ayah kamu udah mau menampung kami sementara. Oh iya, kamu tadi manggil Leon, Leon siapa?". Leon berbicara sambil menurunkan barang-barangnya.


"Ah.. aku salah panggil tadi. Maaf sudah mengganggu, selamat berpindah dirumah baru ya Noel dan Paman".


Saat aku hendak pergi, aku melihat Noel menurunkan gitarnya dan aku tiba-tiba terobsesi untuk melihatnya.


"Kamu bisa gitar? ah.. aku boleh lihat nggak?".  Tanyaku nengan nada memaksa.


Leon nampak kebingungan namun hanya mengangguk dan membukakan tas gitar itu.


"Tapi lihat saja, jangan dimainkan ya! Ayahku melarang siapapun termasuk aku memainkan gitar ini". Dia nampak protektif.


Betapa bahagianya aku, bagaimana bisa ini seperti sebuah takdir. Gitar itu sangat mirip dengan yang ada di mimpiku.


"Wuahh... bagus sekali gitarmu Leon, eh maksudku Noel! Kapan-kapan ajari aku yaa!".


"O..oke". Jawabnya masih kebingungan namun ia mengakhirinya dengan senyum.


"Yaudah aku pamit ya!! Maaf belum bisa membantu hehe!!". Jawabku lalu berbalik badan, pergi dengan senang.


"Shire!!". Panggil Noel.


"Ya?". Tiba-tiba ia memberikan bunga.


"Ucapan selamat karena sudah sembuh". Noel tersenyum manis.


"Terimakasih, kalau boleh tahu ini bunga apa?".


"lily, hmmm kamu pasti nggak inget. Tapi aku selalu bawa ini kalau njenguk kamu". Jawabnya


Aku tersenyum dan menerimanya.


Tiba-tiba muncul sosok jahat yang ku kenal di mimpiku. Dokter Rendy dia datang membawa pedang dan hendak menyerang ayah Noel. Aku reflek langsung mengambil gitar dan melemparkannya kearah Dokter Rendy untuk mencegah serangan.


Aku tidak percaya apa yang barusan terjadi. Dokter itu tiba-tiba saja lenyap bagaikan asap setelah terkena pukulan gitar itu. Lalu yang tersisa hanyalah buku misterius yyang tak asing, karena sering kulihat di mimpiku.


"A-apa yang baru saja kau lakukan padanya? Kenapa pria jahat itu pergi?". Noel juga sangat terkejut.


"A- apakah aku membunuhnya?". Aku panik ketakutan melihat hal gila yang baru saja ku lihat, tak sadar air mataku mengalir.


Ayah Noel mengambil buku itu dan menatapku dengan senyuman.


"Tidak perlu takut, semua ini adalah konsekuensi ketamakannya. Dia bukan orang yang seharusnya ada disini, makanya dia hancur karena gitar itu". Ucap Ayah Noel.


"Kalau begitu saya ingin menanyakan satu hal lagi, kalau boleh tahu apakah anda mengenal Leon?". Tanyaku sambil menahan airmata.


"Tentu, dia adalah anakku... di dunia lain". Jawabnya.


"Jadi semua mimpiku benar adanya? kalau didunia lain hidup seseorang sepertiku dan seseorang seperti Noel". Tanyaku terkejut.


"Maksudnya apa ayah? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?". Tanya Noel kebingungan dan juga nampak masih syok.


"Kalian tahu teori dunia paralel?". Tanya Ayah Noel.


"Aku hanya pernah mendengarnya, namun merasa itu tidak masuk akal". Jawab Noel.


"Orang yang kalian lihat tadi bukanlah orang dari dunia kita, dia pasti kesini mencari pusaka pembaca masa depan". Jawab Ayah Noel.


"Ya, aku tahu itu lewat mimpiku. Sebenarnya pusaka apa itu?". Tanyaku.

__ADS_1


"Ikuti aku". Ajak Ayah Noel.


Kami pun mengikuti Ayah Noel memasuki rumah. Beliau membaca mantra dan muncul lubang hitam yang menyedot kami ke dunia lainnya.


Tiba-tiba kami berada di depan toko L Guitar yang selalu muncul dalam mimpiku. Aku segera memasuki ruangan itu dan memastikan apakah Shire lain dan Leon ada disana.


Mereka berdua nampak terkejut melihat kehadiran kami. Leon tiba-tiba menangis karena melihat ayah Noel.


"Ayahhh". Leon segera memeluknya.


"Aku bukan ayahmu nak". Kata Ayah Noel.


"Lalu dimana ayahku, katakan padaku dia masih hidup kan?". Ucap Leon.


"Dia ada di dunia ini, sebentar lagi dia akan tiba". Jawab Ayah Noel.


"Leon!!". Seseorang dari arah pintu memanggil Leon.


"Ayahhhhhh". Leon menangis lebih kencang lagi dan memeluk ayahnya.


"Hahaha, sejak kapan kau jadi begitu cengeng?". Tanya Ayah Leon.


"Ayah bercanda? aku begitu menderita tanpa ayah". Jawab Leon sambil meluapkan emosinya.


"Ayah melakukan ini demi kebaikan semuanya, mulai sekarang ayah tidak akan meninggalkanmu lagi". Jawab Ayah Leon.


Lucunya diruangan itu ada 3 orang yang wajahnya mirip, seakan-akan ada efek CGI disana.


Tiba-tiba seseorang masuk dan terkejut melihat kami semua yang ada di dalam ruangan. Dia adalah Dio, Dio nampak sangat syok dan akhirnya dia langsung pingsan.


Setelah beberapa saat Dio akhirnya bangun dan melihat kami lagi, membuatnya seperti akan pingsan lagi.


"Dio! jangan pingsan lagi" Ucap Shire dari Dunia lain.


"Shire, kenapa lu ada 2? orang-orang ini juga kenapa semuanya ada 2?". Tanya Dio.


Setelah kami bercerita panjang lebar akhirnya Dio paham namun masih ketakutan.


"Jadi Tuan ini ayah Leon? Aaah.. Benar, aku melihatnya ketika di Luar Negeri dia berkata padaku kalau aku harus mengikuti kata hatiku. Aku terpengaruh untuk pulang dan membatalkan beasiswaku untuk menjaga Shire yang kehilangan ibunya. Padahal saat itu aku hanya iseng cerita dengan pria yang ku anggap orang asing ini". Ucap Dio.


"Jadi ayah selama ini di Luar Negeri?" Tanya Leon.


"Ya, betul. Ayah tidak bisa membahayakanmu. Kalau sampai dokter Rendy tahu ayah masih hidup, dia mungkin akan menggila dan mencelakakan keluarga kita". Jawab Ayah Leon.


"Ya, semua ini memang Ayah Leon yang merencanakannya untuk mengalahkan Dokter Randy di dunia kalian, namun aku terkejut malah Shire dari duniaku yang berhasil mengalahkan Dokter Randy". Jawab Ayah Noel.


"Jadi benar aku telah membunuh Dr. Randy? Kenapa dia mati semudah itu? Kalau begitu seharusnya ayah Leon bisa mencegahnya dari dulu dengan memanfaatkan gitar ajaib itu". Jawabku.


"A-apa? kau membunuhnya hanya dengan gitar? Tuan tolong jelaskan". Tanya Shire dari dunia lain.


"Sebenarnya ada bagian dari buku ini yang hilang.. halaman yang menjelaskan tentang pusaka pembaca masa depan. Saya juga baru tahu kalau ternyata itu bisa jadi senjata yang mematikan bagi penjelajah dari dunia lain dan Shire berhasil mengungkapnya di waktu yang tepat". Jawab Ayah Leon.


"Jadi Dokter Randy selama ini tidak sadar kalau barang yang selama ini dia cari adalah gitar? Tega sekali tuan memberikan gitar itu kepadaku? Aku sangat tersiksa oleh nya". Shire dari dunia lain nampak kecewa.


"Shire, sejak awal saya tidak asal memberikannya kepadamu. Saya mendapatkan petunjuk kalau kamu orang yang tidak serakah dan memenuhi syarat memakai gitar ini. Jangan menyalahkan dirimu, semua malapetaka yang menimpa orang-orang disekitarmu itu memang sudah seharusnya terjadi. Hanya saja kamu mengetahuinya lebih cepat, anggap itu adalah sebuah anugerah". Ucap Ayah Leon.


"Baik saya akan menerimanya, namun saya ingin mengembalikan gitar itu kepada tuan dan menghilangkan kekuatan ini. Sebenarnya saya heran kenapa saya mendapatkan kekuatan lagi setelah bertemu Leon, padahal saya berhenti memainkan gitar itu". Tanya Shire dari dunia lain.


"Kamu salah, kamu tidak pernah sempat kehilangan kekuatan itu dan juga itu kembali bukan karena Leon. Kekuatan itu selalu ada padamu, yang mana awalnya mungkin tidak stabil dan bergejolak, kemudian dia akan menghilang sejenak sampai saat yang tepat akan berkembang menjadi lebih kuat". Jawab Ayah Leon membuat Shire dari dunia Lain terkejut, aku yang hanya melihatnya dari mimpi ikut memahami perasaan wanita itu.


"Tuan aku mohon, aku tidak ingin memiliki kekuatan ini lagi". Shire lain memohon dengan tulus.


"Tenanglah, nanti saat kau kembali dirumah tidak akan ada lagi gejala itu. Semua gitar pusaka pembaca masa depan telah musnah berkat wanita ini". Ayah Leon menatap kearahku.


Shire dari dunia itu pun menelepon ayahnya dan memastikannya. Wanita itu tersenyum bahagia mengetahui bahwa gitar itu sudah lenyap.


"Kalau begitu aku pamit mau beres-beres barang pindahanku". Ucap ayah Noel sambil tersenyum.


Kami bertiga pun pergi untuk kembali ke dunia asal dan saling melambaikan tangan, dihantarkan dengan senyuman penghuni dunia itu.


"Leon jaga Shire baik-baik!". Teriakku di detik terakhir portal itu ditutup.


"Tunggu". Ucap Shire dari Dunia Lain.


"Bolehkah aku ikut sebentar, aku hanya ingin melihat wajah ibuku sebentar saja". Lanjutnya.

__ADS_1


Aku mengangguk dengan senyuman dan menggandengnya untuk ikut ke duniaku.


__ADS_2