
Tring! Tring!
Dering ponsel Tarana terlalu menarik perhatian untuk diabaikan. Sebab tak enak menyerap atensi terlalu banyak, ponsel itu lantas segera ia matikan. Tak peduli siapa pun yang meneleponnya, itu mengganggu.
"Kenapa gak diangkat, Tar?" Kyla menyadari pergerakan gesit Tarana.
"Salah sambung kayaknya, Ma. Nomornya gak aku save soalnya."
Tapi itu memang benar adanya. Kontak itu masih asing. Tak berjejak pernah menghubunginya, ataupun nomor yang familiar pernah dibacanya.
Siapa orang rajin yang meneleponnya jam enam pagi seperti ini?
Dalam waktu dekat ponsel itu ingin disimpannya lagi, deringnya mengejutkan kali ini. Tak diprediksi, dan getarannya nyaris membuatnya terpental dari pegangan santai Tarana.
Oke, sudah cukup. Ini mulai menyebalkan.
"Tar, angkat aja." Perempuan yang berstatus sebagai ibu Bian menahan tangan Tarana yang baru saja ingin men-declined kedua kalinya. "Takutnya penting, Tar. Kalau takut mau Mama yang angkat?"
"Bukan takut, sih, Ma. Justru karena ganggu." Sempat mengerling jengah pada nomor yang tak putus asa menghubunginya, Tarana pada akhirnya menggulir tombol hijaunya. Menepikan dirinya dari perkumpulan dua orang tua yang penasaran akan teleponnya ini. "Sebentar ya, Ma, Om Liel. Tarana angkat dulu."
Layar menghitamnya ditempelkan sepersekian detik setelah menjauh. Tanpa sapaan yang sepatutnya, menembakkan targetnya tepat sasaran. "Siapa? Ada maksud apa menelepon saya sepagi ini?"
"Ini Bian. Mulai sekarang save nomor saya." Di seberang sana juga tak segan langsung mengungkapkan identitasnya tanpa basa-basi. "Lalu, saya ada satu permintaan yang harus kamu penuhi sekarang juga. Lepaskan celemek kamu, dan ikuti apa mau saya."
***
"Mau ketemu anak kam- Nataya aja kamu minta saya ke sini sesuai arahan kamu?" Nyaris saja kata-kata itu keluar dari bibirnya secara lancang.
Seberapa kesalnya Tarana sekarang, karena terasa seperti dikerjai, kata-kata itu tidak pantas terucap. Sama sekali tidak pantas.
Setelah menikahi Bian, mereka resmi menjadi musuh. Tapi bukan berarti, anak tak bersalah itu terkena imbasnya. Anak Bian, mulai sekarang menjadi anaknya juga.
Ha ... kapan Tarana bisa menjadi sedewasa ini? Jujur, ia merasa bangga, walaupun sedang mencak-mencak beruntun sekarang. "Kamu bisa meminta saya ke sana, Bian. Saya tidak akan menyasar."
"Dengan suara kamu yang semakin mendekat, saya jadi tahu posisi kamu, Tarana." Tubuh besarnya mencuat dari balik pintu, hingga menutup seluruhnya tepat di depan kamar anak perempuannya. "Mama dan papa saya?"
__ADS_1
"Mama masih masak, dan saya seharusnya masih bantu. Lalu papa kamu sedang duduk-"
"Oke, kalau begitu, sekarang giliran kamu dan saya," potong Bian agar menjadi ringkas. Mengusap tangannya yang mendingin, lantas menapakinya lagi di pundak Tarana. "Maaf. Saya gugup saat ini."
"Gugup?" ulang Tarana menyeringai. "Sungguh? Saya kira kamu orang monoton. Tapi sepertinya gugup jadi membuat kamu kehilangan pengendalian kata-kata dan tingkah laku kamu, ya?"
"Saya serius, Tarana." Bian menunduk lurus pada orang yang tingginya tak sampai pada dagunya. "Saya belum pernah mengenalkan anak saya pada perempuan mana pun."
"Ya. Saya juga cukup terkejut pertama kali mendengar kamu mengakui punya anak." Kemudian, Tarana melemaskan otot-ototnya seolah menghadapi Nataya bukan masalah besar. "Tapi lebih terkejut lagi kalau kamu 'si penyentuh ini' belum memiliki anak, sih."
"Hei. Itu dalam konteks yang berbeda, ya," protes Bian jengkel. "Dan saya serius, Tarana. Mulut saya tidak pandai mengekspresikan sesuatu. Tapi saya lebih nyaman kalau-"
Berjingkat, Tarana dengan mudahnya merangkul leher Bian. Memaksanya menunduk, juga menyatukan bibir mereka untuk pertama kalinya.
Di hari kedua setelah pernikahan. Bukan hari pertama. Atas inisiatif perempuan pula.
Namun, cukup melunturkan kegugupan Bian yang tergantikan oleh bengongannya yang cukup lama, hingga Tarana mendorong Bian agar membentenginya. "Jalan duluan. Saya di belakang kamu."
"Saya justru memanggil kamu karena saya tidak-"
Klak!
Tarana benar, tapi ....
Bisa dikatakan, nyaris tujuh puluh persen waktu Nataya dihabiskan bersama kakek neneknya, ketimbang Bian yang hanya menyempatkan waktu sepulang kerja saja.
Mau merasa bersalah, tapi bagaimana lagi?
Berganti Tarana yang menepuk ringan pundak Bian menyadarkan lamunannya. Berbisik lirih dan menghipnotis. "Jalan, Bian."
Secara otomatis, kaki Bian lebih luwes bergerak daripada tadi. Menuju kasur kecil anaknya yang berbaring pulas, lalu duduk di tepiannya agar tak mengganggu Nataya.
Dan Tarana sendiri, hendak melihat dahulu interaksi keduanya dari jauh. Baru sekarang ia lihat paras mungil nan menggemaskan itu. Sekali pandang, Tarana sudah menyukainya. Dia cantik, entah bagaimana kalau besar nanti.
"Hey? Tunggu apa kamu? Ke sini," tutur Bian mengerut tak paham. "Kamu bilang tidak meninggalkan saya."
__ADS_1
"Saya memang tidak, Bian." Mata Tarana tak dapat beralih walaupun sebentar. Menunjuk menggunakan jari kelingkingnya pada anak kecil yang terpejam nyaman itu. "Saya masih di sini. Bicara dulu padanya. Bangunkan agar dia tidak terkejut."
Lagi-lagi Bian diperintah oleh Tarana. Namun, semuanya terasa masuk akal di telinganya. Tak dapat dielak, apalagi ditolak. "Nataya."
"H-hm."
Ah, sial. Tarana tak dapat menahan diri untuk tak mengepakkan sayapnya. Nataya begitu lucu dengan suara imutnya! "Dia sama seperti kamu."
"Dalam hal?" tanya Bian.
"Menjawab panggilan saya seperti itu," kekeh Tarana menyipitkan matanya. "Kalian berdua lucu."
Ujaran itu terasa janggal. Menciptakan kesepian utuh untuk diserap keduanya. Melunturkan suasana hangat yang tadi tercipta. Kekosongan pekat.
Sial. Terkadang mulut ceplas-ceplosnya ini harus diberi pelajaran. "Maksud saya ..., dia yang lucu. Tapi kamu menyebalkan."
"Tadi kamu bilang-"
"Ssstt!" desis Tarana tajam. Melipat lengannya menanti-nanti kapan ia bisa segera diperkenalkan. "Bangunkan dia lagi."
"Oke, Tarana. Saya mulai berpikir ini bukan usul yang baik-"
"Papa?"
Kata-kata kecil itu menghangatkan hati keduanya. Termasuk memotong perkataan tak selesai dari Bian.
Pria itu ikut tersenyum hangat. Baru pertama kali anaknya menyapanya demikian. Selama ini ia terlalu sibuk mengurus segalanya sendirian, dan baru bisa menikmati momen ini.
Ah, dirinya jadi pria yang sentimentil. Ibu jari raksasa di pipi mungil dingin Nataya bergerak mendayu. Menatap anaknya yang mendamaikan segala ombak kehidupannya. "Kebangun, Nataya?"
"Papa gak kerja?" tanyanya cadel. Huruf r-nya masih belum sempurna terucap. "Papa gak telat?"
"Papa hari ini libur, Sayang," balas Bian menenangkan. "Mau liburan sama Papa?"
Lengan kecil itu tak berbasa-basi untuk mengambil kesempatan macam ini. Melingkar begitu rapat dan tidur di pangkuan Bian yang tak berkutik.
__ADS_1
Sungguh. Semua perlakuan ini baru bisa ia dapatkan dari Nataya atas anjuran Tarana.
Melirik takjub ke ambang pintu, yang dibalas meledek oleh Tarana disertai gerak bibirnya tanpa suara, "Ah, sama-sama, Bian Pramoko."