
“Perfect by nature
Icons of self indulgence
Just what we all need
More lies about a world that
Never was and never will be
Have you no shame don't you see me
You know you've got everybody fooled"
Lyra. Panggilan seorang gadis yang saat ini menyanyikan sepenggal bait lagu Evanescence “Everybody’s Fool” sendirian di ruang tamu rumah kecilnya sambil memainkan gitar. Suaranya sangat jernih, memiliki artikulasi pengucapan yang jelas dengan suara yang segar seperti sari buah apel.
Ia sangat menyukai lagu-lagu Evanescence, grup musik Rock Amerika yang didirikan di Little Rock, Arkansas pada tahun 1995 oleh penyanyi sekaligus pianis Amy Lee dan gitaris Ben Moody. Ia bahkan sering menggumamkan lagu-lagu band tersebut kapanpun dan di manapun. Bahkan di saat Evanescence lama tidak merilis album baru, ia tetap menantikan lagu apa yang akan dihasilkan oleh mereka. Bagaimanapun ia adalah seorang penggemar musik Gothic, baik itu beraliran Rock ataupun Metal.
DOK! DOK! DOK!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dengan keras dari luar yang menyentaknya. Segera ia meletakkan gitarnya di atas sofa dan beranjak membukakan pintu. Di sana tampak seorang wanita paruh baya berambut keriting dan berbedak tebal serta balutan busana yang berbahan sutera. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Garrett, pemilik rumah kontrakan yang ditinggalinya saat ini, menagih bayaran kontrak per bulannya.
“Maafkan aku, Nyonya Garrett, aku belum gajian bulan ini, kafe selalu sepi sepanjang musim semi,” ungkap Lyra.
“Setidaknya ada setengah uangnya, masa tidak punya?” tanya Nyonya Garrett congkak.
“Sebenarnya aku punya, tapi aku sisihkan itu untuk biaya semesterku, sebentar lagi aku ujian,” timpal Lyra memohon. “Tolong beri aku keringanan, aku janji akan segera membayarnya,” tambahnya.
Sayangnya Nyonya Garrett tak mau tahu, ia tetap menadahkan tangan kanannya dan membuat Lyra pasrah memberi wanita itu beberapa lembar uang berwarna merah. Itu pun masih setengah dari biaya asli. Tanpa mengatakan apapun, Nyonya Garrett beranjak pergi setelah menerima uang itu.
Tak lama setelahnya, saat memperhatikan punggung Nyonya Garrett perlahan menjauh, seorang pria muncul di depan rumahnya, memarkirkan motor Ducati-nya di sana dan melepas helm-nya, lalu tersenyum ke arah Lyra sambil melambaikan tangan dengan ceria. Dia adalah Musa, sahabat Lyra saat ini, satu-satunya laki-laki sebaya yang paling dikenal Lyra.
“Kesambet apa siang begini datang kemari?” tanya Lyra.
“Tentu saja kerja kelompok tugas Profesor Lewis, kau lupa ya? Besok lusa kita presentasi tau?!” seru Musa yang kini nyelonong masuk ke dalam rumah Lyra lalu meletakkan ranselnya dan mengeluarkan beberapa buku referensi untuk tugas Semantik.
“Oh My God, bagaimana bisa aku melupakan PR itu?!” seru Lyra terkejut, lalu menutup pintu rumahnya dan beranjak menenmani Musa di ruang tamu.
“Kau sering membolos kuliah akhir-akhir ini, tapi aktif ikut ekskul, kau memang aneh!” seru Musa.
“Aku butuh uang, Musa, tadi Nyonya Garrett saja menagih tagihan kontrak, padahal aku mau menyisakan uang itu untuk membayar semester,” timpal Lyra lesu.
“Kok kamu nggak bilang aku? Aku bisa meminjamimu uang, kita kan teman,” timpal Musa sepele.
Lyra memasang muka datar ke arah Musa, sebal, lantaran Musa tak pernah memahami situasi yang dialamimya selama ini. Pria itu hanya menganggap enteng kehidupannya hanya karena dirinya aktif di beberapa kegiatan kampus.
“Sudahlah, ayo kita kerjakan ini, bab apa kita?” tanya Lyra.
“Entah, babnya urut kan? Coba aku tanya Liam, kelompoknya kemarin bab apa!” seru Musa sambil membuka aplikasi Whatsapp di ponselnya dan mulai menge-chat Liam, salah satu teman laki-laki sekelas.
"Aku akan menyiapkan laptop, akan ku buatkan ppt-nya!" seru Lyra beranjak memasuki kamar untuk mengambil laptopnya.
"Oh, ya, Lyr, Profesor bilang kita harus membuat kuis di ClassPoint!" seru Musa.
"Serahkan saja padaku, tapi jangan pernah komen dengan desainnya!" seru Lyra yang sudah kembali di ruang tamu sambil membawa laptop lalu mulai duduk di sofa dan membuka Windows.
"Pasti My Little Pony, kayak nggak tahu kamu aja," tebak Musa sambil melihat ke arah Lyra dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
"Ya dong," timpal Lyra mendongakkan kepala. Yups, satu kelas sudah mengenal Lyra sebagai seorang Brony, penggemar serial animasi My Little Pony garis keras yang nggak pernah ketinggalan info apapun seputar pony, bahkan sampai memasukan elemen pony ke dalam tugas kuliah sekalipun. "Gimana, Liam minggu lalu bab apa?" tanyanya setelah itu saat telah membuka aplikasi Microsoft PowerPoint yang akan digunakannya untuk menciptakan slide presentasi.
"Bentar, belum di-read, nih semprul emang jarang buka WA, nge-push rank mulu dia mah," jawab Musa yang rupanya juga sedang bermain game Clash of Clans saat ini.
Lyra mencoba untuk mencuri pandangan ke arah layar ponsel pria itu yang menampilkan markas kastil game Clash of Clans. Sontak Lyra pun menyipitkan kedua matanya dan memasang muka datar. "Lah, kamu sendiri main game tuh!" serunya memergoki Musa.
"Hehehe," timpal Musa nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi kerja kelompok apa enggak nih?" tanya Lyra menantang.
"Emmm, ini aku ceritanya bingung sama tugas Semantik soalnya nggak paham," timpal Musa, masih menyempatkan fokusnya ke dalam game tanpa melihat ke arah Lyra sama sekali.
"Kamu kira aku paham, masuk aja hampir nggak pernah?!" timpal Lyra.
"Ya, kan kamu pinter," ucap Musa seenaknya. Terlebih lagi kali ini ia merebahkan tubuhnya di atas sofa lalu asyik main game.
Lyra memutar bola matanya saat memperhatikan sahabatnya itu. Sebenarnya ia kesal, namun bagaimanapun ia terima saja daripada tugas nggak kelar-kelar. Mau nggak mau ia pun mulai membuka-buka buku Semantik dan mempelajari sendiri perbab-nya saat itu juga.
***
Di sebuah warung makan di jalan jajanan kota, Lyra dan Musa duduk di sebuah meja dekat dinding sambil menatap layar ponsel mereka masing-masing.
"Fokus banget kamu!" seru Musa memulai topik pembicaraan. Ia membuka aplikasi Webtoon, tapi tidak benar-benar membaca komiknya. Matanya kini teralih pada Lyra yang masih serius memahami bab Semantik melalui file pdf-nya.
Lyra hanya diam, cuek. Lebih peduli dengan materi Semantik yang dibacanya saat ini lantaran ia harus bekerja ekstra membuatkan slide PowerPoint sekaligus kuis ClassPoint.
"Ya, nggak perlu baca seluruh kalimat kali, Lyr, Liam aja ngomong kalau dia sama Rosie nyontek video di YouTube, kita nggak niru aja tuh biar nggak pusing-pusing," timpal Musa.
Lyra melihat ke arah Musa sejenak dengan tatapan sinis. "Terserahku lah!" serunya datar.
"Nyam nyam!" seru Musa antusias. Ia segera menyemprot kecap ke dalam kuah baksonya, juga saus dan sambal. Terburu-buru ia tetap melahap pentol besar di mangkuknya yang masih panas.
Lyra mengerutkan dahi, mendapati tingkah Musa yang memang selalu membuatnya terheran-heran setiap saat. Alih-alih meniup pentol, laki-laki itu langsung melahapnya dengan kepanasan.
"Kau sungguh berlebihan!" seru Lyra.
Musa tidak peduli, ia tetap makan, hingga tiba-tiba raut mukanya berubah drastis selang beberapa detik. Wajahnya yang semula bahagia kini menjadi diam seribu bahasa, seolah-olah menahan sesuatu. Lyra menanggapinya dengan diam dan hanya melihat ke arahnya. Musa seketika itu juga memuntahkan pentol yang sebelumnya telah dikunyahnya kembali ke mangkuk. Lyra heran.
"Ada apa?" tanya Lyra tak mengerti.
"Aww!" lirih Musa sambil menyentuh pipi sebelah kanannya, mengeluh kesakitan.
"Gigimu sakit?" tanya Lyra, entah kenapa dia masih santai.
Musa tak menjawab, hanya menggumamkan betapa sakitnya giginya saat ini.
Lyra menelan ludah sejenak lalu tanpa pikir panjang ia membawa Musa pulang dan membuatkannya air garam.
"Coba kumur dulu!" seru Lyra yang kini menemani Musa duduk di sofa ruang tamunya, masih memegangi pipi sebelah kanannya. Gadis itu menawarinya sebuah gelas yang sudah ia campur dengan garam.
Musa menolak, ia merasa bahwa dirinya tak mampu bergerak, rasa sakit di giginya benar-benar tak tertandingi.
"Besok lagi kalau makan jangan berlebihan!" seru Lyra sambil meminumkan segelas air garam itu ke dalam mulut Musa perlahan. Ia benar-benar perhatian dengan sahabatnya. "Kumur dulu, lalu muntahkan ke sini, nanti ku buangkan!" serunya sambil menaruh sebuah tong sampah mini bergambar Twilight Sparkle di atas meja.
Musa sendiri tampak menahan tangis, pasalnya ia tak tahu harus melakukan apa di saat giginya sakit. Ia belum pernah mengalami ini sebelumnya atau orangtuanya akan marah kalau sampai tahu karena mereka akan berpikir kalau dirinya malas sikat gigi, padahal sejauh ini ia rajin menyikat giginya sehari empat kali.
"Coba aku lihat!" seru Lyra lagi sambil menyalakan senter ponselnya dan mengarahkannya ke arah mulut Musa yang kini terbuka. Ia melihat baik-baik keadaan gigi Musa sebelah kanan yang tampak berlubang dan lubangnya itu cukup besar, juga banyak sisa-sisa makanan Musa yang tertinggal di sana, seperti nasi, cabai serta bekas-bekas snack.
__ADS_1
"Lubang gigimu kotor sekali, ku bawa ke dokter gigi ya biar dibersihkan!" seru Lyra lagi. Entah kenapa ia begitu perhatian meski ia tidak memiliki perasaan apa-apa pada Musa.
Musa menggeleng-gelengkan kepala, ia kini berpikiran yang tidak-tidak. Trauma dengan serial Upin & Ipin episode gigi di mana gigi yang sakit itu harus dicabut. Dia tidak ingin giginya dicabut.
"Nggak dicabut apa?" tanya Musa panik.
"Enggak, pasti cuma ditambal. Soalnya kalau dalam keadaan sakit, gigi nggak boleh dicabut!" seru Lyra. "Ayo, aku antar ke dokter gigi ya, mumpung baru jam delapan, kurang sejam lagi sudah tutup!" lanjutnya.
"Nggak mau, aku mau tidur aja, paling besok sembuh," timpal Musa menolak.
"Mana mungkin kamu bisa tidur, itu pasti cenut-cenut banget!" seru Lyra.
Musa tak mengatakan apa-apa, ia hanya berbaring di atas sofa sambil berkemul selimut Hello Kitty milik Lyra.
"Ya udah deh terserahmu, aku mau ngerjakan ppt!" seru Lyra pasrah. Ia pun beranjak menuju kamarnya, meninggalkan Musa sendirian di ruang tamu.
Kini Lyra pun berganti pakaian. Sebelumnya ia mengenakan baju terusan warna putih selutut, lalu ia menggantinya dengan singlet warna biru langit serta celana pendek sepantat berbahan katun, setelan yang sering ia pakai di malam hari menjelang tidur. Tak lupa ia mencuci mukanya dengan facial foam lalu memoles mukanya dengan krim malam berwarna krem.
Tidak langsung tidur meski sudah siap, ia membuka laptopnya dan mulai menulis beberapa poin penting dari materi bab Semantiknya pada halaman slide putih polos yang belum ia hiasi apapun. Ia memang baik-baik saja bila harus mengerjakannya seorang diri karena ia tahu kalau Musa adalah tipe pemalas yang hobinya mengawur ketika mengerjakan tugas, apalagi malam ini pria itu mengalami sakit gigi.
Lembur semalaman, ia menguap berulang kali dan bolak-balik mengambil air putih dari dispenser di depan kamarnya. Lyra tidak suka minum kopi sejak kuliah, ia merasa kalau mulutnya tak sesehat dulu kala, ia akan gampang sariawan bila minum kopi, terlebih lagi sariawannya biasanya tak terima satu, melainkan empat atau lima, seringnya di lidah.
Meski menahan kantuk, Lyra merasa kalau malam ini ia juga terkena insomnia. Ia mencoba untuk merebahkan badannya sejenak dan memejamkan mata. Bukannya ketiduran, ia justru masih terjaga dan alhasil ia tidak tidur sama sekali sampai pagi.
***
Sebuah tape recording mini yang berada di atas kulkas memutar sebuah lagu berirama ringan pagi ini. "Everybody's Fool" milik Evanescence memiliki tempat tersendiri di dalam benak Lyra, ia sering memutarnya pada saat-saat apapun, terutama ketika ia sedang bersih-bersih rumah. Saat ini ia sendiri tengah menggoreng sosis di dapur, ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli lauk pauk di pasar, sudah tiga hari ini ia menggoreng sosis bila ingin makan.
Ketika masakannya siap, ia pun menghidangkannya di atas meja makan. Tak lupa ia menyiapkan dua piring nasi hangat, satunya untuk Musa yang saat ini masih tidur di atas sofa ruang tamu.
"Musa, ayo bangun, sudah ku buatkan sosis, ayo makan!" seru Lyra membangunkan Musa dengan perlahan. Ia menepuk-nepuk lengan Musa yang terbungkus oleh selimut Hello Kitty-nya.
Tampak raut muka polos Musa begitu kedua mata sayunya terbuka. Ia melihat ke arah Lyra yang tersenyum ceria di atasnya. Sebenarnya ia bertanya-tanya kenapa Lyra begitu perhatian terhadapnya meski dia hanyalah seorang tamu.
"Waktunya sarapan!" seru Lyra.
"Aku nggak bisa makan," lirih Musa, malas bangun.
"Aku suapin ya, makan pelan-pelan," timpal Lyra. "Perutmu harus terisi, biar bisa diisi obat nantinya," tambahnya lembut.
"Nggak mau, aku mau tidur aja, hari ini kuliahnya libur kan?" timpal Musa malah membalikkan badannya dan kembali memejamkan mata, berniat untuk tidur lagi.
Lyra menghela napas sejenak. "Apa perlu ku blenderkan pisang? Kamu harus sarapan, nanti asam lambungmu naik, gigimu jadi tambah sakit malahan!" serunya.
Namun Musa tak peduli. Giginya tak terasa sakit pagi ini, mungkin karena efek tidur nyenyaknya semalaman bersama selimut Hello Kitty Lyra yang berbahan bagus. Ia kembali tidur.
Lyra pun pasrah dan beranjak kembali ke dapur, membereskan beberapa barang di sana lalu sarapan sendirian. Ia tahu kalau Musa pasti lapar nantinya, jadi ia tidak menghabiskan jatah sosis Musa, tapi meletakkannya di atas kompor, siapa tahu Musa mengambilnya nanti.
Pagi ini juga Lyra harus berangkat bekerja, ia tidak mungkin mengawasi Musa di saat-saat ia butuh uang. Lagipula Musa tidak akan paham dengan kehidupan yang ia alami. Yang Musa tahu tentang Lyra hanyalah teman sekelas, sejurusan, sefakultas dan sehimpunan yang selalu memiliki nilai semester terlampaui. Yeah, atau mungkin khusus semester ini nilai Lyra akan turun karena sering membolos.
Tepat saat jarum jam menunjuk ke arah delapan, Lyra meninggalkan rumah, membiarkan tape recording-nya masih memutar lagu-lagu Evanescence. Sementara Musa belum juga memiliki keinginan untuk benar-benar bangun sampai akhirnya lagu-lagu Evanescence dari tape recording itu telah berakhir.
Perutnya berbunyi, menandakan bahwa dirinya sangat lapar. Musa pun berjalan ke arah dapur, mencari cemilan yang bisa ia santap. Ia membuka kulkas pada awalnya, namun hanya ada sayur-sayuran dan sirup yang belum diolah. Matanya pun memeriksa ke sekitar, tertuju pada dua buah piring berisi nasi dan sosis yang terletak di atas kompor. Menelan ludah sejenak, Musa membawa hidangan yang memang awalnya disiapkan Lyra untuknya itu ke meja makan, hendak memakannya.
Baru saja duduk. Ia melahap sesendok nasi dan tidak sengaja mengunyahnya dengan gigi geraham sebelah kanannya. Matanya terbelalak kaget seketika, ia pun memuntahkan makanannya kembali ke piring dan menangis. Tidak ada siapapun di sana, bahkan tidak ada Lyra, ia sepuas-puasnya menangis dalam kesendirian. Giginya benar-benar sakit, ia tidak menyangka kalau sakit gigi akan sesakit ini.
***
__ADS_1