
“Kamu sudah datang?” Tanya pak Antony kepada sang putra, saat berpapasan di lantai dua rumah mereka. William mengangguk. Ia kemudian memberikan berkas-berkas yang di minta sang papa.
“Kita bicara di ruang kerja papa.”
William mengikuti sang papa masuk kedalam ruang kerja pria paruh baya itu.
“Kenapa wajahmu kusut begitu? Seperti pria kurang belaian saja.” Ucap pak Antony sembari menghempaskan bokongnya di atas kursi kerja.
“Katakan pada istri papa, jika aku tidak mau menikahi putri om Regan. Ini bukan jamannya Siti Nurbaya, ini jaman Siti Nurhaliza.”
Pak Antony terkekeh mendengar ucapan sang putra.
“Papa juga tidak setuju. Tetapi, kamu tau lah, jika papa tidak mendukung mama mu, kesejahteraan hidup papa akan terancam.”
William memicingkan matanya. Ternyata, papanya sendiri tak bisa diandalkan. Percuma minta dukungan pada pria paruh baya ini. Yang di pikirkan hanya kesenangan di bawah perut saja.
“Lalu? Apa papa akan mendukung rencana mama? Apa papa mau mempunyai menantu gadis ingusan itu?”
“Bukannya papa tidak setuju, apalagi itu anaknya Regan. Tetapi, papa punya pilihan lain untuk kamu.”
Mata William membulat mendengar ucapan sang papa. Apa orang tuanya mengira, ia pria yang tak mampu untuk mencari pasangan hidup? Hingga kedua orang tuanya mempunyai pilihan untuk dia?
“Pa.!! Apa papa tidak waras? Kenapa papa jadi ikut-ikutan dengan mama? Aku baru 32 tahun. Bukan 42 tahun. Kenapa kalian repot-repot mencarikan jodoh untukku?”
“Papa lebih dulu. Jauh sebelum kami pulang kampung, dan mama mu melihat foto putrinya Regan.”
William menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Astaga. Apa kalian tidak percaya dengan pesona ku? Aku masih sanggup mencari seorang pendamping hidup. Kalian tak perlu ikut campur urusan ku.”
William bangkit dari duduknya.
“Mau kemana kamu? Kita makan malam dulu.”
“Aku tidak berselera makan di rumah ini.”
Pria itu kemudian meninggalkan sang papa sendirian di ruang kerjanya.
“Eh, ada William? Kapan datangnya sayang?” Ucap Nyonya Aurel ketika melihat sang putra di ujung tangga. Membuat kakak dari Willona itu menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
William menghampiri sang mama, dan memeluk sebentar. Meski hatinya dongkol, namun ia tak melupakan sopan santunnya pada orang tua.
“Ada masalah?” Tanya nyonya Aurel yang merasa putranya sedikit berbeda sore ini.
“Tidak.” Jawab William singkat.
“Lalu? Kenapa wajahmu di tekuk begitu?”
William menggeleng. “Aku pulang dulu, ma.”
“Lah, bukannya ini juga rumahmu? Mau pulang kemana?”
“Ke tempat dimana aku merasa nyaman.”
Alis nyonya Aurel berkerut mendengar jawaban sang putra. Apa William sebegitu marah padanya karena rencana perjodohan itu?
“Kamu masih marah sama mama?”
“Marah pun, aku tetap tak bisa merubah keputusan mama. Apa gunanya?” William mengedikan bahu. Ia tau betul sifat sang mama, Keras kepala.
Setelah mengucapkan hal itu, William pergi. Ia benar-benar meninggalkan rumah orang tuanya. Tujuannya sekarang hanya menemui Regina, sang sekretaris pujaan hatinya. Satu-satunya orang yang William anggap mampu memberinya kenyamanan, dan ketenangan.
Nyonya Aurel menoleh ke sumber suara. Kepala wanita paruh baya itu mengangguk.
“Apa papa bertengkar dengannya? Mama lihat, wajah William sangat kusut. Apa ada masalah di kantor?” Nyonya Aurel tau, putranya datang untuk memberikan berkas kepada sang suami.
Pak Antony menghela nafasnya pelan.
“Dia tidak setuju dengan pilihan mama. Dia meminta papa untuk berbicara dengan mama.”
“Lalu?” Tanya sang istri dengan mata menyipit.
“Papa tau jawabannya. Karena itu, William juga marah sama papa.” Pak Antony sengaja tak mengatakan jika William juga menolak pilihan darinya. Meski pria paruh baya itu belum mengatakan, siapa gadis yang ia pilih menjadi menantunya.
Nyonya Aurel mencebik. “Baguslah jika papa tau.”
“Tetapi, papa ingin William menikah dengan Regina. Pilihan yang paling tepat untuk William.”
Nyonya Aurel melipat kedua tangannya di dada. “Kenapa papa begitu ingin Regina menjadi menantu papa? Apa supaya papa bisa setiap hari melihatnya?”
__ADS_1
Pak Antony menggelengkan kepalanya. “Jika William menikah, sudah pasti dia akan membeli rumah sendiri. Tidak mungkin mau tinggal bersama kita.”
“Lalu?”
“Papa sudah sering mengatakannya, Regina itu gadis baik-baik. Hanya itu saja. Tidak ada yang lain.” Setelah mengatakan hal itu, pak Antony kembali memutar langkahnya menaiki tangga. Meninggalkan sang istri begitu saja.
“Dasar keras kepala.” Gerutu pria paruh baya itu.
“Hei, mama masih bisa mendengarnya.” Teriak sang istri dari ujung tangga. Wanita itu kemudian terkekeh.
****
“Kamu masak apa, Hon?” Tanya William sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Regina.
Wanita itu terlonjak. Hampir saja ia memukul William dengan spatula yang sedang ia gunakan untuk mengaduk makanan di dalam wajan.
“Sepertinya sangat enak. Itu apa Hon?” Tanya William kembali. Pria itu menumpangkan dagunya di atas bahu Regina.
“Ini ayam kecap. Kamu mau coba?”
Kepala William menggeleng kecil. “Nanti saja. Aku mau mandi dulu. Tunggu aku, kita makan malam bersama.” Pria itu meninggalkan sebuah kecupan pada pipi Regina. Kemudian meninggalkan wanita itu.
“Apa aku benar sudah jatuh cinta padamu, Will?” Ucap Regina lirih, sembari menatap punggung William yang sedang menapaki anak tangga.
Wanita itu mengusap dadanya, semenjak bersama William baru kali ini ia merasa ada getaran berbed di hatinya. Bahkan, wanita itu ingin cepat bertemu William dan menghabiskan waktu bersama.
“Semoga kamu pilihan terbaik, dari yang paling baik, William Antony Sanjaya.”
Regina tersenyum sendiri. Ia kemudian menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya. Kepala wanita itu pun menggeleng dengan keras.
“Sepertinya aku sudah tidak waras.”
Regina pun kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Ia ingin cepat selesai, supaya ia juga sempat menyiapkan pakaian ganti untuk William.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.