
Kulihat jam tanganku, sudah
hampir jam 21.00 malam…
“Sudah makin malam Sisca…nanti
Satrio akan cari kamu…” ucapku seraya bangkit dari tempatku duduk di pantai
berpasir.
“Kita masih bisa ketemu lagi..?
sampai kapan kamu disini…?” balas Sisca sambil ikut berdiri dihadapanku
“Mungkin besok urusanku sudah
selesai….dan kembali ke Jakarta” Ucapku berbohong, padahal sebenarnya aku masih
punya waktu sampai lusa. Aku tidak ingin mengingat bahkan kembali ke masa lalu
yang sudah aku coba lupakan .
Perutku terasa lapar saat kembali
melangkah ke Hotel, apalagi tadi sempat berjalan agak jauh mengantar Sisca
sampai ketempat pemberhentian taksi. Saat melintas di lobby kutanya salah satu
staff pegawai hotel, apakah resto masih buka untuk makan malam. Jawaban pegawai
hotel itu cukup melegakan hati, karena Resto mereka buka hingga larut malam,
tidak seperti di Jakarta jam 20.00 saja mungkin mereka sudah tidak melayani
tamu hotel untuk makan malam.
Kubawa piring penuh berisi
beberapa menu lauk yang disediakan pihak Hotel, aku mengambil tempat duduk
dibagian luar ,smoking area agar bisa santai dulu nanti setelah makan malam.
Aku santap makan malamku dengan
lahap, tapi kurasa ada sepasang mata memperhatikanku, aku menatap sekilas
kedepanku, karena tadi kulihat hanya ada satu orang yang duduk di area smoking
area resto. Seorang wanita keturunan Tionghoa melihat kearahku smabil menghisap
rokoknya. Tahu aku melihatnya, dia tersenyum kearahku. Aku balas tersenyum lalu
kulanjutkan makan malamku.
Usia wanita ku taksir 6 hingga 7
tahun diatasku, walau gaya berpakaiannya tetap terlihat modis seperti para
wanita berusia 30 an
“Bukan orang sini ya?” ucap
wanita itu sambil mengepulkan asap rokoknya.
“Iya ci…..saya dari Jakarta…”
jawabku, sambil mencoba meng akrabkan diri dengan panggilan cici (kakak) ke
wanita itu.
“Kalo cici ? “ aku balik bertanya
membuka obrolan
“Saya juga bukan orang sini, saya
dari Belitung ..” jawabnya
“Oh…urusan bisnis ya?” lanjutku
lagi
“Iya….kalo kamu?” balas wanita
itu
“Saya tugas dari
perusahaan….hanya sampai lusa disini…” jawabku sambil pindah ketempat duduk
yang tidak terlalu jauh dari wanita itu.
“Oh ya…perkenalkan…saya Adrian….”
Ucapku lagi sambil mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan
“Meihwa….panggil saja mei…”
balasnya sambil menjabat tanganku
Beberapa menit kemudian kami
terlibat obrolan seputar bisnis dan pekerjaan, ternyata wanita ini enak diajak
ngobrol dan seperti gaya orang keturunan Tionghoa umumnya, mereka bicara ceplas
ceplos dan tidak penuh dengan basa basi.
Ternyata wanita ini cukup banyak
bisnisnya, dari mulai tambang timah , restoran sampai bisnis property,agak
minder juga aku berbicara soal bisnis dan pekerjaan begitu mengetahui usaha
yang digeluti wanita bernama meyling ini.
“Ci meihwa sudah pernah ke
Jakarta….?” Ucapku melanjutkan obrolan
“Sudah…beberapa kali, saya punya
saudara di Jakarta, didaerah pluit…tapi sampai sekarang saya ga faham area
Jakarta ..” Sahutnya
“Ohh….kalo kapan waktu sedang
dijakarta, kontak saya aja ci…saya siap jadi tour guide nya…” ucapku sambil
tertawa.
“Boleh juga…” ujarnya sambil ikut
tertawa
“Sudah berkeluarga..?” tanyanya
setelah tawa kami berhenti
“Sudah Ci…anak saya dua….”
Jawabku
“Wah…masih muda anaknya sudah
__ADS_1
dua….kawin muda ya?” ucapnya diiringi tawanya lagi
“Yaaah begitulah Ci….tapi saya
udah ga muda juga ah…” lanjutku sambil kembali ikut tertawa lalu meminum air
putih dari gelasku.
“Kalo cici? Pasti sudah ya?”
ucapku lagi
“Maksudnya? Saya sudah tua gitu
ya?” balas ci meihwa tanpa basa basi
Hampir saja aku takut dia merasa
tersinggung atas ucapanku, tapi raut wajahnya yang tersenyum legakan hatiku.
“Iya sudah…anak saya sudah pada
berkeluarga dan yang bungsu sudah kuliah…” lanjutnya lagi sambil melihat jam ditangannya
“Sudah jam 23.00 malam…saya balik
ke kamar untuk istirahat ya?” ucapnya
“Oh iya…saya juga…besok harus
keluar hotel pagi-pagi…” sahutku
Kami berpisah di lift Hotel,
karena kamar kami berbeda lantai.
Akhirnya urusan pekerjaanku
dibatam selesai juga, lebih cepat dari yang kuperkirakan. Sehingga aku hanya
berada dua hari di sana, dan hari ketiga aku sudah bisa prepare bersiap siap
pulang.
Pagi itu aku sudah berada di bandara
Hang Nadim, pesawatku masihh lumayan lama sekitar 3 Jam lagi, kuputuskan
mencari café dengan area yang bisa merokok.
Aku dikejutan dengan tepukan
dipundakku saat menikmati kopi panas dan rokokku, “Hai…mau pulang ke Jakarta
ya?” suara seorang wanita lalu duduk dihadapanku
“Eh…ci meihwa…..cici mau pulang
ke Belitung juga ?” balasku pada wanita bertubuh tinggi didepanku
“Iya…eh jangan panggil cici
ah…berasa tua nya…meihwa aja ya?” ucapnya smabil tertawa kecil.
Walau kami baru dua kali bertemu,
di resto hotel malam itu dan kali ini di bandara, sudah banyak yang kami obrol
kan, memang menyenangkan bicara dengan lawan bicara yang to the point dan tanpa
terlalu banyak basa basi. Jadi semua obRolan terasa lepas.
“Suami cici…eh…meihwa usaha
juga?” tanyaku sambil melirik monitor jadwal penerbangan.
sama yang lebih muda…” balasnya agak
ketus.
“Ohh…maaf…” ucapku merasa ga enak
“Ga apa apa….eh janji kamu bener
gat uh? Kalo saya ke Jakarta kamu mau jadi guide..” ujarnya sambil tertawa
kecil.
“Oh iya dong…siap kalo itu mah…..oh
ya…ini no wa saya mei….” Sahutku sambil menyebutkan no whatsappku. Meihwa juga
menyebutkan no tlp nya untuk ku simpan.
Beberapa menit kemudian,
terdengar dipengeras suara kalo pesawatku yang akan menuju ke Jakarta, sudah
siap boarding dan aku harus segera naik.
“Mei…saya harus naik ke pesawat
sekarang….nanti saya hubungi kalo sudah di Jakarta ya?” ujarku sambil berdiri
dan menarik travel bag ku. Meihwa tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Sekitar dua jam aku tiba di
Jakarta, Ita dan Clara menjemputku bersama supir kantor, Clara terlihat senang
akan kepulanganku, ku gandeng lengan Ita dan kami menuju mobil untuk menuju
pulang ke rumah.
“Mana oleh olehnya nih?” ucap
mama sambil tertawa.
‘Di Batam ngga ada makanan khas
ma…ini Adrian Cuma belikan tas utk Mama, Ita dan Asty…Asty mana ma?” ujarku
“Masih belum pulang kerja lah….oh
ya Adrian…sewaktu kamu pergi …pacarnya Asty bicara mau melamar..” Ucap mama…
“Oh…bagus dong…bilang Asty aja
suruh datang lagi dan bicara sama Adrian ma….”Jawabku sambil menghampiri
Calista di kereta dorong bayi.
“Iya nanti mama bilang ke Asty…”
sahut mama
Hilman pacar Asty pun datang di
hari sabtu malam, dia utarakan niatnya untuk meminang adik bungsuku Asty.
“Saya ga bisa janjikan pesta yang
mewah bang….” Ucap Hilman padaku sambil kita berdua nikmati kopi hitam panas di
teras belakang rumah.
__ADS_1
“Saya ga perlu pesta yang mewah
man….yang penting kamu mau terima adik saya apa adanya, dan berjanji
bertanggung jawab dengan hidupnya….itu sudah cukup bagi kami…karena Asty adik
perempuan saya satu satunya dan bungsu…” ujarku
“Baik Bang…..saya janji soal
itu….” Jawab Hilman lega
Beberapa minggu kemudian, pesta
pernikahan sederhana pun di gelar di rumahku, kembali aku menjadi wali setelah
sebelumnya adikku Satria….ada perasaan lega, saat Asty menikah…aku sudah
lakukan tanggung jawabku dari Hendra,Satria dan Asty sejak mereka sekolah dan
akhirnya mereka semua sudah berumah tangga dan punya lembar hidup masing-masing
dengan pasangan yang dipilihnya.
Setelah menikah, Hilman dan Asty
mengontrak di satu rumah yang masih satu perumahan denganku, dan mamapun ikut
dengan mereka, aku maklum karena seorang ibu biasanya lebih dekat dan nyaman
dengan anak perempuannya.
Pagi itu seperti biasa aku sampai
kantor dan sekaligus Pabrik tempat ku bekerja, kulihat gerombolan para staff
dan pekerja pabrik tengah berkerumun di area parkir kantor. Aku segera turun
dari mobil dan menghampiri mereka.
“Ada apa ini pada rame rame
disini? Ngga pada kerja?” ujarku
Salah satu teman kerja ku yang
posisinya Manajer Personalia, merangkul pundakku dan mengajakku ke tempat yang
agak jauh untuk bicara.
“Pak Adrian….tadi pihak kejaksaan
datang dan mereka menjemput Pak Hendri dan Ibu Rosalina untuk di bawa ke Lapas
Cipinang dan Pondok Bambu…” Jelas Bernard kepadaku.
“Hah…? Memang ada apa? Sampai terjadi seperti itu pak
Bernard?” ucapku dengan nada terkejut
“Sejak Mr.Jimmy mengundurkan diri
dan menjalankan perusahaan dan pabriknya sendiri, Komisaris utama kita Bapak
Budiono berseteru dengan Direktur dan Direktur Utama kita, pak Hendri dan Ibu
Rosalina…saya juga kurang tahu persis, tapi ada kaitannya dengan hutang para
pemegang saham…” lanjut Bernard lagi mencoba menjawab pertanyaanku.
“Saya diperusahaan ini hampir 15
tahun lamanya, baru saya alami seperti ini, terlebih saya tahu hubungan baik
antara Pak Budi….Pak Hendri dan Ibu Rosalina….ga sagka karena nilai uang,
mereka sampai seperti ini….sekarang perusahaan kita kehilangan nakhoda atau
pucuk pimpinan, yang saya pikirkan nasib ratusan para karyawan dan buruh pabrik
pak…” ujarku, posisiku hanya manajer shipping yang berkaitan Export dan Import,
namun lamanya aku diperusahaan itu membuat rasa memiliku juga tinggi, dan
merasa harus ikut memikirkan kelangsungan perusahaan, walaupun aku sadar
keputusan akhir tetap ada di tangan mereka para boss.
“Iya pak…saya sependapat dengan
Pak Adrian….” Sahut Bernard
“Sekarang kalo bisa beritahukan
ke semua manajer dan para supervisor pabrik pak, kita lakukan meeting sebentar,
untuk para buruh lanjutkan aktivitas…” ucapku sambil berjalan kea rah kerumunan
para pekerja dipintu masuk lobby kantor.
“Baik pak….” Ujar Bernard sambil
mengikuti dibelakangku.
Aku memang paling muda diantara
para manajer yang ada diperusahaanku, namun aku yang paling senior ,karena aku
mulai bekerja sejak aku muda dan mulai semuanya dari nol. Ya….rasa sakitku yang
dulu itu jadi pecutanku…amarahku dulu…kujadikan penghilang rasa lelahku, hingga
aku mencapai posisi seperti sekarang.
“Pak Bernard….besok temani saya
untuk bertemu pak Hendri dan Bu Rosalina di LP…yang lain tetap focus dengan
pekerjaan dan juga produksi harus tetap jalan, jangan buat keadaan tanpa keruh
dan buruh buruh menjadi panik….dan untuk sementara, jangan follow up dulu job
job atau order baru dari para buyer, cut atau cukup yang sedang berjalan saja
dulu…” jelasku dihadapan para rekan kerjaku dan juga pengawas/supervisor
pabrik.
Ruang kerjaku berada di lantai
dua, dibelakangku terdapat kaca besar yang langsung dapat melihat seluruh area
pabrik , sehingga aku dapat melihat seluruh aktivitas para pekerja. Kutatap
mereka para pekerja, dalam hati kecilku berkata “ bagaimana hidup mereka
nantinya? Kondisi perusahaan memang semakin menurun sejak kepergian Mr.Jimmy ,
aku ingat saat dia akan mundur dari perusahaan ini namun aku harus segera
pulang karena kondisi Alm papa waktu itu yang kritis. Ditambah lagi perseteruan
para pemimpin atau pemegang saham disini, aku tahu perusahaan tidak akan
bertahan lebih lama lagi. Ku hisap dalam dalam rokokku dan kuhembuskan asap
__ADS_1
seiring gundah di hatiku