CINTA DIBATAS HORIZON 2

CINTA DIBATAS HORIZON 2
Good Bye Sisca...


__ADS_3

Kulihat jam tanganku, sudah


hampir jam 21.00 malam…


“Sudah makin malam Sisca…nanti


Satrio akan cari kamu…” ucapku seraya bangkit dari tempatku duduk di pantai


berpasir.


“Kita masih bisa ketemu lagi..?


sampai kapan kamu disini…?” balas Sisca sambil ikut berdiri dihadapanku


“Mungkin besok urusanku sudah


selesai….dan kembali ke Jakarta” Ucapku berbohong, padahal sebenarnya aku masih


punya waktu sampai lusa. Aku tidak ingin mengingat bahkan kembali ke masa lalu


yang sudah aku coba lupakan .


Perutku terasa lapar saat kembali


melangkah ke Hotel, apalagi tadi sempat berjalan agak jauh mengantar Sisca


sampai ketempat pemberhentian taksi. Saat melintas di lobby kutanya salah satu


staff pegawai hotel, apakah resto masih buka untuk makan malam. Jawaban pegawai


hotel itu cukup melegakan hati, karena Resto mereka buka hingga larut malam,


tidak seperti di Jakarta jam 20.00 saja mungkin mereka sudah tidak melayani


tamu hotel untuk makan malam.


Kubawa piring penuh berisi


beberapa menu lauk yang disediakan pihak Hotel, aku mengambil tempat duduk


dibagian luar ,smoking area agar bisa santai dulu nanti setelah makan malam.


Aku santap makan malamku dengan


lahap, tapi kurasa ada sepasang mata memperhatikanku, aku menatap sekilas


kedepanku, karena tadi kulihat hanya ada satu orang yang duduk di area smoking


area resto. Seorang wanita keturunan Tionghoa melihat kearahku smabil menghisap


rokoknya. Tahu aku melihatnya, dia tersenyum kearahku. Aku balas tersenyum lalu


kulanjutkan makan malamku.


Usia wanita ku taksir 6 hingga 7


tahun diatasku, walau gaya berpakaiannya tetap terlihat modis seperti para


wanita berusia 30 an


“Bukan orang sini ya?” ucap


wanita itu sambil mengepulkan asap rokoknya.


“Iya ci…..saya dari Jakarta…”


jawabku, sambil mencoba meng akrabkan diri dengan panggilan cici (kakak) ke


wanita itu.


“Kalo cici ? “ aku balik bertanya


membuka obrolan


“Saya juga bukan orang sini, saya


dari Belitung ..” jawabnya


“Oh…urusan bisnis ya?” lanjutku


lagi


“Iya….kalo kamu?” balas wanita


itu


“Saya tugas dari


perusahaan….hanya sampai lusa disini…” jawabku sambil pindah ketempat duduk


yang tidak terlalu jauh dari wanita itu.


“Oh ya…perkenalkan…saya Adrian….”


Ucapku lagi sambil mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan


“Meihwa….panggil saja mei…”


balasnya sambil menjabat tanganku


Beberapa menit kemudian kami


terlibat obrolan seputar bisnis dan pekerjaan, ternyata wanita ini enak diajak


ngobrol dan seperti gaya orang keturunan Tionghoa umumnya, mereka bicara ceplas


ceplos dan tidak penuh dengan basa basi.


Ternyata wanita ini cukup banyak


bisnisnya, dari mulai tambang timah , restoran sampai bisnis property,agak


minder juga aku berbicara soal bisnis dan pekerjaan begitu mengetahui usaha


yang digeluti wanita bernama meyling ini.


“Ci meihwa sudah pernah ke


Jakarta….?” Ucapku melanjutkan obrolan


“Sudah…beberapa kali, saya punya


saudara di Jakarta, didaerah pluit…tapi sampai sekarang saya ga faham area


Jakarta ..” Sahutnya


“Ohh….kalo kapan waktu sedang


dijakarta, kontak saya aja ci…saya siap jadi tour guide nya…” ucapku sambil


tertawa.


“Boleh juga…” ujarnya sambil ikut


tertawa


“Sudah berkeluarga..?” tanyanya


setelah tawa kami berhenti


“Sudah Ci…anak saya dua….”


Jawabku


“Wah…masih muda anaknya sudah

__ADS_1


dua….kawin muda ya?” ucapnya diiringi tawanya lagi


“Yaaah begitulah Ci….tapi saya


udah ga muda juga ah…” lanjutku sambil kembali ikut tertawa lalu meminum air


putih dari gelasku.


“Kalo cici? Pasti sudah ya?”


ucapku lagi


“Maksudnya? Saya sudah tua gitu


ya?” balas ci meihwa tanpa basa basi


Hampir saja aku takut dia merasa


tersinggung atas ucapanku, tapi raut wajahnya yang tersenyum legakan hatiku.


“Iya sudah…anak saya sudah pada


berkeluarga dan yang bungsu sudah kuliah…”  lanjutnya lagi sambil melihat jam ditangannya


“Sudah jam 23.00 malam…saya balik


ke kamar untuk istirahat ya?” ucapnya


“Oh iya…saya juga…besok harus


keluar hotel pagi-pagi…” sahutku


Kami berpisah di lift Hotel,


karena kamar kami berbeda lantai.


Akhirnya urusan pekerjaanku


dibatam selesai juga, lebih cepat dari yang kuperkirakan. Sehingga aku hanya


berada dua hari di sana, dan hari ketiga aku sudah bisa prepare bersiap siap


pulang.


Pagi itu aku sudah berada di bandara


Hang Nadim, pesawatku masihh lumayan lama sekitar 3 Jam lagi, kuputuskan


mencari café dengan area yang bisa merokok.


Aku dikejutan dengan tepukan


dipundakku saat menikmati kopi panas dan rokokku, “Hai…mau pulang ke Jakarta


ya?” suara seorang wanita lalu duduk dihadapanku


“Eh…ci meihwa…..cici mau pulang


ke Belitung juga ?” balasku pada wanita bertubuh tinggi didepanku


“Iya…eh jangan panggil cici


ah…berasa tua nya…meihwa aja ya?” ucapnya smabil tertawa kecil.


Walau kami baru dua kali bertemu,


di resto hotel malam itu dan kali ini di bandara, sudah banyak yang kami obrol


kan, memang menyenangkan bicara dengan lawan bicara yang to the point dan tanpa


terlalu banyak basa basi. Jadi semua obRolan terasa lepas.


“Suami cici…eh…meihwa usaha


juga?” tanyaku sambil melirik monitor jadwal penerbangan.


sama yang lebih muda…” balasnya  agak


ketus.


“Ohh…maaf…” ucapku merasa ga enak


“Ga apa apa….eh janji kamu bener


gat uh? Kalo saya ke Jakarta kamu mau jadi guide..” ujarnya sambil tertawa


kecil.


“Oh iya dong…siap kalo itu mah…..oh


ya…ini no wa saya mei….” Sahutku sambil menyebutkan no whatsappku. Meihwa juga


menyebutkan no tlp nya untuk ku simpan.


Beberapa menit kemudian,


terdengar dipengeras suara kalo pesawatku yang akan menuju ke Jakarta, sudah


siap boarding dan aku harus segera naik.


“Mei…saya harus naik ke pesawat


sekarang….nanti saya hubungi kalo sudah di Jakarta ya?” ujarku sambil berdiri


dan menarik travel bag ku. Meihwa tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Sekitar dua jam aku tiba di


Jakarta, Ita dan Clara menjemputku bersama supir kantor, Clara terlihat senang


akan kepulanganku, ku gandeng lengan Ita dan kami menuju mobil untuk menuju


pulang ke rumah.


“Mana oleh olehnya nih?” ucap


mama sambil tertawa.


‘Di Batam ngga ada makanan khas


ma…ini Adrian Cuma belikan tas utk Mama, Ita dan Asty…Asty mana ma?” ujarku


“Masih belum pulang kerja lah….oh


ya Adrian…sewaktu kamu pergi …pacarnya Asty bicara mau melamar..” Ucap mama…


“Oh…bagus dong…bilang Asty aja


suruh datang lagi dan bicara sama Adrian ma….”Jawabku sambil menghampiri


Calista di kereta dorong bayi.


“Iya nanti mama bilang ke Asty…”


sahut mama


Hilman pacar Asty pun datang di


hari sabtu malam, dia utarakan niatnya untuk meminang adik bungsuku Asty.


“Saya ga bisa janjikan pesta yang


mewah bang….” Ucap Hilman padaku sambil kita berdua nikmati kopi hitam panas di


teras belakang rumah.

__ADS_1


“Saya ga perlu pesta yang mewah


man….yang penting kamu mau terima adik saya apa adanya, dan berjanji


bertanggung jawab dengan hidupnya….itu sudah cukup bagi kami…karena Asty adik


perempuan saya satu satunya dan bungsu…” ujarku


“Baik Bang…..saya janji soal


itu….” Jawab Hilman lega


Beberapa minggu kemudian, pesta


pernikahan sederhana pun di gelar di rumahku, kembali aku menjadi wali setelah


sebelumnya adikku Satria….ada perasaan lega, saat Asty menikah…aku sudah


lakukan tanggung jawabku dari Hendra,Satria dan Asty sejak mereka sekolah dan


akhirnya mereka semua sudah berumah tangga dan punya lembar hidup masing-masing


dengan pasangan yang dipilihnya.


Setelah menikah, Hilman dan Asty


mengontrak di satu rumah yang masih satu perumahan denganku, dan mamapun ikut


dengan mereka, aku maklum karena seorang ibu biasanya lebih dekat dan nyaman


dengan anak perempuannya.


Pagi itu seperti biasa aku sampai


kantor dan sekaligus Pabrik tempat ku bekerja, kulihat gerombolan para staff


dan pekerja pabrik tengah berkerumun di area parkir kantor. Aku segera turun


dari mobil dan menghampiri mereka.


“Ada apa ini pada rame rame


disini? Ngga pada kerja?” ujarku


Salah satu teman kerja ku yang


posisinya Manajer Personalia, merangkul pundakku dan mengajakku ke tempat yang


agak jauh untuk bicara.


“Pak Adrian….tadi pihak kejaksaan


datang dan mereka menjemput Pak Hendri dan Ibu Rosalina untuk di bawa ke Lapas


Cipinang dan Pondok Bambu…” Jelas Bernard kepadaku.


“Hah…? Memang  ada apa? Sampai terjadi seperti itu pak


Bernard?” ucapku dengan nada terkejut


“Sejak Mr.Jimmy mengundurkan diri


dan menjalankan perusahaan dan pabriknya sendiri, Komisaris utama kita Bapak


Budiono berseteru dengan Direktur dan Direktur Utama kita, pak Hendri dan Ibu


Rosalina…saya juga kurang tahu persis, tapi ada kaitannya dengan hutang para


pemegang saham…” lanjut Bernard lagi mencoba menjawab pertanyaanku.


“Saya diperusahaan ini hampir 15


tahun lamanya, baru saya alami seperti ini, terlebih saya tahu hubungan baik


antara Pak Budi….Pak Hendri dan Ibu Rosalina….ga sagka karena nilai uang,


mereka sampai seperti ini….sekarang perusahaan kita kehilangan nakhoda atau


pucuk pimpinan, yang saya pikirkan nasib ratusan para karyawan dan buruh pabrik


pak…” ujarku, posisiku hanya manajer shipping yang berkaitan Export dan Import,


namun lamanya aku diperusahaan itu membuat rasa memiliku juga tinggi, dan


merasa harus ikut memikirkan kelangsungan perusahaan, walaupun aku sadar


keputusan akhir tetap ada di tangan mereka para boss.


“Iya pak…saya sependapat dengan


Pak Adrian….” Sahut Bernard


“Sekarang kalo bisa beritahukan


ke semua manajer dan para supervisor pabrik pak, kita lakukan meeting sebentar,


untuk para buruh lanjutkan aktivitas…” ucapku sambil berjalan kea rah kerumunan


para pekerja dipintu masuk lobby kantor.


“Baik pak….” Ujar Bernard sambil


mengikuti dibelakangku.


Aku memang paling muda diantara


para manajer yang ada diperusahaanku, namun aku yang paling senior ,karena aku


mulai bekerja sejak aku muda dan mulai semuanya dari nol. Ya….rasa sakitku yang


dulu itu jadi pecutanku…amarahku dulu…kujadikan penghilang rasa lelahku, hingga


aku mencapai posisi seperti sekarang.


“Pak Bernard….besok temani saya


untuk bertemu pak Hendri dan Bu Rosalina di LP…yang lain tetap focus dengan


pekerjaan dan juga produksi harus tetap jalan, jangan buat keadaan tanpa keruh


dan buruh buruh menjadi panik….dan untuk sementara, jangan follow up dulu job


job atau order baru dari para buyer, cut atau cukup yang sedang berjalan saja


dulu…” jelasku dihadapan para rekan kerjaku dan juga pengawas/supervisor


pabrik.


Ruang kerjaku berada di lantai


dua, dibelakangku terdapat kaca besar yang langsung dapat melihat seluruh area


pabrik , sehingga aku dapat melihat seluruh aktivitas para pekerja. Kutatap


mereka para pekerja, dalam hati kecilku berkata “ bagaimana hidup mereka


nantinya? Kondisi perusahaan memang semakin menurun sejak kepergian Mr.Jimmy ,


aku ingat saat dia akan mundur dari perusahaan ini namun aku harus segera


pulang karena kondisi Alm papa waktu itu yang kritis. Ditambah lagi perseteruan


para pemimpin atau pemegang saham disini, aku tahu perusahaan tidak akan


bertahan lebih lama lagi. Ku hisap dalam dalam rokokku dan kuhembuskan asap

__ADS_1


seiring gundah di hatiku



__ADS_2