
Setelah mendapatkan Artefak Cahaya pertama dari Danau Cahaya, Callista dan Zephyr melanjutkan perjalanan mereka. Mereka melewati lebatnya hutan Eloria, berjalan melintasi sungai yang tenang dan lembah yang indah. Tidak ada tanda-tanda ancaman, tetapi mereka tahu bahwa bahaya mungkin mengintai di setiap sudut.
Suara dedaunan yang bergoyang terbawa angin menciptakan irama alam yang menenangkan. Callista membiarkan pikirannya melayang bebas, merenung tentang tugas besar yang telah diemban. Dia berpikir tentang Thalos, Raja Licik yang mempesonanya, dan Zephyr, penyihir jahat yang tiba-tiba datang meminta bantuannya.
Tiba-tiba, udara terasa dingin dan angin berhembus tiba-tiba. Sebuah bayangan misterius melayang di depan mereka. Mereka berhenti dan waspada, menyadari bahwa mereka tidak sendirian.
Dari kegelapan muncullah sosok perempuan dengan rambut hitam yang terurai panjang. Matanya berbinar-binar dengan kebijaksanaan dan kekuatan yang mendalam. Dia mengenakan pakaian putih yang anggun, seolah menjadi bagian dari alam.
"Siapakah kau?" tanya Callista, hatinya berdebar dalam antisipasi.
"Namaku Lyra," jawab perempuan itu dengan suara lembut yang seakan meresap ke dalam jiwa mereka, "Aku Penjaga Cahaya yang telah lama menjaga keseimbangan dunia."
Callista merasa perasaan hormat dan kagum saat berbicara dengan Lyra. Dia bisa merasakan kebijaksanaan dan kekuatan yang memancar dari sosok perempuan ini.
"Aku tahu perjalananmu untuk mengumpulkan artefak suci," kata Lyra, "Tetapi kalian harus berhati-hati. Kekuatan yang kalian cari adalah kekuatan yang dapat membawa kehancuran jika jatuh ke tangan yang salah."
Zephyr menatap Lyra dengan tajam. "Bagaimana kami bisa yakin bahwa kau tidak memiliki motif tersembunyi?"
Lyra tersenyum. "Aku paham keraguanmu, tetapi kalian harus percaya bahwa aku memiliki niat baik. Kehancuran ini merupakan ancaman nyata, dan kalian adalah harapan terakhir untuk mencegahnya."
Callista merasa kebenaran dalam kata-kata Lyra. Dia ingin percaya bahwa ada yang lebih besar dari dirinya yang memandu perjalanannya.
"Jika kalian ingin berhasil, kalian harus mengumpulkan artefak suci dengan niat yang tulus," kata Lyra, suaranya tegas, "Kalian juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi cobaan dan ujian yang akan datang. Kekuatan sejati hanya akan diberikan pada mereka yang layak."
Zephyr dan Callista saling pandang, merenungkan kata-kata Lyra dengan serius. Mereka tahu bahwa perjalanan ini lebih dari sekadar pencarian fisik; ini adalah ujian karakter dan hati mereka.
Lyra melangkah mendekat, matanya menatap tajam. "Ingatlah, pilihan yang kalian buat tidak hanya memengaruhi kalian sendiri, tetapi juga dunia ini. Kalian memiliki tanggung jawab besar."
Sebelum mereka bisa mengajukan lebih banyak pertanyaan, Lyra tiba-tiba menghilang, meninggalkan mereka dalam kebingungan.
"Siapa dia sebenarnya?" tanya Callista, merasa campuran antara rasa kagum dan kekhawatiran.
Zephyr menggeleng. "Aku tidak tahu, tetapi kata-katanya benar. Kita harus berhati-hati dan tulus dalam upaya kita."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan hati-hati, merenungkan peringatan dari Lyra. Selama beberapa hari, mereka melewati hutan-hutan, pegunungan, dan desa-desa terpencil. Mereka melihat keindahan alam dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki cerita dan kehidupan mereka sendiri.
Suatu hari, mereka tiba di kota kecil yang ramai. Pasar berjajar dengan pedagang yang menawarkan berbagai barang dagangan. Callista merasa terpesona oleh keragaman budaya dan kehidupan yang ada di sana.
Saat mereka berjalan-jalan di pasar, mata Callista tertuju pada seorang wanita tua yang duduk sendirian di sudut. Wanita itu memiliki mata tajam dan tatapan yang dalam. Dia memegang seutas tali dengan berbagai koin yang tergantung darinya.
Callista merasa tertarik dan mendekat. "Permisi, apakah ini semacam ramalan?"
Wanita itu tersenyum. "Ya, anak muda. Aku bisa membaca takdir dan memberikan peringatan."
Callista memutuskan untuk mencoba. Dia memberikan beberapa koin untuk mendapatkan ramalan dari wanita itu. Wanita itu melemparkan koin ke udara dan memandanginya dengan seksama. Setelah sejenak, dia memberikan senyuman tipis.
"Kau memiliki tujuan mulia, tetapi harus waspada terhadap pengkhianatan yang datang dari seseorang yang dekat," kata wanita tua itu dengan suara lembut.
Callista merasa ngeri. Pengkhianatan dari seseorang yang dekat? Apakah itu bisa merujuk pada Zephyr atau bahkan Thalos?
__ADS_1
Saat mereka melanjutkan perjalanan ke luar kota, Callista memutuskan untuk berbicara dengan Zephyr tentang ramalan itu. Dia ingin berbagi perasaannya yang bercampur aduk dan mendapatkan pandangannya.
"Zephyr, apakah mungkin ramalan itu merujuk pada kita?" tanya Callista dengan ragu.
Zephyr merenung sejenak. "Tidak ada salahnya untuk berhati-hati, tetapi kita tidak boleh terlalu mudah percaya pada ramalan semacam itu. Kita harus tetap fokus pada tujuan kita."
Namun, hati Callista masih dipenuhi dengan pertanyaan. Apakah ramalan itu benar-benar memiliki makna? Dan jika iya
, siapakah yang bisa menjadi pengkhianat di antara mereka?
Perjalanan mereka terus berlanjut, melewati dataran terbuka dan hutan yang lebat. Mereka menghadapi cobaan dan ujian yang semakin berat, tetapi mereka juga merasa semakin kuat dan terikat satu sama lain.
Di tengah-tengah malam, ketika api unggun mereka berkobar di pinggir sungai, Zephyr berbicara dengan serius.
"Kita harus tetap waspada dan berhati-hati," katanya, "Tapi kita juga harus belajar percaya pada satu sama lain. Kita berdua memiliki peran penting dalam misi ini."
Callista mengangguk setuju. Meskipun ketidakpastian masih mengintai, dia merasa semakin yakin bahwa dia dan Zephyr adalah tim yang kuat.
Perjalanan mereka menuju artefak berikutnya akan menjadi ujian yang lebih besar dan bahaya yang lebih nyata. Tapi Callista tahu bahwa dia harus terus maju, demi dunia yang perlu diselamatkan dan demi kekuatan yang dia temukan dalam dirinya sendiri.
---
Pagi menyingsing dengan sinar matahari yang hangat di langit. Callista dan Zephyr melanjutkan perjalanan mereka, tetap berpegang pada tujuan mereka: mengumpulkan semua Artefak Cahaya dan menghentikan ancaman kehancuran. Mereka melintasi padang rumput yang luas, mendaki gunung yang curam, dan menyusuri sungai yang deras.
Selama perjalanan mereka, hubungan antara Callista dan Zephyr semakin erat. Mereka berbicara tentang tujuan mereka, berbagi cerita dari masa lalu, dan saling memberi dukungan. Meskipun awalnya mereka adalah sekutu yang tidak terduga, kini mereka menjadi teman sejati yang saling mengandalkan satu sama lain.
Namun, bayangan peringatan Lyra tidak pernah benar-benar meninggalkan pikiran Callista. Pengkhianatan dari seseorang yang dekat masih berputar di kepalanya. Dia terus merenung dan mencoba menebak siapa yang bisa menjadi ancaman di tengah-tengah perjalanan mereka.
Ketika mereka berjalan-jalan di jalan utama, mata Callista tertuju pada seorang pria berpakaian mewah yang sedang berbicara dengan warga setempat. Dia memiliki senyuman yang memikat dan tatapan yang penuh pesona. Callista merasa hatinya berdetak cepat.
"Siapa dia?" tanya Callista pada Zephyr.
Zephyr mengerutkan kening. "Aku tidak tahu. Tapi kita harus tetap waspada terhadap siapa pun yang bisa mencoba mempengaruhi perjalanan kita."
Ketika mereka melanjutkan perjalanan menuju penginapan, pria itu tiba-tiba menghampiri mereka dengan ramah.
"Selamat datang di kota kami," sapa pria itu dengan senyum yang lebar, "Namaku Marcellus."
Callista merasa canggung, tetapi dia merespons sapaan itu dengan sopan. "Saya Callista, dan ini Zephyr."
Marcellus mengangguk. "Callista dan Zephyr, nama yang indah. Apa kalian ingin mengetahui lebih banyak tentang kota ini? Saya pandai memberikan tur."
Zephyr menarik Callista dengan perlahan. "Kami hanya singgah sejenak untuk beristirahat. Terima kasih atas tawarannya."
Marcellus mengangguk, tetapi senyumannya tidak pudar. "Tentu, aku mengerti. Jika kalian butuh sesuatu, cukup beritahu saya. Kalian bisa menemukan saya di istana."
Dengan itu, Marcellus berjalan pergi, meninggalkan Callista dan Zephyr dalam perasaan curiga.
"Apa yang kau pikirkan tentang dia?" tanya Callista kepada Zephyr begitu Marcellus sudah menjauh.
__ADS_1
Zephyr merenung sejenak. "Aku merasa ada yang tidak beres. Kita harus tetap berhati-hati dan tidak mengungkapkan terlalu banyak tentang misi kita."
Mereka memutuskan untuk menghabiskan malam di penginapan kota tersebut, tetapi suasana hati Callista masih terganggu oleh pertemuan dengan Marcellus. Dia merenung tentang apakah ada kaitan antara peringatan Lyra dan kehadiran pria itu.
Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk menjelajahi kota dan berbicara dengan penduduk setempat. Banyak orang memberi tahu mereka tentang kebaikan Marcellus dan bagaimana dia telah membantu kota tersebut. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang mencurigakan tentangnya.
Saat matahari hampir terbenam, Callista dan Zephyr duduk di tepi sungai yang mengalir tenang di luar kota.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Callista dengan wajah penuh pertanyaan.
Zephyr merenung sejenak sebelum menjawab. "Kita harus mendapatkan lebih banyak informasi tentang Marcellus sebelum kita membuat keputusan. Tapi yang pasti, kita tidak boleh terlalu percaya dengan mudah."
Mereka berbicara tentang rencana selanjutnya, memutuskan untuk tetap berada di kota tersebut beberapa hari lagi sambil mencari tahu lebih banyak tentang pria misterius tersebut. Sambil melanjutkan perjalanan mereka, Callista tidak bisa menghilangkan rasa curiga yang mengganggunya.
Beberapa hari berlalu, dan mereka mulai mengumpulkan informasi tentang Marcellus. Mereka berbicara dengan penduduk setempat, mencari tahu latar belakang dan motifnya. Beberapa mengatakan bahwa dia telah membantu kota dengan sumbangan dan inisiatif yang baik, sementara yang lain merasa bahwa dia terlalu ingin tahu tentang perjalanan mereka.
Suatu malam, ketika mereka duduk di dalam penginapan, Zephyr menatap Callista dengan serius. "Aku mendapat beberapa informasi bahwa Marcellus memiliki hubungan dengan Thalos, Raja Licik."
Callista merasa hatinya berdegup cepat. "Apa? Bagaimana mungkin?"
Zephyr mengangguk. "Aku tidak yakin, tetapi sepertinya mereka memiliki hubungan yang lebih dalam dari yang kita duga. Kita harus tetap berhati-hati."
Malam itu, Callista merasa khawatir dan bingung. Hubungan antara Marcellus dan Thalos membuat semuanya semakin rumit. Dia merenung tentang apakah Thalos dapat memanfaatkan Marcellus untuk mengganggu misi mereka.
Keesokan harinya, saat matahari terbit, mereka membuat keputusan. "Kita harus berbicara dengan Marcellus langsung," kata Callista dengan tekad, "Kita perlu tahu apa niatnya sebenarnya."
Zephyr setuju, dan mereka menuju ke istana tempat Marcellus tinggal. Beg
itu mereka tiba di sana, Marcellus sudah menunggu dengan senyuman yang lebar.
"Selamat datang kembali," sapa Marcellus, "Apa yang bisa saya bantu?"
Callista menatapnya tajam. "Kami ingin tahu tentang hubunganmu dengan Thalos."
Marcellus tersenyum samar. "Ah, kau mendengar kabar itu. Ya, aku memiliki hubungan dengan Thalos, tetapi aku bukan pihak yang jahat. Aku ingin membantu dunia ini, sama seperti kalian."
Callista merasa hatinya berdebar. Apakah dia bisa mempercayai kata-kata Marcellus?
"Kami ingin tahu niat sebenarnya," tanya Zephyr dengan tegas.
Marcellus menghela nafas. "Niatku adalah untuk mencegah Thalos mendapatkan kekuatan yang berbahaya. Dia adalah musuh bagi semua yang baik. Aku ingin membantu kalian."
Callista merasa konflik dalam dirinya. Apakah Marcellus bisa dipercaya? Dia merasa perlu memutuskan dengan hati-hati.
Malam itu, setelah berdiskusi panjang, Callista dan Zephyr membuat keputusan. "Kita akan bekerja sama dengan Marcellus," kata Callista, "Kita akan memonitor niatnya dan memastikan dia benar-benar berada di pihak kita."
Zephyr setuju. "Ini adalah risiko, tetapi kita harus melihat lebih dalam. Kita tidak bisa berjalan sendiri dalam misi ini."
Perjanjian mereka dengan Marcellus memulai babak baru dalam perjalanan mereka. Dengan hati-hati, mereka melanjutkan pencarian mereka untuk mengumpulkan semua Artefak Cahaya, sambil mengawasi setiap langkah Marcellus.
__ADS_1
Tetapi dalam kegelapan, ada kekuatan yang tak terlihat yang sedang mengintai, siap untuk mengganggu keseimbangan yang rapuh dan menguji tekad mereka. Perjalanan mereka penuh dengan misteri, pengkhianatan yang mungkin terjadi, dan ujian yang semakin sulit. Callista tahu bahwa takdir dunia ada di tangannya, dan dia harus tetap teguh dan tulus dalam misinya.