CINTA UNTUK CEO DAN PENGACARA

CINTA UNTUK CEO DAN PENGACARA
MEMILIH


__ADS_3

Kilat mendengus kesal seraya menunggu pintu apartemennya dibuka. Ponselnya yang tersimpan di kantung depan celana panjangnya terdengar menyebalkan bagi otaknya. Kashmira si penelepon tidak mengenal putus asa. Dia menelepon Kilat tanpa jeda sementara Kilat enggan menjawab. Pintu apartemennya terbuka dan dia segera masuk lalu menghempaskan tubuh di sofa samping meja kecil tempat beberapa botol minuman keras terletak.


"Aku minta gelas diisi batu es, Yun!"


Yuyun melakukan perintah majikannya. Begitu Yuyun menghidangkan pesanannya, Kilat segera menuangkan Whisky ke dalamnya. Dia mengoyang-goyangkan gelas itu sebelum meminum isinya. Kilat mengamati sebuah cincin berlian yang masih di kotaknya. Dia sedang kesal terhadap Kashmira yang menolak datang ke apartemennya dua hari lalu. Padahal, dia sangat merindukan Kashmira. Akhirnya, Kilat mengetahui jika Kashmira justru menginap di apartemen Badai malam itu.


"What a heck! I'm totally an awful loser now!"


Kilat membanting kotak cincin berlian yang hendak diberikannya untuk Kashmira seraya bersumpah serapah. Harga diri Kilat terluka. Kilat menyadari kalau Kashmira harus mendahulukan Badai tunangannya, namun dia terlalu mencintai Kashmira yang selalu menolak melepaskan Badai, tetapi juga ingin bersamanya. Kilat yakin jika Badai sebenarnya mengetahui hubungan gelap Kashmira dengannya, tetapi Badai seakan tidak peduli. Dia tetap baik kepada Kilat dan terlihat tulus mencintai Kashmira. Apakah Badai mengharapkan kekayaan keluarga Kashmira? Tentu saja, Kilat berani menjawab tidak dengan yakin. Kekayaan orangtua Kilat, Kashmira, dan Badai sangat seimbang. Bahkan, Badai mampu membiayai kehidupan mewahnya dari keringat sendiri karena kapasitasnya sebagai pengacara muda berprestasi saat memperjuangkan kepentingan para kliennya yang rata-rata adalah perusahaan besar, tidak perlu diragukan lagi.


"Mary, bawakan saya berkas lengkap Saputra grup sekarang!"


Mary menuju lemari berkas setelah Badai mematikan telepon ekstensi. Dia masuk ruangan Badai lalu meletakkan kelima file yang diminta bosnya di meja. Mary melihat cangkir kopi Badai yang masih berisi. Mary menyingkirkannya agar tidak tersenggol Badai dan membasahi sejumlah dokumen penting yang berserakan di meja kerja Badai. Mary menunduk saat Badai mendongakkan kepala sehingga jarak wajah mereka terlalu dekat.


"Ups. Maafkan saya, Mary!"


Badai memalingkan wajahnya.


"Aku baru sadar kalau Mary ternyata menarik! Bibir Mary seksi sekali!"


"Ada lagi yang Bapak perlukan?"


"Cukup, Mary. Kamu boleh pergi!"


Mary pamit meninggalkan Badai. Dia berjalan tergesa. Ketidakhati-hatian menyebabkannya terpeleset. Badai terkejut. Dia menghampiri Mary.


"Wow, manis sekali wajah Mary saat meringis!"


Badai tertawa licik dalam hati. Dia membopong Mary untuk diletakkan di sofa. Badai mengambil krim pereda nyeri otot di lemari P3K.


"Bapak mau apa?"


"Aku ingin mengecup bibir seksimu, Mary sayang!"

__ADS_1


"Saya akan oles krim ini ke pergelangan kaki kirimu yang memar! Lihat! Sudah mulai membengkak. Sebentar lagi, kamu pasti sulit berjalan."


Mary memperhatikan pergelangan kaki kirinya yang bertambah besar.


"Benar juga, Pak. Pasti malam ini bengkak dan besok saya tidak bisa jalan!"


"Anak pintar! Makanya, mesti buru-buru dioles krim pereda nyeri otot supaya kamu tidak tersiksa menahan nyeri sepanjang malam nanti, Mary!"


Badai mengambil air minum lalu membawanya ke Mary.


"Minum juga obat pencegah peradangan ini, Mary!"


Mary menaati perintah bosnya.


Mary menatap Badai yang membalurkan krim pereda nyeri otot itu. Tangan Badai yang kekar dan berbulu membuat darah Mary berdesir. Pipinya memanas. Dia sangat menyukai setiap bagian tubuh tuan pengacara Badai Bondowoso, bosnya selama dua tahun ini. Dua mata hitam bersorot tajam dipayungi dua garis alis hitam rapi yang tebal, bibir tipis, dan hidung tinggi di wajah berahang sempurna menjadikan Badai berwajah sungguh "pria".


"Bapak Badai memang pria idaman kaum wanita. Dia tampan, kaya dan berpengaruh. Meskipun begitu, dia rendah hati dan tidak kasar. Dia memperlakukan orang lain tanpa melihat derajat dan status. Andai pak Badai menyukaiku, pasti aku bakal jadi wanita yang bahagia."


"Hei, Nona Sekretaris! Kenapa kedua matamu terus menatap wajah saya tanpa berkedip? Jangan-jangan, kamu sibuk mengagumi ketampanan saya! Kamu terus terang sajalah, Mary! Saya memang sangat tampan, bukan?"


"Saya mohon maaf, Pak. Saya tidak sengaja tertegun menatap lama wajah Bapak."


"Sayang sekali! Saya pikir kamu tadi mengagumi ketampanan saya!"


Badai berpura-pura mempertontonkan ekspresi kecewa saat wajah Mary memerah. Mary langsung salah tingkah. Dia mencoba berdiri, tetapi jatuh terduduk. Badai jadi iba karena mencandai sekretarisnya.


"Ehm, maafkan saya, Mary. Saya murni hanya mencandai kamu."


Mary mengangguk menanggapi permohonan maaf bosnya. Mary kembali mencoba berdiri, namun dia sama sekali tidak bisa lagi.


"Jangan paksakan diri, Mary. Nanti, saya antar kamu pulang."


"Tidak perlu repot, Pak. Saya bisa naik taksi."

__ADS_1


"Saya tetap akan mengantar kamu!"


"Jangan, Pak. Tidak usah."


"Baiklah. Kamu mau pilih apa? Saya kecup bibir kamu atau saya antar kamu pulang?"


"Saya pilih diantar pulang, Pak."


"Sekretaris yang cerdas!"


Badai menyunggingkan senyum yang membuatnya lima kali lebih tampan menurut Mary. Badai pun sedang mengamati Mary. Bibir penuh seksi Mary berhasil membangkitkan khayalan nakal Badai.


"Senyum Mary memuaskan dahagaku. Mengapa Aku tidak pernah menyadarinya? Aku tahu! Habis, dia selalu memakai lipstick nude! Jadi, bibir indahnya tidak terekspos maksimal! Belum lagi kacamata persegi yang menyembunyikan keindahan matanya."


Ponsel Badai berbunyi. Nama Kilat muncul di layar ponselnya.


"Ya, Kilat."


....


"Boleh. Kapan?"


....


"Setuju! Kita bisa bertemu besok. Aku ke kantormu atau kamu ke kantorku?"


....


"Aku setuju. Jam berapa?"


....


"Cocok! See you tomorrow, Kilat."

__ADS_1


....


__ADS_2