
"Pembalut?" ulang Reyhan.
Kanaya mengangguk pelan, malu rasanya meminta tolong pada Reyhan untuk hal semacam ini. Tetapi Kanaya juga tak bisa pergi sendiri.
"Beli sendiri sana," ketus Reyhan.
"Tapi kan Om, Naya nggak tau tempatnya," Kanaya berkata dengan wajah memelas, gadis itu menundukkan kepala, memilin ujung baju yang ia pakai.
Mata bening Kanaya sudah berkaca-kaca, sekali kedip saja cairan asin akan berjatuhan ke lantai. Kanaya sudah sangat merasa tidak nyaman, apalagi kram perut yang ia rasakan mulai terasa lebih sakit, terasa seperti sebuah tangan besar yang memilin otot rahimnya.
Reyhan berdecak, seumur-umur ia belum pernah membeli barang seperti itu meski ia mantan duda. Istri Reyhan selalu mandiri dalam hal-hal pribadi seperti itu.
Pria tampan berjambang tipis itu memijit pelipisnya. Bagaimana bisa ia membeli benda seperti itu. Tetapi di sisi lain ia juga tidak tega melihat Kanaya seperti ini.
"Ya sudah tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu."
Kanaya mengangguk. Reyhan menutup pintu kamarnya, tetapi cepat ia buka kembali saat mendengar bunyi benda yang terjatuh.
"Kanaya!" Pekik Reyhan dengan mata melebar.
Gadis yang baru kemarin resmi menjadi istrinya secara agama itu terkulai lemas di lantai, dengan wajah pucat. Reyhan segera mengangkat tubuh Kanaya yang tak sadarkan diri, dan membawanya masuk ke kamar.
Reyhan membaringkan tubuh Kanaya, kemudian mengambil minyak kayu putih yang ada di laci meja. Dengan ragu ia membuka dua kancing kemeja Kanaya. Mengusap cairan beraroma khas itu di bawah leher dan hidung sang istri. Mata Kanaya perlahan mulai terbuka.
"Sssh ... Sakit," lirih Kanaya sambil memegang perut bagian bawahnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar."
Kanaya menoleh, Reyhan yang baru saja dari dapur membuat teh hangat untuk sang istri bergegas menghampiri Kanaya dan meletakkan teh hangat yang ia buat di meja.
"Om, memang Kanaya kenapa?" Tanya Kanaya bingung.
"Apa Kanaya pingsan?" Tanya Kanaya lagi, Reyhan hanya menjawab dengan anggukan.
Reyhan membantu Kanaya duduk dan memberikan teh hangat untuknya.
"Minumlah."
__ADS_1
Kanaya mengangguk, ia menerima teh yang Reyhan berikan. Rasa hangat dan nyaman saat cairan hangat dan manis itu masuk ke tubuh Kanaya.
"Eh Om! Kanaya bocor!" Kanaya hendak turun tapi Reyhan menahannya.
"Udah nggak apa-apa."
"Tapi Om darahnya."
"Sst ... Diem jangan cerewet. Duduk di sini sampai aku pulang. Mengerti!" Ujar Reyhan dengan tegas, Kanaya hanya mengangguk.
Reyhan pun bangkit dari duduknya duduk. Mengambil jaket dan kunci motor yang ada di atas meja rias. Setelah menutup pintu rumah, Reyhan beranjak pergi mengunakan motor miliknya.
Kanaya yang sendirian di kamar itu, melempar pandang mengamati tiap hal yang ada di sana. Meja rias minimalis yang ada dikamar itu pasti milik mantan istri Reyhan.
"Om Rey cerai kenapa ya?" Gumam Kanaya bertanya dalam Hati.
Masih banyak yang belum Kanaya ketahui tentang Reyhan. Pertemuan mereka memang hanya sekedar saat tahlilan Almarhumah Oma Eni saja. Mereka langsung menikah bahkan sebelum Kanaya tahu nomer telpon suaminya, benar-benar pernikahan expres.
Kruuk.
Perut Kanaya meronta minta di isi. Jam dinding masih menunjukkan pukul setengah enam pagi, tetapi gadis itu merasa begitu lapar.
"Tapi laper banget, udahlah kalau Om Rey marah ntar minta maaf aja. Yang penting perut di isi dulu. Hehm ... Laparnya."
Kanaya turun dari ranjang, melangkahkan kakinya ke arah dapur. Bersih dan rapi, bagi seorang laki-laki yang tinggal sendiri dapur Reyhan terlalu rapi.
"Apa Om Rey nggak pernah masak ya? Bersih banget, dapur Oma aja nggak sebersih ini. Hem ..."
Kanaya mulai membuka lembaran gantung, matanya berbinar saat menemukan beberapa bungkus mie instan yang ada di sana. Bukan hanya itu, tapi kopi susu sachet, teh dan gula juga tersedia. Ada juga berbagai macam saus dan bumbu masakan yang Kanaya tak tau fungsi dan kegunaannya. Maklum saja, Kanaya hampir tak pernah menyentuh dapur kecuali untuk membuat mie instan.
Perburuan Kanaya mengarah ke lemari pendingin. Kanaya berdecak kagum, sayur, buah, ayam dan ikan tertata rapi. Kanaya pun mengambil dua butir telur dan sawi untuk melengkapi mie instan yang akan ia buat.
"Siap, tinggal nunggu Om Reyhan pulang."
Dia mangkok mie kuah spesial paket telur Kanaya letakkan di atas meja, dengan susah payah Kanaya membuka mie itu sambil menahan sakit. Saat mentruasi seperti ini memang sangat tidak nyaman bagi Kanaya.
Dia sering pingsan karena karena kesakitan, tak jarang Kanaya harus absen dari sekolah saat datang bulan. Jika dia memaksa untuk sekolah, ia hanya akan berakhir di UKS.
__ADS_1
"Ssshh ...." Kanaya menarik kursi meja makan, rasa sakit itu kembali datang dengan lebih dahsyat.
Kanaya meringkuk sambil memegangi perutnya, jika Oma Eni masih ada. Kanaya akan di buatkan jamu yang bisa meredakan rasa sakit itu, tetapi sekarang ia hanya bisa menahannya sendiri.
"Assalamualaikum," ucap salam terdengar setelah pintu rumah terbuka.
"Waallaikumsalam," sahut Kanaya lirih.
Langkah kaki terdengar cepat menghampiri Kanaya. Reyhan yang baru saja kembali dari minimarket langsung menuju dapur saat melihat Kanaya tak ada di kamar.
"Kamu ngapain Nay?"
Kepala Kanaya yang tadinya menunduk perlahan di angkat, gadis itu memaksa tersenyum pada suaminya.
"Bikin mie Om, Naya laper," jawabnya lirih.
Reyhan berdecak, ia menarik kursi yang ada di sebelah Kanaya setelah meletakkan belanjaan di atas meja. Tangan laki-laki itu terulur mengambil semangkuk mie, mengadukannya perlahan dan mendekatkan sesendok penuh mie yang sudah ia tiup pada istri kecilnya.
"Ayo makanlah."
Kanaya melongo mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari suami kulkasnya.
"Cepat buka mulutmu!" Perintah Reyhan yang langsung membuat Kanaya terkejut.
Gadis itu pun mengangguk, ia membuka lebar mulutnya membiarkan sang suami untuk menyuapi nya. Dengan telaten Reyhan menyuapi Kanaya sampai semangkuk mie tandas tak bersisa. Tak sampai di situ, Reyhan juga mengambilkan segelas air untuk Kanaya.
"Minumlah, setelah itu minum ini," ucap pria itu sambil mengeluarkan sebotol jamu instan yang ia beli di minimarket yang buka dua puluh empat jam.
"Terima kasih Om," ucap Kanaya tulus.
"Hem, aku beli beberapa merk. Aku tidak tahu yang biasa kau pakai, jadi pilih sendiri." Reyhan memberikan kantong plastik yang berisi berbagai macam merek pembalut wanita.
Wajah Kanaya memerah, malu rasanya. Tetapi dia juga tidak punya pilihan lain.
"Setelah ini cepat mandi, apa kau sekolah hari ini?"
Kanaya menggeleng." Aku biasanya akan izin tiga hari Om, kalau aku paksa sekolah juga nggak akan kuat.
__ADS_1
"Hem, baiklah. Mandi dan istirahatlah." Kanaya mengangguk.
Ia bangkit dari kursi tempat ia duduk, berjalan menuju kamar yang Reyhan berikan untuknya.