Cintaku Ketiban Tangga

Cintaku Ketiban Tangga
Bab 11 : Nih Contoh


__ADS_3

Hari ini adalah hari kelima Reza meneliti UMKM milik keluarga Fitri. Tak hanya meneliti, Reza juga beberapa kali turun langsung membantu produksi dan pembukuan. Terkadang dia diajak Parmin ke desa untuk mencari bahan baku.


Satu hal yang masih belum dipelajari Reza yaitu tentang distribusi. Meneliti cara usaha ini memperluas jaringan pasarnya. Dan rencananya sisa waktu di Solo akan digunakan untuk mempelajari pendistribusian usaha.


"Den, hari ini Fitri mau ke sekolah dulu ya. Mau urus ijazah." Kata Fitri ketika sarapan.


"Hari ini aden ditemani Lik Min. Dan kalau membutuhkan sesuatu langsung kabari saya saja", lanjutnya.


"Mungkin nanti Fitri siangan sudah di dapur produksi." Tutupnya.


Reza hanya mengangguk. Setelah itu ia melahap makanan yang ada dihadapannya. Meski beberapa hari ini sarapan tanpa roti. Dia masih bisa bertahan dengan kehidupan sederhana yang diterapkan di keluarga Fitri.


"Besok paklik ada acara, jadi yang mengantar Den Reza ke toko kamu ya Fit." Suru Parmin.


"Ajak Den Reza sekalian jalan-jalan Ning Kota Solo." Tambahnya.


"Nggih lik (iya lik)." Jawab Fitri.


Setelah sarapan, Reza bersama Parmin ke dapur produksi. Sedangkan Fitri sesuai rencananya mengurus ijazah ke sekolahnya. Siang harinya barulah dia ke dapur produksi menemani Reza menyelesaikan penelitiannya.


Keesokan harinya.


Dengan motor matic itu, Reza dan Fitri berangkat menuju toko oleh-oleh dan toko-toko lain yang menjadi distributor usaha Keluarga Fitri. Dari mulai toko satu ke toko yang lainnya. Dari penjual satu ke penjual lainnya. Reza menanyakan menganai pemasaran makanan khas Solo ini. Menanyakan seberapa banyak peminatnya dan bagaimana eksistensi makanan tradisional di era modern saat ini.


Adzan magrib berkumandang, Reza dan Fitri menghentikan kegiatan mereka. Fitri mengajak Reza mampir ke alun-alun Kota Solo untuk menikmati makanan khas Solo. Salah satunya bakso bakar. Fitri memesan dua porsi bakso bakar. Bakso yang dilumuri bumbu pedas, kemudian dibakar di atas tungku bakar tradisional. Aroma dari asap pembakaran bakso bakar sungguh menggoda.


"Ini den." Fitri memberikan satu piring bakso bakar pada Reza.


"Rasain dulu den." Suruh Fitri.


"Ini makanan anak-anak muda yang suka nongkrong disini." Kata Fitri memberitahu.


Reza pun memakan satu tusuk bakso bakar itu. Baginya rasanya lumayan, meskipun makanan pinggir jalan.


"Apa aden masih laper?" Tanya Fitri.


"Mau nggak ngerasain gudeg Solo?"


"Boleh." Jawabnya singkat. Kebetulan saat ini perutnya lapar.


Malam itu setelah jalan-jalan sebentar di Kota Solo yang ditutup dengan makan gudeg Solo. Akhirnya mereka berdua pulang ke kediaman Fitri. Namun, begitu sampai di rumah. Reza bergegas menyusul Parmin di ruang tamu yang sedang menonton televisi. Maklum saja di kampung biasanya berangkat ruang tamu sekaligus ruang keluarga.


Reza mengeluarkan laptopnya untuk mengerjakan laporan penelitian dibantu Parmin. Obrolan serius mengenai perjalanan usaha ini dimulai. Ditemani sepiring singkong goreng, dua gelas kopi, dan tidak lupa rokok turut menemani. Sesekali keduanya bercengkrama dan tertawa bersama.


"Gimana masih banyak nggak yang harus dikerjakan?" Tanya Parmin.


"Hmmmm.... Masih ada beberapa bagian lagi sih lik. Tapi nggak banyak kok." Jawab Reza.


"Ya sudah jangan sungkan kalau mau tanya-tanya lagi." Pesan Parmin.


"Siap lik." Tutup Reza sebelum akhirnya obrolan malam itu ditutup. Dan kembali ke kamar masing-masing.


**


Tepat lima belas hari Reza melakukan penelitian guna tugas pendukung kelulusannya. Kini dia bersama Fitri hendak balik ke Jakarta. Pagi itu mereka diantar Parmin ke bandara.

__ADS_1


"Den, mohon maaf jika selama di Solo. Lik ada salah sama aden ya." Kata Parmin haru.


"Reza yang berterimakasih lik. Sudah dibantu banyak hal." Balas Reza.


"Semoga kita bisa bertemu lagi ya den."


"Pasti lik", kata Reza.


"Reza balik dulu ya lik. Terimakasih atas segalanya." Tutupnya sebelum cek in.


"Lik, Fitri berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Pamit Fitri sembari mencium punggung tangan pakliknya.


"Hati-hati ya, kabari paklik kalau sudah sampai Jakarta." Pesan Parmin.


"Nggih lik. (Iya lik)." Tutup Fitri.


Penerbangan kali ini, Fitri sudah sedikit tenang dari sebelumnya. Bahkan dia sempat tertidur sebentar di dalam pesawat. Reza yang melihat Fitri tertidur pun berbicara dalam hati.


"Baik juga nih bocah." Batinnya.


"Rela bantuin gue dengan ikhlas."


"Thanks ya, bocah menyebalkan!" Katanya pelan disertai senyum sinisnya.


"Ee...ehmmm." Tiba-tiba Fitri berdehem.


"Sudah sampai ya den?" Tanya Fitri.


"E....e... Belum." Jawab Reza gelagapan.


Satu hal yang masih belum dipelajari Reza yaitu tentang distribusi. Meneliti cara usaha ini memperluas jaringan pasarnya. Dan rencananya sisa waktu di Solo akan digunakan untuk mempelajari pendistribusian usaha.


"Den, hari ini Fitri mau ke sekolah dulu ya. Mau urus ijazah." Kata Fitri ketika sarapan.


"Hari ini aden ditemani Lik Min. Dan kalau membutuhkan sesuatu langsung kabari saya saja", lanjutnya.


"Mungkin nanti Fitri siangan sudah di dapur produksi." Tutupnya.


Reza hanya mengangguk. Setelah itu ia melahap makanan yang ada dihadapannya. Meski beberapa hari ini sarapan tanpa roti. Dia masih bisa bertahan dengan kehidupan sederhana yang diterapkan di keluarga Fitri.


"Besok paklik ada acara, jadi yang mengantar Den Reza ke toko kamu ya Fit." Suru Parmin.


"Ajak Den Reza sekalian jalan-jalan Ning Kota Solo." Tambahnya.


"Nggih lik (iya lik)." Jawab Fitri.


Setelah sarapan, Reza bersama Parmin ke dapur produksi. Sedangkan Fitri sesuai rencananya mengurus ijazah ke sekolahnya. Siang harinya barulah dia ke dapur produksi menemani Reza menyelesaikan penelitiannya.


Keesokan harinya.


Dengan motor matic itu, Reza dan Fitri berangkat menuju toko oleh-oleh dan toko-toko lain yang menjadi distributor usaha Keluarga Fitri. Dari mulai toko satu ke toko yang lainnya. Dari penjual satu ke penjual lainnya. Reza menanyakan menganai pemasaran makanan khas Solo ini. Menanyakan seberapa banyak peminatnya dan bagaimana eksistensi makanan tradisional di era modern saat ini.


Adzan magrib berkumandang, Reza dan Fitri menghentikan kegiatan mereka. Fitri mengajak Reza mampir ke alun-alun Kota Solo untuk menikmati makanan khas Solo. Salah satunya bakso bakar. Fitri memesan dua porsi bakso bakar. Bakso yang dilumuri bumbu pedas, kemudian dibakar di atas tungku bakar tradisional. Aroma dari asap pembakaran bakso bakar sungguh menggoda.


"Ini den." Fitri memberikan satu piring bakso bakar pada Reza.

__ADS_1


"Rasain dulu den." Suruh Fitri.


"Ini makanan anak-anak muda yang suka nongkrong disini." Kata Fitri memberitahu.


Reza pun memakan satu tusuk bakso bakar itu. Baginya rasanya lumayan, meskipun makanan pinggir jalan.


"Apa aden masih laper?" Tanya Fitri.


"Mau nggak ngerasain gudeg Solo?"


"Boleh." Jawabnya singkat. Kebetulan saat ini perutnya lapar.


Malam itu setelah jalan-jalan sebentar di Kota Solo yang ditutup dengan makan gudeg Solo. Akhirnya mereka berdua pulang ke kediaman Fitri. Namun, begitu sampai di rumah. Reza bergegas menyusul Parmin di ruang tamu yang sedang menonton televisi. Maklum saja di kampung biasanya berangkat ruang tamu sekaligus ruang keluarga.


Reza mengeluarkan laptopnya untuk mengerjakan laporan penelitian dibantu Parmin. Obrolan serius mengenai perjalanan usaha ini dimulai. Ditemani sepiring singkong goreng, dua gelas kopi, dan tidak lupa rokok turut menemani. Sesekali keduanya bercengkrama dan tertawa bersama.


"Gimana masih banyak nggak yang harus dikerjakan?" Tanya Parmin.


"Hmmmm.... Masih ada beberapa bagian lagi sih lik. Tapi nggak banyak kok." Jawab Reza.


"Ya sudah jangan sungkan kalau mau tanya-tanya lagi." Pesan Parmin.


"Siap lik." Tutup Reza sebelum akhirnya obrolan malam itu ditutup. Dan kembali ke kamar masing-masing.


**


Tepat lima belas hari Reza melakukan penelitian guna tugas pendukung kelulusannya. Kini dia bersama Fitri hendak balik ke Jakarta. Pagi itu mereka diantar Parmin ke bandara.


"Den, mohon maaf jika selama di Solo. Lik ada salah sama aden ya." Kata Parmin haru.


"Reza yang berterimakasih lik. Sudah dibantu banyak hal." Balas Reza.


"Semoga kita bisa bertemu lagi ya den."


"Pasti lik", kata Reza.


"Reza balik dulu ya lik. Terimakasih atas segalanya." Tutupnya sebelum cek in.


"Lik, Fitri berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Pamit Fitri sembari mencium punggung tangan pakliknya.


"Hati-hati ya, kabari paklik kalau sudah sampai Jakarta." Pesan Parmin.


"Nggih lik. (Iya lik)." Tutup Fitri.


Penerbangan kali ini, Fitri sudah sedikit tenang dari sebelumnya. Bahkan dia sempat tertidur sebentar di dalam pesawat. Reza yang melihat Fitri tertidur pun berbicara dalam hati.


"Baik juga nih bocah." Batinnya.


"Rela bantuin gue dengan ikhlas."


"Thanks ya, bocah menyebalkan!" Katanya pelan disertai senyum sinisnya.


"Ee...ehmmm." Tiba-tiba Fitri berdehem.


"Sudah sampai ya den?" Tanya Fitri.

__ADS_1


"E....e... Belum." Jawab Reza gelagapan.


__ADS_2