
Safira memutuskan mengajak Lisa makan di kantin karna terlalu bosan menunggu Gavin. Mereka sudah sampai di dalam kantin yang ternyata besar.
Lisa berdecak kagum. "Wow, ini kantin nya? Luar biasa."
Safira tersenyum lebar. "Aku juga tidak menyangka akan se'wah' ini. Ayo kita pilih makanan!"
"Tapi aku belum mengisi saldo kartu pelajarnya."
"Tenang, aku punya kartu yang sudah terisi." Safira menunjukkan kartu pelajar yang tadi pagi diberikan Bi Surti.
"Bagus sekali." Lisa tertawa lalu mereka pun pergi.
Beruntungnya sekarang bukan jam istirahat jadi mereka tidak perlu mengantri untuk mengambil makanan. Dan ternyata ada beberapa murid baru yang juga ada di sana. Safira dan Lisa memilih duduk di dekat dinding kaca yang tenang. Mereka mengobrol banyak tentang pribadi dan pasangan masing-masing. Hingga Reza datang.
"Lisa, ini teman baru kamu?" tanya Reza seraya duduk di samping Lisa.
Lisa menjawab. "Iya, dia Safira."
Reza melotot. "O-oh, jadi ini Nona Safira yang terkenal itu. Maaf aku tidak tahu karna Gavin tidak pernah memberi foto. Dia hanya terkadang bercerita."
Safira tersenyum. "Tidak apa-apa. Dan tolong jangan terlalu formal."
Reza mengangguk. "Tentu saja."
"Kamu kemana aja sih? Lama banget."
"Maaf tadi sibuk di laboratorium."
Safira tersenyum memperhatikan interaksi manis pasangan kekasih di depannya. Meski kini ia seperti benda asing di dunia pasangan itu tapi ia menyukainya.
"Safira!"
Mereka bertiga menoleh pada Gavin dan Aditya yang berjalan mendekat.
"Maaf ya lama, tadi aku bantu OSIS dulu." Gavin menjelaskan sambil mengusap rambut Safira.
"Ini gue belum kenalan udah dikasih pemandangan gak enak. Tega bener," kata Aditya dongkol.
"Yang jomblo sabar aja," ucap Reza berkelakar.
Mereka semua tergelak dengan tingkah Aditya yang seperti bayi merajuk.
"Safira ayo kita pulang!" ajak Gavin.
"Gue belum kenalan woy, main pulang gitu aja." Aditya sewot.
Gavin menghela napas. "Safira ini Aditya sahabat baikku. Dan Adit, ini Safira tunanganku. Sudah, ayo kita pulang!"
Safira berdiri saat Gavin menarik tangannya untuk pulang.
"Wah, kebangetan ya lo, baru juga mau akrab."
"Safira sudah terlalu lama di sini, jadi dia pasti butuh pulang."
Safira menggeleng. "Gak kok, aku juga mau akrab sama temen kak Gavin."
Gavin menghela napas lagi. "Baiklah, lima menit."
"Yaelah, kayak orang penting aja lo pake di waktu gitu."
Mereka pun akhirnya duduk untuk mengobrol.
"Ternyata ini Safira yang membuat seorang Gavin jadi buah terlarang untuk perempuan. Pantas saja cantik." Aditya memuji.
Safira tersenyum kikuk. "Makasih, kak. Dan untuk masalah 'terlarang' itu kurasa terlalu berlebihan. Aku tidak pernah melarang kak Gavin bergaul dengan siapapun. Aku bahkan tidak tahu siapa saja temannya."
"Itu karna aku tidak ingin ada salah paham. Kemauanku sendiri." Gavin menjelaskan.
"Ya, aku pikir itu komentar yang jahat. Seolah-olah Safira posesif sama kak Gavin." Lisa berkomentar.
"Makanya jangan terbuai gosip perempuan," ujar Reza.
"Kalian ini kenapa sih? Serius amat. Gue kan cuma mengungkapkan perwakilan seisi sekolah. Dan setelah melihat sosok Safira langsung, siapapun pasti akan berpikir mereka cocok."
"Iya, aku juga setuju mereka pasangan sempurna." Lisa tersenyum lebar sambil memberikan tangan simbol love ala Korea.
"Makasih Lisa," ucap Safira.
"Gavin lo beruntung banget, bro. Udah punya pacar cantik, anak tunggal konglomerat lagi. Dijamin dah tujuh turunan juga gak akan melarat. Kurang apalagi coba hidup lo." Aditya berkata sekenanya.
Semuanya langsung terdiam. Melirik ke arah Gavin yang tidak berekspresi. Hanya duduk diam kaku. Aditya yang mulai merasa bersalah karena candaannya melewati batas segera bereaksi.
__ADS_1
"E-eh, maksud gue–"
"Sudah lima menit. Ayo pulang!" Safira menurut saat Gavin menariknya pergi.
"Kacau ini," ujar Reza.
"Kayaknya candaan kak Adit tadi terlalu privasi. Kak Gavin kelihatannya tersinggung," ucap Lisa pelan.
"Begonya gue." Aditya membenturkan kepalanya ke meja.
"Padahal aku udah saranin upgrade tuh otak." Reza berkata dengan santainya.
"Ini bukan waktunya bercanda, sayang," ujar Lisa.
.
.
Safira melirik Gavin yang fokus mengemudi. Sepertinya lelaki itu masih memikirkan ucapan sahabatnya.
"Kak Gavin masih memikirkan kejadian tadi, ya?" tanya Safira pelan.
"Gak. Lagian itu memang benar. Aku beruntung memiliki kamu."
Tapi Safira tidak melihat Gavin menunjukkan ekspresi demikian.
"Benarkah? Justru aku yang paling beruntung. Lelaki mana yang mau menerima gadis penyakitan dan menyusahkan seperti aku. Kalau dipikir lagi, cuma lelaki bodoh yang mau."
"Aku. Berarti aku bodoh, gitu?"
Safira terkekeh. "Ya. Lama sekali sadarnya."
"Berarti kepintaranku di sekolah selama ini tidak ada gunanya, dong."
"Mungkin sistem mereka sedang eror."
"Mustahil sekolah elit mengalami kegagalan sistem. Kamu harus tahu, terkadang sepintar apapun kita kalau menyangkut cinta pasti jadi bodoh juga."
"Benar sekali." Safira tersenyum kecut.
"Jangan jadikan penyakitmu sebagai alasan mengeluh begitu! Aku tidak suka." Gavin mengusap rambut Safira sekilas.
"Kamu juga harus berhenti menjadikan status keluarga sebagai batasan kita."
Tidak terasa kini mereka sampai di depan gerbang rumah Safira. Gerbang pun terbuka. Gavin kembali melaju sampai di depan pintu utama.
"Nanti malam aku ada acara makan malam."
"Sama orang tuamu?"
Safira menggeleng. "Keluarga besar Halim."
Gavin menggenggam tangan Safira. "Hubungi aku kalau ada apa-apa."
Safira menatap Gavin memelas. "Padahal aku berharap kamu ikut."
"Tapi Papamu gak ngundang. Nanti juga akan ada waktunya."
Safira mengangguk dengan raut wajah murung. Gavin mencubit pipinya membuat ia mengaduh pelan.
"Kamu pasti bisa. Tidak akan ada apapun yang terjadi. Jangan khawatir!"
"Tentu."
"Sampai jumpa nanti, sayang." Gavin mengusap rambut Safira setelah itu Safira keluar dari mobil.
Safira memandangi mobil yang menjauh.
.
.
Semua anggota keluarga Halim hadir di makan malam ini. Termasuk cucu menantu pertama yang merupakan anak pemilik perusahaan media terkenal. Cucu pertama keluarga Halim itu menikah dua tahun lalu. Presdir Halim Group duduk sebagai pemimpin acara dari menyantap makanan pembuka hingga makanan penutup. Seperti kebanyakan keluarga terhormat lainnya, mereka menjunjung tinggi table manners. Dan pembicaraan paling dibenci Safira akan segera dimulai. Karena posisi Presdir akan segera diganti maka obrolan kali ini pasti lebih 'panas' dari biasanya. Safira mulai gelisah.
"Ayah, aku sudah menempatkan Revan di perhotelan keluarga kita. Dia pasti bisa membuatnya lebih berkembang, mengingat Diana yang menjabat direktur sekarang." Riswan— Omnya yang merupakan anak pertama sekaligus direktur bank itu kini mulai berbicara membanggakan anaknya.
"Ya, itu bagus. Kakek percayakan sama kamu Revan," kata kakeknya— Ridwan Halim sang Presdir.
"Terima kasih, kek. Aku pasti akan berusaha keras!" seru Revan dengan lantang dan penuh percaya diri.
"Hahaha.. bagus.. bagus. Aku suka semangat anak muda. Diana pastikan kamu membantu Revan, ya."
__ADS_1
Diana tersenyum lalu berucap, "tentu saja kakek. Aku selalu mendukung Revan. Aku juga akan berusaha membuat hotel-hotel milik keluarga ini lebih berkembang."
"Dan untuk Vina, kamu pasti sudah bekerja keras menghadapi Riswan yang keras kepala dan bodoh ini. Terima kasih." Kakek mengucapkannya dengan tulus.
"Ayah tidak perlu berterima kasih, sudah sewajarnya seorang istri mendukung suaminya sendiri." Tantenya Vina— seorang direktur penerbitan keluarga Halim berkata sambil tersenyum lebar.
Safira mulai muak. Sebentar lagi mereka akan membahas keluarganya. Ia tidak suka itu.
"Kamu benar. Karina bagaimana perkembangan rumah sakit sejauh ini?" tanya Kakeknya.
"Sangat baik Ayah. Pembangunan cabang di Kota B juga akan rampung sebentar lagi. Ayah tidak perlu mencemaskannya," jawab Tantenya— direktur rumah sakit keluarga Halim.
"Sekarang Ayah tidak akan cemas masalah itu. Apalagi Ferdi sebentar lagi akan mencalonkan diri menjadi wali kota, dengan dukungan semua keluarga Halim pasti akan berjalan sukses. Bukankah begitu, Ferdi?"
"Ya, semua berkat Ayah. Terima kasih." Omnya— yang seorang politikus itu menjawab.
"Ayah, aku punya kabar baik." Tantenya berkata penuh antusias.
"Kabar baik apa Karina?"
"Raisa sudah diterima di Fakultas Kedokteran luar negeri. Bukankah itu bagus?"
"Tentu saja. Jangan malas-malasan dan terus giat belajar, Raisa!"
"Tentu saja, kek." Raisa menjawab.
Sekarang Safira merasa ingin pulang.
"Meskipun dulu aku sudah membahasnya, tapi akan kukatakan lagi. Sekarang Ivan menjabat direktur kantor pusat, tapi bukan berarti ia yang akan jadi presdir berikutnya. Aku memilihnya karena kemampuan. Tapi calon presdir berikutnya harus punya kandidat direktur yang nantinya setara bahkan melampaui Ivan. Kalian tidak boleh kalah dari Ivan yang anak bungsu. Fokus saja bekerja keras, biar aku dan jajaran direksi yang melihat perkembangannya."
Safira sudah bisa memprediksi 'perang' akan segera dimulai. Apalagi melihat senyuman Tante Karina yang sekarang menatapnya. Ucapan Kakeknya sama saja seperti perintah 'perang saudara'. Bagaimana bisa orang tua bertindak demikian? Ia tak habis pikir. Tapi ia juga tidak akan bisa berbuat apapun.
"Aku dengar Safira masuk SMA Harapan. Apa dia baik-baik saja?" Tantenya meluncurkan 'rudal' pertama.
"Ya, dia sudah membaik. Beberapa bulan lagi dokter yang akan mengoperasinya akan datang." Ayahnya menjawab dengan tenang.
"Ah, begitu. Syukurlah. Aku turut senang." Tantenya tersenyum tipis.
"Benar juga, kakek lupa menanyakan kabarmu. Bagaimana perkembangan kondisimu sekarang?"
"Aku baik-baik saja, kek. Kakek juga harus menjaga kesehatan dengan baik."
"Tentu saja. Tiap hari aku didatangi dokter itu. Mana orangnya cerewet, melebihi mendiang nenekmu. Mau ganti dokter tapi dia yang terbaik. Dasar." Kakeknya bercerita dengan santai.
"Sama kek, aku juga sudah mulai bosan dengan dokter Lukman. Tapi mau bagaimana lagi kan ya."
Kakeknya tertawa. "Kita satu nasib Safira."
Safira pun ikut tertawa kecil. Sebenarnya Kakeknya orang yang baik. Terlebih keluarganya mendapat perlakuan lebih khusus. Entah karena Ayahnya yang dipercaya Kakek atau hal lain. Mungkin perebutan posisi tertinggi perusahaan yang membuat keluarga mereka agak 'berbeda' dari yang lain.
Om Riswan berdeham tiba-tiba. "Karena Safira seorang perempuan, tidak mungkin kan dia menjadi direktur Halim Group."
Ternyata Om Riswan meluncurkan 'rudal' kedua.
"Memang kenapa kalau perempuan? Kak Diana, Kak Karina, lalu aku. Bukankah kami ini perempuan? Kami juga sukses." Ibunya memprotes.
"Stella benar, siapa bilang perempuan tidak bisa? Aku sudah sukses menjalankan rumah sakit besar dan akan buka cabang. Lalu Raisa bisa menjadi kandidat calon direktur." Tante Karina dongkol pula pada Om Riswan.
"Maksudmu kau ingin menjadi presdir?" Om Riswan tertawa. "Jangan bercanda! Perempuan tidak akan bisa!"
Lalu mereka pun perang adu mulut. Saling meneriaki satu sama lain.
"Kalian diamlah! Kita di sini bukan untuk berteriak seperti hewan kelaparan. Tenanglah!" Keduanya pun diam setelah ditengahi oleh Ayah Safira.
"Lagipula Safira akan segera bertunangan. Dan tunangannya mempunyai potensi melebihi aku." Ayahnya akhirnya mengatakan itu.
"Benarkah? Dengan siapa?" tanya Tante Karina.
"Gavin. Anaknya Reksa Prayudha," jawab Ayahnya.
"Prayudha yang itu? Bukankah mereka akan bangkrut? Aku terpaksa meredam berita itu karena kamu." Tante Vina membuka suara.
"Kamu mau image perusahaan kita hancur? Wah, sudah gila kamu. Baru saja waktu itu dia meminjam uang di bank tempatku atas perintahmu. Sekarang apa? Menjodohkan Safira dengan pria yang tidak punya apa-apa. Lucu sekali." Om Riswan mencemooh.
"Masalah perusahaan mereka, aku sudah mempunyai rencana dengan itu. Dan Gavin, dia punya sesuatu yang bahkan aku pun tidak punya. Kalian tenang saja, perusahaan tidak akan terkena dampak apapun. Oleh Gavin, kalian semua akan dibuat takjub nanti. Kita lihat saja."
"Apa kamu yakin? Aku memang mendengar Reksa dibantu anaknya menjalin relasi dengan beberapa pejabat. Aku tidak tahu apa rencana mereka." Om Ferdi sekarang membuka suara.
Safira bahkan terkejut dengan fakta baru ini. Gavin ataupun Pak Rudi tidak pernah memberi info mengenai relasi. Ia bahkan ragu Ayahnya tahu. Tapi melihat senyum Ayahnya sekarang ia jadi bingung.
"Kita tunggu saja nanti."
__ADS_1
"Kalian ini jangan terlalu percaya diri. Biarkan aku yang bertugas memilih. Kalian cukup fokus pada tanggung jawab masing-masing." Akhirnya Kakeknya mengakhiri drama ini.
TBC