Dare To Love

Dare To Love
Virga x Yohan


__ADS_3

🍁🍁🍁


Sejak kepergian ayahnya, Virga mulai menghitung-hitung perencanaan pengeluaran.


Dalam rangka pengiritan, ia kini berangkat sekolah hanya dengan sunscreen dan pelembab saja. Gadis cantik itu juga sesekali meng-skip jatah makan siangnya.


Di saat jeda makan siang, taman belakang sekolah sangat sepi. Hampir semua siswa sedang memadati kantin sekolah. Saat itu lah Virga akan pergi ke taman belakang. Ia harus berulang-ulang menggunakan alasan diet pada Nissa.


Menghela nafas dalam-dalam, gadis itu bergumam, “Lapar sekali..”


Rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai berayun lembut diterpa angin, ia menengadahkan kepalanya, bersandar lemas di bangku panjang kayu.


Tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya. Bau parfum lembut beraroma maskulin tercium. Tanpa menoleh pun, Virga tahu, yang duduk di sampingnya adalah Yohan.


Yohan menyenggol pelan botol dingin di pundak Virga. Virga menerima botol berwarna kuning tersebut.


Ketika Virga membukanya, botol itu sudah terbuka segelnya. Seperti biasa, Yohan membukanya sebelum memberikannya pada Virga.


Virga meneguk minuman itu, 'Hmm.. Kali ini berasa pisang'.


Sebelum-sebelumnya, Yohan membelikan Virga berbagai macam minuman dingin yang dijual di box selling machine yang ada di kantin. Dan ketika Virga meminumnya, Yohan akan memperhatikan reaksi Virga. Sepertinya Yohan berencana mencari tahu minuman kesukaan Virga.


Yohan, “Tidak makan siang lagi?”


Virga mengerucutkan bibirnya, “Aku sedang diet.”


Yohan, “Kamu sudah kurus tahu..”


Akhir-akhir ini, berat badan Virga memang terus menerus turun. Tubuhnya memang tidak nampak kurus ataupun tipis, lemak masih memenuhi beberapa bagian yang tepat pada tubuhnya, hanya saja ia terlihat lemah. Membuat siapa pun yang melihat merasa ingin melindunginya.


Gadis itu lagi-lagi menghela nafas panjang. “Kamu tahu kan, tentang aku dan Dimas? Dia sebelumnya juga mengejar-ngejarku seperti kamu saat ini.”


Hati Virga sedikit bergetar ketika mengatakan ini.


Yohan, “Tidak semua laki-laki seperti Dimas.”


“Aku tahu.” Virga bangkit berdiri, mengibaskan debu di rok seragamnya dan mengembalikan botol minuman susu bekasnya pada Yohan.


Yohan ikut bangkit. Ia berjalan di samping Virga.


Yohan sangat berbeda dengan Dimas. Dimas adalah seorang yang ramah, menyapa semua orang dan selalu tersenyum lebar. Sedangkan Yohan lebih pendiam. Dia hanya bertegur sapa dengan senyum tipis. Perhatiannya terfokus pada Virga.


Sejujurnya, Virga menyadari, tanpa Yohan, Virga tidak yakin bisa melanjutkan kehidupan SMA-nya di sini.


Bak seorang fans setia, Yohan terus mengikutinya hingga ke area loker.


Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Bergosip.


“Tidak usah didengarkan.” Kata Yohan pelan. Yohan bersandar di loker sebelah loker Virga dan menatap ke wajah cantik pujaan hatinya.


Tersenyum kecil, Virga menjawab “Aku tidak sedang mendengar apa pun.”


Mereka berdua berjalan ke arah kelas. Kebetulan sekali, Shanti dan kroninya baru selesai makan siang.


“Huh, lihat saja. Tidak ada satu semester menjanda sudah dapat pacar baru.” Laila dengan mulut lamesnya mulai menggosip.


Shanti dan rombongan lainnya tertawa sinis.


Yohan menghela nafas dalam-dalam. Ingin rasanya dia menampar mulut busuk gadis itu. Andai Laila laki-laki, Yohan pasti sudah memukulnya.


Virga terus berjalan ke depan. Tak menoleh ke arah mereka sama sekali. Beberapa anak yang berada di koridor melihat ke arah mereka.


“Booo.. Bertingkah tuli. Semoga kau tuli benaran!” Suara Laila angkuh memimpin rombongannya.


Yohan berbalik, memandang tajam ke arah Laila.


Laila sedikit keder. Sebenarnya ada rahasia di antara Yohan dan Laila. Saat semester 1 tahun pertama, Laila pernah menyukai Yohan. Laila bahkan menembaknya, mengajaknya kencan dan ketemuan.

__ADS_1


Tentu saja Yohan menolaknya. Yohan memang playboy, tapi gadis bermulut julid bukanlah tipenya.


🍁🍁🍁


Sekolah berjalan seperti biasa. Semenjak Virga dekat dengan Yohan, Shanti tidak lagi mengganggunya. Hanya Laila yang sesekali masih suka menyindir.


Namun Virga tidak memedulikan itu semua. Ia memusatkan konsentrasi untuk ujian tengah semester yang akan datang.


Yohan sebagai ketua OSIS dan anggota tim basket sangat sibuk di semester ini. Dia juga beberapa kali absen sekolah dengan alasan training, ini yang Yohan katakan pada Virga. Tapi Bu Maya, wali kelas, mengatakan Yohan sedang ada urusan keluarga yang tak bisa ditinggal.


Davis sang artis idola juga beberapa kali absen sekolah. Hampir di setiap acara tivi nasional mengiklankan produk dengannya sebagai ambasador. Meski begitu, setiap dia masuk kelas, dia tidak pernah tidur ataupun mengabaikan guru di depan. Fans-nya dari sekolah lain juga sering datang menunggu Davis di luar gerbang. Davis akan dengan ramah melambaikan tangannya menyapa mereka.


“Kenapa dia tidak masuk sekolah lagi? Dia bilang dia izin tiga hari saja?” Tanya Virga pada Xavier.


Virga sudah menunggu momen-momen seperti ini, momen ketika kelas sedang ramai dan tidak peduli pada apa yang terjadi di sekelilingnya.


Xavier yang sedang membaca buku komik dengan kakinya yang selonjoran di atas meja menyeringai.


Sudut bibirnya tertarik ke atas, “Merindukan Yohan hm? Kenapa tidak menghubunginya langsung?”


Ryan yang duduk bersebelahan dengan Xavier ikut menyeringai.


Dengan suara yang sedikit berbisik Virga menjawab, “Aku sudah menghubunginya sejak tadi. Tapi dia belum balas. Dia bilang hanya tiga hari.”


Xavier mengangkat wajahnya, ia melihat wajah Virga yang bersungut-sungut.


Jawaban sarkastis Xavier tertelan kembali setelah mendengar Virga bertanya dengan suara yang memelas, “Dia baik-baik saja kan?”


Ryan yang sibuk bermain game online di ponselnya ikut mengangkat wajah memandang Virga.


Ryan sungguh tidak menyangka, akan ada saat di mana Virga mengkhawatirkan temannya. Usaha memang tidak akan mengkhianati hasil.


“Hmph.. Ya sudah kalau tidak mau jawab.” Virga mengentakkan kakinya dan meninggalkan bangku Xavier.


Xavier dan Ryan berpandangan, kemudian menggelengkan kepala. Wanita memang sulit dimengerti.


Kemungkinan Yohan tidak menjawab pesan Virga adalah karena dia sedang dalam perjalanan atau dia sedang tidur karena kelelahan.


Tanpa tahu kesalahan yang ia perbuat, Yohan dibuat bingung dengan Virga yang berekspresi cemberut dan tak mau membalas sapaannya. Yohan melakukan segala macam usaha untuk membuat Virga berhenti ngambek.


Dan ketika Yohan mengira Virga masih marah padanya, ternyata Virga masih menonton laga persahabatannya dengan SMA sebelah. Sayangnya, ketika tim basket Yohan selesai beramah-tamah dengan tim basket lawan, Yohan tak lagi melihat Virga di kerumunan penonton.


Ia mencari-cari Virga hingga ke parkiran dan melihat sepeda ontel Virga yang sudah tidak ada.


‘Memahami jalan pikiran wanita memang sulit..’ Batin Yohan.


💓💓💓


Dua minggu sebelum ujian, Virga mereview semua mata pelajarannya. Kepala Virga rasanya berasap panas setelah seharian berlatih mengerjakan soal matematika.


Virga bertekad bulat, semester ini, dia harus mengalahkan rekor rangking satu Yohan.


Tekadnya sudah bulat, dia tak ingin kalah dari Yohan.


Virga sengaja menyisakan mata pelajaran yang rumit di akhir. Tapi ternyata malah menyebabkan kepalanya seperti akan meledak.


Satu hal yang Virga pelajari, sebaiknya menyelingi pelajaran sulit dan pelajaran yang mudah untuk kesehatan otaknya.


Kakinya terasa kram. Dia sudah duduk bersila di ruang tengahnya sejak jam 10 pagi.


Ia melihat mentari sore yang kian memerah memantulkan cahayanya dari jendela-jendela kaca di ruang tamu. Gadis itu pun memutuskan untuk menyudahi pelajaran hari ini.


Sebenarnya tinggal sedikit lagi, tinggal dua bab yang tersisa. Tapi Virga menyerah. Tidak kuat.


Perutnya berbunyi nyaring. Virga lupa tidak makan siang. Rasanya lapar sekali.


Virga mengambil ponselnya dan memesan masakan Cina online. Akhir-akhir ini Virga menggemari Koloke dan udang goreng tepung. Ini semua gara-gara Yohan yang selalu membelikannya masakan Cina di kantin sekolah.

__ADS_1


Virga melihat ponselnya, masih 30 menit sebelum pesanannya sampai. Ia pun memutuskan untuk mandi kilat.


Pesanannya sampai pas ketika Virga tengah menyapu halaman rumahnya.


Bergegas menyelesaikan pekerjaannya, gadis cantik itu berlari-lari kecil masuk ke dalam rumah. Ia sudah sangat lapar sekali. Bau asam manis koloke membuat perutnya kembali bernyanyi-nyanyi riang.


Tak lupa, sebelum ia makan, ia memotret makanannya dan mengirimkannya pada Yohan.


Terakhir chat-nya dengan Yohan adalah tadi pagi ketika dia berpamitan akan belajar matematika. Yohan mengiriminya ucapan semangat dan emotikon love.


Beberapa saat kemudian, Yohan membalas pesannya dengan emoticon love yang lebih banyak.


Ketika Yohan hanya membalas dengan emotikon seperti ini, biasanya Yohan sedang sibuk. 💓


Gadis itu makan dengan lahapnya. Ini adalah makanan pertama setelah sarapan salad buahnya tadi pagi. Selesai makan, ia segera membereskan bekas makannya dan melanjutkannya dengan agenda santai-santai di shofa ruang tengah.


Dengan santainya, gadis itu melihat-lihat video viral tentang dunia dance ditemani dengan obrolan-obrolan singkat dengan Erlina yang sedang masak makan malam di dapur.


Tak sengaja, Virga menemukan teaser film Fifty Shades of Grey, film yang saat ini sedang naik daun dengan alasannya tersendiri.


Oh wow. Adegan ciuman di dalam lift sungguh-sungguh panas.


Berulang kali memutar film pendek itu membuat Virga merasa gerah. Ia mengipasi lehernya yang tiba-tiba terasa gerah dan panas.


Saat ini dia sedang jomblo, tidak seharusnya menonton film beginian. ‘Hahhhh.. derita jomblo.’ Gumamnya dalam hati.


Mungkin dia bisa memanfaatkan Yohan?


Gairahnya yang terpendam muncul sebanyak titik-titik keringat di lehernya. Oke, fix. Saat ini Virga butuh Yohan.


Kebetulan sekali ketika Virga berpikir tentang Yohan, pemuda itu mengiriminya pesan, “Maaf, tadi ada urusan sebentar.”


Virga membalasnya dengan emotikon kiss.


Di seberang, Yohan menautkan alisnya. Antara bingung dan kaget. Ini pertama kalinya Virga mengiriminya emot kiss. ‘Mungkin Virga saat ini sedang sibuk. Atau, salah kirim?’ Pikirnya.


Tapi tidak, hanya berselang beberapa detik, Virga mengiriminya lagi serombongan emotikon kiss.


Bersandar di dinding koridor kantor, sudut bibirnya terangkat sembari membalas pesan Virga dengan emotikon kiss yang lebih banyak.


Oke, saat ini Yohan juga butuh Virga!


Yohan benar-benar tidak menyangka, hanya dengan bertukar emotikon kiss bisa membuatnya merasa panas.


Yohan melonggarkan dasinya, ia terkaget-kaget ketika tiba-tiba Virga mengiriminya pesan, “Let’s meet in a hotel.”


Sekretaris Li yang masih berbicara dengan kakak Yohan di sebelahnya menaikkan alisnya sedikit. Ketika dia hendak menanyakan Yohan jika terjadi masalah, Yohan sudah buru-buru pergi ke tangga darurat dan menelepon seseorang.


Kakak kembar Yohan melihat ke arah Yohan dan menaikkan alis mereka bersamaan.


“Apa dia saat ini punya pacar?” Tanya cowok kembar dengan tahi lalat kecil di bawah bibirnya.


Sekretaris Li berdehem pelan.


Saudara kembarnya menyeringai, “Aku ingin sekali menggodanya.”


Mereka berdua tertawa bersamaan.


Tanpa menyadari kedua kakaknya yang sedang menyusun skema untuknya, Yohan menelepon Virga.


Gugup, Virga mengangkat teleponnya, “Ya?”


Yohan, “Apa kau serius??”


💓💓💓


A/N: Jangan lupa like dan komen ya..

__ADS_1


__ADS_2