Dear Imamku

Dear Imamku
Sesuatu


__ADS_3

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ada yang sadar dengan chapter yang aku tulis kali ini?


Entah, mungkin iya atau sebaliknya tapi harapanku sih kalian tidak tahu, wkwkwkw -Jahadd author.


Selamat membaca  💜


بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


-


-


-


-


-


💜


Setidaknya aku mempunyai waktu untuk bersama istriku berdua di rumah.


●_●


             “Ananda Farzan Rayhaan Shakeil, wanita yang engkau nikahi tidaklah seindah Khadijah, seteguh Aisyah, setabah Fatimah, dan secantik Zulaikah, dia hanyalah wanita akhir jaman yang akan melahirkan anak-anak yang saleh dari rahimnya.


     Ananda Adibah Sakhila Atmarini, laki-laki yang menikahimu tidaklah semulia Nabi Muhammad SAW, tidak setakwa Nabi Ibrahim a.s, dan tidak juga setabah Nabi Ayyub a.s atau pun segagah Nabi Musa a.s, apalagi setampan Nabi Yusuf a.s, dia hanyalah pria akhir jaman yang punya cita-cita membangun keturunan yang saleh denganmu, perkawinan mengajarkan kewajiban bersama, suami menjadi pelindung, istri penghuninya. Suami nakhoda kapal istri navigatornya, perkawinan mengajarkan iman dan takwa untuk belajar meniti sabar dan ridho, “ ucap moderator itu dengan lantang. Membuat rumah umi terasa penuh.


     Ucapan demi ucapan terdengar jelas di telingaku, aku cuma bisa menundukkan kepalaku sembari mengontrol detak jantungku. Kenapa rasanya kalau aku baru akan menikah? Memang banar aku baru saja akan menikah, tetapi rasanya kali ini berbeda, banyak orang yang datang, dan papan yang bertuliskan selamat juga sangat banyak di luar, bahkan ruangan ini terlihat begitu indah daripada akad nikah pertama aku dan kak Farzan.


     Lantunan ayat suci kini terdengar jelas di telingaku, saat kak Farzan mulai membaca ayat demi ayat dalam surat Ar-Rahman. Yang paling membuatku terharu saat kak Farzan membaca ayat enam belas dalam surat itu, kalau tidak salah artinya, maka ciptaan tuhan kamu manakah yang kamu dustakan, membuatku semakin terbawa perasaan.


    Hingga akhirnya kak Farzan berhasil menghafalnya dengan lancar dan benar di depan penghulu. Aku tidak menyangka kalau aku akan menikah ke dua kalinya dengan orang yang sama pula, aku kira kak Farzan waktu itu cuma sedang bercanda dan hanya ingin membuatku bahagia saja.


     Semua orang menatap ke arahku, seakan saat itu mereka mengucap selamat atas pernikahan aku. Dari tadi aku cuma bisa menunduk sesekali mendongak melihat sekitar dengan senyum kikuk kemudian kembali menunduk lagi, hingga umi menyenggol bahuku, menyadarkan aku untuk maju mendekati kak Farzan. Dia tersenyum tulus melihatku, kedua lesung pipinya terlihat begitu menarik, walau dia tidak mudah lagi tapi wajahnya dapat menipu usianya.


     Saat berada di dekat kak Farzan, aku kembali menunduk, sambil mendengar arahan dari ibu-ibu yang ada di belakangku. Benda di atas kepalaku terasa sangat berat, aku baru mencoba pakaian bodo' atau pakaian adat Bugis ini, tapi setidaknya aku bersyukur, aku masih bisa mencoba pakaian ini.


     Dengan balutan hijab membuatku mendapatkan banyak pujian dari teman-teman kak Farzan dan keluarga umi dan abi, entah apakah itu cuma basa basi saja agar dia bisa berbicara denganku atau memang kenyataan kalau hari ini aku sangat cantik dengan pakaian pengantin ini, ada juga beberapa keluarga dari kak Farzan yang memakai baju bodo sebagai pagar ayu.


    Saat aku menunduk, tiba-tiba kak Farzan mencium keningku. Kedua kalinya dia menciumku di depan umum. Kuharap pipiku tidak sedang merona saat ini.


     Bibirnya bergetar mengucapkan kalimat-kalimat. Entah sadar atau tidak, air mataku mendadak mengalir.


     Setelah melakukan akad nikah, aku dan kak Farzan kembali di suruh masuk ke kamar untuk melakukan tradisi mappasikarawa, mappasikarawa yang berarti saling menyentuh ini sekaligus menjadi simbol bagi kedua mempelai bersentuhan untuk pertama kalinya sebagai suami dan istri yang sah.


     “Kenapa? “ tanya kak Farzan. Aku cuma tersenyum kaku membalasnya, apalagi saat hampir semua ibu-ibu juga mengikuti kita. “Jangan malu, ini tradisi kamu kan? “ Memang benar ini tradisiku tapi ini pertama kalinya aku melihat sekaligus merasakan secara langsung. Kak Farzan bukan Bugis asli, dia dari Jakarta bahkan kak Farzan tidak memiliki darah Bugis sedikit pun, hanya saja sekarang dia sekeluarga menetap di Bugis dan dia juga sangat mencinta suku Bugis, setidaknya aku harus bersyukur karena itu.


     “Kak Farzan, malu.” Itulah yang kupilih untuk kuucapkan, di saat aku hampir saja kehabisan topik pembicaraan. Memang benar aku malu, apalagi saat semua orang yang ada di dalam kamar mulai menatap kami, tidak sedikit juga diantaranya ada yang memotrer kami.


    "Jangan malu, anggaplah kamu sedang berdua saja denganku, " bisiknya.


     Seseorang kini menuntun ibu jari kak Farzan untuk menyentuh ubun-ubunku, aku tahu maknanya ini semua agar istri tunduk kepada suaminya, sedangkan saat suami menyentuh buah dada istrinya, ini sebagai lambang gunung dengan harapan rezeki akan setinggi gunung, juga menggenggam tangan mempelai wanita, dengan harapan hubungan akan kekal abadi, dan perut yang berarti agar keluarga tidak mengalami kelaparan hingga akhirnya semuanya selesai. Aku dan kak Farzan telah selesai dan bisa kembali keluar untuk bertemu dengan tamu undangan.


     Aku sedikit bercerita tentang adat pernikahan Bugis, semisal uang panai dan uang passolo, dua hal itu hampir sama hanya saja uang panai kaum prialah yang di susahkan sedangkan uang passolo para tamu undanganlah yang di susahkan, kenapa menyusahkan tamu undangan? Ini sebenarnya tidak jauh dari siri’ salah satu pepata bugis seperti ini Siri'e mi rionrowong ri lino. Hanya untuk siri sajalah kita tinggal di dunia. Artinya, bahwa siri sebagai identitas sosial dan martabat pada orang Bugis, dan jika memiliki martabat itulah, hidup menjadi berarti.


     Dan kembal lagi. Aku berjalan mendahului jalan kak Farzan yang sedang memegang ujung dari pakaianku, itu juga termasuk tradisi, katanya. Hingga akhirnya kita sampai. Aku lebih berusaha menatap pasang mata yang ada di depanku yang tak kalah beda dari orang-orang yang di dalam rumah tadi, mereka tersenyum rama saat mengalami kontak mata langsung denganku.


     “Kak Farzan kepalaku sakit, “ keluhku saat baru beberapa saat duduk. Jelas saja setiap ada tamu kita harus berdiri untuk menyalami tangannya, kecuali pria aku tidak bersalaman dengannya, ini larangan dari suamiku, begitu pun dengan sebaliknya.


     “Mana yang sakit? Mau aku pijitin? “ tawanya yang kubalas angguka.


     Dan benar, kak Farzan mulai memijit bagian belakang kepalaku. Tidak sedikit orang menatap ke arah kami sambil bersiul-siul dan kemudian tertawa. Mungkin pijitan kak Farzan terlalu enak, membuatku tidak memedulikan tingkah mereka.


     "Kak Farzan tidak capek? "


      Kak Farzan kembali tersenyum kemudian menggeleng. "Malahan aku sangat semangat hari ini, akhirnya aku bisa menikah dengan wanita yang aku cintai dengan dasar saling mencintai. Aku kira aku tidak akan bisa tapi alhamdulillah bisa juga, " kata kak Farzan dengan lesung pipinya yang terlihat jelas.


     "Aku juga semangat, hanya saja kepalaku tiba-tiba sakit, "


     "Kamu lapar?" Aku mengangguki perkataan kak Farzan. "Tunggu aku minta ke umi dulu." berselang beberapa menit makanan itu sudah ada di depan kak Farzan.


     Dia mulai menyuapi aku makanan. Untungnya tamu saat ini tidak terlalu banyak jadi aku bisa istirahat untuk makan walaupun tidak seberapa, mensyukuri lebih baik.


     "Kak Farzan tidak lapar? " Dari tadi dia selalu menyuapiku makanan tapi dia tidak pernah makan juga.


     "Lihat kamu makan saja rasanya aku sudah kenyang." Apa dia mengombaliku sekarang? Benar-benar rasanya baru mengenalnya dan ahh aku tidak tahu harus bilang apa.


     "Tapi kalau kak Farzan sakit bagaimana? "


     "Baguslah, setidaknya aku mempunyai waktu untuk bersama istriku berdua di rumah, " ucap kak Farzan yang kembali memperlihatkan lesung pipinya.


     Aku tersenyum. Tidak terlalu menanggapi perkataan dia, rasanya aku seperti anak ABG yang baru mengenal cinta, rasanya terlalu menyenangkan. Apalagi saat dia mulai menyuapi aku makanan hingga makanan itu habis, sebenarnya aku masih mau tambah hanya saja keadaannya tidak mendukung.


     “Kak Farzan kapan selesainya acara ini? “ konyol, aku mempertanyakan hal seperti ini di saat kita baru-baru saja duduk. Mungkin kisaran hampir dua jamlah.


     Kulihat kak Farzan cuma tertawa dengan tangan yang masih ada di kepalaku. “Sabar sayang. “ Tahu tidak, aku sekarang sedang tersenyum mendengarnya, setiap kali dia memanggilku dengan sebutan sayang entah aku tidak bisa mendefinisikan kebahagiaanku.


     “Aku undang Jihan, Dani, Sriwahyuni, Nurpika, Andi, Abdi, Qamariah dan teman lamaku Madinah, tapi dia belum juga datang. Apa dia tidak tahu kalau acaranya hari ini ya? “


     “Adibah, kita baru saja di sini, mana mungkin dia langsung datang. Mungkin dia ke salon dulu buat dandan. “

__ADS_1


     Aku mengangguk-angguk. “Iya juga ya. “


     “Kepalamu masih sakit? Aku capek pinjitin soalnya, “ keluhnya, tidak lama setelah itu dia tertawa kecil. Bisa-bisa diabetes aku kalau seperti ini, kalau lihat lesung pipinya itu, ya Allah apa keturunanku bisa juga punya seperti itu?


     “Masih sih tapi sudah ada sedikit kemajuan. Tadi sakit sekarang tambah sakit, “ ucapku. Aku berbohong ya. Maafkan aku ya Allah.


     “Ya sudah mana tanganmu, “ pintah kak Farzan. Aku memberikan tanganku. Kak Farzan memijat bagian tengah antara ibu jari dan jari telunjukku. Entah aku tidak tahu kenapa dia melakukan itu tapi sakit di kepalaku rasanya sedikit berkurang.


     Terdengar samar kalau seseorang berteriak. “Romantisnya nanti, sekarang urusi tamu dulu, “ ucap Mahesa kemudian tertawa. Dia mengejek kita berdua.


     Kak Farzan tersenyum, membuat lesung pipinya kembali terlihat jelas, dia tampan. Aku selalu saja memperhatikan wajahnya, mungkin Allah berniat memberikan satu kekurangan kepada kak Farzan tapi nyatanya kekurangan itu membuatnya semakin, ahh aku malu terlalu memuji dia.


     "Jangan menatapku seperti itu, aku risih di tatap bidadari. "


     Aku segera mengalihkan pandangankum. Wajahku pasti merona sekarang. Dan benar, ternyata sudah ada beberapa tamu yang sedang berdiri di depan kita, hendak menyalami kita berdua. Kenapa aku ingin tertawa sekarang? Apalagi saat keempat tamu itu memerhatikan kita, dia pasti ingin tertawa, sama seperti aku.


    


     Ayah, anakmu ini tidak menyangka kalau ternyata jalan ceritanya akan seperti ini, menikah dua kali dengan orang yang sama, menikah dengan seorang dokter yang usianya terlampau jauh denganku. Menikah dengan seorang dokter tampan dengan karunia lesung pipi di pipi kirinya, pria yang selalu memberiku boneka beruang, dan pria yang rela mau mengubah warna kamar dan ruangan lainnya menjadi warna ungu hanya karena aku. Bahkan teebayangkan saja tidak pernah. Tapi takdirlah yang menentukan. Aku sangat berterima kasih kepada-Mu ya Allah. Telah merencanakan takdir yang seindah ini, bahkan sangat indah.


●_●


     "Selamat ya, " ucap Fauzi saat berada di depan Farzan. Pria itu berusaha untuk melupakan semuanya termasuk perasaannya kepada cinta pertemanya. Sebesar apa pun usahamu untuk mendapatkan dia, kalau memang benar dia buka jodohmu, semuanya akan sia-sia, ibarat kamu berusaha untuk menangkap udara untuk kau lihat, seberapa besar apapun usahamu kalau memang hakikatnya dirimu tak mampu menjangkau, sama saja dengan halnya percuma-cuma.


     Mungkin saat ini Farzan harus bisa untuk bersikap profesional, Fauzi memang pernah hampir mencelakai Adibah, istrinya, tapi harus sadar, Umar bin Khattab r.a yang dahulunya pernah ingin membunuh Rasulullah, kini makamnya indah di samping makam Rasulullah. Seseorang pasti akan berubah, mungkin bukan sekarang, bisa jadi besok, atau mungkin juga lusa.


     "SAMAWA, Farzan. " Fauzi kembali membuka suara.


      Farzan tersenyum. "Terima Kasih, " ucapnya singkat.


     Setelahnya, Fauzi turun tanpa menatap wajah Adibah. Akhir-akhir ini, dia sudah berusaha untuk melupakan Adibah, dan kembali ke kehidupan sewaktu Adibah belum hadir di hidupnya, ini bukan perkara yang mudah, tapi ini tidak bisa juga untuk di lanjutkan.


     "Kuharap Allah memberikan seseorang yang tak kalah jauh dari dirimu, untuk Fauzi, " ucap Farzan saat mereka kembali duduk.


     "Aamiin. Aku baru tahu kalau dia ternyata sudah berubah."


     "Baguslah, setidaknya aku bisa hidup tenang tanpa saingan lagi. Aku tidak bangga memiliki seseorang wanita yang di sukai banyak orang, tapi aku bangga memiliki wanita yang hanya bisa mencintaiku hingga akhir hayatnya. "


     Adibah sedikit tersenyum. "Ana uhibbuka fillah pak dokter." dia mengucapkan kalimat itu saat pandangannya fokus menatap para tamu yang ada di depannya.


     Tanpa sadar tangan Farzan sudah menggenggam tangan Adibah. "Ana uhibbuki fillah gadis kecil. " Saat selesai mengucapkan kalimat itu, Adibah mencubit pinggang Farzan.


     Farzan sedikit meringis, tapi setelah itu dia kembali tertawa. "Sakit tapi aku suka, " ucapnya.


     "Kak Farzan, kalau suatu saat nanti, kalau Allah kembali memberiku kepercayaan dan aku kembali di anugerahi dengan seorang anak bagaimana? " tanya Adibah sesaat sebelum dia akhirnya kembali berdiri untuk menyalami tamu.


     "Samawa yah. Cantik pacci¹-nya, di mana ki pesan ini? Berapa mi harganya? Anak saya kemarin ada yang lamar panai tidak seberapa tapi tidak masalah karena dia sudah berani melamar anak saya. Dua ratus juta biasanya genap apa ya? " tanya ibu-ibu itu. Farzan sedikit terkaget saat mendengar nominal yang dikatakan sedikit oleh ibu-ibu itu.


     Ibu-ibu itu sedikit tertawa meremehkan. "Hotel bisa dibayar dengan surat al quran? " tanya ibu-ibu itu.


     Farzan tersenyum, seolah pertanyaan ibu itu terdengar lucu. "Calonnya bisa menghafal surat ar-rahman tidak? Ibu tahu apa manfaat membaca surat ar rahman? Lebih besar manfaatnya daripada dua ratus jutamu itu. "


     Adibah menarik Farzan untuk mundur. Sebenarnya Farzan tidak akan berbuat apa-apa ke ibu itu, hanya saja Adibah tidak suka ada masalah di acara pernikahan dia.


     "Surat Ar rahman di tambah satu apartemen, satu mobil, uang bulanan, " ucap Adibah yang ikut tersenyum. "Aku yatim piatu, ibuku seorang perawat, beliau meninggal saat aku baru saja lahir dan ayahku seorang tentara dia meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku hidup sendiri dan dia datang melamar aku untuk di nikahi, dia sendiri yang menyiapkan hotel ini. "


     Ibu itu terlihat sangat jengkel dengan perkataan dari Adibah. "Apa urusannya denganku! " ketus ibu itu kemudian meninggalkan dua sejoli itu.


     Mereka kembali duduk. "Ada-ada saja ya orang di sini, " kata Farzan.


     Adibah cuma tersenyum tipis menanggapinya. pandangannya kembali menangkap sosok pria yang pernah mengisi hatinya, Fauzi, dia sedang sibuk berbicara dengan seorang wanita dengan cadar yang di pakainya, membuatnya terlihat begitu menakjubkan. Mungkin Allah telah memberikan yang terbaik untuk Fauzi.


     "Dia Ainun, tetangga umi." Pandangan mereka saling bertemu, Adibah dan Farzan. "Dia wanita yang baik, mungkin mereka dekat, kemarin aku lihat Fauzi ke rumahnya Ainun. "


     "Syukurlah kalau seperti itu, " ucap Adibah. Badannya terasa remuk sekarang. Dia menyenderkan badannya. Tamu sangat banyak sekali membuatnya harus berdiri kemudian duduk lagi, begitu saja. Apalagi ukuran alas kakinya berkisar sepuluh senti.


     Berselang beberapa saat, beberapa teman Adibah datang -- Jihan/Abdul, Nurpika, Nurmadinah, Dani, Sriwahyuni, Andi, Abdi, dan Qamariah. Berasa reunian sekarang.


     "Ya Allah Adibah, pacci di tanganmu cantik sekali, seperti hena orang indian, ah masih cantik punya kamu kayaknya," Puji Nurpika, dia terus saja memandangi gambaran yang ada di tangan Adibah, seakan dia baru melihat seperti itu, ralat memang iya dia gadis keturunan korea jadi mungkin ini termasuk hal langka dilihatnya.


     "Kau mau begitu? Dua ratusan sudah ada begitu, tapi harus menikah dulu, " ucap Dani kegirangan.


      "Kenapa bahagia sekali hari ini? " tanya Adibah melihat tingkah aneh dari Dani.


     "Dani dilamar sama Daniel, " ceplos Sriwahyuni. Gadis itu memang tidak pandai menutupi masalah.


     "Serius? " tanya Andi seakan tidak percaya. "Saya tidak datang di acara pengantimu ya, uang massolo saya sedikit."


     Semua orang tertawa bersama. Adibah sedikit menggeleng melihat tingkah teman-temannya, tidak menyangka saja seorang Dani bisa menikah secepat ini padahal sifatnya sangat kekanak-kanakan tidak jauh berbeda dengan Adibah sendiri.


     "Kak cawa¹, kenalin satu temannya untuk teman saya ini, seumur hidupnya belum pernah rasakan yang namanya pacaran, " kata Qamariah dengan gaya alaynya. Dia juga sebenarnya memiliki lesung pipi, di pipi kanan dan kirinya. Komplitlah.


     "Astagfirullah, jangan bilang seperti itu! " kesal Sriwahyuni.


     "Kenyataan sayangku, cintaku, manisku Sriwahyuni. Dan juga Madin, atau Madinah gadis kalem yang di sampingku jug-"sebelum ucapan Sri Ramadhani selesai, Andi sudah memotong perkatanyaan.


     "Tidak usah! " tegas Andi.


     "Uhhhh, why? Atau ada hati dag-dig-dug? " Dani kembali tertawa.


     "Tunggu saya sukses dulu, " ucapnya kemudian mendapatkan sorakan dari beberapa orang di sana.

__ADS_1


     Nurmadinah terus saja diam sambil menahan tawanya,  sampai-sampai pipinya harus memerah. Tidak lama setelahnya, Nurmadinah memperlihatkan tangan kirinya, disana terlihat jelas sebuah cincin emas yang begitu cantik.


     Bukan bermaksud untuk mengejek hanya saja semuanya tidak dapat menahan tawanya. "Hahaha cinta bertepuk sebelah tangan, " Ejek Abdi.


●_●


Adibah Sakhila Atmarini.


"Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja” Aku harap kak Farzan bisa seperti itu, aku mencintaimu, harapanku tidak banyak, hanya saja terlalu besar untuk manusia sepertiku,aku hanya ingin semoga Allah selalu mempersatukan kita hingga ke Janahnya, aamiin.


Artinya: Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir.


●_●


Farzan Rayhaan Shakeil.


     Beberapa orang akan pergi dari kehidupanmu, tapi bukan berarti ceritamu berakhir disana, itu hanya akhir bagian mereka dalam kisahmu.


     Mungkin awalnya dia tidak memiliki perasaan terhadapmu, tapi kalau memang dari awalnya dia memang jodohmu, sebagian mana pun besarnya rasa benci dia, dia akan tetap ada untukmu. Mungkin masa lalunya teramat indah, tapi siapa yang tahu kuasa Allah seindah apa kedepannya?  Hanya saja kita harus memerlukan rasa sabar untuk itu.


●_●


Ahmad Fauzi.


Di saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang, kita juga harus bisa tahu resiko terabaikan selanjutnya.


●_●


Zahra Khailah


Caraku untuk mendapatkan dirimu ternyata tak sebaik sewaktu melepaskan dirimu. Tidak ada yang perlu kuucapkan selain kata 'menyesal' saja. Maafkan aku yang pernah menyia-nyiakan dirimu, mungkin keputusan terbodohku adalah hal itu. Harapan, semoga masa lalu kita tidak harus memisahkan kalian.


●_●


Cawa¹ Lesung pipi.


💜Tamat 💜


            Riska Afriani


           Senin, 4 Maret 2019


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabilalami, cerita Dear Imamku akhirnya selesai juga.


Mohon maaf kalau endingnya tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Dan ingat dari cerita yang aku tulis, jangan pernah ambil dari sisi buruknya tapi ambil sisi baiknya. (Serentak jawab, Asiyapp 😂)


Terima kasih untuk kalian yang mau meminjamkan namanya untuk kupakai sebagai cast 💜.


💕Jihan Ningrum Faradillah.


💕Ahmad Fauzi


💕Nurmadinah


💕Jumiati


💕Abdul Halik


💕Nurpika


💕Andi wahyuddin


💕Abdi Kurniawan


💕Sri Ramadhani


💕Sriwahyuni


💕Qamariah


💕Sultan


💕Nurainun (Tetangga yang selalu meminta ke aku agar memasukkan namanya di ceritaku, terima kasih telah memberikan aku ide untuk itu)


Maafkan aku juga yang selalu membuat kalian menunggu untuk publish kelanjutannya. Kalau boleh jujur kadang ketawa sendiri saat membaca komentar dari kalian.  Kadang juga down saat membaca salah-satu dari komentar kalian 👋. Tapi tidak masalah, aku masih bisa menyelesaikan cerita ini hingga selesai.


●_●


Oh ya minta kesan dan pesan buat cerita ini ya 😘😻.


Mau extra part tidak? Kalau mau kalian harus menunggu dulu, publikasinya pasti lama, hehehe.😆.


●_●


Syukron katsiraan💜


Jazzakumullah ya khair💜


Salam hangat

__ADS_1


Riska Afriani 💜


__ADS_2