
Almira gadis kecil berumur 6 tahun.bertetangga dengan andika yg berumur 7 tahun.mereka bersekolah di sekolah yg sama.
Setiap pagi dika menunggu mira di perbatasan desa yg sepi.setelah mira sampai di perbatasan kemudian dika berjalan di samping nya.
Mereka berdua berjalan berdampingan, dan membisu tanpa kata apapun.setelah sampai di toko yg berjarak 100meter dari gerbang sekolah. Dika berlari meninggalkan mira, dia tidak mau berangkat ke sekolah bareng mira.
Sampai di samping kelas mira dihadang oleh teman-teman dika. Mereka berjumlah 5 orang yg menjadi bos adalah heru. Heru " mira berikan semua uang sakumu!!!" Dengan nada yg begitu keras, membuat mira ketakutan..
Dika yg melihat nya hanya diam. Raut wajahnya khawatir tp dia tidak bisa berbuat apa-apa.mira pun menyerahkan semua uang sakunya...
Kemudian bel berbunyi,semua siswa berlari menuju ruang kelas. Saat kelas di mulau mira terlalu fokus pada pelajaran, dia tidak melihat dirinya di perhatikan oleh dika..
__ADS_1
Setelah kelas selesai waktu istirahat , mira hanya duduk diam memandang sekitarnya , . Melihat semua teman nya makan bekal atau membeli camilan.. dia hanya minum air putih yg di bawa dari rumah untuk mengisi perutnya.
Terkadang mira merasa ada yg memperhatikan nya. Tp dia berfikir mungkin hanya perasaanya saja. Bel tanda pelajaran akan di mulai pun berbunyi. Saat mira mau mengambil buku di rak mejanya dia menyentuh sepotong roti , entah siapa yg menaruhnya.
Kejadian itu terus berulang swtiap harinya. Mira anak yg gampang bergaul,dan berteman dengan semuanya tapi tidak ada yg begitu dekat seperti halnya seorang sahabat.
Dia anak yg pandai, dia selalu menduduki peringkat ke 3 besar, tak jarang dia juga dapat peringkat 2, bahkan 1...
Anak-anak yg lain iri padanya,padahal dia hanya anak dari orang yg sederhana. Dia juga tidak les ataupun mengambil kelas khusus.tapi berkat kerja keras dan kegigihan nya dia bisa mendapat peringkat itu...
dia di pukul teman laki-laki ataupun di tampar oleh teman perempuan udah jadi makanan sehari-hari...
__ADS_1
Semua kekerasan itu tidak berbekas di bagian yg terlihat. Tapi di bagian perut dan punggung memar-memar.mira tidak pernah cerita ke orang tuanya.
Dia hanya diam dan menjalani hari-hari berat itu sendiri.Terkadang jika dia tida kuat menahan sakit itu, airmata menetes tanpa ia sadari, dan dia menangis tanpa suara di wc atau kelas yg tengah sepi.
Akhirnya kelulusan sudah di depan mata.Dia tetap menduduki peringkat pertama saat kelulusan itu dan membuat bangga kedua orangtua nya.
Mira melanjutkan sekolah nya ke SMP terdekat yg jaraknya kurang lebih 4Km dari rumah. Pada masa itu belum banya orang yg punya kendaraan pribadi. Jadi pulang pergi jalan kaki.
Mira berdiri di depan gerbang rumahnya dan melihat siswa-siswa SMP dari kelas 7 ,8 sampai 9 yang berangkat melewati rumahnya begitu banyak dan ramai...
Mereka berjalan sambil bencanda tawa bersama teman-temannya. Tertawa bersama,saling menjahili terlihat begitu gembira. Mira pun tersenyum bahagia melihat masa SMPnya akan berbeda dengan masa SD yg penuh akan derita.
__ADS_1
Mira bahagia mengenakan seragam biru putih kebanggaan nya itu. Dengan senyum yang merekah dia berangkat kesekolah penuh semangat.
Mira mendapat teman baru yaitu ina dan vivi, ina satu kelas dengan mira di 7a sedangkan vivi di kelas 7c.