
πππππππ
"Abang Asha itu, tanyanya Ganteng, talau Aa ajal baik soleh, kalo Lilin TEMPULNA," ocehnya manja menggemaskan.
"Sempurna nangisnya, sambil teriak sama guling-guling," ledek Air samabil tertawa dibalik punggung Cicit pertamanya yang duduk diatas paha.
"Balin, cilik aja, macuk nelaka sono," jawabnya kesal lalu berlari ke pangkuan Phiunya yang sedang terbahak-bahak.
Siapapun tak akan pernah kuat menahan tawa jika Kata Neraka sudah keluar dari mulut Si bungsu.
"PapAy mau terbang dong ke Angkasa, iya kan Bang," ucap Air pada Si sulung.
"Belat ah bawa Buaya."
"Huaaaaa, Acian PapAy. Lilin mahu belenang sama Phiu doooooong," timpalnya bangga dan percaya diri.
"Berenang kemana?" tanya Samudera.
"Ke Phiu, ael Cahamudela," jawabnya terkekeh.
"Ngomong aja belum bisa, mau berenang." sambung Fajar, ia bangun dari baringnya di karpet lalu berjalan ke arah Embun.
"Mau bobo ya, Aa ngantuk?" tanya Wanita yang diminta melahirkan anak kembar perempuan oleh suaminya itu.
"Iya, Aa capek tadi disuruh kejar-kejar capung," adunya pada Sang ibu.
"Itu Tupu-tupu, Aa." kata Lintang.
__ADS_1
"Kupu-kupu darimana?" tanya Fajar kesal.
"Dali mana Phiu?" bocah itu malah balik bertanya membuat Si Tutut pusing sendiri menjawabnya karna ia tak tahu apa-apa.
Dan dimalam yang sudah mulai larut inilah anak-anak langsung diajak tidur oleh Embun dan Keanu yang kebetulan baru pulang.
"Lilin beneran gak mau bobo sama Bubun? Abang sama Aa bobo sama Bubun loh," rayu Embun saat di depan pintu kamar orangtuanya.
"Ma'acih Bubun, Lilin Bobo ma Phiu aja ya," tolak nya halus yang malah mengeratkan pelukan pada Samudera.
"Phiu bawa Lilin ke kamar dulu ya," ucap Sam pada putri pertamanya. Rasa-rasanya baru kemarin ia menggendong Embun tapi nyatanya ia kini justru bersama hasil keringat anaknya.
Cek lek
Biru yang berada di kamar setelah makan malam langsung menggeser tubuhnya sedikit ke tepi ranjang. Lima tahun ini malam-malam pasangan baya itu selalu ditemanin oleh cucu bungsu mereka. Tiada hari tanpa Lintang kecuali jika sedang menginap ke rumah Sang Besan. Karna jika berpergian sebentar, ia justru tak pernah mau ikut.
"Cuci kaki sama sikat dulu, Lin."
"Sikat gigi aja ya," rayu Biru lagi.
"Nda, mahu bobo ama Phiu."
Lintang dibaringkan ditengah ranjang, sisi kanan dan kirinya ada Samudera dan Biru yang sama-sama sudah siap juga untuk tidur .
"Baca doa, Lin," titah Tuan Muda Rahardian.
"Bimika, lohuma, Amut, Amin yaaaa," ucap Lintang sambil mengusap wajahnya.
__ADS_1
Diantara ketiganya, hanya Fajar yang paling lancar berbagai doa, ia gampang ingat dan mau belajar tak seperti kakaknya apalagi adiknya yang suka suka mereka. Meski lahir di rahim dan waktu yang sama, nyatanya karakter mereka jelas berbeda.
Angkasa yang menyebalkan, Fajar yang membanggakan dan tentunya Lintang yang menggemaskan. Ketiganya adalah paket komplit kesayangan semua keluarga. Tak bisa di bayangkan seperti apa mereka nanti jika sudah besar dengan kisah cinta yang unik pula.
#LierCariNamaPawangNya!!
Lintang yang masih tak mau diam, akhirnya ditarik dan dipeluk oleh Sam, ia usap usap punggung bocah itu agar cepat terlelap.
"Lilin kenapa sih? biasanya juga udah bobo," tanya Sam aneh.
"Lilin binun," jawabnya yang memang terlihat nampak berpikir.
"Mkirin apa lagi? kerjanya cuma nangis doang juga," kata Phiunya gemas.
.
.
.
.
Itu anak ayam napa nda ikut bapaknya?
Duh... nyender ma Gajah π€£π€£π€£π€£ gurih-gurih nyoy, apalagi klo sambil ngelus belalainya π
__ADS_1
Jangan mengiri kalianπ€π€
Bentar lagi dapet cium nih π€ͺ bilangin ya, kalo pawangnya dateng bawa panci π§π§