
Sebenarnya harusnya Chapter kali ini berisi adegan manis. Cuma karena saya lagi Yah.... sedih jadi Males....
Au ah... selamat membaca.
Kubiarkan dia mengikutiku. Detak jantungku mulai tak beraturan bila bersama dengannya. Kebisuan diantara kami membuatku takut. Takut dia bisa mendengar suara jantungku. Tak terasa aku sudah sampai di rumah. Kubuka pintu rumahku dan berjalan masuk, membiarkan Ken diam di luar. Aku tau aku tak sopan, membiarkan tamu di luar tapi mau bagaimana lagi... aku benar benar takut jatuh.
Jatuh Cinta.
Setelah masuk aku membersihkan badanku dan mengganti bajuku. Baju kaus lengan pendek dan celana pendek. Aku merenung di depan tv. Membiarkan Ken mengawasi dari luar. Aku malas mengakuinya tapi kesedihan itu kembali. Aku butuh tempat mengadu. Tapi dia bukanlah orang yang ku inginkan. Dia tidak akan menjadi siapa pun di hidupku.
Tahukah kalian?
Kesedihan karena ditinggalkan itu lucu.... kamu akan melupakannya ketika bahagia bersama teman teman dan orang terkasihmu... tapi ketika kamu sendiri menatap kosong depanmu, dia datang... memori di tinggalkan oleh orang orang tersayang. Memori memori buruk yang pernah terjadi kembali muncul.
Ok! Aku ikhlas dengan kepergian Ibuku dan yang lainnya. Tapi tahukah kalian? Ikhlas itu cuma dimulutku. Saat bersama beberapa orang aku bahagia juga dingin. Seolah aku baik baik saja. Tahukah kalian? Itu cuma sementara? Saat kalian tak melihatku... saat kalian meninggalkanku... memori itu muncul.. sakit,sedih,menyebalkan!
Kalian tahu? Saat kalian pikir teman kalian bahagia belum tentu hatinya bahagia! Bisa saja dia menjerit! Ingin meluapkan emosi yang dia pendam. Tapi kalian tidak bisa membantunya!
Katakanlah aku egois! Aku gila! Aku apapun! Menangis sendiri, tertawa tawa sendiri... Ya Aku gila! Karena kesedihan di hatiku. Aku menutup diri tak ada yang peduli denganku... aku mencoba bersinar kalian mencemoohku! Apa salahku?
Berdebat dengan hati sendiri. Resah, sakit. Semuanya sendiri! Saat aku mempunyai teman curhat... beberapa orang mulai mencelaku. Caper lah, ganjen lah. Apa salahku? Wajarkan aku menjadi penyendiri?
Aku ingin mati! Mati! Mati! Tapi aku juga tidak bisa... aku takut.... takut mati, takut dosa, takut orang bahagia melihatku mati, takut aku tidak diinginkan!
__ADS_1
"Aku bersamamu tenanglah" suara lirih dari belakangku membuatku tertegun. Dua tangan melingkar di leherku memelukku, menenangkanku.
"Pergi!" Kataku lirih menahan tangisanku.
"Tidak aku akan menemanimu" Kata Ken.
"PERGI KUBILANG! KAU TIDAK AKAN BISA MEMBANTUKU!" Kataku kesal, marah, sedih.
"Baiklah... aku ada di luar bila kamu membutuhkanku..." kata Ken sambil berjalan keluar.
"Hm" sahutku dingin.
Melanjutkan tangisan dengan kencang. Berteriak bahkan menarik narik rambutku. Aku memang bodoh. Aku membutuhkannya tapi aku mencampakannya. Walaupun aku tau aku tidak boleh dekat dengannya lagi. Aku tidak boleh berharap... karena aku tidak mau kehilangan lagi. Memutuskan semua ikatan memang tidak buruk dan aku mungkin akan mencobanya.
Cinta itu nyata, tapi cinta itu seperti Iblis. Dia menarikku ke dalam kebahagiaan yang menyenangkan namun itu sementara. Tak percaya padaku? Kau merasa bahagia sekarang? Bersama keluargamu, pasanganmu? Cobalah berfikir jauh sobat. Mereka akan MENINGGALKANMU! Dan itu bisa terjadi kapanpun saat kau siap maupun tidak. Kau mulai mengerti maksudku? Kuharap tidak terlambat. Karena saat kamu terlambat dan belum siap... kamu akan sepertiku... menjadi korban dari Cinta. Aku tidak menyebutkan cinta antara pacar saja. Karena orang tuamu juga mencintaimu dan kamu mencintainya... mereka akan meninggalkanmu sendirian nantinya. Berbalut kesedihan yang mendalam. Kau merasa tidak adil? Terlambat! Sudah terlambat... kamu tetap harus menjalani itu semua. Mencoba mencari kebahagiaan baru? Dengan jalan yang baik ataupun buruk? Hasilnya sama... semuanya akan menjadi buruk juga. Itulah kebenaran Dunia. Tidak ada kebahagiaan! Yang ada hanya kesedihan abadi. Percayalah aku sudah merasakannya. Dan kuharap kamu sudah siap. Jadi kamu tidak terlalu sakit.
Ketutup buku diariku. Berharap suatu saat ada yang membacanya dan memahaminya. Dan mereka tidak terlambat...
Aku akhirnya tenang. Tidur dengan lelap tanpa kesedihan. Kelelahan. Menangis itu capek kau tahu?
Terlelap... tidur dengan tenang.
Tanpa mimpi.
__ADS_1
Akupun bangun keesokan harinya. Dan aku kembali ke diriku yang asli, dingin dan pendiam.
Realita telah menyakitiku. Dan cerita yang kutulis adalah mimpi yang takkan tercapai bagiku. Akhir bahagia? Aku ingin tertawa.
.
.
.
.
.
Author's Note.
Thanks buat kalian semua yang udh baca. Mau nanya... kalian nangis gak? Enggak? Yah... gak tersampaikan dong. Maafkan author yang emosinya labil.
Bisa berubah ubah terus. Sekali lagi makasih buat yang baca. Jangan lupa vomentnya!
Love U all!
Need cast? Masih di cari sabar...
__ADS_1