Duda Itu Mengabaikanku

Duda Itu Mengabaikanku
Undangan makan malam


__ADS_3

Seperti yang sudah  di sepakati, malam ini Elang bersama keluarganya pergi memenuhi undangan syukuran atas rumah baru, Davit. davit merupakan  kakak kandung, Mawar. dulu disaat SMA mereka bersabahat hingga saat ini.


"Selamat malam! Apa kami telat?" Ucap Elang, ia menggandeng kedua anak nya, sedang Rini mengekorinya dari belakang.


"Ya"


"Tidak.."


rahmat kesal melihat istrinya yang mengatakan, iya. padahal Elang tidak terlambat sama sekali, mereka saja yang kecepatan datang.


"Ma, jaga sikapmu, jangan buat ulah." Bisik Rahmat di telinga istrinya.


Elang mengambil tempat duduk disamping Davit. Rini duduk disamping Mertuanya, ia membantu ekdua anaknya agar bisa duduk dengan benar.


"Kau pasti yang membuat putra dan cucuku terlambat kan. Kau pasti dandan cukup lama, bukan nya dandanan mu membuat mu cantik, tapi semakin buruk. Kampungan tetap saja kampung. Tidak akan merubah kenyataan dengan make up serta pakaian dan perhiasan yang kamu kenakan, Rini. Ingat posisi kamu, jika bukan karena putraku kau tetap akan jadi wanita pelayan caffe."


Deg


Sekuat tenaga rini menahan gejolak hatinya, mulut mertuanya memang sangat pedas. Mungkin di tahap level dua belas. dan aneh nya lagi tak ada satu orang pun yang membela, rini. Hanya Rahmat sesekali menegur istrinya.


Elang? Jangan ditanya seperti biasanya dia akan tetap bungkam dengan apa yang dilihat. Istrinya di permalukan di depan banyak orang. tapi dia tidak sama sekali menegur mamanya.


Elang pikir, Rini adalah wanita yang baik, ia percaya, rini tidak akan pernah melawan mamanya seperti orang lain.

__ADS_1


Di bawah meja Rini meremas ujung baju nya, jika memang hanya untuk menghinanya, buat apa dia datang jauh - jauh, dirumah sudah di hina, haruskah di tempat seperti itu juga di hina.


"Ma. sudah, kita sebaiknya makan saja. Toh semua sudah kumpul." Ujar Rahmat, Diliriknya Rini menantunya yang tunduk kepala, rahmat juga melirik putranya yang sama sekali cuek.


"Pa, aku bicara kenyataan, Dia yang sudah membuat kita menunggu lama. malu sama Jeng Tika. Hanya menunggu wanita kampung ini kita harus telat makan." Ucap Siska.


Mawar sangat puas dengan apa yang di dengar kan semua hinaan yang di tujukan buat Rini. Jika saja bisa lebih pedas lagi ucapan Siska yang terlontar.


"Rasain kamu, memang nya enak. Makanya sebaiknya kamu mundur saja. Elang hanya milikku." Bisik Mawar dalam hati.


"Oma. kenapa sih, oma marah - marah terus. Mama Rini kan tidak salah. Senja yang buat lama karena kan rambut Senja harus di kucir dulu. Oma jangan jahat sama mama, Rini nanti oma di kutuk jadi kodok.." Ujar Senja dengan polos nya. Dia tak suka ada yang menghina mama baiknya.


"Iya, oma nakal Oma marah terus. Mending tadi Langit dirumah saja, tapi  papa maksa." Ketus Langit.


Selesai makan malam, mereka berbincang di ruang keluarga, kecuali Rini. Ia memilih mundur, ia memilih duduk di halaman depan sambil menatap bintang dilangit. Rini bisa mendengar tawa lepas orang - orang yang aad didalam rumah.


"Ibu. Bapak. kenapa sih kalian cepat pergi meninggalkan aku. Coba saja dulu kalian tidak pergi, aku pasti akan hidup bahagia." Lirihnya pelan.


"Apa kalian bahagia disana? Apa kalian bisa melihatku?" Tanya rini lagi


"Jadi kau disini? Kenapa kau menghindar? Oh aku tau, kau pasti takutkan pada keluarga ku. takut berkumpul bersama para orang kaya, makanya kamu menghindar.. Kasihan sekali sih hidup mu, Rini. sudah lah tidak punya orang tua. Melarat lagi. dan sebentar lagi kamu akan kembali pada kehidupan sebelumnya. Hidup dengan menjadi pelayan di caffe."


Rini hanya diam, matanya terus menatap Bintang di langit, tak perduli, Mawar mengoceh. Biarlah dia mendengar semua dengan luka di hatinya.

__ADS_1


"Hei.." Sentak Mawar kesal, ia memukul punggung rini sedikit keras hingga Rini meringis sakit.


"Budek. di ajak bicara kok malah diam. Bagaimana, masih mau bertahan tidak? Bukankah selama ini kamu bilang akan mempertahankan pernikahan mu? Dalam mimpi mu, Rini.." Mawar tergelak sendiri, apa lagi dia melihat Rini yang tak berkutik sekali pun.


Padahal sebenarnya, Rini hanya malas berdebat, hal seperti ini sudah sering terjadi. dia juga  tak berselera mendengar hinaan, Mawar.


"Kenapa kamu menatap Bintang? Oh aku tau, kau pasti sedang mengadu pada, tuhan , kan? Sayang nya Tuhan tidak mau mendengarkan doa orang rendah sepertimu, Rini. Menyerahlan, kembalikan Elang padaku.."


"Iya.." Jawab Rini pelan. Tapi matanya masih terus menatap langit yang jauh di atas sana.


Mawar kaget mendengar nya, dia pikir, Rini akan menjawab seperti biasa.


"Kau lihat bintang dilangit sana. Mereka sangat banyak, bahkan tak terhitung berapa jumlah nya. Kau juga melihat kan. Diantara ribuan bintang tersebut, ada satu Bintang yang paling  terang. Walau dia terlihat lebih terang,  namun dia tetap berada di tempat nya, dia tidak masalah bersama dengan Bintang lain nya.." Ucap rini. lalu dia menatap Mawar yang diam.


"Kau tau beda nya aku dengan mu.. Aku ibaratkan Bintang yang terang itu, mampu menyinari bintang lain nya yang ada di dekat nya. Kau mau tau juga apa beda nya kita yang kau bilang ingin mengambil mas Elang? Silahkan saja mabil kalau bisa. aku ini istri sah nya, sedang kau hanya mantan tunangan. kau yang di sebut sebagai pelakor, tapi kau malah mengatakan pada banyak orang jika aku yang merebut mas Elang darimu"


"Kau sungguh tidak tau malu, Mawar. Sayang nya kau punya power, punya keluarga yang mendukung kesalahan yang kau lakukan padaku. Mungkin kau merasa puas melihat ku di hina, puas melihatku menderita. Tapi sebenar nya aku kasihan padamu. Kasihan karena orang tua mu salah mendidik mu.."


"Kurang ajar, berani nya kau menilai didikan orang tua ku.." Plak.


Mawar yang merah menampar pipi Rini. Aneh nya rini tak merasa sakit, dia sudah tebriasa di tampar oleh orang yang merasa sangat berkuasa.


"Baru ku katakan orang tua mu salah mendidik mu saja kau sudah seperti kebakaran jenggot. Lalu bagaimana dengan mu, yang setiap hari menghina kedua orang tua ku. Orang yang sudah tiada saja kau hina. Kau tidak malu sama sekali, Mawar. Kau sama seperti bunga Mawar. tampak indah tapi menusuk hingga bisa membuat orang lain terluka. Jika aku jadi kau, aku akan memanfaatkan apa yang aku miliki untuk membantu orang lain. ya setidaknya kau berguna jadi manusia.."

__ADS_1


"Kau.." Mawar yang geram  menunjuk Rini tepat di wajahnya, wajahnya merah padam menahan amarah nya..


__ADS_2