
Assalaamu'alaikum! Abang... Kino dah pulang!" Serunya yang membuka pintu. Muncul si Kino yang membawa oleh oleh dari luar—martabak.
"Kino! Lama banget..." Keluh Edwin yang di hadiahi cengengesan dari Kino. Ia lalu memmberikan martabak yang di pesan Edwin pada empunya.
"Tadi gua ketemu sama Haje, Aziel, Keenan sama Ervin di jalan. Yaudah sekalian nongkrong aja dulu kaaan?" Terangnya pada Edwin dan abang abang nya. Mulut yang penuh dengan martabak itu menganga tak percaya.
"Tega banget lu... Kenapa gak ajak?" Lagi lagi Edwin kesal pada Kino. Sang empu tertawa dan mengambil martabak nya juga.
"Kan gua udah bilang... 'Win, gua mau keluar jalan jalan sekalian beli martabak. Mau ikut gak?' Dan elo dengan ringan nya bilang 'Nggak ah males,' Yaudah kan? Berarti gua gak salah dong? Ya gak ya?" Edwin yang kini tertawa. Bener juga ya, dia sendiri yang nolak karna males.
"Lagian kalo beneran mau ikut juga bakal abang larang kok. Angin malem dingin," Sahut Edward juga. Edwin hanya memutar bola matanya malas. Oke lah, Edward emang overprotektif sama dia.
Edwin yang lagi nonton tv itu kini mulai mengantuk. Ia berusaha untuk tetap bangun, dia gak mau bobo dulu. Tapi karena kebiasaannya yang selalu tidur di jam 21.00 malam, hasilnya ia tak bisa bergadang.
Mata indah itu mulai memejam dan ia terlelap dalam tidurnya.
Edward yang tengah berbincang bersama Kino akhirnya melirik Edwin yang sudah tertidur dengan posisi duduk. Kayak yang udah nyamaan banget. Ia tersenyum hangat. Damai sekali melihat adiknya yang tertidur dengan tenang.
"Gimana jadinya no?" Tanya Edward padanya. Kino menghembuskan napas panjang dan menatap Edward.
"Kino bakal tetep pulang ke rumah," Jawabnya demikian. Edward menatapnya dalam dalam. "Kalo gak percaya diri, tinggal disini lama lama juga boleh."
"Kino gak bisa repotin abang abang dan Edwin lebih dari ini. Kino udah ngerepotin banget selama ini. Lagian Kino juga gak bisa bawa Edwin ke dalam masalah Kino. Kino bakal ngerasa bersalah kalau Edwin tau masalah Kino." Ucapnya sendu. Edward menarik Kino ke dalam pelukannya dan menepuk nepuk punggungnya. Tubuhnya yang rapuh itu bergetar karena nya. Ia dapat merasakan kehangatan dari orang seperti Edward yang dingin.
"Nangis aja no, tumpahin semuanya. Kamu gak bisa mendam terus." Kata Edward padanya. Alhasil, laki laki periang itu menangis dalam pelukannya.
Edgard yang emang lagi laper cari makanan abis ngerjain tugas jadi kaget liat kemesraan Edward sama Kino. Kalo aja orang lain mungkin Edward dah geli apalagi di peluk kayak gitu.
"Bang—
"Syuuut... Bawa adek kamu ke kamarnya. Pasangin oximeter, nanti abang cek." Edward menyela ucapan Edgard. Ia lalu mengangguk dan menggendong tubuh ringan itu di punggungnya.
"Hari ini gue yang tidur di kamarnya Edwin ya bang." Katanya yang langsung di beri anggukan oleh Edward.
"Ethan gimana sekarang?" Tanya Edward lagi.
"Udah agak baikan. Gak separah pas kemaren," Jawabnya lagi. Ia lalu pamit pergi untuk menidurkan Edwin di kamarnya. Padahal ia ingin menginterogasi Kino kenapa ia menangis. Tapi tidak papa lah, niatnya di urungkan demi Edwin.
"Dahlah. Sekiranya kamu belom kuat buat pulang, disini aja. Abang sama sekali gak kerepotan sama kamu. Abang malah bersyukur karna ada yang mau nemenin Edwin sekalian nemenin dia tidur. Makasih ya, makasih udah mau jadi temen Edwin. " Ucap Edward yang tersenyum. Kino semakin menangis kencang mendengar penuturan Edward.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Kenzio Wesley Dharmendra. Adalah putra tunggal dari Ramadesca dan Xynola. Walaupun terlahir di keluarga yang terpandang, uang banyak dan memiliki reputasi tinggi, namun itu tidak membuat Kino senang dan bahagia.
Ya, Kino tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Mereka terlalu sibuk bekerja hingga mereka lupa bahwa ada seseorang yang menunggunya di rumah. Setiap hari Kino menunggu Rama dan Xynola untuk pulang, berharap bisa makan bersama, berkumpul bersama dan membicarakan semua yang ia alami di sekolah.
Namun nihil. Semua harapannya itu pupus.
"Mah, pah, bisa gak sih berenti dulu maen hp nya? Ini kan waktunya sama Kenzie." Ungkapnya kesal.
"Bentar sayang... Mamah ada klein dulu."
"Kalo tau kayak gini mending gak usah pulang aja sekalian. Kalian pulang karna diingetin bi Ira kan? Kalo gak diingetin punya anak di rumah, kayaknya udah bablas sampe pagi ada di kantor..." Ucapnya yang tertawa miris.
"Sayang gak gitu, kita kerja kayak gini juga buat kamu nak."
"Gak ngaruh. Kenzie cuma butuh mama sama papa, gak lebih. Kenzie mau seharian sama kalian. Kalian gak pernah luangin waktu buat Kenzie. Ada pun sekarang? Masih tetep fokus ama hp. Udahlah, Kenzie gak mood makan. Selamat malem." Kino pun beranjak meninggalkan kedua orang tuanya yang kini tengah memanggilnya untuk kembali.
Tanpa kedua nya tahu, Kino mengalami insomnia atau tidak bisa tidur. Entah apa yang ia alami sampai bisa seperti itu. Ia harus minum obat penenang agar bisa tertidur.
"Kalian gak anggap Kenzie ada! Kalian gak sayang sama Kenzie!"
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
__ADS_1
Keadaan rumah Edwin...
Cowok itu kini tengah bercermin di depan kaca besar. Ia tengah membenarkan dasi nya yang sedikit miring. Setelahnya ia pergi ke bawah untuk pergi.
Tidak... Edwin lagi lagi terlambat. Sampai kapan ia akan begini? Malam tadi ia terbangun karena jendela nya yang belum tertutup jadi dingin. Alhasil selama dua jam dia gak bisa tidur. Jadi abis shalat subuh dia jadi kesiangan kayak gini.
Ia pun menuruni anak tangga dengan cepat. Membuat Edward yang tengah menyiapkan alat tulis serta tas nya khawatir.
"Pelan pelan Edwin!"
"Abang! Edwin telat lagi...! " katanya panik.
"Yang penting kamu gak buru buru kayak gini. Yang ada malah cape sendiri nanti,"
Nunna tengah menyiapkan sarapan yang akan Edwin bawa ke sekolahnya nanti. Baginya masakan rumah lebih aman dan sehat untuk Edwin dibanding membeli makanan di kantin. Kino ikut turun terburu buru karena ia juga kesiangan. Biasanya ia suka terjaga, namun karena efek menangis tadi jadi bobo nya lelap gitu aja.
"Nih! Abang sama nunna udah nyiapin semuanya! Di makan ya!" Final Nunna sambil memasukan bekal untuk Edwin. Sang empu lalu mengambil tas nya dan pamit pergi.
Kejadian rusuh itu terjadi beberapa menit saja. Edward kaget lah, bangun bangun udah ada nunna nya di dapur buat nyiapin sarapan Edwin. Jadi dia bantu juga sekalian.
"Eh?" Matanya menangkap sesuatu yang sangat penting bagi Edwin.
"Nunna, kamu lupa masukin obat Edwin?" Tanyanya tak percaya. Nunna membelalak kaget lalu mengikuti mata Edward yang menatap obat Edwin.
"Astaghfirullah! Nunna lupa abang..." Katanya sambil menepuk jidat. Edward menggelengkan kepala nya lelah. Ethan juga udah berangkat dari pagi banget, dia maksain soalnya ini mpls terakhir.
'Untung sekarang jadwal Edwin cek up. Jadi gak terlalu khawatir.' Batin Edward yang sedikit lelah.
Kembali ke sekolah dan senior nya yang menyebalkan.
Edwin dan Kino kembali berdiri di antara orang orang yang juga terlambat. Lumayan banyak juga, pikirnya. Kemarin Michael, lalu Brandon, dan sekarang? Mahesa yang adalah salah satu senior galak juga turun tangan.
"Raditya Duka. Nama loe RADITYA DUKA?!" katanya yang meninggikan suaranya.
"Siap kak! Nama saya Raditya Dika, biasa di panggil Dika!" Jawabnya lantang.
"Lah di papan namanya Raditya duka. Kirain nyokap loe meninggal pas lahirin elu..." Ia berkata demikian dengan cengengesan.
"Benerin lagi." Setelahnya ia kembali dingin dan membuat si dika dika itu merinding.
Ia pun berjalan mendekati Kino dan Edwin yang masih tertunduk. Vanda menggelengkan kepala nya, kenapa Edwin ada disini lagi? Sedangkan hukuman Mahesa ini tidak main main.
"Edwin Chandra Valentino... Hooh... Elu lagi yang telat... Gak kapok kapok ya setelah dari kemarin loe di hukum ama kita?! Kenapa?! Ngeremehin lu?!" Edwin mencibir. Baru juga terjun dah bilang kalo si Edwin ngeremehin, kan kesel dia tuh.
Mahesa senang sekali dengan Edwin. Entah kenapa melihat wajahnya jadi bikin dia tambah kesal dan ingin bermain main dengan Edwin.
"Heh, kenapa pake jaket...? Bukannya udah gua umumin di grup semua aturan selama MPLS berlangsung? Gak baca?! Iya?!"
"Maaf kak. Peraturan yang kakak maksud itu yang mana? Saya kelas IPS-2, setau saya gak ada peraturan itu di grup." Jawab Edwin sok polos. Ia lalu menatap Mahesa dengan senyum smirk nya.
"Kakak belum bagi peraturan itu ke grup kelas saya..." Lanjutnya yang membuat Mahesa sedikit tersentak. Oh iya... Dia lupa untuk membagikan peraturan selama mpls.
"Elu! Kenapa bisa telat juga?!" Tanya nya pada Kino. Edwin melirik Kino dengan mata ekornya. Ia takut kalau Kino bilang bahwa Edwin kesiangan.
"Maaf kak! Saya nungguin Edwin tadi!"
Deg!
"Ooohh... Jadi loe bangun kesiangan...? Bagus... Enak enakkan terus di kasur sampe lupa kalo sekarang sekolah ya?" Edwin agak takut sih sekarang. Tadi dia berlagak sok berani di depan Mahesa, namun ia ciut sekarang karena Kino berkata begitu.
"Dia kesiangan bukan tanpa alasan kak! Semalem Edwin gadang... Buat bikin papan baru Kino. Jadi, Kino juga salah udah bikin Edwin gadang." Ungkap Kino yang mencoba menjelaskan mengapa keduanya bisa terlambat.
"Bukan cuma ngelanggar peraturan, telat, sekarang apalagi coba? Rambut di panjangin... Hahahaha." Mahesa tertawa di depan keduanya.
__ADS_1
"Sok ganteng amat. Mau kayak orang korea lu?! Loe mau nyamain kayak boyband boyband gitu hah?! Iya?!"
"Maaf kak! Kino angkat suara lagi. Ini udah yang paling pendek buat Kino karena di keluarga Kino gak ada yang botak. Kalo kakak mau botakin saya, silahkan minta izin kepada bapak Ramadesca dulu." Jelasnya panjang lebar.
"Kalo elo? Ngapain di poni?"
"Maaf kak. Setahu saya kan rambut emang harus di atas telinga kan? Saya udah patuh sama aturannya. Kalo masalah 'mau kayak orang korea', tapi eyang saya emang orang korea kak."
Lagi lagi Mahesa di buat diam oleh Edwin. Pantes aja dia keliatan beda dan gak kayak orang indonesia pada umumnya.
"Yang gua tanyain, kenapa elu di poni??? Ada apanya emang???"
"Kak! Tunggu ben—
Deg!
Mahesa membelalak kaget melihat adanya luka jahitan di pelipisnya. Edwin menghela nafas panjang dan menunduk. Seharusnya dia gak terlalu berlebihan sih.
"Y,yaudah. Sekarang lari 50 kali."
"Mahesa!" Sentak Vanda kesal.
"Kak, saya yang salah. Biar saya aja yang gantiin Edwin lari." Kino memohon kepada Mahesa yang galak itu. Udah ke skak, ngasih hukuman nya nggak main main. Macem macem dia ama si Ethan.
"Ck, gak ada penolakan. Cepetan lari!" Titahnya pada keduanya.
TRIRIRING...
Beruntung karena dewi Fortuna mau menyelamatkan dua bocah itu. Hukuman tidak jadi di berikan dan keduanya di persilahkan untuk duduk di pinggir lapangan, menyaksikan demonstrasi esktrakulikuler sekolah ini.
Edwin menghela nafas lega. Ia di rangkul Kino untuk ke tepi lapangan. Vanda menatap Mahesa yang bertampang tak berdosa setelah ia hampir saja menghukum Edwin.
"Gak paham paham juga loe sampe sekarang,hah?! Gue bilang jangan macem macem sama Edwin! Babi lu!" Vanda menunjuk nunjuk bahu nya kesal. Mahesa mengepal kan tangannya.
"Kenapa lu belain dia mulu hah?! Semua keputusan yang gua ambil itu adil! Dia telat, dia pake jaket pas mpls, rambutnya juga di poni! Terus kenapa emang,hah?!"
"Pantes kok dia kayak gitu." Sahut seseorang di belakangnya bersama sarah. Haikal, ketua pelaksana mpls tahun sekarang.
"Loe liat gak nama belakang nya?" Tanyanya santai. Mahesa memincingkan matanya, melihat ke arah papan yang di bawa Edwin. Sadar lagi diliatin sama Mahesa, dia tutupin papan nya pake tangan. Masih sebel pokoknya sama Mahesa.
"Va, valen...
"Valentino. Marga nya Valentino."
"Terus? Kalo gitu kenapa? Ini bukan drama kan? Yang kalo misalnya dia itu anak emas yang gak boleh di apa apain dan bapak nya punya kekuasaan penuh?" Tanya Mahesa tak percaya.
"Iya emang bukan sih... Tapi mirip mirip lah. Edwin itu anak bungsu keluarga Valentino. Dia emang anak emas, dari dulu gak pernah dapet perlakuan kasar karna emang dia itu istimewa." Jelas Haikal padanya.
"Loe inget kan Kak Edgard Giovanno Valentino? Ketua Mpls waktu itu? Yang dia mukulin angkatan kak Jupiter karna udah bikin Ethan drop? Nah Edwin itu adek nya dia. Terus, Ethan ragnala valentino, yang se angkatan sama kita. Dia itu di pawangin sama berandal sekolah, namanya si Zico. Nah Ethan itu kakaknya dia juga."
"Edwin itu gak kayak kita. Dia gak bisa lari larian kesana kesini. Hidupnya gak bebas. Lu inget aja itu," Final Haikal yang lalu pergi meninggalkan Mahesa dan Vanda.
"Paham lu sekarang?" Tanya Vanda akhirnya. Mahesa menelan saliva nya, berusaha mencerna ucapan Haikal tadi.
Huuuh...
Edwin terus menghembuskan nafas lelah dan sesekali meneguk air pemberian Ethan tadi.
The end.
"Edwin ngantuk abang..."
__ADS_1