
"Hah, hidupku sungguh tidak beruntung. Saat wanita seusiaku tengah asik menikmati hingar-bingar masa remaja. Aku harus terjebak di pusaran masalah ekonomi yang memaksaku menjual kehormatan ku pada pria yang sama sekali tidak aku kenal," gerutu ku sambil berjalan ke arah balkon, untuk mencari udara segar. Disaat aku tengah sibuk dengan pikiran ku tiba-tiba dari arah belakang muncul seseorang yang memeluk pinggangku dari belakang.
"Aaa," jeritku kaget.
"Sedang apa! Disini dingin, ayo ikut aku kedalam," ajak pria asing itu padaku, anehnya aku hanya menurut tanpa tahu kata melawan.
"Mm tuan boleh aku bertanya sesuatu padamu?" ucap ku sedikit ragu.
"Silahkan. Tanyakan apa yang ingin kamu tahu tentang ku," jawabnya sambil tersenyum manis.
"Apa kau puas dengan pelayanan ku, mm maksudku apa pelayanan ku buruk tuan?" Tanya ku serba salah.
"Pelayanan mu sungguh hebat. Dalam tidurku pun, aku tidak bisa melupakan gerakan pinggul mu saat berada di atas ku," papar pria asing itu, entah kenapa ada perasaan bangga saat pria asing itu memujiku.
"Benarkah tuan. Jadi apa saya berbakat dalam bidak ini!" ucapku meminta pendapat.
"Tentu saja, pertahanan gerakan pinggul mu. Dan belajarlah mengingat gaya apa saja yang sangat di sukai oleh para laki-laki." Saat pria asing itu berkata, entah kenapa aku merasa ada guratan amarah di wajahnya. Apa dia marah jika aku melakukannya dengan orang lain, tapi siapa dia yang berani marah padaku.
"Tuan, apa anda mau tambah!" Tanyaku sedikit berbisik di telinganya, sambil mengalungkan tanganku di leher pria asing itu.
"Apa kau sedang menggodaku gadis kecil?" Tanya pria asing itu, sambil merangkul pinggangku.
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin mencoba berbagai macam gaya, denganmu saja tuan!" Jawabku kembali mengalungkan tangan di lehernya. Tapi, kali ini aku dengan sengaja menggigit kuping pria asing itu dengan gemas.
"Rupanya wanita polos ini sudah bisa membuatku tidak sabar," sambung pria asing itu. Kali ini tanpa aba-aba pria itu langsung membalikan posisi hingga aku berada di bawahnya. Kami berdua mengulang kembali kegilaan yang tadi sore terjadi. Suara jeritan dan ******* menggema memenuhi seisi ruangan ini, entah kenapa tubuhku sangat suka dengan sentuhan pria asing ini. Rasanya separuh jiwaku dibuat terbang melayang, aku tidak mau rasa ini cepat berlalu.
Satu jam lebih kami bergumul di tempat tidur. Dan sekarang tepat jam sebelas malam, aku keluar dari kamar sweet presiden dengan tertatih. Rasanya kaki ku sudah tidak kuat berjalan lagi, ditambah rasa perih di bawah sana masih sangat terasa. Untungnya saat aku tiba di mini bar, Andre dengan cepat menopang bahuku.
"Andre!" Gumamku saat Andre, memapah bahuku.
"Mari aku bantu," ucap Andre dengan lirih. Aku tahu didalam hatinya pasti Andre merasa sedih dan juga bersalah.
"Terima kasih Drew, maaf aku jadi merepotkanmu." Kataku sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa. Oia biaya operasi ibumu sudah bos ku bayar, dan nanti sisa uangnya akan di transfer ke rekening mu besok." Ucap Andre dengan memberitahuku.
"Iya Drew, terima kasih karena kau sudah membantuku," jawabku dengan tulus.
__ADS_1
"Tidak Mel, seharusnya aku minta maaf padamu karena aku. Kau harus kehilangan kehormatan mu," pungkasnya dengan nada yang sedikit sendu.
"Jangan bicara seperti itu Drew, bagiku kamu itu seperti malaikat yang berwujud sahabatku, dan kamu diutus Tuhan untuk menolongku dengan cara seperti ini!" Balas ku sambil mencium pipi Andre yang sedikit lembab karena angin malam.
"Mel kamu!" Ucap Andre tercekat, merasa tidak percaya dengan apa yang kini dia rasakan.
"Terima kasih, kamu sudah membantuku," ucapku sekali lagi.
"Mmm, habis ini kamu mau kemana Mel?" Tanya Andre, dengan canggung.
"Mungkin aku Akan pulang terlebih dahulu, setelah itu aku akan pergi ke rumah sakit melihat kondisi ibuku," jawabku tanpa melihat wajah Andre.
"Baiklah. Apa perlu aku antar Mel!" Tawar Andre yang langsung aku tolak.
"Tidak usah Drew. Aku bisa pergi sendiri, lagi pula kamu juga harus bekerja kan?" Tolakku secara halus.
"Kami hati-hati ya," papar Andre padaku, saat aku hendak masuk ke dalam taksi.
"Aku pulang dulu," pamitku pada Andre, tidak lama taksi yang aku tumpangi pun melaju dengan kencang membelah kesunyian malam di kota Jakarta.
*****
"Selamat pagi, bu!" Sapaku saat membuka pintu.
"Meli," pekik ibuku dengan tersenyum manis.
"Bagaimana keadaan ibu, apa masih ada yang sakit?" Tanyaku sambil mengecek bagian tubuh ibuku.
"Tidak nak, ibu sudah sembuh dan ibu ingin segera pulang," balas ibuku sambil mengusap lembut pucuk kepalaku.
"Tidak bu. Ibu harus tetap disini sampai ibu benar-benar sudah dinyatakan sembuh total oleh dokter," titahku sambil memeluk tubuh ibuku.
"Tapi Mel, biaya ibu di rumah sakit tidaklah sedikit. Ibu takut merepotkan kamu Mel," gumam ibuku lirih.
"Ibu tidak usah pikirkan biaya rumah sakit ini, ada aku bu. Aku akan bekerja keras demi kesehatan ibu, jadi ibu harus dengar apa yang dokter katakan disini," titahku pada ibuku yang sedang memelukku.
"Tapi, ibu takut-" sebelum ibuku menyelesaikan ucapannya, aku terlebih dahulu memotongnya.
__ADS_1
"Jika ibu benar-benar menyayangiku maka, ibu harus dengarkan apa yang dokter katakan!" Sungutku dengan nada sedikit marah.
"Tapi, kamu mendapatkan uang sebanyak itu dari mana Mel?" Deg, seketika jantungku berhenti berdetak. Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaan dari ibuku? Saat aku sedang kebingungan mencari jawaban dari pertanyaan ibuku tiba-tiba pintu dibuka dari luar, dan aku terkejut melihat siapa yang datang pagi ini.
"Irma, Meli?" Aku dan ibuku melihat ke arah sumber suara itu, betapa terkejutnya kami saat melihat ayahku ada disini.
"Agung?"
"Ayah?" Ucap kami secara bersamaan.
"Aku dengar kamu baru saja melakukan operasi besar, apa itu benar?" Tanya ayahku dengan sombong.
"Jika memang iya, kenapa? Apa ayah akan membantu biaya ibuku?" Balasku dengan ketus.
"Meli, tidak boleh seperti itu nak." Tegur ibu padaku. "Mau apa kamu kemari, Agung?" Tanya ibuku pada ayah.
"Aku datang kemari, hanya ingin bertemu dengan putriku. Meli sayang, ayah merindukanmu nak?" Cetus ayahku sambil merentangkan tangannya, seperti seorang ayah yang benar-benar merindukan putrinya.
"Sangat menjijikkan," balas ku sedikit mengejek.
"Irma apa kau mengingat, dengan Anjas Baskoro teman masa kecil kita dulu?" Tanya ayah pada ibuku.
"Ada apa dengannya?" Tanya ibuku balik.
"Apa kau ingat jika kita akan menjodohkan putri kita dengan anak semata wayang si Anjas dulu?" Tanya ayahku kembali mengingatkan.
"Tidak. Aku tidak mengingatnya," balas ibuku dengan memalingkan wajahnya.
"Anjas Baskoro, Irma? Apa kau sudah melupakannya?" Ucap ayahku dengan tidak sabar. "Dia mempunyai anak yang sangat tampan, dan juga kaya raya. Jika putri kita menikah dengan putra nya si Anjas, aku bisa menjamin jika kehidupan putri kita akan bahagia bergelimang harta dan hidupnya pasti akan tentram," ayahku yang awalnya sedikit emosi. Saat ini suara ayahku berubah menjadi lembut, ketika mengatakan itu.
"Aku tetap tidak mengingatnya," gumam ibuku, dengan tegas.
"Tuan muda keluarga Baskoro, itu orang baik. Selain itu dia juga tampan dan kaya raya, aku jamin putri kita tidak akan kekurangan apapun disana. Jika dia menginginkan pesawat atau mandi dengan berlian, maka dengan senang hati mereka memberikannya pada menantu kesayangan mereka ini," ucap ayahku sambil menepuk pundakku.
"Cukup Agung, percuma saja jika kau menjelaskan panjang lebar tentang keluarga Baskoro. Aku tetap tidak akan mengingatnya," hardik ibuku dengan mata memerah.
"Sudah bu, ingat kesehatan ibu." Ucapku menenangkan ibu yang terlihat marah. "Ayah lebih baik, ayah pergi dulu. Saat ini kondisi ibu sangat lemah, jika ayah ada perlu dengan ku. Maka temui aku di cafe depan rumah sakit siang nanti," pintaku pada ayah.
__ADS_1
"Baik. Ayah tunggu di sana nanti siang," setelah mengatakan itu ayahku langsung pergi meninggalkan aku dan ibuku di kamar pasien.
"Sudah bu, ibu tenang ya. Ayah sudah pergi, ingat ibu harus tenang demi kesehatan ibu," aku kembali menenangkan ibuku yang tengah dilanda amarah. Entah kenapa ibuku bisa semarah itu pada ayah, padahal ayah hanya mengingatkan tentang kawan lama ibu yang bernama pak Anjas. Sepertinya banyak sekali rahasia yang ibu simpan. Aku tidak tahu harus dari mana untuk menanyakannya.