
Arlan yang sedang berada di kediaman Aditama untuk menemui menantu dan anaknya nampak menatap ponselnya yang sedang bergetar. Ada panggilan tak terjawab di sana.
Radit yang kebetulan sedang duduk dan bercerita dengan sang ayah menatap bingung ketika melihat ayah Arlan hanya menatap ponselnya tanpa berniat mengangkatnya.
"Ayah, ada apa? kenapa tak mengangkat panggilannya?"
"Dari nomer yang tak dikenal. Ini adalah nomer pribadi ayah dan yang mengetahuinya hanya sebatas keluarga dan orang-orang terdekat dengan ayah."
"Kalau begitu tunggu saja, mungkin sebentar lagi yang bersangkutan akan mengirim pesan." Radit tersenyum.
Pemuda dengan tatapan teduh tersebut selalu bisa membuat hati Arlan tenang. Dan tak lama setelah apa yang Radit katakan ponsel Arlan kembali bergetar dan kali ini adalah sebuah pesan yang masuk ke sana.
"Papa Arlan, ini adalah Jenjen. Jenjen ingin berbicara dengan papa, ponsel jen hilang hingga baru kali ini Jenjen bisa menghubungi papa."
"Jennie."
Jenjen adalah nama yang Arlan sematkan untuk Jennie. Nama yang digunakannya untuk memanggil Jennie sejak kecil.
"Ada apa, pa?" Radit kembali bertanya.
"Ini dari adikmu, nak. Sebentar ya, ayah mau menghubunginya balik, siapa tau penting." Arlan tersenyum menatap wajah putranya. Radit menganggukkan kepalanya.
Adik ipar Raka tersebut telah menerima segala keadaan yang menimpa keluarganya. Nasibnya dan Jennie tak jauh berbeda, hanya saja dirinya lebih beruntung karena dikelilingi oleh orang orang baik.
Arlan segera menekan nomer tersebut dengan senyum yang tak lepas dari bibir nya. Sudah hampir 3 minggu lamanya dia tak bertemu bahkan berkomunikasi dengan putri tirinya tersebut.
.
.
Jennie menekan dengan ragu nomer Arlan, hanya lelaki paruh baya yang dianggapnya papa dan menganggap dirinya putrinya itu yang selalu terlintas dalam benaknya.
Bagaimana dengan ibu kandungnya, apakah ada rindu untuk wanita yang dipanggilnya mommy tersebut?
__ADS_1
Sepertinya tidak, Jennie tak pernah merasakan rasanya merindukan seperti yang selalu dia rasakan pada Arlan.
"Asisten Ray mengatakan jika aku hanya boleh menghubungi orang yang benar-benar bisa ku percaya. Selama ini aku tak pernah mempunyai teman atau seseorang yang dekat kecuali Jimmy. Akan tetapi, aku juga tak ingin mengambil resiko jika memberitahukan keadaan ku saat ini padanya. Aku tahu, Jimmy tak akan pernah bisa menolak segala yang dikatakan oleh kak Raja ataupun mama Cika. Untuk itu, maafkan aku Jim. Bukan aku tak menganggap dirimu sebagai teman. Tapi untuk saat ini aku hanya ingin memperjuangkan hidupku sendiri."
Gumamnya yang kembali menghapus nomer Jimmy yang sempat dia simpan di ponsel barunya.
Hanya ada 2 nomer tersimpan disana. Dan nomer Rayyan menempati urutan pertama. Bahkan Jennie sendiri sempat terkejut ketika pertama kali melihat dalam ponsel tersebut hanya berisi nomer Rayyan.
Senyum legah nampak terulas di bibirnya yang sudah tak sepucat beberapa hari lalu setelah berhasil mengirimkan pesan pada Arlan.
"Semoga papa baik baik saja disana. Aku kangen tapi tentu saja aku tak bisa mengunjunginya dalam keadaan seperti ini."
Jennie terdiam, gadis itu kembali menghirup udara segar agar sesak didadanya segera berkurang.
,
.
Rayyan mengulas senyum tipisnya kala menatap layar ponselnya. Sementara Vino yang telah terjaga dari tidurnya nampak memicing mata melihat sahabatnya tersebut.
"Ternyata dia mendengarkan ucapanku, baguslah. Itu juga demi kebaikannya sendiri." Rayyan menyudahi pantauan nya terhadap Jennie. Bagaimana pun, perkataan Ronald terus saja terngiang dalam ingatan Rayyan. Karena itulah dia meminta Jennie untuk berhati-hati pada orang-orang terdekatnya.
"Kau kenapa?" Dahi Rayyan berkerut menatap Vino yang entah sejak kapan menatapnya.
"Harusnya aku yang melontarkan pertanyaan itu. Kau kenapa senyum senyum tak jelas dari tadi? salah makan atau apa hingga membuatku berpikir jika kau membutuhkan seorang psikolog."
"Si@lan, kau pikir aku nggak waras?" Kesal Rayyan melemparkan bantal sofa tepat ke muka Vino yang malah tertawa terbahak-bahak setelah menggedik kan bahunya dengan tampang tengil yang kentara.
"Katakan padaku, kau kenapa?" Ucapnya setelah berhasil meredah kan tawanya.
"Tak ada, dan jangan banyak bertanya hal yang tak perlu kau ketahui. Sejak kapan kau berubah jadi orang kepo begini?" Rayyan memicingkan kedua matanya. Namun Vino malah mencebikkan bibirnya tanda tak peduli.
"Oh ya. Bagaimana hasil penelusuran anak buahmu? apa ada hal baru yang mereka dapatkan?"
__ADS_1
"Hem, kemarin ada truk yang datang mengirim bahan baku. Salah seorang anak buahku mengikutinya. Dan tepat seperti dugaan kita sebelumnya. Di tengah perjalanan mereka melakukan sabotase." Vino memperbaiki duduknya hingga lebih tegak.
"Bukanlah mereka membutuhkan waktu yang lebih banyak jika melakukan hal itu. Sementara aku yakin, jika barang palsu yang mereka susupkan tak mungkin mereka taruh bagian belakang, atas maupun samping. Hal itu akan mudah diketahui oleh orang lain kan?"
"Mereka lebih cerdik dari yang kita kira."
"Maksudmu?"
"Mereka menggunakan dua kendaraan yang berbeda namun mempunyai bentuk yang sama dalam segala hal." Ronald datang entah dari mana dan langsung menyambar pembicaraan mereka.
"Tepat sekali. Hal itu juga yang dilaporkan oleh anak buahku." Vino mengeluarkan tablet nya dan mulai menarikan jemarinya pada alat pintar tersebut.
"Jadi mereka hanya tinggal menukar kendaraan pada lokasi yang telah mereka tentukan sebelumnya. Mengganti kendaraan dengan bahan baku asli dengan kendaraan yang berisi bahan campuran." Rayyan menggeleng tak percaya.
Hal ini tak sesederhana yang dia pikirkan. Awalnya dia hanya berpikir jika ada sebagian orang yang ingin meraih keuntungan untuk pribadi namun tak mengira jika cara mereka sangatlah terorganisir. Dan itu juga semakin menguatkan dugaan jika memang ada campur tangan orang besar dalam masalah ini.
"Pasti sopir terlibat dalam hal ini kan? tidak mungkin mereka tak mengetahuinya sedangkan mereka yang secara langsung turun andil didalamnya."
"Aku sudah meminta data data para sopir yang biasa melakukan pengiriman. Dan fakta mengejutkan mereka dapatkan. Hampir semua sopir telah bekerja sama dan hal ini dilakukan sejak lama dan bukan hanya proyek perusahaan Tuan Raka yang menjadi sasarannya tapi mencakup seluruh proyek pembangunan di kota B mengalami hal ini." Vino menyodorkan tablet nya pada Rayyan.
Dimana dalam tablet tersebut nampak beberapa catatan tentang tanggal, waktu dan apa saja transaksi yang mereka lakukan dalam waktu bersamaan di tempat pertukaran.
"Gerakan mereka mendapat dukungan dari mafia tanah yang ingin menguasai kota ini." Vino dan Rayyan segera menoleh ke arah Ronald.
Lelaki yang sudah tak lagi muda namun tetap terlihat gagah tersebut nampak tersenyum.
"Mafia tanah ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Dan dulu, ada seorang pengusaha besar yang menetangnya hingga membuat para mafia tanah tersebut mengalami banyak kerugian."
"Meski telah mampu melumpuhkan sepak terjang para mafia tanah tersebut. Namun sayangnya, pengusaha itu harus kehilangan keharmonisan keluarganya. Sepupunya diculik dan diperkosa hingga mengalami gangguan mental. Begitupun dengan istrinya."
"Sejak saat itu, para mafia tersebut tidak berani bertindak secara terang-terangan. Dan hasilnya seperti yang dialami oleh perusahaan Tuan Raka saat ini."
Vino dan Rayyan mengernyap pelan. Keduanya bahkan bisa merasakan bagaimana besarnya pengorbanan pengusaha tersebut demi kelangsungan orang-orang di kota B hingga harus mengorbankan keluarganya sendiri.
__ADS_1
Ronald menatap Rayyan penuh arti. Kedua matanya nampak mengembun meski dirinya selalu punya kendali diri yang kuat agar tak menunjukkan kesedihannya.
"Andai anda tahu, jika pengusaha yang telah banyak berkorban itu adalah ayah anda sendiri Tuan muda." Lirihnya pilu dalam hati sambil memandang wajah Tuan mudanya dengan sendu.