
...🌹🌹🌹...
..."Painful is moment when you wait for him but he forgets his promis to you."...
...🌹🌹🌹...
Misi dimulai.
Gitta mengemas semua peralatan yang perlu dia bawa. Begitu pun dengan Xander. Dia memasukkan semua peluru cadangan.
Hari ini Gitta memakai pakaian serba hitam. Dia bertopi dan bermasker. Jangan lupakan kacamata hitamnya. Sementara Xander harus tetap berpenampilan seperti biasanya di mana dirinya masih seorang Dimas Aditya.
"Royce, tetap terhubung. Jika ada sesuatu, cepat berikan instruksi," kata Gitta.
Di seberang sana Royce menjawab, "Baik, bersiaplah."
Gitta menepuk bahu Xander. "Kita akan melakukan yang terbaik."
Xander mengangguk. "Kita akan mengakhiri misi ini sesegera mungkin dengan menangkap Vionna dan membawa kembali Devansa Hermawan."
Gitta mengangguk sambil tersenyum sendu.
Sementara itu, Sarah mendapatkan paket dari Dini berupa kacamata untuk Anna. Selain Sarah, Aisyah juga mendapatkan paket berupa tiket pesawat ke Indonesia.
Gitta pergi duluan ke aula. Gadis itu memasuki ruang kendali yang berada di ruang bawah tanah, seperti yang sudah direncanakan Xander semalam. Ada banyak CCTV yang terpasang. Gitta bisa melihat semua sudut. Ada beberapa orang yang menyiapkan ruangan untuk pertemuan penting tersebut.
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Barulah beberapa bodyguard masuk bersama Vionna.
Gitta menautkan alisnya. Dia berharap Vionna membawa Devan, tapi pria itu tidak ada di sana. Gitta merasa khawatir semenjak titik merah Devan menghilang dari lokasi pelacakan. Dia masih berpikir positif, mungkin Devan sedang duduk di mobil seperti biasanya.
"Gitta."
Gadis itu terhenyak kaget saat Xander masuk dan menghampiri ruang kendali. Pria itu sudah membuka penyamarannya. Dia memakai pakaian serba hitam juga seperti Gitta.
"Apa aku mengagetkanmu?" Tanya Xander sambil memusatkan perhatiannya ke layar. Mereka berdua tampak begitu serius.
"Kenapa belum ada reaksi?" Tanya Xander.
"Entahlah." Gitta tampak khawatir.
Vionna memberikan pidato. "Geng api adalah geng yang paling kuat. Kita akan membuat geng ini lebih besar lagi...."
Terlihat beberapa bodyguard memegang perut mereka. Tampaknya mereka kesakitan. Mereka sudah meminum air racun yang Gitta buat. Marco yang memasukkan racun itu ke dalam minuman para bodyguard dan para anggota geng api.
"Sepertinya sudah bereaksi," kata Gitta.
Vionna masih berpidato, ".... Dengan berat hati, aku akan membuat revolusi di geng api dengan menggantikan posisi mendiang pamanku sebagai ketua geng api."
__ADS_1
Berakhirnya kalimat itu, semua orang di ruangan tersebut terkulai dan tak sadarkan diri.
Vionna terbelalak kaget. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Siapa yang melakukan ini padaku?!"
"Sekarang," bisik Xander.
Gitta menekan tombol yang membuat Vionna jatuh ke bawah tanah tempat mereka berada. Ternyata itulah rencana yang sudah dipersiapkan oleh Xander.
Gitta dan Xander segera menghampiri Vionna untuk meringkusnya.
"Lagi-lagi ARN mengirimkan orang," geram Vionna. Wanita itu menyerang Gitta yang akan meringkusnya.
Terjadi perkelahian di antara keduanya. Gitta dan Vionna sama-sama tangguh.
"Xander, tembak Vionna. Kita sudah mendapatkan perintah dari atasan," ucap Royce.
Xander mengeluarkan pistolnya dan membidik kepala Vionna.
Dor!
Gitta dan Vionna terkejut mendengar suara tembakan. Gitta melihat Xander terhuyung saat seseorang menembak dadanya.
"Xander!"
"Apa yang terjadi? Aku tidak bisa mendengar apa pun. Gitta, Xander, apa kalian...." Tiba-tiba alat komunikasi Xander dan Gitta tidak terhubung lagi dengan Royce.
Dor!
Tembakan kali ini mengenai pinggang Xander. Gitta melihat Devan yang menodongkan pistol tersebut ke arah Xander. Pria itu yang menembaknya.
"Tidak!" Gitta menghalangi Xander dari Devan. Gadis itu menatap Devan dengan tatapan nanar.
Devan juga menatap Gitta dengan tatapan datar.
Vionna tertawa lalu menghampiri Devan dan menciumnya di depan Gitta dan Xander. Ya, mereka berciuman.
Hal tersebut tentu saja melukai perasaan Gitta.
"Kau tidak bisa membayangkan apa saja yang selama ini kami lakukan. Mungkin kau tidak pernah melakukannya dengan Devan, iya, kan?" Vionna meledek Gitta.
"Lihatlah, Devansa. Pacarmu sudah milik orang lain. Sudah kubilang kau hanya milikku sekarang." Vionna memeluk pria itu.
Gitta tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia sudah kehabisan kata-kata.
Devan menodongkan pistolnya ke kening Gitta. "Aku mencintaimu, Gitta. Tapi, itu dulu. Sekarang milikku adalah Vionna."
Xander tidak membiarkan itu. Dia menarik tangan Devan yang memegang pistol. Terjadilah perkelahian antara pria.
__ADS_1
"Gitta datang kemari dengan mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanmu dan kau malah melukai perasaannya, Bangsat!" Xander menendang dada Devan.
Sementara Gitta diam tidak berkutik. Vionna mengeluarkan pistolnya akan menembak Gitta, tapi gadis itu segera menendang tangan Vionna hingga pistolnya terlempar. Gitta menyerang Vionna dengan membabi buta.
"****** kau!" Gitta memukul wajah Vionna.
Devan menusuk bahu Xander dengan pisau dan menyayatnya. Karena Xander sudah lemah dengan luka tembakan, dia tidak bisa melawan lagi.
Tiba-tiba seseorang mencengkram leher Devan. Ternyata Gitta. Gadis itu memukul Devan, tapi pria itu menghindar.
Tanpa diduga, Devan melawan Gitta seperti melawan pria. Dia memukul dan menendang. Gitta yang sejatinya sudah terluka hatinya beberapa kali tersungkur menerima serangan Devan.
Vionna tertawa terbahak-bahak melihat itu. "Rasakan itu, Gitta. Dia memukulmu, tapi dia menikmati tubuhku."
Gitta menjambak rambut Devan dan membantingnya ke lantai. Devan meringis, tapi Gitta tidak peduli. Dia memukul perut Devan.
Melihat Devan terluka, Vionna tidak terima. Dia mengambil pistolnya, tapi Xander menendang tangannya.
"Ular," maki Xander.
Tiba-tiba terdengar suara ledakkan di aula tersebut. Xander menarik Gitta agar segera pergi.
"Sepertinya seseorang menanam bom di tempat ini," kata Xander.
Gitta terkejut. Dia menatap Devan dengan tatapan tak percaya. "Aku tidak mengenalmu, Devan."
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki menuju ke ruang bawah tanah.
"Xander! Gitta! Cepat pergi dari sana! Sistem keamanan kita diretas! Aku tidak bisa mengendalikan komputerku yang kena virus!" Teriak Royce dari seberang sana.
"Gitta, kita tidak ada waktu! Ayo, kita harus pergi!" Xander menarik lengan Gitta.
"Kita harus menangkap kedua buronan itu," kata Gitta. Yang dia maksud adalah Devan dan Vionna.
Ledakkan kedua terjadi. Debu berterbangan menghalangi pandangan.
Xander dan Gitta sudah menghilang. Ada pintu rahasia lain yang digunakan mereka berdua untuk kabur.
Para bodyguard pria datang. "Nona, Tuan, kalian baik-baik saja?"
Vionna merangkul pinggang Devan agar segera pergi dari tempat itu.
...🌹🌹🌹...
^^^19.38 | 13 Maret 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1