
Hot Duda Bagian 14
Oleh Sept
"Pak Rio, kenapa saya disuruh ke sini?" tanya Lisa yang merasa bingung karena diminta ke rumah sakit.
Gadis itu sampai meninggalkan pekerjaan di Montana Group karena harus datang ke rumah sakit dengan segera. Pagi itu, sekretaris Rio menelpon seseorang untuk mengantar Lisa ke rumah sakit. Sekarang, Lisa susah di depan ruangan bersama Rio.
"Saya tidak tahu, sebaiknya kamu sekarang masuk. Bicara dan temui pak Anggara di dalam," titah Rio.
Sekretaris Anggara tersebut juga tidak tahu perihal alasan mengapa harus mendatangkan Lisa. Ia hanya mendapat tugas memanggil office girl itu ke rumah sakit. Dan ketika ia melihat Lisa masuk ruangan, ia menatap curiga.
Ruang VIP
Anggara bersandar setengan tidur, begitu Lisa masuk. Ia langsung meminta gadis itu duduk di dekatnya.
"Duduk di sini!" titahnya dengan tegas. Anggara menatap kursi besi dengan balutan bantal empuk di tengah-tengahnya.
"Maaf, Pak. Kalau boleh saya tahu, kenapa Bapak memanggil saya?"
"Ehem!" Anggara berdehem.
Lisa makin bingung, sebenarnya untuk apa dia disuruh datang ke sini?
"Rio! Masuk!" ucap Anggara yang tahu sekretarisnya masih di luar.
KLEK
Pria yang berprofesi sebagai sekretaris itu pun akhirnya terlihat membuka pintu, lalu melangkah masuk dan berdiri di samping ranjang.
"Kunci pintunya dari dalam," titah Anggara.
Lisa semakin bingung, sebenarnya mereka mau apa, lalu kenapa pintunya dikunci segala? Lisa sudah pasti mulai curiga sekarang. Dan sesuai perintah, Rio mengunci pintunya dari dalam. Pria itu kemudian berbalik dan menghadap Anggara lagi.
"Ambilkan ponselku!" perintah Anggara dengan gaya bossy. Tanpa berkata-kata, Rio terus saja mematuhi perintah bosnya tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Lisa, ia hanya bisa bengong sejak tadi. Sampai akhirnya Anggara meminta nomor rekeningnya.
"Aku punya pekerjaan untukmu."
Lisa mengerjap, tidak mengerti pekerjaan apa.
"Maksud Bapak?"
"100 juta aku transfer sekarang, tapi buat wanita ini menjauh dariku!" ujar Anggara kemudian memperlihatkan foto Jessica yang sedang berpose memeluk nyonya Claudia saat wanita itu berulang tahun beberapa tahun silam.
Lisa yang masih polos, hanya bisa garuk-garuk kepala, jujur dia tidak paham.
"Maaf, Pak. Saya belum paham apa yang Bapak katakan."
Anggara langsung mendesis. Lalu wajahnya berubah masam.
'Tidak hanya miskin, gadis ini juga jangan telmii! Bodohhh!' batin Anggara kesal.
Sementara itu, Rio yang memang IQ nya di atas rata-rata, ia langsung paham seketika. Melihat Anggara yang sepertinya menahan amarah, ia pun langsung turun tangan.
"Kenapa saya? Dan lagi ... itu, mbak yang itu ... dia sepertinya sangat tidak suka dengan saya. Pak Rio lihat sendiri kan dia kemarin marah sama saya?" tanya Lisa sembari wajahnya mengeluarkan ekspresi aneh dengan pekerjaan yang ditawarkan padanya sekarang.
Bila pekerjaan membersihkan kantor, membersihkan rumah, ia bisa. Tapi kalau membersihkan para wanita yang ingin dekat-dekat dengan bosnya itu, ini sepertinya pekerjaan mustahil. Dia siapa? Hanya gadis miskin yang tidak punya kuasa. Cantik pun masih cantik wanita-wanita yang menggelilingi Anggara selama ini.
"Terima saja! Akan aku bantu!" bisik Rio yang melihat sorot tajam bosnya tersebut.
Rio paham apa tujuan Anggara, Lisa ini jelas bukan tipe bosnya, dan juga gadis miskin. Sangat mudah menyuruh Lisa sesuai perintah. Tinggal kasih uang, makan gadis itu akan menurut. Dan akan mudah, karena mereka pasti tidak akan saling terkait perasaan. Karena hubungan mereka tidak akan mungkin terjadi. Setidaknya itulah yang sekarang ada dalam kepala Rio. Hingga mengapa, Anggara mencari wanita lain untuk mengusir para penggoda yang membuat Anggara risih. Apalagi nyonya Claudia, sepertinya dia tidak akan menyerah selama Anggara masih single.
"Aku anggap kamu setuju!" ucap Anggara saat Lisa diam, padahal Lisa diam karena berpikir.
Anggara mengambil keputusan secara sepihak. Karena ia memang tidak kenal kata penolakan. Baginya, Lisa sosok yang dirasa pas. Gadis ini tidak akan membuatnya repot di kemudian hari, karena ia tidak mungkin jatuh hati pada sosok seperti Lisa.
Sedangkan Lisa, sebenarnya uang 100 juta lumayan. Tidak usah bekerja keras, tapi ini resikonya juga besar. Lisa tahu, perempuan yang harus ia singkirkan sepertinya wanita berkelas. Ia seperti menang jackpottt, tapi juga harus siap-siap repot.
"Tapi, Pak .. em!"
__ADS_1
"Ketik nomor rekeningnya!"
Mata Lisa melirik ponsel Anggara yang disodorkan ke padanya. Lisa kemudian menatap Rio. Dan sekretaris Anggara mengangguk, memberikan sebuah kode.
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, jari-jari Lisa menekan angka-angka di dalam layar ponsel Anggara, kemudian menyerahkan smartphone yang harganya mahal tersebut pada pemiliknya.
Tidak butuh waktu lama, tiba-tiba ponsel Lisa bergetar. Ada notifikasi masuk dari mbangking.
"Astaga!" gumam Lisa kaget.
Matanya tertuju pada deretan angka nol yang tertera pada pesan dari bank tersebut.
"Pak Anggara tidak salah? Ini 100 juta?" tanya Lisa yang masih ragu. Tapi ia tatap lagi ponselnya. Memang benar itu 100 juta.
Tok tok tok
Di depan sana, pintu sudah diketuk.
"Buka! Idih ... ngapain dikunci?" gerutu Jessica yang sudah kembali. Terlihat cantik dan segar, tidak lupa dengan balutan pakaian yang minimalist yang bisa membuat masuk angin.
Di dalam ruangan, Anggara langsung mengatakan tugas pertamanya pada Lisa.
"Jika kamu tidak berhasil di hari pertama, uang 100 juta langsung kembalikan, dan kamu dipecat!" ujar Anggara.
Lisa langsung terkejut, mau protes, tapi Anggara malah meminta Rio membuka pintu.
"Buka pintunya."
"Baik, Pak."
Anggara kemudian melirik Lisa.
"Lakukan dengan benar, atau kamu saya pecat!" ancam Anggara sinis.
BERSAMBUNG
__ADS_1