
Di rumah.
Akhirnya setelah mama Famala membujuk Jesyca berhasil membuatnya ikut pulang.
Selama perjalanan enam belas jam yang cukup melelahkan, hingga tiba di Indonesia tepat pukul tujuh malam. Hari itu, Jesyca cukup lelah. Sesampainya di rumah milik Wisanggeni sang papa Jesyca merebahkan tubuhnya di kamar masa lajang dulu. Begitu juga Becker dia lebih memilih sabar mengikuti kehendak Jesyca, sementara daddy Henderson dan mommy Ratih pulang kerumahnya.
Sebenarnya nyonya Ratih sangat menyesal dengan keputusan Jesyca, harapanya jadi punah ketika sang menantu memilih tempat tinggal untuk dirinya sendiri.
"Kenapa sih, Jesyca masih keras kepala maunya tinggal di rumah mamanya." kilah Ratih saat sudah berada di kamar bersama sang suami.
"Udahlah mom, biarin itu pilihan dia kenapa mommy seperti orang kuno!" ucap Henderson kesal.
"Kalau mommy masih saja seperti itu, biar yang pindah rumah daddy. Jesyca dan Becker itu sudah dewasa dan mereka dapat berfikir sendiri," tambah Henderson.
"B-bukan maksud mommy maksa lho dad." ucap Ratih terbata, ia melihat ke arah suaminya yang terlentang di ranjang yang sama.
"Terserah, udah tua mikir dong." ketus Henderson, seraya berbalik memunggungi Ratih.
Wanita setengah baya itu terdiam, dia berfikir sejenak.
"Memang aku yang egois," batin Ratih menyesali yang sudah terjadi.
•
•
•
•
Hari sudah siang, Jesyca baru saja bangun dari terlenanya sepanjang malam. Tampak Becker sudah bangun lebih awal, dia pergi joging mengelilingi kompleks.
Sementara Jesyca membersihkan diri di kamar mandi pribadinya, setelah semuanya selesai Jesyca langsung pergi turun ke meja makan, matanya melirik nasi goreng buatan bi Surti.
"Wah, pasti enak banget nih buatan bi Surti ya," celetuk Jesyca.
"Iya non, dimakan ya keburu dingin nanti hilang lho enaknya." ucap bi Surti pada Jesyca.
"Oke bi," kata Jesyca seraya menyantap nasi goreng buatan asisten rumah tangga.
Sudah hampir tiga bulan lebih Jesyca tidak memakan nasi goreng buatan bi Surti, dia tampak lahap sekali seperti sapi memakan rumput saja, satu baskom nasi goreng sebesar lima belas diameter penuh dengan nasi goreng Jesyca melahap habis semua.
"Enak bi, buatin lagi ya. Jesyca masih lapar," pintanya seraya memuji masakan Surti.
__ADS_1
"Hah!b-busyet!" bi Surti terkejut mendapati Jesyca melahap habis masakannya.
"Mau lagi, buatin ya." ulang Jesyca meminta lagi.
"I-iya non." jawabnya terbata.
"Astogel, kenapa non Jesyca jadi rakus kaya kera gitu yak. Udah dia lembutan dikit lagi, aneh bukan non Jesy yang dulu. Ah mungkin efek hamilnya," batin Surti.
Surti kembali ke dapur, di sana dia bertemu dengan Inah teman ART seprofesinya. Inah heran dengan Surti melihat temanya itu memasak nasi goreng lagi. Karena tadi pagi sekali Surti memasak nasi goreng dan sekarang memasak lagi.
"Weh cong, ngapain ente buat nasi goreng lagi?" selidik Inah heran.
"Ssttt," Surti menelangkupkan telunjuknya ke mulut runcingnya.
"Yah, nape ndul?" tanya Inah lagi.
"Non Jesyca, dia minta nasi goreng lagi. Sebakul nyang adi pagi ntu abis ludes," jawab Surti seraya merentangkan tangannya.
"Ck, ck, ck, emang calon badak tuh non Jesyca." decak Inah menggelengkan kepala.
"Eh, atu lagi rek," sela Surti, sambil tanganya mengaduk nasi goreng di wajan atas kompor.
"Rek? p*rek! hanjai loe t*il. Kunaon atu?" tekan Inah sedikit membentak dengan candaan mereka.
"Mulut loe bau com*ran. Non Jesyca berubah jadi lembut gigi runcing," kata Surti menepuk wajah Inah.
"Tapi sayangnya ndul, itu si suami non Jesyca ternyata bukan supir. Horang kaya dia," Imbuh Inah mengenang masa lalu Becker.
"Terus, kalau misqueen kaya kita ini bakal jadian sama loe gitu." sunggut Surti menatap sinis ke arah Inah.
"Ya iyalah, secyara eykek kan pembantu valing syantik di rumah nyonya Famala, sampe nyonya ngak ada tandingannya." tukas Inah dengan sombongnya.
••••••
Lalu,
Nasi goreng yang di buat oleh Surti tadi sudah terhidang di meja makan lagi, Jesyca yang antusias di ruang makan sekarang bersama sang suami menunggu nasi goreng buatan Surti.
"Aduh, kunaon atu jadi deg, degan di depan den Geo eh Becker, lupa." batin Surti seraya meletakan nasi goreng buatannya di atas meja.
"Silahkan non,den. Mari," ucap Surti mengangguk santun, iapun pergi kedapur.
"Ini nasi goreng buatan bi Surti, paling enak di dunia lho sayang. Kamu coba deh," seru Jesyca seraya menyuapkan sesendok nasi ke mulut Becker.
__ADS_1
"Mmmm.... enak, mau - mau." kata Becker setelah menelan nasi goreng itu.
Jesyca menyidukan nasi ke piring lepek putih besar, tak lupa ia meletakan lalapanya. Becker sangat menikamati makanan buatan Surti tersebut. Jesyca menyendok nasi goreng lagi dan ia makan seperti mbak kunti yang sedang kelaparan memakan sate sembilanpuluh tusuk saja.
Becker melihat istrinya hanya menggelengkan kepala. Selama Jesyca hamil tidak mual atau sakit sakitan dia makan begitu lahap, apapun makanan dari yang tadinya tidak ia sukai menjadi ia sukai.
"Hari ini, aku mau pergi cari buah - buahan di pasar." ucap Jesyca di sela makan nasi goreng.
"Boleh, tapi besok kita mau survei rumah yang kamu mau," celetuk Becker.
"Dimana?" tanya Jesyca. Dia masih memakan nasi goreng.
"Cempaka putih," jawab Becker singkat.
Jesyca tidak melanjutkan makananya lagi, rasanya sudah hambar.
"Kenapa di situ? ngak ada tempat lain?aku ngak mau deket sama perumahan tempat tinggal mommy kamu tau," kerlit Jesyca, lalu ia meneguk air mineral di dalam gelas.
Wanita itu langsung bangkit dari kursi makan, Becker hanya menghembuskan nafas kesal. Karena apapun yang di cita - citakan bukan keinginan Jesyca.
Saat berjalan naik keatas menuju kamarnya, dia berpapasan dengan Famala yang sudah terlihat rapih dan wangi.
"Mama mau pergi keluar, kalau mau nitip sesuatu kamu bilang aja atau telfon ya." kata Nyonya Famala saat berjalan menuruni anak tangga.
"He'm, Jesyca mau durian dan itu harus ada." jawabnya seeprti memaksa.
"Boleh nak, nanti mama carikan.Eit lupa! Kamukan lagi hamil mana bisa makan durian?" kelekar nyonya Famala.
"Tapi ma, Jesyca kepingin dikit aja bolehkan!" kilah Jesyca memohon.
"Bener sikit aja ya, ya udah mama pergi dulu nak." ucap nyonya Famala.
Becker pergi menyusul Jesyca yang sudah ada di kamarnya, ia hendak membujuk sang istri agar mau menerima permintaannya.
"Sulit sekali, kenapa harus memohon seperti ini?" kilah Becker dalam hati.
"Hah, semoga kali ini berhasil, kalau enggak cari lainnya." imbuh Becker dalam hati.
Becker berjalan menaiki anak tangga menuju kamar pribadinya dan bersama Jesyca. Langkah demi langkah ia menggerakan kaki atletis miliknya, sejak setelah joging tadi dia belum membersihkan diri. Badannya terasa lengket dan gatal, dia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Becker mulai masuk ke kamar dan langsung menyahut handuk yang tertempel di dekat pintu kamar mandi.
Jesyca masih berada di dalam kamar mandi teriak nyaring, karena dirinya sedang membuang hajat ketika Becker masuk.
"Aaaaaa!" teriak Jesyca.
__ADS_1
"Lagi bok*r bodoh!" bentak Jesyca lagi.
Becker keluar dengan tawa kerasnya.