
Setelah hasil ujian keluar, aku meraih prestasi tertinggi di kelas dengan nilai total 706.
Namun, yang menantikankuku bukanlah ucapan selamat, tapi tatapan mengolok dari teman-teman sekelas.
Guru memegang nilai kertasku dan meminta aku ke kantornya, Fenny, putri wakil kepala sekolah juga mengikutinya.
Ketika melihat aku, dia menunjukkan tatapan menantang.
Kantor terlihat dingin karena AC-nya, wali kelas kami menunggu kami duduk, dan langsung berkata, "Kuota beasiswa telah keluar."
Matanya berputar mengarah pada kami berdua, dia tersenyum sambil mengulurkan tangan ke arah Fenny, "Selamat."
Aku menunggunya selesai berbicara dengan tanpa ekspresi, lalu bertanya, "Lalu saya?"
Senyuman wali kelas membeku sejenak, "Yulias, aku memanggilmu ke sini untuk memberikanmu pembinaan. Aku tahu kamu belajar giat, kamu jgua meraih banyak prestasi dalam tiga tahun di sekolah, kamu memiliki hasil yang tetap stabil dan konsisten, sedangkan Fenny..."
Aku melanjutkan ucapan wali kelas, "Sedangkan Fenny prestasinya biasa saja, dan juga melakukan intimidasi terhadap teman-teman sekelas yang lebih lemah."
Wali kelas terdiam...
__ADS_1
Fenny marah, "Yulias, apa yang kamu bicarakan? Apakah pelajaran terakhir belum cukup bagimu?!"
Aku melemparkan pandangan dingin padanya.
Pelajaran terakhir yang dimaksud adalah ketika dia mengunci aku di kamar mandi, meletakkan serangga dan tikus di mejaku, bahkan mencuri buku dan alat tulisku, kemudian dibuang ke tempat sampah.
Semua hal ini diketahui oleh wali kelas.
Aku menunjuk penampilan arogan Fenny, "Meskipun begitu, apakah dia masih berhak mendapatkan jatah beasiswa?"
Wali kelas merasa canggung, memberikan isyarat kepada Fenny, lalu berusaha menenangkan aku, "Dengan prestasimu, kamu bisa memilih universitas mana saja di dalam negeri. Tapi..."
Aku memotongnya, "Bukannya pengumuman telah menyebutkan bahwa kuota beasiswa akan diberikan terlebih dahulu kepada peringkat pertama ?"
Tidak, itu merupakan perbedaan yang signifikan.
Ketika baru masuk SMA, aku bertaruh dengan ayahku bahwa jika aku bisa mendapatkan beasiswa, aku bisa memilih jurusan musik daripada jurusan manajemen keuangan.
Aku memandang wali kelas, "Selama tiga tahun di sekolah, aku sudah mendapatkan penghargaan tingkat nasional sebanyak lima kali, tingkat kota enam belas kali, dan tingkat sekolah tak terhitung jumlahnya.
__ADS_1
Setiap kali ujian, aku selalu menjadi peringkat pertama secara mantap. Namun dengan semua itu, apakah dia masih berhak mendapatkan jatah beasiswa?"
Wali kelas tiba-tiba berkeringat, berbicara terbata-bata tanpa tahu apa yang harus dikatakan.
Fenny menatap aku dengan marah, meninggikan suaranya, "Kamu benar-benar menyusahkan, sudah jelas sekali, hanya jatah beasiswa saja, kalau aku tidak senang, aku bisa membuatmu tidak bisa bangga seumur hidup!"
Aku tidak menghiraukannya, hanya menatap wali kelas dengan tajam.
Hingga dia akhirnya tidak sabar berkata, "Aturan memang ada, tapi manusia adalah hidup. Jumlah jatah beasiswa sudah ditentukan dan tidak bisa diubah, kamu masih bisa berjuang untuk mencapai nilai UN yang lebih tinggi saja, perbedaannya tidak begitu signifikan."
Aku mengangguk, menarik kembali pandangan, dan meninggalkan ruangan.
Namun begitu keluar dari ruang kantor, Fenny mengejarku dan memanggil, "Yulias, ada orang yang lahir di garis awal, dan yang lainnya lahir sebagai budak. Kalau mau mengeluh, selayaknya kamu menyalahkan ayahmu yang tidak cukup baik!"
Setelah keluar dari ruang kantor, aku mengeluarkan ponsel dan langsung menelepon "ayah budak" aku.
Dia tidak menjawab.
Tidak lama kemudian, ayah aku mengirimkan pesan di WA, "Baru saja sampai di kedutaan besar Amerika, ada apa sayang?"
__ADS_1
Aku tersenyum, "Tidak ada masalah."
Hanya ada seseorang yang menyebut kita sebagai budak.