
IM.13 DISTIMIA
LULA
Beberapa bulan kemudian...
Semakin lama perutku semakin membesar. Usia kehamilanku yang semakin tua, membuatku tidak sabar untuk menunggu kelahiran anak keduaku. Telah banyak hal yang aku lewati selama beberapa bulan terakhir. Selain kehilangan putraku Adrian Ma dan berpisah dengan suamiku Albert Ma, aku juga kehilangan teman baikku Joshua yang selama ini telah banyak membantuku. Terasa begitu berat menjalani berbagai hal tak terduga sendirian. Namun aku sangat bersyukur masih memiliki teman baik seperti Felicia dan Joshua yang mau membantuku.
Disaat seperti ini aku kembali teringat pada masa laluku. Dimana saat itu aku juga menjalani semua sendirian dan melewati masa sulit tanpa ada seorang suami di sampingku. Keadaanku saat hamil Adrian Ma dulu tidak jauh berbeda dari yang sekarang. Aku sama-sama berada di posisi sulit dan menghadapi pergolakan batin sendirian. Yang berbeda hanyalah keadaan, tempat dan orang yang ada di sampingku. Jika dulunya ada Joshua di sampingku, saat ini ada Lucas dan Felicia yang selalu membantuku. Namun Felicia adalah seorang wanita karier yang tidak bisa berdiam diri di satu tempat. Meski ia selalu perhatian kepadaku, namun ia sering bepergian ke luar negeri. Sehingga aku lebih sering menghabiskan hari-hariku bersama Lucas yang menetap di Singapore dibanding Felicia yang datang dan pergi sesuka hati.
Awalnya aku berpikir Lucas adalah seorang pria yang tidak bisa untuk dijadikan teman. Karena selama ini ia lebih dikenal sebagai Bad Boy kaya raya yang pemikirannya sulit dimengerti. Namun setelah tinggal satu atap dengannya dan menjalani hari-hari dengannya, ia tidak seperti yang dikatakan orang-orang. Ia tidak hanya sangat baik kepadaku karena telah memberiku tumpangan tempat tinggal selama Felicia berada di luar negeri. Tapi ia juga memperlakukanku dengan sangat baik layaknya seorang saudara. Bahkan ia bersikap dan berkata lebih sopan kepadaku dibanding kepada Felicia. Meski orang-orang mengenalnya sebagai pria playboy dan pernah dipenjara karena kasus asusila, sekalipun ia tidak pernah melakukan hal buruk kepadaku. Sehingga aku yang belum lama tinggal satu atap dengannya merasa cukup nyaman dan terbiasa dengan kehadirannya.
"Lula, apa kamu ingin keluar siang ini? Hari ini aku tidak ke kantor. Jadi aku akan mengantarmu kemana pun kamu mau." Lucas yang baru saja turun dari tangga bertanya kepadaku yang sedang duduk santai di depan televisi.
Aku yang menoleh ke arahnya terdiam beberapa saat mengingat bahwa diriku sudah terlalu lama berdiam diri di rumah. Yang aku lakukan hanyalah bersantai dan tidur sepanjang hari. Dan yang aku lihat hanyalah dinding rumah serta taman yang ada di sekelilingnya. Membuatku yang sudah lama tidak merasakan suasana perkotaan, tiba-tiba ingin pergi keluar rumah. Dengan perasaan ragu aku menjawab, "En... Bisakah kamu membawaku berkeliling, Lucas? Rasanya sudah sangat lama aku tidak menghirup udara di luar."
Seketika Lucas tertawa kecil sambil melangkah menghampiriku. Saat ia telah berdiri di samping sofa yang aku tempati ia berkata, "Apa kamu yakin? Biasanya kamu akan menolak saat aku ajak keluar rumah. Tapi kali ini kamu yang ingin aku temani keluar rumah."
"Jangan terlalu perhitungan padaku. Aku hanya ingin kamu membawaku berkeliling, Lucas. Bukan membelanjakanku."
"Jika kamu ingin berbelanja, aku akan menemani dan membelanjakanmu. Apa kamu lupa bahwa aku memiliki banyak uang?" Lucas berkata dengan nada menggoda bercampur angkuh.
Aku tersenyum tipis mendengar ucapannya yang suka bercanda dengan nada menggoda bercampur angkuh itu. Kemudian aku berkata, "Tidak usah. Aku tidak ingin membuatmu bangkrut karena membelanjakanku dan calon bayiku."
"Tidak usah khawatir. Aku masih sanggup membelanjakan ratusan wanita sekaligus. Jadi hari ini aku akan membelikan semua yang kamu inginkan. Termasuk perlengkapan bayimu yang akan lahir. Bukankah kamu belum mempersiapkan itu semua?"
"Ya, aku belum membeli apapun untuk persiapan persalinanku."
"Kalau begitu, gantilah pakaianmu! Kita akan pergi berbelanja setelah kamu puas berkeliling kota."
Dengan segera aku menggelengkan kepala sembari bangkit dari dudukku. Setelah aku berdiri di hadapannya aku berkata, "Tidak. Aku tidak ingin mengganti pakaian. Aku ingin keluar seperti ini saja."
Lucas terdiam sejenak sambil menatapku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki seolah sedang menilaiku. Kemudian dengan wajah ragu ia berkata, "Jika kamu tidak ingin mengganti pakaian, setidaknya kamu mengoles sedikit lipstik di bibirmu agar tidak terlihat pucat."
"Baiklah. Tunggu sebentar."
***
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan mengelilingi kota Singapore, aku terus menatap keluar jendela mobil. Tidak banyak hal yang berubah di kota ini dalam beberapa bulan terakhir semenjak aku melarikan diri dari masalah rumah tanggaku. Semua masih terlihat sama, begitu juga dengan perasaanku yang menyimpan berjuta kenangan. Tidak hanya kenangan manis saat aku masih kecil hingga berumah tangga muncul dalam ingatanku. Tapi juga kenangan buruk saat aku kehilangan Adrian Ma dan bertengkar dengan Albert Ma waktu itu. Membuatku yang kembali mengingat itu semua merasakan sakit kepala.
Tadinya aku sudah berusaha untuk menepis semua kenangan itu dari ingatanku karena tidak ingin merasakan sedih. Namun semakin aku berusaha melupakannya, aku semakin mengingat hal-hal yang tidak ingin aku ingat. Bahkan kata "Wanita Sial" yang pernah dilontarkan oleh Albert Ma kepadaku dulu kembali terngiang di telingaku. Membuatku yang tadinya baik-baik saja, tiba-tiba berteriak, "TIDAK...! TIDAK...! AKU BUKAN WANITA SIAL...! ADRIAN...!"
Mendengarku yang berteriak secara tiba-tiba, membuat Lucas yang dari tadi mengendarai mobil dengan tenang merasa kaget. Spontan ia menoleh ke arahku sejenak, lalu mencari tempat untuk menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dengan nada panik ia bertanya, "Lula, ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu?"
Aku tidak menanggapi pertanyaan Lucas yang terlihat sangat mengkhawatirkanku. Aku larut dalam pemikiranku sendiri yang dipenuhi rasa benci, amarah dan ketakutan secara belebihan yang datang bersamaan. Disaat mobil yang ia kendarai telah terparkir dengan baik di pinggir jalan, Lucas kembali bersuara, "Lula, ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba berteriak?"
"Ti-tidak... Tidak... Ti-tidak... Aku tidak tahu. Kata-kata itu... Kata-kata itu... Sangat memekakan telingaku." Aku menjawab dengan tubuh gemetar tanpa menatap wajah Lucas yang masih duduk di sampingku.
"Tenangkan dirimu, Lula. Tenanglah! Ada aku di sampingmu." Lucas mengulurkan tangannya dan merangkul bahuku yang sedang ketakutan.
"Aku tidak ingin mendengar kata itu lagi. Aku bukan wanita sial. Bukan aku penyebab Adrian hilang. Bu-bukan aku... Bukan aku..."
Lucas yang tadinya hanya merangkul bahuku, kini telah memelukku dari samping. Ia membelai rambutku dengan lembut sembari berkata, "Sssssst... Tenangkan dirimu. Kamu tidak perlu takut dan panik seperti itu. Ada aku di sini. Katakan padaku, apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?"
Pelukan dan belaian yang diberikan oleh Lucas kepadaku, membuatku merasa lebih baik dari sebelumnya. Aku yang tadinya merasa begitu kacau pun kini sedikit lebih tenang saat berada dalam dekapannya. Meski kata-kata yang menyakitkan itu masih terngiang di telingaku dan rasa bersalah terhadap Adrian Ma masih menghantuiku, namun aku sudah bisa bernafas lebih baik dari sebelumnya. Dan belum sempat aku menanggapi semua pertanyaannya, Lucas kembali bersuara, "Lula, ini bukan pertama kalinya kamu seperti ini secara tiba-tiba. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Jangan biarkan dirimu memendam apapun sendirian, Lula. Itu tidak baik untuk kesehatan mentalmu dan juga bayimu. Aku tahu kamu sudah melewati berbagai hal yang berat. Katakanlah apa yang ingin kamu katakan. Aku akan menjadi pendengarmu yang baik."
Aku menarik nafas dalam sambil melepaskan pelukan Lucas dari tubuhku. Kemudian aku menyandarkan tubuhku pada kursi penumpang depan mobil untuk beberapa saat. Setelah hati dan pikiranku terasa lebih tenang aku berkata, "Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Aku sering mengalami perasaan yang kacau secara tiba-tiba. Tadi... Tadi aku merasakan takut, marah dan cemas secara bersamaan. Segala kenangan buruk juga muncul dalam ingatanku. Apa aku telah melakukan kesalahan, Lucas? Maaf jika aku telah melakukan hal yang di luar kendaliku."
Lucas yang duduk di sampingku menatapku beberapa saat lalu bertanya, "Lula, apa kamu tidak ingat dengan apa yang kamu katakan tadi?"
"Apa kata-kata kasar itu sangat mengganggu pikiranmu?"
"Ya. Ucapan Albert yang mengatakan bahwa aku adalah wanita sial sering terngiang di telingaku. Aku juga sering teringat pada kejadian dimana aku kehilangan Adrian. Aku selalu merasa takut dan cemas setiap kali teringat pada kejadian itu."
Lucas kembali menatapku tanpa berkata apa-apa cukup lama. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit di mengerti, membuatku yang merasa tidak nyaman pun bertanya, "Lucas? Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"He'em... Lula, sebelumnya aku minta maaf. Jika aku mengatakan apa yang ada di pikiranku, aku harap kamu tidak akan tersinggung."
"Katakanlah apa yang ingin kamu katakan, Lucas. Aku tidak akan marah sekalipun kamu menghinaku."
"Tidak. Aku tidak akan menghinamu apalagi berkata buruk padamu. Aku hanya ingin mengajakmu ke psikiater."
"Psikiater?" Aku bersuara dengan wajah tidak senang.
"Jangan salah paham dulu. Aku mengajakmu ke psikiater hanya untuk mengecek kesehatan mentalmu. Karena aku rasa ada yang tidak biasa dengan sikapmu semenjak pulang dari Bhutan. Saat kamu terlihat baik-baik saja, sikapmu bisa berubah seketika seperti orang ketakutan atau marah tanpa sebab. Kamu yang sekarang tidak seperti Allura yang aku kenal dulu."
__ADS_1
Mendengar ucapan Lucas yang membandingkan diriku yang dulu dengan sekarang, membuatku merasa kesal. Dengan wajah datar aku berkata, "Allura dan Lula tentu saja berbeda. Meski kalian mengatakan ada yang berbeda pada diriku, tapi aku yakin bahwa aku baik-baik saja. En... Mungkin saja itu semua semua terjadi karena hormonku yang tidak stabil saat hamil. Jadi kamu tidak perlu membawaku ke psikiater untuk memeriksakan diri. Semua akan baik-baik saja."
"Baiklah. Jika kamu tidak ingin pergi bersamaku untuk memeriksakan diri, tidak apa-apa. Aku berharap itu semua terjadi hanya karena hormon kehamilanmu yang tidak stabil."
****
LUCAS
Beberapa kali melihat sikap aneh Allura Gibson selama tinggal bersamaku, membuatku yang peduli padanya merasa khawatir. Suasana hatinya yang sering kacau dan mudah berubah-ubah hingga melakukan beberapa hal di luar nalar, membuatku yang melihatnya juga terus memikirkannya. Allura Gibson yang aku kenal dulu adalah seorang wanita yang pintar, elegan, ceria dan sangat menyenangkan. Namun setelah ia mengalami permasalahan rumah tangga, ia berubah menjadi seorang wanita yang murung, tidak bergairah dan sulit untuk dimengerti. Di saat ia teringat akan masa lalu yang buruk, ia tidak hanya berteriak ketakutan seolah kembali ke masa lalu. Tapi ia juga sering mengacaukan isi rumahku dan merusak barangku disaat ia tidak mampu mengontrol emosinya yang berubah-ubah.
Merasa tidak tega melihatnya yang tersiksa dan juga merasa penasaran dengan apa yang terjadi padanya, membuatku memutuskan untuk memeriksakan kesehatan Allura Gibson. Awalnya ia menolak untuk aku bawa menemui seorang psikiater yang merupakan kenalanku. Namun setelah aku membujuknya cukup lama, akhirnya ia mau pergi bersamaku untuk memeriksakan diri. Ia di periksa beberapa saat di dalam ruangan khusus. Saat ia telah menyelesaikannya dan duduk di ruang tunggu, aku pun memasuki ruangan psikiater untuk menemui temanku.
"Jadi apa yang membuatmu datang kemari, Lucas? Selama kita berteman, baru kali ini aku melihatmu datang ke tempat kerjaku." Isaak bertanya padaku yang duduk di hadapannya.
"Ya, ini pertama kalinya aku datang ke tempat kerjamu. Biasanya kita hanya bertemu di luar saja."
"Apa kamu ingin memeriksakan diri? Apa mentalu sedang bermasalah?" Isaak kembali bertanya padaku dengan nada bercanda.
"Bukan, Isaak. Kedatanganku kemari bukan untuk memeriksakan diri. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu tentang temanku yang baru saja keluar dari ruangan ini bersama perawatmu."
"Apakah wanita cantik yang sedang hamil tadi adalah temanmu?"
"Ya, benar. Ia adalah sahabat Felicia, Isaak. Jika aku boleh tahu, apa yang sebenarnya yang terjadi padanya?"
Isaak memperbaiki posisi duduknya dan menyentuh beberapa lembar kertas yang ada di atas meja kerjanya. Ia terdiam beberapa saat membaca lembaran kertas tersebut yang kemungkinan adalah hasil pemeriksaan milik Allura Gibson. Kemudian ia menjawab, "Baiklah. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, teman wanitamu itu sepertinya mengalami Distimia."
"Distimia?"
"Ya, Distimia. Distimia itu merupakan gangguan depresi parsisten atau depresi kronis jangka panjang. Apakah minatnya menjalani kehidupan sehari-hari semakin menurun setiap harinya?"
"Ya, benar. Bahkan aku merasa suasana hatinya semakin lama semakin memburuk. Ia tidak lagi produktif seperti dulu. Ia selalu merasa rendah diri dan putus asa."
Isaak menganggukan kepala seolah memahami penjelasanku. Kemudian ia berkata, "Ya, pengidap gangguan depresi parsisten akan sulit merasakan senang, bahkan pada saat-saat bahagia sekalipun. Ia seperti memiliki kepribadian suram, tidak mampu bersenang-senang hingga mudah mengeluh."
"Apakah Distimia itu sama dengan depresi berat, Isaak?"
__ADS_1
"Meskipun Distimia tidak separah depresi berat, tapi perasaan depresi pengidapnya dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Jika penyakit itu merupakan sifat bawaan, itu diakibatkan oleh adanya kerabat yang memiliki kondisi tersebut. Jika itu disebabkan oleh kejadian dalam hidupnya, seperti kehilangan orang yang dicintai atau masalah keuangan, tingkat stress yang tinggi dapat memicu gangguan depresi parsisten tersebut."