
Apa ada yang mau menikah dengannya juga? Atau haruskah ia minta Lina juga mengenalkan pada seseorang agar bisa menikah?
"Bisu."
Nabila menengok, terkejut menemukan Rahwana di balkon lantai atas. Buru-buru Nabila menutup jendela, menutup tubuhnya dengan selimut.
Sejak Nabila ketahuan diberi makan oleh Rahwana, ia sudah bersumpah tidak akan mengajak dia bicara lagi. Nabila tidak mau melakukan sesuatu yang membuatnya merasa sakit lagi.
Sementara itu di atas sana Rahwana heran kenapa Bisu bersembunyi. Anak itu sudah lupa tentang kejadian waktu itu, makanya Rahwana heran.
Rahwana menyelinap keluar dari kamar, turun ke lantai dua, mendorong pintu kamar Nabila agar terbhka.
"Bisu."
Nabila tersentak takut. Anak itu masih ingat bagaimana marahnya Elis saat Rahwana ketahuan mengajak Nabila bicara.
"Bisu, ini aku."
Nabila memberontak saat Rahwana menyentuh selimutnya. Gadis kecil itu berlari ketakutan menuju sudut kamar, meringkuk dengan badal gemetaran.
Yang ada di kepalanya hanya ketakutan.
Ia takut dipukul.
Ia takut dicubit.
__ADS_1
Ia takut disalah-salahkan atas apa yang ia rasa tidak dilakukan tangannya.
"Bisu." Rahwana meletakkan permen di atas lantai secara terpaksa, karena Nabila tidak mau mendengarnya. "Nih, Om Zayn yang ngasih."
Nabila tertegun mendengar nama Om Baik Hati. Gadis itu akhirnya mau melihat Rahwana, lalu melihat permen di atas lantai.
"Tadi waktu kamu ke pasar, Om Zayn dateng ke rumah. Dia bilang enggak bisa nungguin kamu soalnya lagi sibuk."
Nabila pelan-pelan mendekat, mengambil permen itu. Biasanya Nabila akan langsung memasukkan sesuatu ke mulutnya karena ia lebih sering merasa lapar, tapi ia merasa ingin menyimpan permen ini daripada memakannya.
Om Baik Hati akan datang lagi nanti kan?
"Bisu," panggil Rahwana dengan suara lemah. "Aku ... bakal jagain kamu mulai sekarang."
Eh?
Nabila tersentak. Mulutnya terbuka ingin bertanya apakah nanti mereka pergi juga setelah menikah, tapi mulutnya kembali tertutup karena tak ada suara.
Pertanyaannya hanya bisa disampaikan lewat tatapan yang sayangnya belum bisa dimengerti oleh Rahwana.
Bocah lelaki itu melihat Nabila sambil mengingat percakapannya dengan Zayn siang hari tadi.
"Kamu baik-baik sama Nabila."
"Namanya Bisu itu Nabila, Om?"
__ADS_1
"Iya. Tapi mending kamu panggilnya Bisu aja, soalnya mamamu pasti bakal marah."
"Emang kenapa?" Rahwana selalu mempertanyakannya. "Kenapa Mama enggak suka banget sama Bisu? Emangnya Mama sama Papanya Bisu beneran jahat? Kalo iya, kok Bisu yang dipukul? Kenapa bukan Mama sama Papanya Bisu aja?"
"Om juga enggak tau. Itu kan terserah Mama kamu." Zayn tersenyum. "Tapi yang jelas, kamu harus jagain Nabila. Harus. Itu janji kamu ke Om yah."
"Kenapa harus?"
"Karena," Zayn berjongkok, meraih bahu Rahwana untuk berbisik di telinganya, "dia calon istri kamu."
Rahwana terkejut. "Calon istri?"
"Iya. Nanti kalo kamu besar, kamu bakal nikahin Nabila."
"Enggak. Dia penyakitan kata Mama."
"Itu cuma omongan Mamamu. Kalo Nabila beneran penyakitan, mana mungkin dia dibiarin tinggal di rumah kamu. Terus Om juga gendong dia tapi Om sehat-sehat aja tuh."
Iya juga yah, begitu pikir Rahwana.
"Rahwana, laki-laki sejati itu selalu jagain perempuan, apalagi perempuan lemah. Kalo kamu enggak jagain Nabila, artinya kamu bukan laki-laki."
Rahwana merasa bahwa ia adalah laki-laki maka dari itu Rahwana bersumpah akan menjaganya.
Meskipun ia belum sepenuhnya paham kenapa.
__ADS_1
*