
Selepas makan malam bersama, Aku dan Ruby masuk kamar atas perintah Mama.
Mama juga mau istirahat katanya setelah makan dan minum obat.
Jujur aku kikuk.
Aku meminta maaf kepada Ruby karena kondisi kamarku yang pastinya membuat dia illfeel.
"Enggak koq. Kamarmu masih lumayan untuk ukuran anak laki-laki. Eh tapi bukannya dulu kalian tinggal di daerah kali pasir ya? Dan rumah itu agak besar kayaknya."
"Disana ngontrak. Kita pindah ke sini karena ini rumah warisan dari kakek nenek."
"Oh, begitu."
Dulu Ruby pernah datang ke rumah lama kami ketika acara ulang tahun bersejarah itu. Umur tujuh belas yang membagongkan. Ada ibu-ibu yang datang mengobrak-abrik pestaku.
Dan sejak itu aku dibully teman-teman dengan sebutan anak pelakor.
"Apa kamu tidak pernah ketemu Papamu lagi, Ga?"
"Untuk apa?"
"Untuk tahu kabarnya setidaknya. Dia juga wajib bertanggung jawab atas dirimu kan? Apalagi, setahuku pak Yoseph Indrawan itu pernah duduk di gedung DPR komisi berapa gitu!"
"Hm. Itu urusan dia. Bukan urusan gue!"
"Dih? Ini orang! Diajak ngobrol alon-alon dia ngegas!"
"Jangan bahas orang itu!"
"Setidaknya Lo kan bisa cari tau tentang bapak kandungmu itu! Bisa minta kerjaan sama dia! Berapa saudara Lo dari dia. Lo juga berhak dapat warisan dari dia!"
"Hm."
Aku pura-pura tak mendengar ocehan Ruby yang makin membuat jantungku berdebar kencang.
Yoseph Indrawan. Orang yang menjadikan aku ada di dunia ini.
Hhh...
Sudahlah. Aku malas bahas dia. Gak da guna. Hanya buat hati luka saja.
"Setidaknya Lo harus tau, gimana keadaannya. Apa masih hidup atau masih dalam penjara. Iya kan?"
"Thanks atas perhatian Lo!"
"Hhh... Susah ya ngomong sama kulkas freezer!"
Aku hanya bisa garuk-garuk kepala. Menyeringai tak jelas.
Terbersit rasa iba melihat Ruby bersimbah keringat.
Kamarku kecil dan pengap.
Jangankan AC, kipas angin butut pun sudah tiga bulan ini hilang fungsi. Cuma sekedar aksesoris belaka yang ng*e***jugrug di pojok meja kamar.
Aku terbiasa hidup begini.
Tidak seperti Ruby.
Tanpa sadar, tangan ini berjalan mengusap peluh yang ada di pelipisnya.
"Panas ya? Sebaiknya Lo pulang deh! Kipas angin gue rusak. Ga ada AC. Gimana bisa Lo betah tidur di kamar yang mirip oven Bima sakti ini."
"Hehehe... cuma semalam gak apa koq! Lo pikir gue semanja itu. Cih! Jahatnya nuduh terlalu jauh!"
"Bukaan... Secara Lo lagi hamil. Panasnya parah kalo malem tanpa AC di sini. Gue ga mau Lo besoknya sakit. Tar bokap Lo marah sama gue!"
"Ga lah! Jangan lebay deh!"
Tok tok tok
"Anggaaa! Rubyyy!"
Mama terdengar memanggil kami di depan pintu kamar setelah mengetuk.
__ADS_1
"Iya, Maa..."
Aku bergegas membuka pintu.
Krieeet
Terlihat Mama berdiri dengan tangan menenteng kipas angin yang ada di kamarnya.
"Mama lupa bawa kipas anginmu servis di mang Oleng, Ga! Ini, pakai dulu kipas angin punya Mama."
"Ga usah, Ma. Mama nanti kepanasan juga."
"Kamar Mama ada jendela. Kamar Angga gak ada jendela. Pakailah untuk malam ini. Maaf ya Ruby!"
"Mama minta maaf melulu. Lebaran masih jauh!" celetukku langsung mendapat cubitan kecil Mama yang mematikan.
"Adauww!"
Aku meringis karena pedasnya cubitan Mama, hanya direspon tawa Ruby yang sedang duduk di pinggir ranjang.
"Selamat istirahat!"
"Terima kasih, Ma!" kata Ruby.
Mama mengangguk tersenyum.
Kami kembali berduaan.
Mulai kikuk dan bingung karena ranjang tidurku tidak sebesar ranjang tidur hotel dan ranjang kamar tidurnya Ruby.
Otomatis kami berbaring benar-benar saling sentuhan kulit ketemu kulit.
Hm.
"Sempit ya? Aku tidur di luar aja deh nanti malam. Kamu di sini."
"Jangan! Nanti Mama curiga!"
Kami saling tatap.
"Kita pasrah dengan keadaan. Darurat ga apa."
Aku tersenyum tipis. Sok-sokan bijaksana, padahal wajahnya terlihat panik karena ranjang kayuku terdengar suara 'kreoot'. Suara kerapuhan yang siap ambruk kapan saja.
"Ternyata Mama kerja di PT GA!" katanya lagi.
"Memangnya kenapa?"
"Itu..., perusahaan Mami. Dan aku kerja juga di sana. Tapi gak setiap hari karena aku BA dan akuntan eksekutif Mami."
Wow, gokil!
"Definisi putri Sultan Sultoni Lo ya?!"
"Apaan sih?! Itu cuma bonus hidup gue. Hehehe..."
"Enaknya, jadi anak orang kaya." Timpalku membuat Ruby bersungut-sungut.
"Andai Mama mau ikut tinggal di rumah ku!" gumamnya kemudian membuat aku menatap tajam wajahnya yang cantik.
"Jangan bikin keputusan sembarangan! Mama nyaman di rumah ini. Begitu pun gue. Hanya Lo yang terbiasa tinggal di rumah mewah!"
"Koq jadi sinis!?"
"Bukan sinis. Tapi menyadarkan Lo dari kenyataan! Dah lah, tidur! Lo pasti capek!"
Ruby terlihat ngambek.
Dia membalikkan tubuhnya dan tidur memunggungiku.
Bodo amat ah! Males gue ngebaikin Lo terus!
Aku masih duduk di atas ranjang.
Hanya diam termangu menyadari hidup yang bagaikan di alam mimpi.
__ADS_1
Dalam waktu kurang dari seminggu, hidupku totalitas berubah.
Dari bujangan yang bebas sebebas burung merpati, bisa pergi dan berbuat sesuka hati, kini aku beristri.
Istriku anak orang kaya, tajir melintir dan sarjana karyawati bonafit.
Aku? Ya beginilah.
Pengangguran setelah tiga bulan yang lalu tempat basah ku di oper alih fungsinya. Dan otomatis pekerjaanku hilang sebagai mandor lahan parkir di sana.
Padahal dua tahun itu aku cukup banyak uang sebagai kepala juru parkir. Sebulan bisa sembilan sampai sepuluh juta kukantongi. Tapi sekarang, hhh... Bokek bin tongpes. Alias kantong kempes.
Hawa panas membuatku tak tahan dan membuka kaos polo yang kupakai.
Lumayan mengurangi rasa hareudang yang menyiksa.
Kipas angin sengaja kuarahkan lebih dekat ke Ruby agar perempuan itu nyaman dan tak terlalu kepanasan.
Tapi celana jeans yang kupakai masih membuat tidurku tak nyaman.
Aku mengingat celana-celana selututku dalam lemari.
Pasti jauh lebih nyaman berganti celana. Begitu pikirku.
Kutengok Ruby. Sepertinya sudah tertidur.
Aku bangkit membuka lemari kayu dan mengambil celana pendek untuk kukenakan tidur malam ini.
Semoga saja anak itu beneran udah tidur! gumamku dalam hati dan mulai menurunkan jeans yang kupakai.
"Aaa...upsss!"
Sontak aku terkejut setengah mati.
Ruby teriak tapi langsung ditekap sendiri mulutnya.
Matanya menatapku tak berkedip. Tentu saja aku jadi jengah dibuatnya. Sepertinya dia shock melihatku hanya memakai CD saja.
Segera kukenakan celana pendek dan t-shirt oblong favoritku.
Dia tersadar. Wajahnya bersemu merah sembari menunduk dan tersipu malu.
"Dulu... Lo kerempeng. Sekarang ternyata, hehehe..."
Aku tersipu.
Dia kaget liat bodi gue roti sobek ternyata. Hoho... lumayan lah, kotak-kotak. Dua tahun pacaran sama anak pemilik gym. Ya gue manfaatin kesempatan buat membentuk tubuh. Meskipun ujung-ujungnya kami putus gara-gara dia minta di lamar. Hhh... Secara gue ga punya modal. Cuma punya tampang sama cinta doang. Daripada dia tersiksa hidup merana nikah sama gue yang 'tak berpunya'. Mendingan gue cut hubungan yang mengarah serius itu. Biar dia cari ganti pria mapan yang siap nikahin karena punya uang.
"Dulu gue cupu ya?"
"Sekarang suhu?" selanya membuat aku tertawa.
"Sekarang gue kacung nona Ruby Permatasari."
"Dih!?! Kalimatnya rasis banget sih!"
"Ga. Itu kenyataannya. Udah, tidur. Besok kita pulang ke rumah mewah Lo."
"Sakit perut."
Seketika mataku melotot.
"Sakit... perut? Ke kenapa?"
"Mau BAB." Bisiknya pelan.
Gue lupa. Kamar mandi di rumah ini cuma satu. Itu pun letaknya di luar kamar. Agak menjolok ke dapur.
"Hhh... Ayo, cepetan!"
Ruby tersenyum dan bangkit dari tempat tidur.
Entah mengapa. Padahal kami baru menikah dua hari yang lalu. Tapi rasanya seperti sudah menikah berbulan-bulan. Kami saling terkoneksi satu sama lain.
BERSAMBUNG
__ADS_1