
Cleo kembali ke kamarnya dengan membawa hadiah dari sang mama, entah kapan ia mampu untuk memakainya. Cleo terkejut saat melihat Naoki sudah ada di kamar, laki-laki itu duduk berselonjor sambil memainkan ponselnya, Cleo buru-buru menyembunyikan kotak hitam itu dibelakang punggungnya.
"Bawa apa kamu?" tanya Naoki tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Nggak, nggak bawa apa-apa kok," kilah Cleo.
Gadis itu berjalan menyamping seperti kepiting, demi menyembunyikan pakaian haram itu. Cleo tidak bisa membayangkan jika Naoki sampai tahu apa yang ia bawa.
Setelah Cleo sampai didekat lemari buru-buru ia memasukkan kotak berisi baju dinas itu.
"Huft ...aman," ucap Cleo lirih.
Dasar emak-emak nggak ada akhlak, bisa-bisanya nyuruh aku pake baju ginian. Seksi enggak yang ada malah masuk angin," gerutu Cleo pelan, ia tidak ingin Naoki sampai mendengarnya.
"Belajar ngomong sama lemari, atau kamu memang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Naoki, seolah ia tidak tahu. Tanpa Cleo sadari Naoki terus memperhatikannya, meskipun pria itu tidak tahu apa yang disembunyikan istrinya.
"Eh ... Nggak, mana ada." Cleo segera menutup lemarinya.
"Ki, kamu udah tahu rencana resepsi pernikahan kita?" tanya Cleo untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Naoki tersenyum tipis, ia tahu maksud Cleo. Namun, hari ini ia tidak ingin menggoda Cleo lebih jauh.
"Tahu, emang kenapa? Apa kamu nggak setuju?"
Cleo melangkahkan kakinya mendekat, ia kemudian duduk di tepi ranjang, dengan posisi memunggungi suaminya.
"Apa kamu nggak berpikir ini terlalu cepat? satu bulan lho, bukankah kamu juga belum wisuda?" tanya Cleo balik.
"Acara pas kok, seminggu setelah aku wisuda. Aku sudah kelar sidang skripsi juga, tinggal tunggu acara wisuda aja," jawab Naoki enteng.
"Pastesan anteng banget," gumam Cleo lirih.
"Lagi pula, acaranya juga nggak mengundang banyak orang. Hanya saudara dekat dan beberapa rekan kerja papa kamu dan papa aku, teman mama- mama kita juga sih," jawab Naoki.
"Itu sama aja banyak, ki." Cleo melipat kedua tangannya dengan memasang muka masam.
"Ya setidaknya, acaranya nggak akan diliput oleh media. Dah lah kamu tenang aja, kamu masih bisa menjalani hidup seperti apa yang kamu mau, meskipun kita sudah menikah. Kamu boleh kuliah, kumpul bareng temen-temen kamu, aku nggak akan melarang kamu untuk melakukan hal itu, asal kamu tau batasan saja."
"Batasan?" tanya Cleo.
__ADS_1
"Ya, ingat saja kalau kamu sudah mempunyai seseorang yang kamu panggil suami!" jawab Naoki dengan tegas.
"Iya aku mengerti." Cleo menunduk kepalanya.
Cleo tahu statusnya sekarang sudah berbeda, ia bukan lagi seorang wanita lajang yang bebas kesana-kemari dengan teman-temannya. Nama baik yang harus ia jaga, Cleo tersenyum kecut. Meskipun Naoki berkata mengizinkannya untuk melakukan apapun, tetapi ia juga mengingatkan Cleo akan statusnya sebagai seorang istri. Seorang istri harus patuh pada suaminya, kemanapun ia pergi harus atas seizin sang suami. Setidaknya begitulah yang Cleo lihat dari orang tuanya, bagaimana sang mama sangat menghormati papanya.
Naoki, meletakkan ponselnya diatas nakas, ia merenggangkan otot-ototnya. Rasanya sangat melelahkan, sepanjang malam kemarin ia tidak tidur semalaman memikirkan keadaan Cleo yang ia tinggalkan dalam keadaan tidak sadar.
"Aku ngantuk mau tidur," pamit Naoki.
"Hem."
"Cuma hem?"
"Tidurlah, aku tidak akan menganggu mu."
Cleo berangkat dari tempat tidurnya, ia berjalan kearah balkon kamarnya, meninggalkan Naoki yang mulai merebahkan tubuhnya.
Cleo menoleh sejenak pada Naoki, laki-laki itu begitu cepat terlelap. Seperti mimpi, kebodohan Cleo membawanya dalam pernikahan diusianya yang masih dini. Mungkin ada yang memilih untuk menikah diusia Cleo sekarang ini, tetapi Cleo tidak pernah berpikir untuk menikah saat ini.
Cleo duduk bersila di lantai balkon, ia menghirup nafas dalam. Sebuah senyum getir tersungging dibibirnya yang mungil.
Air mata Cleo mulai jatuh, air mata yang ia tahan sejak ia sadar tadi malam. Cleo membekap mulutnya sendiri, ia tidak ingin suara tangisnya membangunkan Naoki, Pria itu pasti sangat kelelahan, Cleo bisa melihat wajahnya, kantong mata Naoki juga sedikit menghitam, ia pasti tidak tidur semalaman.
Cleo menunduk, kecewa dan marah pada dirinya sendiri. Tidak ada yang salah dalam hal ini, hanya dirinya yang terlalu bodoh.
Sebuah tangan melingkar di bahunya, memeluk Cleo dari belakang. Cleo terkejut, Naoki menyandarkan kepala Cleo di bahunya, hingga kepala Cleo sedikit mendongak keatas.
"Kenapa kau bangun? Apa aku menganggu mu?" Cleo memalingkan wajahnya, ia tidak bisa menatap mata Naoki terlalu lama.
"Apa aku bisa tidur? Sedangkan Istriku menangis sendirian di sini."
Naoki mengangkat tubuh Cleo dalam dekapannya. Cleo terhenyak, ia merasakan tubuhnya melayang sebelum ada dalam gendongan Naoki.
"Ki, A-Aku bisa jalan sendiri."
"Diamlah, menurutlah sebentar."
Cleo pun diam, Naoki membaringkan tubuh Cleo di ranjang, kemudian ia membaringkan dirinya di sebelah Cleo. Naoki memeluk tubuh kecil istrinya.
__ADS_1
"Lain kali, jangan menangis sendiri. Kau harus menangis di sini," ucap Naoki sambil menepuk pelan dada bidang miliknya.
"Mengerti!" Cleo hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Sekarang tidurlah, aku sangat lelah."
Cleo mengangguk lagi, entahlah hari ini ia benar-benar membiarkan dirinya terbawa begitu saja dengan sikap Naoki. Apa seperti ini rasanya punya suami? ada yang akan memelukmu saat sedih, ada yang menemanimu tidur dengan pelukannya hangatnya.
"Ki, nanti sore jajan ya," pinta Cleo.
"Iya," jawab Naoki dengan matanya yang terpejam.
"Beneran, aku mau makan bakso setan, seblak sama sate ayam."
"Hem."
"Agak jauh lho, nggak apa-apa kan?"
"Hem."
"Aku juga pengen makan sempol deh, dah lama nggak makan itu. Kebab yang mangkal di depan apotik enak juga, kamu pernah nyobain nggak."
"Hem."
"Kok, hem. Yang bener dong jawabnya, iya apa nggak."
Naoki membuka matanya, ia mencubit hidung Cleo dengan kuat, saking gemasnya.
"Uh ... Sakit!" pekik Cleo.
"Baru aja nangis, sekarang udah mau ini itu. Cepetan tidur, kalau nggak. Aku cium kamu sampai lemes," ancam Naoki dengan wajah garang.
Cleo membekap mulutnya, ia menggelengkan kepalanya cepat.
"Iya ...iya tidur." Cleo segera memeluk Naoki, menepuk-nepuk pelan punggungnya seperti menidurkan anak kecil.
"Tidur ya, anak baik tidur. Jangan marah-marah," bisik Cleo lembut.
Tanpa sadar Cleo menyusupkan dirinya dalam pelukan Naoki. Pria itu tersenyum kecil, ia pun memeluk erat istrinya mengusap lembut pucuk rambut Cleo.
__ADS_1
Untuk pertama kali kedua tidur bersama, bertutupkan selimut bergambar Doraemon, kedua terlelap. Hari yang begitu panjang bagi keduanya, pasangan yang baru akan menjalani lika-liku kehidupan dalam berumah tangga.