
Roooor rooor rooorrr ...
Rooor rooor rooor ...
Sesampainya mereka di arena balap liar, langsung saja di suguhkan dengan suara kenalpot yang sangat memekakkan telinga, tapi bagi mereka suara-suara tersebut sudah biasa dan tidak terasa asing sama sekali di telinga.
''Gile ... mantep banget dah nih cewek-cewek, mau liat balap liar? Apa mau ngeclub kalian pada?'' komentar Geo yang melotot, karena di suguhkah dengan pemandangan indah tersebut.
''Parah banget susunya ampek gundal-gandul kayak gitu, padalan cuma ngasih semangat ke yang balapan,'' tambah Bintang dengan frontal.
''Tang, amit-amit dah lo, frontal banget.'' Ujar Rino yang juga melihat ke arah pemandangan tersebut.
''Kalo di liat-liat panasan di sini gak sih? Ketimbang di club? Ceweknya juga berfariasi,'' sanggah Kiano.
Neta yang sudah melihat kebobrokan meraka hanya bergeleng-geleng ria, kalo masalah cewek cakep sama bahenol siapa yang gak suka, batinnya.
''Okeh gais, di sini kita mau liat BALAP LIAR yah, bukan CABE-CABEan,'' ujarnya yang sengaja memperjelas kata tertentu itu.
''Wkwkw, santai Net, kita pada gak lupa ama tujuan awal kita ke mari kok, yaudah ayok kesana, yang lebih deketan, biar keliatan lebih jelas.'' Pungkas Rino yang mengajak Neta.
''Yok lah,'' jawab mereka semua.
***
''Cepet bawak Keano ke rumah sakit, dan elo Lintang, urus sisanya, gua gak mau tau, pokoknya elo harus bawa dalangnya ke hadapan gua.'' Pungkas Neta dengan netra yang menajam.
Saat mereka lagi asik-asiknya berceloteh ria dan melihat pemandangan yang sangat asik untuk di lihat, tiba-tiba ada yang melempari Keano dengan krikil, Rino yang tidak terima ikut membalaskan apa yang sudah pelaku perbuat.
Neta yang melihat teman-temannya asik saling melempar krikil, hanya diam dan melihat keseruan apa yang terjadi nanti.
Sementara di geng sebelah mulai melempar dengan kerikil yang agak besaran, karena tidak terima akan dirinya yang terkena kerikil-kerikil tersebut, yang memulai duluan dia tapi dia juga tidak terima kalo balik terkena. Anak babi memang.
''Adohhh, wahh mereka ngajakin kita berantem nih, mereka pakek kerikil yang besar loh, ati-ati gais.'' Peringat geo kepada teman-temannya.
''Ayo, kita pergi aja, nanti tambah parah kalo kita ladenin,'' ujar Neta dengan khawatir akan keslamatan teman-temannya.
''Gak bisa gitu aja Net, gua masih gak terima, nih pala gua ampek benjol loh ...'' sanggahnya yang tak terima.
Saat Lintang belum sempat menyelesaikan pembicaraannya dengan Neta, suara rintihan terdengar dari arah Keano.
__ADS_1
''Auhhh ... bangsat pala gua bocor asu, ini mereka gila apa yak.'' Keano yang masih bisa mengumpat.
''Elo gapapa Ken? Rumah sakit yok.'' Ajak Neta dengan khawatir.
''Biar gua bonceng,'' tawar Rino kepada Keano.
''Cabut ...'' ujar Neta lalu mengegas sepeda motornya.
***
Rumah sakit Harapan kita, 23.35 pm
"Suster ... tolongin temen saya!" ujar Rino panik.
"Iyah Sus, cepetan. Nih anak bisa sekarat kalo gak cepet-cepet di tanganin," ujar Bintang yang ikutan panik.
"Gak sekarat lagi! Tapi bisa nyampek di pintu Shurga nih nyawa ..." Tambah Neta supaya keadaan makin panas.
"Gile lo pada, gua masih perjaka ting-ting juga, mana mungkin hanya luka kecil, nyawa gua melayang ke Shurga, yang kerenan dikit dong!" ujarnya yang masih bisa bercanda.
"Terus apa?" jawab Neta dengan penasaran.
"Loh gila dah, udah diem loh." Ucap Rino yang mendengar omongan ngawur Keano.
Namanya persahabatan dari piyik, suka duka pasti di lewatin bareng, kalaupun ada yang sakit di antara mereka, pasti teman-temannya pada khawatir dan sedangkan si korban, masih bisa ngejawab dengan somplak apa yang di khawatirin teman-temannya.
"Maaf, Mbak-Mas kalian tidak boleh ikut masuk, sesuai dengan prosedur yang ada di Rumah sakit."
"Tapi Sus, kan kita mau nemenin ni anak ..." ujarnya memelas.
"Maaf, tidak bisa."
"Udah lah Rin, biarin para ahli yang ngerawat, kita tunggu disini aja." Ujar Neta yang bernada dingin.
"Hemm okeh."
***
Di lain tempat, Dimas riwa-riwi gak jelas di dalam kamarnya sambil mengecek benda segi panjang tersebut. Orang yang membuat dirinya khawatir sampai sekarang, belum juga ngebalas pesan, ataupun mengangkat telpon darinya.
__ADS_1
"Mana tu anak ... masak iya masih ngambek, orang besok udah sekolah. Masak iya, gua nyatroni lagi tu istana gedeh banget!" serunya dengan jengkel karena sang pelaku tidak mengabarinya sedari siang.
"Besok gua samperin ke rumahnya aja dah, kalo sekarang gak enak sama Papanya, mending gua tidur besok juga kerja." Finalnya yang mengakhiri ke khawatirannya sedari tadi.
***
Setelah Lintang mencari tau informasi tersebut, akhirnya yang di tuju terselesaikan, tidak sia-sia dirinya, masuk ke dalam geng tersebut dan menyamar sebagai anggota dalam geng itu.
"Nyawa harus di bayar nyawa dan darah harus di bayar dengan darah, tunggu pembalasan dari kelompok gua, meskipun elo semua pada gak sengaja udah ngelakuin ini semua terhadap temen gua," batinnya yang kemudian melangkah mundur teratur, ke barisan belakang geng tersebut.
Setelah sampai di sepeda Motornya, Lintang mengabari Geo supaya cepet kumpul di area yang sudah di setujui tadi.
"Gimana? elo udah ketemu sama pelakunya!" ujar Geo dengan penasaran.
"Udah. Gua udah nemu, tapi nanti aja bahasnya bareng-bareng, mending kita susulin anak-anak." Ujarnya dengan serius.
"Yaudah ayok."
***
"Bos ... kenapa elo biarin tu bocah pergi? Kan bisa kita abisin sekalian ..." ujarnya berapi-api.
"Santai Do, gua emang biarin tu anak pergi supaya Neta tau, kalau semua adalah kelakuan dari geng kita." Jawabnya dengan santai.
"Terus!" ujarnya yang masih tidak mengerti arah pembicaraan tersebut.
"Biar si Neta nyetujuin apa yang kita tantangin Minggu depan, dan pada saat itu juga Neta gak akan bisa kembali tampah cidera yang di alamin, dia gak akan bisa menang dan dapet taruhan yang gua pasang, elo tenang aja." Jawabnya menyeringai.
"Wah, elo bener bos. Pasti si Neta sekarang lagi mikirin, gimana cara bales dendam ke kita! Gua gak nyangka elo pinter banget bos." Ujarnya dengan gembira.
"Sapa lagi kalo bukan Daris, Raja jalanan, yang bakal nyelesain masalah ama tu Ratu payah." Jawabnya dengan penuh semangat.
"Bos Daris selalu nomer 1, di saat Neta lagi ambisi buat bales dendam dan gak bisa mikir jernih, di situ juga elo masuk dan ngehancurin semuanya." Ujar Edo yang berapi-api.
"Udah pinter lu Do ..." jawab Daris dengan santai.
Kenalin dulu, mereka dari geng Ancor yang beranggotakan cowok-cowok yang tidak bermoral, egois dan tidak pandang bulu. Di ketuai oleh Daris dan kaki kanannya adalah Edo, musuh bebuyutannya Neta dan kelompoknya sedari dulu jaman Smp ...
___________________________________________
__ADS_1
Gimana puasanya? Masih aman kah🤣! Aman dong kan para pembaca aku pada pinter-pinter. Segini dulu yah✍, semoga suka dan jangan lupa vote dan lope-lopenya❤, bay bay😉 salam dari kakak gemoy🤗