
Penikahan Asih dan Ibrahim berlangsung sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga besar keduanya. Kondisi perut Asih yang semakin membuncit membuat Bapak dan Ibu Asih memutuskan untuk mempercepat pernikahan Asih tanpa menunggu lagi kabar dari Prabowo.
Setelah menikahi Asih, Ibrahim bermaksud akan memboyong Asih istrinya untuk tinggal di rumahnya. Namun hal itu ditolak kedua orang tua Asih.
Mereka meminta agar Ibrahim tetap tinggal dirumah mertuanya sampai istrinya melahirkan nanti.
Terpaksa Ibrahim menuruti permintaan Bapak karena tak ingin menyakiti hati laki-laki tua itu yang hatinya telah terluka akibat kehamilan Asih.
"Im, aku minta kerelaan hatimu untuk tidak menyentuhku selama aku mengandung anak Prabowo," pinta Asih ketika mereka berdua telah berada di kamar pengantin dengan dekorasi seadanya yang dibuat Ibu untuk Asih dan Ibrahim.
Ibrahim menundukkan wajahnya. Tak mungkin bagi dirinya untuk menolak permintaan Asih, perempuan yang baru sore tadi dinikahinya.
"Baiklah..aku mengerti, kamu tidak mencintaiku Asih. Cintamu hanya untuk Prabowo. Tapi aku berharap suatu saat nanti kamu mau membuka hatimu untukku, Suamimu," ucap Ibrahim menyanggupi permintaan Asih.
"Terima kasih Im. Kamu sudah sangat banyak membantu aku. Walaupun aku sendiri nggak yakin, tapi semoga apa yang kamu harapkan itu akan terjadi. Aku bisa jatuh cinta kepadamu," ucap Asih sambil membuka gaung pengantinnya didepan Ibrahim.
Tanpa sungkan, Asih mulai melepas satu persatu semua benda yang menempel ditubuhnya hingga hanya menyisakan dua benda yang menutupi area penting milik Asih.
Ibrahim menelan salivanya.
Matanya diam-diam menikmati tubuh molek dan paras cantik istrinya tanpa berani menyentuhnya sedikitpun
Walaupun perut Asih sudah mulai membesar, namun tidak menutupi indah tubuh perempuan itu.
Bahkan Asih terlihat semakin seksi dengan perut buncitnya.
Tanpa disadari Ibrahim, birahinya mulai tertantang. Sebagai seorang laki-laki normal, wajar Ibrahim menginginkan lebih dari istrinya itu.
Namun apa daya, hingga Asih tertidur dibalik selimutnya dengan tubuh tanpa tertutup sehelai benangpung, Ibrahim tak mampu menuntaskan hasrat kelelakiannya.
Akhirnya Ibrahim hanya mampu beristiqfar dan menahan gejolak hasratnya, menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya memutuskan untuk tidak tidur seranjang dengan Asih.
Laki-laki itu memilih tidur di kursi panjang yang ada di sudut kamar itu.
__ADS_1
Sambil menikmati wajah cantik Asih, Ibrahim mencoba memejamkan matanya.
Akhirnya laki-laki itu tertidur dengan mimpi indah bermalam pertama bersama Asih, istrinya.
Hari demi hari dilalui Ibrahim di rumah mertuanya dengan membantu Bapak Asih mengelola sawah milik mereka. Selain itu sesekali Ibrahim menggantikan posisi Bapak sebagai imam masjid di kampung itu.
Beberapa bulanpun berlalu hingga saatnya bagi Asih untuk melahirkan bayi yang dikandungnya.
Seorang dukun beranak dikampung itu diminta Bapak dan Ibu Asih untuk membantu proses persalinan Asih.
Seorang bayi perempuan yang cantik akhirnya dilahirkan Asih dengan penuh perjuangan. Saat melahirkan, Asih sedikit mengalami kesulitan dikarenakan itu adalah kehamilan dan persalinan pertamanya.
Namun dengan pengalamannya berpuluh tahun menangani orang melahirkan membuat dukun beranak itu berhasil menolong Asih melahirkan bayi perempuannya.
Ibrahim, Bapak dan Ibu yang menunggu proses persalinan Asih diluar kamar berseru lega ketika terdengar tangisan bayi yang begitu keras memecah kebisuan malam itu.
"Alhamdulillaaah," ucap mereka serempak kemudian mencoba melongok kedalam kamar.
Ibrahim tersenyum, Ibupun demikian. Namun tidak dengan Bapak.
Laki-laki tua itu menampakkan wajah datarnya, benar-benar tanpa ekspresi. Dalam hati, Bapak menyesali kehadiran bayi mungil yang lahir dari rahim putrinya itu.
Namun disudut hatinya yang paling dalam, tak bisa dipungkiri Bapak kalau dirinya bahagia akhirnya memiliki seorang cucu.
Digendongnya bayi yang berada ditangan dukun kampung itu dan kemudian menyerahkannya kepada Ibrahim untuk di azanin.
Ibrahim menggendong bayi Asih dan mulai mengazaninya. Bayi mungil itu menggeliat ditangan Ibrahim. Bibirnya yang mungil mengulaskan sebuah senyuman untuk Ibrahim.
Saat itulah Ibrahim mulai jatuh cinta kepada bayi mungil itu.
"Beri dia nama Im," pinta Bapak begitu Ibrahim selesai mengazani cucunya.
"Ulfa...Ulfa Cahyani," ucap Asih tiba-tiba membuat semua orang dikamar itu sontak menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Ulfa Cahyani..itu nama pemberian Prabowo, Ayah biologis anakku," ujar Asih tanpa memperdulikan perasaan Ibrahim dan tatapan marah Bapak.
"Anak itu bukan lagi milik laki-laki jahanam itu. Sekarang Ayah anak itu adalah Ibrahim , bukan Prabowo!!" seru Bapak geram.
"Tapi Pak..!!" Asih mencoba menyela ucapan Bapak namun segera dihentikan Ibrahim yang tak ingin ada keributan disaat ada dukun kampung di kamar itu.
"Sudahlah Pak..Asih....tidak usah memperdebatkan siapa Ayah anak ini. Prabowo adalah Ayahnya, Aku juga sama..aku juga Ayah bayi ini. Anak ini tidak bersalah sama sekali. Jadi tolong..jangan mempermasalahkan hal yang tidak perlu dipermasalahkan," pinta Ibrahim sambil menyerahkan bayi itu ke pelukan Asih untuk disusui.
Dukun kampung yang masih berada di kamar itu hanya terdiam dan memutuskan untuk membantu Asih menyusui putrinya.
"Ayo kita keluar Pak...Bu, biarkan Asih menyusui putrinya dulu. Mbok, tolong ikut kami ke ruang depan ya. Ada yang mau saya bicarakan dengan Mbok," ucap Ibrahim sambil mengajak Ibu, Bapak dan Mbok dukun untuk keluar dari kamar Asih.
Setibanya di ruang tamu, Ibrahim mendekati Mbok dukun beranak yang telah menolong istrinya melahirkan dan menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke tangan perempuan tua itu.
"Mbok, tolong rahasiakan apa yang Mbok dengar barusan dikamar tadi. Anggap saja Mbok tidak mendengar apapun...iya Mbok??" pinta Ibrahim disambut anggukan kepala Mbok dukun itu.
"Iya nak Ibrahim, Pak Imam. Saya berjanji akan merahasiakan apa yang saya dengar tadi selamanya sampai saya mati," janji Mbok dukun.
Ibrahim tersenyum lega. "Terima kasih Mbok untuk kesediaan Mbok merahasiakan pembicaraan kami tadi,"
"Kalau begitu saya pulang dulu...nak Ibrahim, Pak Imam dan Bu Imam..saya pamit dulu. Nanti saya datang lagi untuk menyelesaikan tugas saya merawat Asih dan bayinya hingga Asih pulih kembali seperti sedia kala," Mbok dukun berpamitan dan menyalami Ibrahim, Bapak dan Ibu.
"Terima kasih Mbok," bisik Ibu sambil menjabat tangan Mbok dukun beranak itu kemudian Ibu mengantarnya hingga pagar pintu depan.
Sekembalinya ibu setelah mengantar Mbok dukun pulang, perempuan paruh baya itu kemudian menuju dapur untuk membuat dua gelas kopi hitam untuk suami dan menantunya serta segelas besar jamu untuk Asih.
Setelah meletakkan dua gelas kopi hitam diatas meja ruang tamu, Ibu kemudian masuk ke kamar Asih membawa jamu untuk Asih.
Wajahnya sendu melihat kondisi Asih yang terlihat masih lemas. "Susui anakmu hingga benar-benar kenyang Asih. Setelah itu minum jamu ini agar kamu cepat pulih dari sakit setelah melahirkan anakmu," ucap Ibu sambil meletakkan segelas jamu yang dibawanya tadi ke atas meja disamping tempat tidur Asih.
Asih mengangguk tanpa suara.
\=\=\=\=\=\=\=!
__ADS_1