
...**Halo guys!! selamat datang di cerita author....
...sebelumnya mohon maaf kalau kalian menemukan karya dengan judul (summer love) dan melihat nama tokoh karya itu dengan karya ini. berarti kalian menemukan karya (summer love) yang sudah direvisi! alurnya berbeda jauh ya sama yang sekarang....
...So happy reading 🤗**...
🍁🍁🍁
Tahun 2014
Setumpuk kertas ulangan yang banyak, membuat tri Azhari. Guru muda kelahiran tahun 1990 itu terlihat lelah dengan banyaknya pekerjaan, memberi nilai pada setiap kertas jawaban siswanya.
Karena hari pembagian raport tidak lama lagi, akhirnya gadis itu mulai mengkoreksi setiap jawaban siswanya. Yang paling pusing dikepala, yaitu jawaban siswa dengan tulisan dokter. Tidak jarang zhari harus meminta bantuan orang rumah untuk bisa mengerti tulisan seperti itu, tapi apa boleh buat. Ini kan cita-citanya dulu? Apapun itu harus disyukuri dong?
Saat otak kecilnya hampir meledak, sebuah langkah kaki terdengar di telinga zhari. Perlahan namun pasti, langkah kaki itu kian mendekat ke kamarnya.
Ceklek...
Suara knop pintu yang terbuka dibarengi seorang wanita berusia dua kali lipat usia zhari mendekat kearah meja kerja zhari.
"Bunda, ada apa?" Zhari menatap ibunya dengan heran.
"Gak ada apa-apa sayang, bunda hanya mau bilang. Cepet tugasnya diselesaikan, nanti mas Ozan beserta keluarga datang kerumah, kamu siap-siap ya. Mandi yang wangi, dandan yang cantik. Biar enak dipandang" Nanda begitu bersemangat, tangannya mulai mengelus puncak kepala anaknya.
Wajah zhari menekuk, dia menunduk dan hanya diam. Perasaan tidak enak mulai menggelayutinya, "bunda...." Suara zhari terdengar pelan.
Nanda mendekatkan wajahnya, "iya sayang? Apa kamu keberatan?"
Dengan mata berkaca-kaca, zhari menatap ibunya. "Apa boleh, Riri gak menikah? Ri-riri gak mau menikah dengan Fauzan. Riri lelah berontak, bunda. Kenapa harus Riri? Ada mbak Kamila juga kan?" Suaranya terdengar bergetar, terasa sekali kalau zhari berat melakukan apa yang keluarganya inginkan.
"Kenapa sayang? Keluarga Fauzan baik, mereka membantu usaha ayah Sampe ke ranah internasional. Kamu juga sama Fauzan sudah kenal sejak SMA, menurut bunda. Mungkin ini sudah ditakdirkan sayang" Nanda berusaha membujuk anak gadisnya lagi.
"Tapi Riri gak mau, Fauzan itu rese dan orangnya dingin. Riri gak mau nikah sama orang yang belum tentu dia bisa mencintai Riri, bunda harus ngerti. Riri tau mungkin ini takdir Riri perihal jodoh, hanya saja bukan seperti ini juga. Usia Riri baru 24 tahun, target Riri menikah 27 tahun bunda" air mata zhari luruh, butiran bening itu menetes kepipi cantiknya.
__ADS_1
"Tenangkan pikiranmu sayang, apa yang menurutmu buruk belum tentu buruk Dimata tuhan. Bunda yakin, kalian memang sudah ditakdirkan bersama. Dan Fauzan, eum... menurut bunda sikapnya ke Riri itu tanda cinta dan sayang. Udah ya, tenang dulu. Gak papa nangis, Riri boleh cerita ke bunda. Kalo ada apa-apa sama Fauzan, ya sayang" Nanda memeluk anaknya yang sudah menangis, pelukan seorang ibu memang begitu menenangkan.
Setelah sekian lama tangisan zhari pun mereda, mereka melepaskan pelukan dan menyuruh zhari untuk segera bersiap.
"Siap siap ya, nanti bunda tungguin dibawah." Nanda membingkai wajah zhari dan terus meyakinkan anaknya, Zhari hanya mengangguk dan segera bersiap.
Sedangkan dilantai bawah, sudah ada segerombolan anggota keluarga besar yang mencapai 12 orang. Ruangan keluarga yang cukup luas, hampir penuh saat keluarga besar itu mulai menduduki sofa yang tersedia. Salah satu orang dari 12 anggota keluarga itu adalah seorang pria tampan, berusia 25 tahun. Memiliki raut wajah tegas, garis rahang keras. Dan tinggi proposional, terlihat tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dia lebih memilih memainkan ponsel pintarnya dengan bosan.
Sampai semua pandangan orang tertuju kearah gadis muda, seorang guru ips disalah satu Smp negri. Yang tengah berjalan kearah mereka dengan senyuman getir dan seperti dipaksakan, ya. Gadis itu adalah Tri Azhari, malam ini dia terpaksa harus berdandan secantik mungkin demi permintaan kedua orang tuanya. Wajahnya yang ayu terpoles make-up natural, rambut hitamnya yang panjang terurai dengan indah. Tubuhnya yang begitu ideal berbalut dress feminim selutut, berwarna mocca. Kakinya yang panjang didominasi oleh sandal rumah yang sederhana, ditambah kulitnya yang begitu putih. Semakin menambah aura kecantikannya.
"Hai.." ucap zhari canggung, dia melambaikan tangan dan duduk disebelah ayah bundanya.
Pria yang tadinya begitu asyik dengan ponsel pintarnya itu, mengangkat kepala menatap zhari. Sambil menyunggingkan sebuah senyuman dalam.
"Mohon maaf sebelumnya mengganggu pak Alfi sekeluarga, saya yang paling tua dalam keluarga merasa tidak enak. tujuan kami kesini, Hanya mau mengutarakan niat baik kami sejak 6 tahun lalu. Bahwasanya malam ini. Saya mewakili Fauzan nur Arkan - cucu saya. Untuk melamar ananda tri Azhari, anak kalian. Kami harap lamaran cucu saya beserta keluarga besar kami diterima" kalimat bodoh yang sudah hampir 13 kali zhari dengar membuat wajah gadis itu menunduk muak.
Dia segera menatap kedua orang tuanya silih berganti, zhari ingin mengatakan sesuatu. Namun, mulutnya terasa keluh untuk mengeluarkan kata-kata.
"Dengan senang hati, saya dan keluarga menerima lamaran nak Fauzan dan keluarga. Sebuah kehormatan bagi putri saya bisa menikahi cucu dari pengusaha gurita seperti bapak" Alfi - ayah dari zhari itu tersenyum lebar menjawabnya, tanpa meminta persetujuan sang anak.
Semua mata tertuju kearah zhari, termasuk Fauzan yang hanya diam ditempat.
Zhari menghela napas pelan, "mohon maaf untuk kakek selamet, pengusaha gurita yang bisa mengangkat derajat perusahaan ayah saya juga. Saya hanya mau sedikit mengkoreksi ucapan ayah saya soal penerimaan lamaran ini, jujur dari segi kesiapan. Saya belum siap menikah, dari segi pasangan. Fauzan tidak terlalu buruk untuk saya, karena menikah itu adalah ibadah paling lama. Sampai kita meninggal dunia, saya tidak ingin menikah dengan orang yang salah" zhari menatap kearah Fauzan yang juga tengah menatapnya dengan pandangan tak terbaca. "Dan saya tidak mau masa berkarir saya hilang hanya karena lamaran ini. Saya masih mau mengajar disekolah tanpa ada halangan dari seseorang yang bernama suami, saya tekankan maksudnya. Saya tidak menerima lamaran ini! Mohon maaf atas kelancangan saya, permisi" zhari bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Riri" semua anggota keluarganya memanggil zhari, Nanda adalah orang yang mengejar anaknya sampai ke taman belakang rumah.
"Pak Alfi, apa zhari benar-benar tidak ingin menikah?" Selamet yang terluka karena kata-kata zhari itu menatap Alfi dengan cemas.
"Tenang pak, anak saya hanya sedang stress mikirin perekapan nilai siswa. Masa-masa sekarang otaknya memang lagi tidak stabil, emosinya apalagi. Jadi, sembari menunggu anak saya tenang dengan bundanya. Mending kita makan bersama dulu, mari pak selamet beserta keluarga" Alfi mencoba mengalihkan pikiran keluarga selamet dahulu dengan makanan, semoga saja setelah anaknya tenang. Keluarga mereka bisa mendapatkan jawaban yang puas.
Akhirnya, Alfi berhasil mengajak keluarga besar Fauzan untuk makan bersama dalam satu meja besar. Ditengah-tengah makan mereka, suara zhari yang keras dan penuh pemberontakan menyapa telinga dengan jelas. Bahkan suaranya sedikit menggema.
"Riri sudah pernah bilang, Riri gak mau menikah sama Fauzan!! Bunda.... Tolong jangan paksa Riri, Riri punya pilihan sendiri. Riri hanya mau suami Riri nanti itu mencintai Riri dengan tulus, bukan hanya dari sebuah perjanjian!!" Suara keras itu terdengar tidak searah, karena zhari mengucapkannya dengan derai air mata.
__ADS_1
"Riri!! Jangan bicara seperti itu, bunda percaya kalau Fauzan itu mencintai kamu! Mungkin dia hanya kelihatan cuek sementara. Percayalah dengan bunda, kamu akan bahagia jika bersama Fauzan" sekarang suara itu berganti dengan suara keyakinan Nanda yang begitu tinggi.
Zhari menggelengkan kepalanya lelah, "bukan bunda, bunda percaya karena bunda tidak mengetahui apa yang Riri rasakan!!! Pernahkah bunda bertanya pada Riri. Apa saja yang sudah aku lewati hari ini? Apa saja yang aku rasakan saat aku belajar dewasa? Bunda tidak pernah bertanya ituu!!"
plakk!!
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulus zhari, gadis itu menyentuh pipinya yang merah. Sambil menatap bundanya yang sudah terlihat emosi.
"Bunda menampar Riri? Hanya karena riri berontak?" Air mata zhari semakin deras, tidak percaya jika bundanya yang sudah mengurus ia selama 24 tahun itu menampar zhari untuk pertama kalinya.
"Ma-maafkan bunda sayang, ma-maafkan bunda...." Nanda menangis sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi zhari yang memar.
"Bunda tidak usah minta maaf, aku tidak butuh maaf bunda. Kalian semua memang tidak pernah menyayangi aku, kalian tidak pernah memikirkan perasaanku....."
"Aku memikirkan perasaanmu" Sebuah suara lembut menghampiri telinga zhari yang masih berdiri dengan tegak.
Zhari menelengkan kepalanya menatap pria disampingnya "untuk apa kamu mendekat? Kamu ingin mengambil hatiku agar bisa menikah denganmu? Hah!" Zhari menatap Fauzan dengan pandangan benci.
"Minumlah dulu, kamu hanya perlu ketenangan. Buka mulut, aku akan menyuapi mu makanan. Tubuhmu terlalu kurus jika tidak diurus," Fauzan mengambil sesendok nasi dan lauk pauk untuk menyuapi zhari.
Prak!!
Tak disangka, zhari malah menampek piring nasi yang ada ditangan Fauzan. Piring itu jatuh ke bawah dan terbelah menjadi dua.
Bersambung....
...Wah, gimana nih guys opening nya?...
...Apa ada yang masih mau lanjut?🥺...
...Boleh dong, komennya buat lanjut...
...Biar author semangat dan mood buat lanjutin ceritanya...
__ADS_1
...**like nya juga ya!...
...T**erimakasih guys🥰...