Kisah Cinta Di Dunia Teknologi

Kisah Cinta Di Dunia Teknologi
Bab 1: Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Matahari terbenam di balik gedung-gedung perkotaan yang menjulang tinggi, menciptakan bayangan panjang di jalan-jalan sibuk. Di sebuah kafe mewah yang terletak di pusat kota, seorang pria tampan berpakaian rapi duduk di sudut, sambil mengaduk pelan cangkir kopi hitam di depannya. Namanya Michael Donovan, CEO sukses dari perusahaan teknologi inovatif, QuantumX.


Di meja sebelahnya, seorang wanita muda berambut cokelat, Stephanie Evans, tampak sedang sibuk mengecek laptopnya. Matanya terfokus pada layar, mencermati laporan-laporan terbaru. Tiba-tiba, pandangannya teralihkan oleh kehadiran Michael. Dengan cepat, ia menutup laptopnya dan tersenyum.


"Permisi, apakah kursi ini kosong?" tanya Michael sambil menunjuk kursi di depan Stephanie.


Stephanie mengangguk ramah, "Tentu saja, silakan."


Michael duduk dengan anggun di kursi itu, dan pelayan segera datang untuk mengambil pesanannya. Setelah pelayan pergi, Stephanie tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Anda Michael Donovan, bukan? CEO QuantumX?" tanya Stephanie, wajahnya tampak sedikit terkejut.


Michael tersenyum, "Benar sekali. Sepertinya reputasi saya sudah mendahului."

__ADS_1


Stephanie tertawa ringan, "Maaf, saya hanya terkejut bertemu Anda di sini. Saya bekerja di bidang teknologi juga dan sangat mengagumi apa yang telah Anda capai dengan QuantumX."


Michael mengangguk menghargai, "Terima kasih. Bagaimana dengan Anda? Apa proyek teknologi yang sedang Anda kerjakan?"


Stephanie memberi tahu Michael tentang proyek terbaru yang sedang ia kembangkan bersama timnya. Mereka mulai terlibat dalam percakapan yang semakin mendalam tentang inovasi teknologi dan tantangan yang dihadapi industri.


Percakapan itu berlanjut dengan penuh antusiasme. Michael terkesan dengan pengetahuan dan semangat Stephanie dalam mengembangkan solusi teknologi yang bermanfaat. Di tengah percakapan, ponsel Stephanie berdering, memberi tahu bahwa ia mendapat panggilan mendesak.


Michael melihat kesempatan ini untuk memeriksa laptop Stephanie yang ditinggalkannya. Ia melihat proposal proyek terbaru yang belum selesai, dan tanpa disengaja membaca beberapa baris dari deskripsi ide utama proyek tersebut.


Ketika Stephanie kembali, ia menyadari bahwa Michael sedang melihat laptopnya. Wajahnya memerah, dan ia segera menutup laptop dengan cepat.


"Maaf, saya tidak bermaksud untuk mengintip," ujar Michael cepat.

__ADS_1


Stephanie tersenyum malu, "Tidak apa-apa. Saya seharusnya lebih berhati-hati."


Mereka tertawa kecil, dan percakapan mereka kembali dilanjutkan. Namun, kali ini mereka lebih berfokus pada pengalaman dan pelajaran yang mereka ambil dari perjalanan masing-masing dalam dunia teknologi.


Di tengah kota yang sibuk, pandangan mereka saling terkunci. Percakapan antara Michael dan Stephanie memunculkan ikatan tak terduga. Proyek, ide, dan impian bersama membuka jalan menuju petualangan inovasi dan cinta yang menjanjikan.Namun, kilas masa lalu dan perbedaan pendekatan mereka bisa saja menghalangi hubungan yang baru berkembang ini.


Tak terasa, malam telah tiba dan cahaya lampu kafe semakin terang. Mereka berdua menyadari bahwa mereka telah berbicara selama berjam-jam tanpa terasa waktu berlalu.


Michael merasa ada hubungan khusus antara mereka, dan dengan hati-hati ia berkata, "Stephanie, saya benar-benar menikmati percakapan ini. Bagaimana jika kita melanjutkannya di lain waktu?"


Stephanie tersenyum lembut, "Saya sangat setuju, Mr. Donovan."


Mereka saling bertukar nomor telepon dan berpisah dengan senyuman. Michael meninggalkan kafe dengan langkah ringan, sambil merenung tentang pertemuan tak terduga yang telah membawa mereka bersama.

__ADS_1


__ADS_2