
Kakek putih itu tampak mengatakan sesuatu kepada ibu tua. Dengan khidmat ibu tua itu mendengarkan, disusul dengan anggukan. Perlahan dia menoleh pada orang itu yang sedang memegangi lehernya yang menghitam. Tanpa mengatakan apapun dia hanya mengangguk, tapi nampaknya orang itu pun mengerti. Dia memapahku untuk berdiri.
Rupanya kami diminta untuk segera turun dan meninggalkan Kakek putih itu dengan Nyi Linggi.
Sebelum pergi kulihat Ibu tua itu mencium tangan si Kakek. Dengan lembut kakek putih itu menepuk pundaknya. Disusul orang itu yang tidak hanya mencium tangan, tapi juga bersimpuh andai saja tidak ditahan oleh si Kakek. Dan seperti juga kepada Ibu tua, Kakek ini pun menepuk pundak orang itu. Tinggal aku yang tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku pun mengikuti keduanya, mencium tangan Kakek Putih itu. Tangannya
begitu lembut dan harum. Dengan hanya | menciumnya membuatku merasa aman.
Sambil membelai rambutku, kudengar dia berbicara pelan, "kamu pulang. Jadikan ini sebagai pelajaran. Jaga tingkah laku dan tutur kata dimanapun kamu berada."
Aku mengangguk pelan. Mendengar kata pulang, tanpa sadar air mataku mengalir. Dia menepuk-nepuk pundakku dan mempersilahkanku untuk pergi.
Terlalu segan untuk menatap wajahnya, dengan menunduk aku menjauh dan mengucapkan salam.
Dengan tertatih aku mengikuti orang itu dan si Ibu tua menuju jalur turun, meninggalkan Kakek dengan Nyi Linggi.
Tidak ada satu pun yang berbicara diantara kami. Dalam gelapnya jalur Ciremai kami
melangkah dengan diam.
Aku meraba kantong celanaku, benda pembawa petaka itu masih disana, terbungkus kain putih. Kenapa harus kain putih? Aku bertanya dalam hati. Apa pembalut kotor itu jadi semacam benda gaib atau sejenisnya? Karena yang sekilas kutahu, benda-benda mistis seperti keris, tombak dan sejenisnya biasanya dibungkus dengan kain putih juga.
Tapi apapun itu nanti, yang jelas aku gembira bisa berhasil membawanya turun. Benda ini kunci kesembuhan Ayu.
Dari belakang, aku mengamati punggung bongkok ibu tua itu. Ibu ini merawat Ayu, juga naik untuk menjemputku disaat yang benarbenar kritis. Ternyata dunia belum kekurangan orang baik.
Lalu orang itu. Langkahnya yang biasanya lincah, sekarang berjalan pelan mengikuti langkah ibu tua. Tanpa dia, aku jelas tidak mungkin selamat melewati malam ini. Diluai senyumnya yang menyebalkan dan katakatanya yang ketus, dia orang baik. Penampilannya yang kumal khas pendaki gunung menyembunyikan ketaatannya beragama. Berkali-kali, malam ini dia selalu mengingatkanku berdoa, beristighfar dan mengingat Allah. Setelah ini selesai, aku janji akan membalas kebaikannya.
Tapi lalu aku menyadari sesuatu yang janggal. Aku naik lagi untuk mengambil kotoran sial itu sebagai syarat kesembuhan Ayu. Kenapa makhluk-mahkluk itu malah menghalangiku? Bukankah seharusnya mereka justru senang. Kenapa mereka malah menerorku sepanjang perjalanan? Bukan hanya teror biasa, mereka berniat mencelakakanku.
Seribu pertanyaan tiba-tiba menyeruak dikepalaku. Malam ini benar-benar tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku.
Orang itu melirikku, senyumnya tampak jail. "Kapok ya naik Ciremai boy?"
Aku cuma bisa tersenyum ditanya begitu. Kapok? Jelas banget. Bukan cuma Ciremai, sepertinya setelah ini aku pensiun naik gunung
"Jangan lemah boy. Kejadian ini ambil
pelajarannya." Katanya lagi. Orang itu seakan bisa membaca pikiranku.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Bang, terimakasih banyak udah nolongin saya bang." Kataku kali ini, "kalo ngga ada abang, ngga tau gimana nasib saya."
Orang itu tertawa-tawa menyebalkan, tapi aku malah gembira melihat tawanya.
__ADS_1
"Lu selamat bukan cuma karena gua boy. Lu juga harus terima kasih ke banyak orang yang nolong lu. Ada Mak Ncep, orang-orang di Cibunar, orangtua lu yang ngga putus do'ain lu dirumah, Ayu, termasuk juga Nyi Linggi. Dan tingkatin ibadah lu sebagai wujud syukur sama yang Maha Besar" Jawab
orang itu. Kemudian dia melanjutkan "Ada maksud dari setiap kejadian boy."
"Maksudnya bang?' tanyaku tak mengerti.
"Jangan jadiin ini pelajaran pribadi lu. Ceritain ke temen lu, ceritain ke banyak orang, kalian manusia ngga hidup sendiri. Ada makhluk lain yang berbagi dunia dengan kalian. Berhentilah melakukan kerusakan di bumi."
"Iya bang," Balasku singkat. Kata-katanya barusan terasa meresap di hatiku.
"Oiya bang, tadi Kakek itu siapa bang?" Tanyaku.
Orang itu cuma tersenyum. Tampaknya
keingintahuanku tidak akan terjawab dengan mudah.
"Kalong wewe tadi gimana nasibnya bang?" Tanyaku lagi.
"Mati." Jawabnya singkat.
"Bang tadi waktu kita pamitan sama Kakek kenapa Nyi Linggi diem aja, ngga nyerang atau ngapain gitu bang?" Lagi-lagi aku bertanya.
"Bawel lu ya." Jawabnya ketus. Tapi dia tetap menjawab, "mengambil kesempatan disaat
Aku mengamini jawabannya sekaligus merasa malu. Bahkan makhluk gaib pun punya tatakrama dan sopan santun.
Jalur yang kami lalui mulai terbuka agak lebar dan cenderung datar. Kabut tipis melayang diantara semak dan pepohonan. Aku agak merasa aneh melihat kabut dan kegelapan tanpa kemunculan hantu apapun. Apakah aku jadi terbiasa? Mungkin itulah mengapa orang itu terlihat biasa melihat penampakan segala setan di gunung ini.
Tanpa terasa kami sudah sampai di Condong Amis, tempat pertama kali aku bertemu orang itu. Ibu tua itu berjalan kearah pondokan kosong. Mungkin dia ingin beristirahat sebentar. Kami mengikuti dibelakangnya.
Saat baru saja melepas lelah di pondokan ini tiba-tiba leher dan pipiku bekas cekikan Kalong wewe tadi kembali berdenyut-denyut. Aku mengusap pelan leherku, terasa perih. Tapi rasa sakit itu semakin tak tertahankan.
Orang itu membaringkanku dilantai pondokan. Disampingku ibu tua itu memijit telapak tangan kananku sambil mulutnya berkomat-kamit. Kepalaku mendadak terasa sangat berat.
Kudengar orang itu berbicara padaku. Tak seperti biasanya, suaranya terdengar lembut "..Boy, sering-sering tengokin gua disini ya...
Kulihat orang itu melepas pin dari carriernya dan meletakkannya ditangan kiriku. Aku hanya bisa menggenggamnya tanpa bisa melihat. Pandanganku mulai kabur. Hal terakhir yang kuingat adalah gema adzan shubuh.
.....................
Berkas cahaya matahari tampak menembus jendela saat aku membuka mata. Aku terbangun diatas tempat tidur yang empuk. Disebelahku, dibalik tirai berwarna biru tampak kasur yang kosong. Selang infus tertancap di tubuhku yang terhubung dengan plastik berisi cairan yang menetes pelan ditiang disamping tempatku berbaring. Aku berada di rumah sakit.
Pintu terbuka, dan kulihat wajah Ayu lagi. Rasanya sudah bertahun-tahun.
Dia mendekat dan langsung memelukku sambil menangis. Kudengar dia meminta maaf berkali-kali sambil terus menangis. Aku ingin balas memeluknya, tapi tanganku terlalu lemah untuk digerakkan.
__ADS_1
"Lu udah nggak apa-apa yu?" Tanyaku. Dia mengangguk sambil mengusap airmata.
"Maafin gua ya di. Gara-gara gua lu jadi begini." Dia meminta maaf lagi.
Aku tersenyum sambil mengangguk. "Yang penting kita selamat." Kataku, "siapa yang bawa gua kesini yu?"
"Ngga tau juga di. Gua juga bangun-bangun udah disini" Jawab Ayu.
Aku teringat lagi sosok Ibu tua. Diam-diam aku sungguh berterimakasih. Juga orang itu. Pasti dia yang susah payah membawaku turun dari Condong Amis sampai Cibunar, lalu kesini.
Lalu aku teringat dia memberikanku sesuatu sebelum aku pingsan.
"Yu, liat pin yang gua pegang ga pas gw pingsan?" Tanyaku.
"Oh ada. Bentar ya." Katanya. Dia lalu membuka tutup kepala carrier, mengambil benda yang kutanyakan, lalu memberikannya padaku.
Aku menerimanya. Benar itu sebuah pin. Malam itu aku tak bisa melihat apa yang tercetak di pin ini saat pertama kali bertemu orang itu karena terlalu gelap.
Aku memperhatikan gambar yang tercetak disana. Tampaknya sebuah logo. Gambar cicak dan gunung, tulisan dibawahnya berwarna kuning sudah agak pudar tapi masih terbaca olehku: Edge Mountain. Entah apa artinya. Tapi pin ini akan kujaga selamanya sebagai pengingat untuk malam yang penuh teror di Ciremai.
Aku teringat sesuatu. Kuraba kantong celanaku. Kosong. Benda sial itu rupanya sudah hilang. Aku membayangkan ritual
ritual gaib dilakukan pada benda kotor itu untuk menyembuhkan Ayu.
"Bekas pembalut lu yang didalam kain putih itu sekarang dimana yu?" Tanyaku karena tetap penasaran.
Ayu agak terkejut mendengar pertanyaanku.
"Ohh.. Udah dibuang ditempat sampah. "jawabnya.
Sejujurnya aku sedikit kecewa mendengarnya. Tapi memang itu hal yang paling logis. Tempat buat kotoran memang hanya tempat sampah.
Raut terkejut masih terbaca di wajah Ayu. Dia lalu bertanya, " Kok lu bisa tau tentang pembalut di kain putih di? Kan selama ini lu pingsan."
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Teringat berapa horrornya perjalanan malam itu demi mengambil lagi benda sialan tadi. Ada rasa bangga dan sedikit merasa jadi pahlawan karena bagaimanapun aku berhasil menyelamatkan Ayu.
Lalu pertanyaan Ayu yang buatku terdengar agak konyol dan lucu, kok gua bisa tau tentang pembalut di kain putih? Ingin rasanya menepuk dada dan menceritakan semuanya.
Wajah terkejut Ayu masih belum hilang, dan matanya tampak penasaran. Lalu sebuah senyum mengembang diwajahnya, dia lalu berkata, "padahal selama ini lu pingsan di. Tapi ya sudahlah, setelah malam itu kayaknya gua ngga bakal kaget kalo denger hal-hal aneh lagi."
Dan dia meneruskan, "nanti deh gua ceritain perjalanan gua ngambil pembalut itu malemmalem di Ciremai. Nanti gua ceritain tentang Nyi Linggi, Kalong wewe, abang Moka. Eh nanti kapan-kapan kita kesini lagi ya. Mak Ncep terus-terusan ngerawat dan ngejaga lu selama lu pingsan dan kesurupan. Kita banyak utang budi sama dia"
Sekarang giliran aku yang terkejut......
----------------------------TAMAT---------------------------------
__ADS_1