Kisah Romance Seru

Kisah Romance Seru
Pengakuan Ares


__ADS_3

Mauricio Pascal hampir selesai. Pria di usia akhir 30an itu masih menorehkan garis-garis tegas penuh warna di kanvasnya. Studionya dipenuhi banyak lukisan cat minyak yang digantung di dinding atau diletakkan begitu saja di lantai kayunya. Mauricio lulus dari kursus melukis tiga tahun yang lalu dan rajin mengikuti pameran di beberapa festival seni dan budaya.


Sebelumnya dia menjalani hidup sebagai seorang ahli farmasi. Baginya pekerjaannya itu menjemukan dan sejujurnya dia agak muak dengan bau obat. Apalagi dia selalu menyimpan hasrat luar biasa untuk menjadi seorang seniman. Hobi melukisnya selama ini kerap dicibir oleh orang tuanya yang sama-sama berprofesi sebagai tenaga medis, yaitu perawat dan ahli farmasi.


Tapi Mauricio tidak menyerah, setelah mengumpulkan cukup tabungan selama bekerja di rumah sakit, dia akhirnya memutuskan untuk pindah ke pinggiran kota Milan. Mauricio mengambil kelas seni sembari bekerja paruh waktu di sebuah apotik kecil.


Hidupnya luar biasa, walaupun Mauricio tidak menghasilkan banyak uang, dia bahagia. Hatinya berbunga-bunga jika ada seseorang yang menawar karya seninya. Walaupun dia pernah menjual lukisan yang dikerjakannya dua minggu hanya dengan harga 200 euro, Mauricio tetap bangga akan dirinya.


Sret sret sret


Suara kuas lukis Mauricio terdengar agak kering di kanvas. Pria itu pun mencelupkan lagi kuasnya ke cat minyaknya, dia mencampur warna biru dan putih untuk menghasilkan rona biru muda.


Mauricio menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli semua kanvas dan cat minyak terbaik di kota. Dia bahkan membelikan berkilo-kilo merk makanan kucing terbaik untuk teman sejatinya Louie yang berbulu kuning.


Kucing itu tampak tengah merebah di pinggir jendela, dengan perut terekspos sinar matahari. Mauricio menyukai studionya. Dia menyewa loteng rumah pada pasangan renta yang adalah pensiunan pegawai negeri. Mereka biasa menghabiskan harinya dengan bercocok tanam sayuran dan beternak lebah.


Studionya kini bau cat minyak bercampur aroma lembut dan menenangkan dari pai labu dengan kayu manis buatan sang pemilik rumah yang ramah. Ada sekilas tatapan sedih dari seniman itu tatkala melihat ke sekeliling studionya. Dia bahagia tinggal di kota kecil ini, tapi kenapa dia harus menerima takdir buruk ini?


Ada keriuhan di luar, Louie pun terbangun dan menggeliatkan tubuhnya. Kucing itu dengan cuek menghampiri tuannya dan menggosokkan badannya ke kaki sang tuan. Mauricio melongok dari jendelanya. Dia melihat semacam mobil militer seukuran bus kecil dan beberapa orang keluar darinya sambil mengenakan pakaian hazmat.


Acaranya ternyata sudah mau dimulai, tepat sesuai jadwal. Mauricio tiba-tiba terbatuk hebat. Dia memuntahkan beberapa ekor cacing molumbium dari dalam mulutnya. Entah kapan dan dimana Mauricio terinfeksi, yang jelas dia merasa tubuhnya lelah terus menerus dan tidak bernafsu makan. Mauricio kini sering tidur sambil berjalan. Tahu-tahu saja dia tertidur dan terbangun di tempat lain.


Mauricio melihat cacing-cacing itu menggeliat di lantai. Walau sudah berkali-kali mengalaminya. Dia tidak pernah bisa menyingkirkan perasaan jijik dan muak terhadap alien parasit itu.


Mauricio pun menyalakan komputer jinjingnya yang diletakkan begitu saja di lantai. Dan dia lalu menggunakan tangganya untuk turun ke lantai bawah.


Di sana dia melihat Tuan dan Nyonya Russo si pemilik rumah sedang menyambut tamunya. Nyonya Russo menyodorkan beberapa potong pai labu andalannya kepada para petugas. Tentu saja mereka tidak bisa memakannya karena pakaian hazmat mereka, mengharuskan untuk mengenakan semacam helm sepanjang waktu.


"Apa anda berusaha memainkan trik kepada kami?" Tanya si petugas.


"Tidak, saya sengaja membuatnya dari pagi untuk kalian." Nyonya Russo membantah tanpa meninggalkan senyumannya yang ramah.


"Kalau kami membuka helm kami, anda akan menyerang dan memuntahkan cacing alien itu ke muka kami kan?" Salah satu petugas menuduh.


"Demi Tuhan, tidak. Ini saya sendiri, Alberta Russo yang bicara." Air mata mulai mengembang di irisnya.


"Mohon maaf nyonya, kami menganggap keramahan anda saat ini sebagai insting bertahan hidup dari para molumbium yang berdiam di tubuh anda. Kemarilah, tidak perlu mencoba trik aneh-aneh pada kami yang di sini untuk membantu anda." kata si petugas militer itu dingin.


Alberta terisak, dia pun bersandar di bahu suami kurusnya yang hanya menepuk-nepuk bahunya pelan. Mauricio memperhatikan dari jauh, pakaian yang digunakan pasangan Russo itu adalah pakaian favorit mereka yang biasa dikenakan kalau mereka beribadah ke gereja. Pasangan itu sudah bersiap.


Sudah lebih dari dua bulan pemerintah Italia melakukan isolasi ketat di sebuah area sekitar kota Milan yang mencakup sebuah desa berpenduduk kurang dari 3000 orang dan sebuah perkebunan anggur tua. Belajar dari pengalaman pahit lima tahun lalu, ketika wabah Corona telah menelan hampir tiga ribu korban jiwa, pemerintah tidak mau mengambil resiko.


Pemerintah kota Milan sendiri telah menutup restoran berbintang Michellin Il Giottone karena mereka membuat para pelanggannya memakan molumbium. Andrea Ricci mengira sejumput bubuk molumbium tidak akan berpengaruh banyak, kenyataannya mayoritas konsumen mengalami kecanduan namun pihak medis sulit mencari molumbium untuk terapi mereka.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, wabah molumbium merebak di area perkebunan anggur. Warga tanpa sadar menulari satu sama lain. Semakin lama terjangkit, penderita semakin agresif dan menyerang manusia lain untuk ditulari tanpa sadar. Gejala ini hanya dialami penderita infeksi molumbium di Italia, di Meksiko penularannya terbilang pasif dan lambat.


Andrea Ricci telah menerima hukuman seumur hidup atas kejahatannya, namun dia memutuskan untuk mengakhiri hukumannya lebih cepat dengan menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur di dalam penjara.


"Dari data, ada seorang penyewa yang tinggal di loteng rumah anda, siapa namanya? Mauricio Pascal ya?" si petugas memastikan saat beberapa petugas lain menggiring pasangan tua itu keluar rumahnya.


Mauricio tersentak tatkala namanya disebut. Dia berbalik arah dan hendak kembali ke studionya dengan langkah yang gaduh.


"Tuan Pascal!" Salah seorang petugas memanggilnya.


Mauricio berhasil kembali ke studionya dengan nafas terengah. Dia sangat lelah, para molumbium itu benar-benar telah menguras energinya.


"Tuan Pascal? Apakah anda berusaha melarikan diri?" Salah seorang dari mereka merangsek masuk ke studio. Walau baju hazmat yang dia kenakan tampak berat, orang itu bergerak dengan cukup lincah, menandakan kalau dia anggota militer yang terlatih.


"Nama saya Mauricio Pascal, seorang seniman! Dan anda adalah aparat pemerintah yang mencoba membunuh saya!" Mauricio berkata lantang.


"Tuan Pascal, anda memiliki ratusan cacing dan ribuan telur molumbium yang sudah bermutasi di tubuh anda. Anda tidak dapat disembuhkan. Kami hanya ingin membantu anda" petugas militer itu menjelaskan.


"Siapa nama anda?" Tanya Mauricio.


"Saya Patrick Lorenzo, turunlah ke bawah. Mari kita selesaikan semua ini dengan baik-baik" kata Lorenzo.


"Apa saya bisa mengajukan permintaan terakhir?" Tanya Mauricio.


"Lelanglah semua lukisanku, uangnya harus diterima oleh kedua orang tuaku agar mereka bisa merawat Louie." Mauricio memandang si petugas serius.


"Baiklah" Lorenzo mengangguk menyanggupi.


Mauricio terbatuk hebat lagi, dan memuntahkan beberapa ekor molumbium ke lantai kayunya yang penuh percikan cat minyak. Dia jatuh membungkuk, nafasnya tersengal.


Patrick menyadari kalau tatapan matanya berubah. Dia bukan lagi Mauricio, para molumbium telah mengambil alih tubuhnya. Reaksi itu selalu diperlihatkan para pengidap infeksi molumbium tipe dua jika berada di dekat manusia yang sehat. Itu adalah reaksi bertahan hidup dan keinginan kuat untuk bereproduksi di inang yang baru.


Mauricio meraih sebuah gunting entah dari mana dan bergerak berusaha merobek baju hazmat milik Lorenzo.


"Sialan!"


Dor!


Lorenzo baru saja memecahkan tempurung kepala Mauricio dengan sebutir peluru yang bersarang di revolver miliknya.


"Sialan! Sial!" Lorenzo memaki karena menyesali tindakannya.


Seantero studio dipenuhi cipratan darah segar sang seniman. Pecahan tulang tengkorak dan gumpalan otak yang gembur tidak luput berserakan di lantai berbaur tidak karuan. Dan seperti biasa, para molumbium yang jumlahnya ratusan itu merayap keluar dari tubuh inangnya yang sudah mati.

__ADS_1


"Cacing sialan!" Lorenzo menyemprotkan semacam racun serangga dari botol spray yang sedari tadi terpasang di ikat pinggangnya dengan penuh amarah. Pria berbaju hazmat itu merasa merinding menyaksikan para cacing jahat itu menggeliat dan mengeluarkan jeritan pedih.


"Apa ada masalah? Saya mendengar suara tembakan" seseorang menghampiri studio loteng itu.


"Oh ya ampun, apa dia menyerangmu?" Lanjutnya lagi setelah melihat kekacauan berdarah di dalamnya.


"Lukisannya kena sedikit noda darah, aku terlanjur berjanji untuk melelangnya ... Sudahlah, bantu aku bawa tubuh pria ini ke bawah. Dia harus dikremasi bersama yang lain. Apakah sudah siap?" Lorenzo bertanya sambil mencengkram pergelangan kaki Mauricio.


"Ya... Sebagian besar warga desa yang terjangkit sudah dibius untuk proses euthanasia dan... Hei! Apa itu?" rekan Lorenzo menunjuk laptop Mauricio yang menyala. Ratusan chat tampak bersahutan di kolom komentar.


[Gila! Sadis parah!]


[hoax ini, kelihatannya rekayasa]


[Ternyata ada satu kota kecil di dekat Milan yang kena infeksi. Gila pemerintah kok bisa menyembunyikan fakta kayak begini]


[Sadis ini, yuk laporin ke admin biar didelet videonya]


[hoax banget ini]


[hii merinding lihat cacingnya]


[Asli ini, aku sudah cek nama Patrick Lorenzo keluar sosmednya. Lihat dia banyak foto pakai seragam tentara Italia. Valid!]


[sebentar lagi video ini bakal didelet sama admin nih]


[sudah aku save. Biar seluruh dunia tahu]


[Ha! Lihat para tentara itu lagi bingung sekarang melihat kamera. Kayaknya mereka serius nggak sadar kalau sedari tadi Mauricio live streaming di channel youtube nya]


[brutal banget!]


[kasihan Mauricio. Aku minat beli lukisannya kapan lelangnya ya?]


[RIP Mauricio]


[RIP mauricio]


[RIP mauricio]


[Hoax ini, kroscek dulu yang bener]


nggak nyambung ya? iya mulai chapter ini dan seterusnya akan diedit lanjutannya bisa dibaca di ******* dengan judul THE BRIDE OF OLYMPUS.

__ADS_1


__ADS_2