Kutitipkan Benih Suamiku

Kutitipkan Benih Suamiku
30


__ADS_3

Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Raka yang mengalami kecelakaan, pikiran Bagus benar -benar sangat kacau sekali. Otaknya tidak bisa berpikir jernih dan terus kepikiran Cantika yang ia tinggal dalam keadaan sakit. bagus takut, Cantika melahirkan. Dokter kandungan sudah mewanti -wanti untuk menjaga Cantika denagn baik, terlebih asupan makan dan tingkat kestresannya.


Tapi, Ia juga tidak bisa meninggalkan Raka sendiri mengorbankan dirinya untuk kebaikan pernikahan Bagus dan Cantika. Rasanya ini tak adil sekali bagi Raka. Bagus akan tetap berusaha keras untuk menyembuhkan Raka semaksimal mungkin.


Mobil Bagus sudah masuk ke dalam parkiran di halaman rumah sakit di mana Raka mengalami koma. Perasaan Bagus tak karuan sekali. Cemas, panik dan takut sekali.


Bagus berlari kencang melewati selasar lorong gelap menuju ruang ICU setelah bertanya pada bagian penerima pasien di depan lobby rumah sakit tadi. Mereka menunjukkan ke arah belakang dan Bagus menemukannya.


Tepat, saat itu, dokter yang memeriksanya keluar dari ruangan ICU itu dan bertanay pada Bagus.


"Anda siapa? Keluarga pasien kah?" tanya Dokter itu dengan suara pelan sambil melepaskan kaca matanya.


"Ya ... Saya Bagus, keluarga pasien yang tadi di hubungi. Sebenarnya apa yang terjadi, dokter?" tanay Bagus yang semakin tak sabar untuk mendengarkan semua apa yang harus ia dengar.


"Baiklah, Pak Raka kecelakan lalu lintas, dan kecelakaan itu tunggal. Benturan keras di kepalanya membuat ia mengalami gegar otak. Pendarahannya sudah berhasil di hentikan, tapi baru saja ia mengalami pendarahan lagi, dan ruang oparasi sedang di siapkan. Sebenatr lagi, ia harus di operasi untuk kedua kalinya. Saya pesimis dengan nyawa Pak Raka. Kalaupun ia bisa sembuh, ia mengalami amnesia total, seluruh memori masa lalunya rusak dan ia akan terlahir seperti orang baru lagi. Itu sangat sulit sekali, karena ia akan merasakan sakit luar bisa di kepalanya, kecenderungan akan selalu marah -marah tidak jelas. Tapi, saya akan berusaha maksimal, hanya saja saya pesimis. Kalau Tuhan menakdirkan hal lain, saya mohon untuk di ikhlaskan," ucap doketr itu kepada Bagus.

__ADS_1


Bagus melongo tak percaya. Apa yang di alami Raka, sahabatnya adalah hal yang berat. Hidupnya selalu penuh derita dan selalu berkorban untuk kebahagiaan Bagus dan Cantika.


"Lalu? Raka saat ini bagaimana? Dia sadar? Atau tidak sadar?" tanay Bagus pelan.


"Sadar tapi tatapannya kosong, jika kamu datang dan merasa ingin menyupportnya itu akan percuma sekali, yang ada dia malah stres. Saya sarankan untuk melihatnya dari kejauhan saja. Permisi, operasi akan segera di mulai," ucap dokter itu dengan suara pelan menjelaskan secara jelas.


Bagus menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Kenapa sellau ada masalah, apa sih maksudnya ini semua.


"Arghhh!!" teriak Bagus dengan suara keras.


Satu tangan lembut menyentuh bahunya. Bagus pun menoleh ke arah belakang dan menemukan Cantika dnegan perut besarnya berjalan susah payah dengan supir pribadinya.


Cantika hanya tersenyum manis sekali. Ia tidak ingin membuat Bagus merasa sendirian.


"Ambilkan kursi roda untuk Tika, Mas," pinta Cantika yang mulai merasakan lelah.

__ADS_1


Dengan cepat Bagus mengambil kursi roda yang ada di lorong itu dan memberikannya pada Cantika. Bagus membantu Cantika untuk duduk di kursi roda itu dan mendorongnya berjalan menuju ruang ICU untuk melihat keadaan Raka saat ini sebelum di bawa kembali ke ruang operasi.


Cantika menatap Bagus dengan sendu. Jelas terlihat, suaminya itu sedang banyak pikiran. Tangan Cantika memegang erat tangan Bagus lalu di kecup dengan penuh kasih sayang.


"Mas ...." panggil Cantika dnegan suara pelan.


"Ya Tika," jawab Bagus menoleh ke arah Tika dan mengecup punggung tangan Tika sambil berjongkok.


"Sebenarnya ada apa? Akhir -akhir ini, Tia lihat, Mas begitu peduli dengan Raka. Seperti ada sesuatu yang Mas sembunyikan dari Tika. Kalian punya rahasia? Atau Mas masih berhubungan dengan Sonya? Makanya Raka menutupi hubungan kalian?" tanay Cantika dengan suara lembut.


"Demi allah, Tika, tidak ada kelanjutan hubungan mas dan Sonya. Mas berani bersumpah!" ucap Bagus pelan.


"Lalu? Mas Bagus seperti orang frustasi kenapa?" tanya Cantika lembut.


Bagus menatap Cantika sendu. Ia banyak menyembunyikan rahasia besar tapi bukan kesalahan hanya saja menutupi agar Cantika bahagia. Bagus menatap lekat Cantika dan ememluk istrinya dengan erat. Bagus menangis dalam pelukan Cantika. Ia tak kuasa lagi menahan rasa sedihnya dan terus mennagis tersedu dan terasa sangat menyakitkan menusuk dada.

__ADS_1


Cantika membalas pelukan itu dan mengusap lembut punggung suaminya. Ia tahu, suaminya berat untuk bercerita. Ia tahu, suaminya sedang menyembunyikan sesuatu hal besar yang menjadi kesalahannya.


"Ceritakan pada Cantika, pelan -pelan, biar Tika ngerti, apa yang sebenarnya terjadi," uacp Cantika dengan suara lembut.


__ADS_2