
Pada zaman dahulu, ketika Kerinci masih diperintah oleh raja-raja, ketika itu hutan belantara masih menyelemuti daerah Kerinci yang berhawa sejuk dan pemandangan indah.
Dikisahkan, ada sebuah kerajaan di daerah Kerinci bahagian selatan yang bernama kerajaan Pamuncak Tiga Kaum yang daerahnya luas dan subur serta rakyatnya aman dan makmur. Tersiar bahwa kerajaan itu diperintah oleh tiga raja kakak beradik. Namun kerajaannnya tetap dalam keadaan aman dan damai, tak pernah mereka berselisih paham, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Keatas sepucuk, ke bawah seurek, datang untung sama dibagi, tetimpa rugi sama ditanggung.
Yang tertua bernama Pamuncak Rencong Talang. Ia memerintah negeri dan rakyatnya dengan adil dan bijaksana. Yang tengah bernama Pamuncak Tanjung Seri. Sedangkan yang bungsu bernama Pamuncak Koto Tapus
Catatan: Menurut tambo Cakti Kerinci ialah sebagai berikut : Kerinci diperintah oleh Deputi IV. Delapan helai kain, serta pegawai, jenang pegawai Rajo Suluh Bindadang alam Kerinci, di antara mereka disebutkanlah :
Depati Muara Langkap di Tamiani.
Depati Rencong Talang di Pulau Sangkar
Depati Biang Sari di Pangasai dst.nya.
Apakah yang dimaksud dalam cerita rakyat ini Pamuncak Rencong Talang identik dengan Depati Rencong Talang, kami sendiri pun belum tahu. Kembali lagi kita ke cerita dikisahkanlah bahwa pusat ketiga kerajaan itu berjauhan letaknya. Sudah menjadi suatu kebiasaan dan yang telah diadatkan pada masa itu dan sampai pada masa sekarang ini, di daerah Kerinci apabila suatu negeri akan turun ke sawah atau pun ketika mereka telah selesai menuai padinya di sawah, maka diadakanlah kenduri, yang merupakan suatu penyataan kegembiraan dan ucapan rasa syukur dan puji kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan reziki kepada makhluknya yang taqwa dan patuh kepadanya, dan atas segala rahmat yang telah dilimpahkannya kepada mereka.
Kalau kenduri itu diadakan pada waktu mereka telah selesai mengerjakan dan mengangkat hasilnya ke rumah masing-masing, maka kenduri tersebut dinamai Kanuhei Sudeah Nuea. Pada saat Kanuhei Sudeah Nuea, atau pun saat kenduri turun ke sawah, maka diundanglah para tamu dari luar daerah serta pemuncak-pemuncak dan orang tua cerdik pandai dari daerah tetangga dan daerah lainnya dalam alam Kerinci untuk menghadiri pesta kenduri yang diadaka secara besar-besaran itu.
Dikisahkanlah, pada suatu waktu setelah selesai pula mengerjakan panen dan mengangkatnya pula, rakyat di daerah kekuasaan dalam lingkungan daerah Pamuncak Rencong Talang mendapat hasil sawah yang banyak dan memuaskan. Maka terniat oleh Pemuncak Rencong Talang untuk mengadakan suatu pesta kenduri sudeah nuae sebagai tandanya pula bahwa ia dan rakyatnya bersyukur ke hadirat Tuhan yang telah memberi rahmat dan rezeki kepadanya dan kepada seluruh penduduknya. Diceritakanlah bahwa Pamuncak Rencong Talang telah siap untuk menurut istilah di Kerinci Bapiouak g'deang batungkou jaheang, ba kamban lapeak bakamban tika, artinyanya Berperiuk besar bertungku jarang, berkembang lapik berkembang tikar yang maksudnya telah siap mengadakan suatu kenduri yang besar, segala sesuatunya telah disiapkan, siap menanti kenduri yang dekat, famili yang jauh serta segala undangan yang terundang maupun tidak. Mungkin saja orang yang tidak diundang tapi mengetahui bahwa negeri anu sedang mengadakan suatu pesta kenduri ako, maka tidaklah salah dan janggal bila ikut menghadirinya.
Pada suatu waktu terlihat di hati, terkata di mulut Pamuncak Rencong Talang, bahwa ia akan mengundang para pemimpin daerah Kerajaan lainnya, tentunya terutama sekali yang akan diundangnya ialah kerabat serta keluarganya yang memerintah kerajaan Pamuncak Tiga Kaum, yaitu pamuncak-pamuncak dari Tanjung Seri dan Pamuncak-pamuncak dari Koto Tapus. Disamping keluarga dekat yang ada dalam wilayah Pamuncak Rencong Talang, Kepada mereka keluarga dekat diberitahukan lebih dahulu, tentang apa maksud dari hajat mereka itu.
Mengingat kanuhei sudeh nuai, di samping akan mengeluarkan biaya yang besar, dan mengingat banyaknya keperluan yang harus disediakan, tentu pula akan menghadapi pekerjaan yang banyak, sibuk pula, terberitalah dari tempat tinggal Pamuncak Rencong Talang, bahwa ia mempunyai banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya padahal ia harus pula pergi mengundang dusanaknya yaitu Pamuncak Tanjung Seri dan Pamuncak Koto Tapus yang dalam hal ini harus dikerjakannya sendiri. Meski pun begitu, ia telah meluangkan waktunya yang sempit itu, serta meringankan langkah untuk pergi mengundang Pamuncak Koto Tapus.
Pada suatu hari berangkatlah Pamuncak Talang yang disertai oleh beberapa orang pengawalnya pergi mengundang adiknya Pamuncak Koto Tapus. Maka dipilihlah hari yang baik dan saat yang cocok untuk melangkahkan kakinya menuju negeri yang berada di bawah kekuasaan adiknya itu. Setelah berjalan beberapa hari, tak lupa Pamuncak Rencong Talag dalam perjalanannya melihat kehidupan rakyatnya yang bertempat tinggal di sepanjang jalan yang ditempuhnya itu, dan tak lupa pula ia mengundang serta menyuruh mereka untuk menghadiri pesta yang akan diadakannya itu.
Diceritakanlah bahwa mereka sangat bergembira menerima ajakan dan undangan dari junjungan mereka itu dan berjanji akan menghadirinya kelak, bila pesta itu dilaksanakan. Setelah lama berjalan, mereka telah merasa letih dan haus. Diceritakanlah, bahwa pada suatu saat sampilah mereka di negeri Pamuncak Koto Tapus. Setelah mereka sampai di sana, terlihat oleh mereka para hulubalang dari Pamuncak Koto Tapus, serta rakyatnya bergembira menyambut kedatangan dari rombongan Pamuncak Rencong Talang. Maka pergilah mereka melaporkan kedatangan dari rombongan tersebut kepada kunjungan mereka Pamuncak Koto Tapus. Begitu mendengar bahwa yang datang tersebut adalah kakandanya Pamuncak Rencong Talang, maka bergembiralah ia, dan bersuka cita. Terpikir olehnya ketika itu tentulah ada hal yang penting hingga kakandanya sendiri yang datang, atau apakah ada hal yang menimpa kakakandanya itu. Maka keluarlah ia ke halaman rumah untuk menjemput kedatangan kakandanya itu dengan rombongannya. Begitu melihat adiknya, Pamuncak Rencong Talang senang hatinya karena dilihatmya adiknya tampak penuh kegembiraan dan dalam keadaan sehat-sehat.
Setelah mereka bertukar sapa dan berjabat tangan, maka dibawalah kakanda Pamuncak Rencong Talang masuk beserta rombongannya. Meskipun nampaknya kakaknya sudah beranjak tua, tetapi masih nampak segar, namun karena menempuh perjalanan yang sulit dan jauh itu, sedikit banyaknya, merasa lelah juga. Maka disiapkanlah itu disiapkan oleh Pamuncak Koto Tapus tempat mereka beristirahat untuk melepaskan penat lelah mereka.
Pada malam harinya setelah mereka istirahat, maka bertemulah Pamuncak Rencong Talang dengan pamuncak Koto Tapus serta berkatalah Pamuncak Rencong Talang; "Tentulah yang pertama kakakanda ucapkan dan panjatkan rasa syukur dan do'a kepada yang Maha Esa, bahwa adinda sekeluarga berada dalam keadaan sehat walafiat serta tak kurang satu apapun jua, Sebaiknya begitu pulalah keadaan kakanda dan keluarga yang tinggal. Begini adinda Koto Tapus, maksud dari kedatangan kakanda jauh-jauh kemari ialah untuk menyampaikan hajat kakanda yang telah terkata di hati dan terucapkan di bibir, bahwa kakanda hendak melaksanakan kenuhei sudeih nuaen nuee pada bulan ini. Oleh karena itu kakanda datang mengundang, adinda dan keluarga untuk tidak berkeberatan untuk meluangkan waktu, meringankan langkah untuk datang ke negeri kakanda' menghadiri kenduri tersebut. Sebab setelah ditilik tak ada orang yang pantas lainnya untuk mengundang adinda." Begitu mendengar maksud dari kakaknya Pamuncak Rencong Talang, maka berkatalah Pamuncak Koto Tapus." Terlebih dahulu tentulah terima kasih serta hormat adinda untuk kakanda yang datang dari jauh dengan perjalanan yang meletihkan serta sulit untuk ditempuh datang dengan bersusah payah mengundang adinda. Alangkah malunya adinda yang telah menyebabkan kesusahan dan kesulitan kakanda itu. Apa salahnya mengirim utusan saja ke sini bukanlah sama saja artinya, tetapi dengan datangnya kakanda kesini, maka adindapun berjanji pasti akan menghadiri pesta yang akan kakanda adakan itu meskipun apa yang akan terjadi," jawab Pamuncak Koto Tapus. Setalah itu dilanjutkan pembicaraan mereka dengan hal-hal yang lain, hingga hari menjadi larut malam. Maklumlah jarang waktu yang ditemui seperti itu untuk melepaskan rindu di hati masing-masing.
Diceritakanlah pada keesokkan harinya, di sampaikanlah oleh Pamuncak Rencong Talang kepada Adiknya Pamuncak Koto Tapus, ia akan kembali ke negerinya pada hari itu, mengingat banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikannya. Mendengar itu tak dapatlah Pamuncak Koto Tapus menolak serta menahan rombongan kakandanya untuk pulang, meskipun terniat di hatinya bahwa ia akan menahan kakandanya beserta rombongannya agak keluarganya serta agar biasa pula kakandanya memulihkan rasa letih dan penatnya selama dalam perjalanan sewaktu datang ke negerinya itu, memang tak terbantah menurut pikirannya. Maka diperintahkanlah supaya disiapkan segala sesuatu perbekalan untuk kakandanya itu selama dalam perjalanannya nanti. Diceritakanlah setelah beberapa hari mereka dalam perjalanan menuju negeri asal mereka. Maka sampailah rombongan Pamuncak Rencong Talang ke negerinya kembali dan disambut oleh rakyat dan keluarganya dengan penuh sukacita dan gembiranya, karena mereka telah kembali dengan selamat dan tak kurang sesuatu apapun jua. Begitu pulalah keadaannya dengan Pamuncak Rencong Talang sangatlah gembira hatinya, bahwa ia telah berhasil dengan tugas mengundang adiknya. Senang pula hatinya melihat keadaan keluarganya yang tak kurang pula suatu apapun selama ditinggalkanya pergi itu.
Diceritakanlah sesampainya Pamuncak Rencong Talang ke negerinya, maka beristirahatlah ia untuk melepaskan penat dan lelah dari perjalanan. Setelah ia pulih dari letihnya itu maka mulailah ia menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan nantinya dalam pesta tersebut, serta menyuruh pembantunya untuk menyelesaikan sesuatunya. Tetapi hatinya menjadi gelisah setelah melihat apa yang harus disiapkan dan tidak dapat pula di selesaikan oleh orang lain. Dalam waktu itun ia harus pula pergi untuk mengundang adiknya yang seorang lagi yaitu Pamuncak Tanjung Seri beserta keluarganya untuk menghadiri pestanya kelak.
__ADS_1
Sedih hatinya karena ia tak sempat untuk pergi mengundang adiknya itu serta Pamuncak yang berada dalam negeri adiknya itu karena terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Maka diaturlah dan dipikir siapa yang akan mewakilinya untuk pergi mengundang adiknya Pamuncak Tanjung Seri, setelah berunding dan berinok, setelah menilik dan meneliti untuk menjaga agar jangan rambut putus dalam tepung, minyak tertumpah waktu ditanak, agar jangan tersinggung adiknya itu karena telah teradat dalam negeri mereka siapa diantara mereka yang mengadakan pesta, undang-mengundang dilakukan sendiri. Alangka janggalnya kalau orang lain yang disuruh, memalukan awak sendiri. Maka diputuskan, bahwa yang akan pergi ialah Ninik Mamak, orang yang cerdik, orang yang pandai, orang yang arif bijaksana. Setelah diputuskan, maka diberitahukanlah kepadanya bahwa ia yang akan pergi mewakili Pamuncak Rencong Talang dalam mengundang adiknya Pamuncak Tanjung Seri. Disiapkanlah segala perbekalan dan kebutuhannya dalam perjalanan dan diberi pulalah segala peralatan dan pengawalnya, maklum hutan rimba yang akan dihadapinya. Oleh Pamuncak Rencong Talang dibekalilah ia dengan sebilah keris dan lengkap dengan sirih dan pinang serta rokok nan sebatang sebagai tanda dirinya yang datang dalam hal mengundang adiknya itu dan sebagai tanda putih hatinya dan ketulusan mengundang adiknya Pamuncak Tanjung Seri.
Setelah segala sesuatu disiapkan dan semua peralatan dan perbekalan untuk dipakainya dalam perjalanan menuju tempat Pamuncak Tanjung Seri, maka berangkatlah Ninik Mamak tadi, yang ditemani oleh beberapa orang pengawalnya. Oleh Pamuncak Rencong Talang dilepaskanlah kepergian mereka dengan ucapan selamat pergi dan selamat pula kembalinya kelak.
Diceritakanlah, setelah beberapa hari menempuh perjalanan mendaki gunung dan bukit, telah pula mereka turuni lurah nan dalam serta dilintasi pula lembah yang elok dan indah pemandangannya, terberitalah bahwa mereka telah sampai ke negeri Pamuncak Tanjung Seri dengan selamat sentosa. Kemudian rombongan disambut oleh rakyat dan dibawa menghadap ke tempat hulubalang, oleh hulubalang diberilah mereka tempat untuk melepaskan penat dan letih, sementara ia pergi melapor kepada Pamuncak Tanjung Seri. Utusan dari Pamuncak Rencong Talang diberi minum dan makan, maklumlah utusan terebut menempuh perjalanan yang sulit. Setelah mereka lepas dari rasa haus dan dahaga dan lelah pula dilaporkan kedatangan mereka kepada Pamuncak Tanjung Seri, maka diantarlah mereka menghadap agar dapat bertemu langsung dengan kunjungan mereka yang menyampaikan hajat dan maksud kedatangan mereka ke negeri Pamuncak Tanjung Seri yaitu dalam hal mengundang beliau untuk hadir dalam kenduri yang akan diadakan oleh kakandanya Pamuncak Rencong Talang.
Maka diserahkanlah keris dengan sirih nan sekapur serta rokok nan sebatang kepada Pamuncak Tanjung Seri; "Yang kami hormati Pamuncak Tanjung Seri, dengan ini kami serahkan serta sirih nan sekapur dan rokok nan sebatang pertanda bahwa kunjungan hamba Pamuncak Rencong Talang tak berkesempatan hadir sendiri ke sini untuk mengundang kunjungan hamba tuanku Pamuncak Tanjung Seri. Hamba sampaikan salam serta maaf yang sedalam-dalamnya serta penyesalannya atas ketidakhadirannya itu. Bukanlah ada maksud apap-apa maka beliau tidak datang kita sama-sama memakluminya bahwa pekerjaan yang dihadapi tak dapat beliau tinggalkan karena terlalu banyak yang harus dikerjakan beliau. Oleh karena itu, beliau mengharapkan tuanku makluminya. Adapun maksud dari undangan itu ialah bahwa telah terniat dihati dan terkata di bibir dan orang dalam negeri telah tahu semuanya bahwa beliau akan mengadakan kanuhei sudeh nuae yang akan dilaksanakan pada pertengahan bulain ini. Segala persiapannya telah mulai disiapkan, orang-orang dalam negeri bergembira mendengar maksud dari kunjungan hamba tersebut. Untuk itulah hamba datang mengundang tuanku."
Mendengar utusan itu berkata dengan pasih dan tenang, mengangguk-angguklah Pamuncak Tanjung Seri dan berkata ia. "Terima Kasih hamba ucapkan kepada ananda yang telah bersusah payah datang dari jauh menempuh perjalanan yang sulit datang menyampaikan amanat dan pesan dari kakanda Pamuncak Rencong Talang, oleh karena itu tentulah kami maklum bahwa sangat banyak pekerjaan yang dihadapi oleh beliau itu. Oleh karena itu tentulah kami tidak berkecil hati tentang hal tersebut. Setelah itu Pamuncak Tanjung Seri menanyakan tentang hal segala sesuatu tentang keluaga kakandanya Pamuncak Rencong Talang serta keadaan kesehatan beliau juga tak lupa pula ia menanyakannya. Apakah persiapan dalam kanuhei sediah nue itu telah disiapkan apakah tidak mengalami kekurangan-kekurangan, maklumlah malu yang diperoleh kakaknya juga malu untuknya sendiri. Semua pertanyaan dari Pamuncak Tanjung Seri dijawab oleh utusan tersebut dengan anggukan dan dijawabnyalah pertanyaan itu dengan lemah lembut, terakhir disampaikannya pula sekali lagi tentang rasa penyesalan dan maaf dari kunjungannya atas ketidak hadirannya itu setelah ia menyampaikan segala pesan-pesan dan bawaanya itu mohon dirilah ia.
Pada keesokan harinya maka menghadap pulalah ia kepada Pamuncak Tanjung Seri untuk mohon diri pulang ke negerinya, dan dilepaskanlah keberangkatan utusan dari kakandanya itu bersama dengan pengawalnya dan diberi pula oleh Pamuncak Tanjung Seri berupa oleh-oleh dan sumbangan untuk kakandanya Pamuncak Rencong Talang. Terberita pulalah dari kediaman Pamuncak Tanjung Seri setelah keberangkatan utusan kakandanya bahwa ia tak berkesempatan untuk menghadiri pesta yang akan diadakan oleh kakandanya itu disebabkan banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakannya dan diselesaikannya sendiri. Setelah itu berundinglah mereka siapa pula yang akan menghadiri kenduri yang akan diadakan oleh kakaknya itu, sebab kenduri sudeh neea adalah kenduri besar dan yang diagungkan dan dianggap keramat, sebab dalam kenduri itu diturunkan harta pusaka dari daerah itu dan diangkatnya para depati-depati daerah setempat. Oleh karena itu orang yang akan dikirim haruslah orang yang terpandang di mata masyarakat, hingga tak memberi malu kepada negeri yang mengutuskannya. Sebab kenduri itu bukan saja dihadiri oleh mereka yang dekat dan sanak keluarga saja, tetapi juga dihadiri oleh utusan dari negeri lain. Pastilah kenduri itu akan ramai dikunjungi baik oleh pemuka-pemuka adat apalagi oleh anak-anak muda, maka dirasa perlu memilih utusan yang akan pergi.
Setelah ditimbang baik-baik, dipikir masak-masak serta ditilik dan diteliti maka diputuskan bahwa yang akan pergi pertama ialah istrinya sendiri, yang kedua anak gadisnya yang remaja biar ia melihat negeri pamannya dan melihat pula pesta yang besar. Tentu ia akan bersenang hati mengunjungi pesta tersebut. Ditunjuk pulalah beberapa orang pengawal yang dipercayai untuk menemani mereka selama dalam perjalanan pergi ke negeri Pamuncak Rencong Talang dan pulangnya nanti.
Setelah itu disampaikanlah berita penunjukan oleh Pamuncak Tanjung Seri kepada mereka yang akan berangkat itu. Setelah mendengar itu bergembiralah mereka yang ditunjuk apalagi puteri Pamuncank Tanjung Seri. Ia akan bisa bersuka ria dan bersenang-senang dan mendapat teman di sana, sebab selama ini ia jarang sekali keluar dari daerahnya. Maka, disiapkanlah segala keperluan mereka serta perbelakan yang dibutuhkan selama dalam perjalanan. Disamping bahan pangan tentulah ia tak lupa pula membawa pakaian yang tentunya banyak pula dibawa maklum anak dara dan pesta yang dihadangnya.
Setelah dipilih hari yang baik, saat yang cocok dan tepat maka dilepaskanlah oleh Pamuncak Tanjung Seri keberangkatan istri dan anak daranya yang ditemani oleh beberapa orang pengawal, berangkat menunju negeri Pamuncak Rencong Talang. Tapi karena yang berangkat adalah perempuan apalagi istri Pamuncak Tanjung Seri yang sudah agak tua, tentulah perjalanan mereka tak pula secepat perjalanan utusan dari Pamuncak Rencong Talang yang telah datang menyampaikan undangan kenduri mereka itu. Bila terasa letih mereka berhenti bila payah istirahat, tentu banyak pula yang mereka temui selama dalam perjalanan itu, ada suka ada pula dukanya, apalagi ada anak gadis diantara mereka. Apabila bertemu yang agak ganjil dan belum pernah ia jumpai selama ini, ia akan berhenti melihatnya. Bila bertemu dengan binatang yang terdapat dihutan itu apalagi binatang atau burung-burung itu sangat indah bulunya, maka ia akan bergembira dan melonjak-lonjak kesenangan. Tapi bila yang dijumpai itu binatang yang menakutkan atau terdengar bunyi yang menakutkan perasaannya, maka ia buru-buru menyuruk dan menyusup ke badan ibunya untuk mencari perlindungan. Begitulah hari-hari mereka lalui dan lewati dalam hutan. Setelah beberapa hari mereka dalam perjalanan, maka mereka sampai ke negeri Pamuncak Rencong Talang dengan selamat sentosa, tak kurang suatu apa pun.
Setelah mereka mendapat istirahat untuk melepaskan lelah dan rasa haus dan dahaga, maka dibawalah mereka ke tempat Pamuncak Rencong Talang untuk menghadap. Setelah mereka sampai ke tempat beliau, maka berkatalah istri Pamuncak Tanjung Seri kepada Pamuncak Rencong Talang; "Ampun beribu ampun hamba sampaikan kepada kakanda yang mana hamba telah lancang berani menghadap kakanda yang seharusnya adalah kakanda Pamuncak Tanjung Seri sendirilah yang datang ke sini untuk menghadiri pesta kakanda yang besar dan agung ini, tapi maaf sekali lagi hamba sampaikan bahwa Kakanda Pamuncak Tanjung Seri tak dapat menghadiri pesta yang menggembirakan dan membahagiakan ini disebabkan pekerjaan jualah yang menghalangi kehadiran beliau itu dan sedikit terganggunya kesehatan kakandaku itu.
Maka dilanjutkannya pula, sesungguhnyalah sedih dan gembiralah yang kakanda rasakan waktu ini, sedih karena adinda Pamuncak Tanjung Seri tak dapat menghadiri pesta kakanda ini, pesta yang kita sama-sama agungkan selama ini dan gembira karena kemenakanda dapat datang berkunjung ke sini dan dapat pula bergembira ria dalam pesta yang kakanda adakan ini. Apa kabar kau ananda, nampaknya sekarang engkau telah menjadi besar dan telah tumbuh menjadi seorang gadis yang remaja dan cantik. Nasehat dari paman ialah patuh dan taatlah kepada orang tua, serta baik-baiklah dan pandai-pandailah menyesuaikan diri dalam pergaulan. Memang awak anak junjungan, tapi kalau tabiat awak tercela tiada orang akan menghiraukan awak, apalagi awak seorang perempuan hendaknya baik-baiklah menjaga mulut, karena mulut adalah harimau dalam dirinya awak. Terakhir paman sampaikan dan harapkan semoga engkau bisa bersenang dan bergembira dalam pesta paman ini dan bila ada sesuatu hal dan keperluan sampaikan saja kepada paman, janganlah engkau merasa malu," kata Pamuncak Rencong Talang kepada Puteri Pamuncak Tanjung Seri.
Namun segalanya itu tak dijawab oleh Puteri Pamuncak Tanjung Seri. Hanya anggukannya saja yang nampak. Setelah itu, maka disampaikan pula tak dapat hadirnya Pamuncak Tanjung Seri. Sehingga merekalah yang diutus untuk datang, serta disampaikan sekali lagi rasa penyesalan dan maaf dari Pamuncak Tanjung Seri akan hal tersebut. Mendengar itu mengangguk-angguklah Pamuncak Rencong Talang. Setelah itu maka pembicaraan mereka berkisar pada hal-hal yang biasa dan tentang persiapan kenduri yang akan diadakan itu. Mereka bercerita pula tentang keadaan hasil panen yang baik serta banyaknya penduduk mendapat padi dalam panen. Diceritakan pula oleh Pamuncak Rencong Talang, bahwa ia telah pergi mengundang adiknya Pamuncak Koto Tapus yang dikatakannya mungkin tak berapa lama lagi akan sampai ke tempatnya. Setelah mereka puas dalam bercakap-cakap, maka isteri Pamuncak Tanjung Seri member oleh-oleh yang telah mereka bawa dari negeri mereka, sebagai tanda ucapan semoga kenduri yang akan diadakan itu selamat dan lancar adanya seperti yang mereka harapkan bersama. Dengan rasa gembira dan sukacitanya, maka Pamuncak Rencong Talang menerima pemberian dari mereka itu. setelah itu tak lupa pula ia menyampaikan rasa dan rasa terima kasih dan rasa gembiranya karena menerima pemberian dari keluarganya itu. Setelah mereka puas bercakap-cakap dan melepaskan rasa rindu di hati masing-masing, malam pun telah larut tak terasa, karena asyiknya mereka berbicara. Maka diantarlah kedua mereka ke tempat dimana mereka ditempatkan oleh Pamuncak Rencong Talang.
Pada hari yang telah lama dinantikan, yaitu hari yang telah ditentukan untuk melaksanakan kenduri dan pesta sudeih nue pun tiba peralatan dan segala persiapan telah disediakan semuanya. Undangan telah pula dijalankan dan telah nampak pula para tamu berdatangan dalam satu atau dua rombongan yang datang dari tempat yang jauh, maka acara pembukaan dari pesta itu pun dimulai.
Telah dirundingkan, bahwa peralatan dan kendurinya dilaksanakan dalam masa tiga hari, telah pula ditetapkan pembagian-pembagian hari-hari yang akan dipakai itu menurut kesepakatan mereka dalam musyawarah yang dipimpin oleh Pamuncak Rencong Talang sebagai berikut.
Pada hari pertama kenduri dan pembukaan di sepanjang larik (rumah adat yang dihuni kira-kira 20 kepala keluarga). Dihadiri oleh pemuka-pemuka adat, para pamuncak -pamuncak, para ninik-mamak, orang cerdik pandai lainnya, orang tua-tua yang diundang dari daerah yang jauh atau negeri lain, serta masyarakat lainnya dengan acara makan.
Pada hari kedua diadakan kenduri dan acara adat yang diadakan di rumah adat (Umoh Gedeang) yang hanya dihadiri oleh pemuka adat, ninik mamak, depai, dan pemuka masyarakat lainnya.
Pada malam ketiga itulah diadakan pesta untuk para anak muda, yang merupakan acara khusus untuk mereka. Sedangkan undangan yang lainnya baik meraka yang diundang ataupun mereka yang tidak diundang, pada hari pertama itulah tempatnya, sedangkan anak-anak muda berpesta ria pada malam ketiga. Pada malam ketiga itu diadakanlah pesta dan kenduri yang hanya khusus untuk muda-mudi, sedangkan para orang tua hanya menyaksikan dan mengawasi mereka, hingga agak larut malam dan biasanya pesta berlangsung sampai subuh. Pada malam ketiga itu hadirlah anak dara dari Pamuncak Tanjung Seri, dara yang lincah berparas jelita menjadi inceran mata pemuda. Dikisahkan bahwa pesta berlangsung dengan sangat meriah dan gembira, orang tua yang tadinya hadir telah meninggalkan mereka berpesta karena telah mengantuk. Sedangkan anak-anak muda itu dimeriahkan oleh tari tauh "sehuten dengan asiknya. Juga pesta itu dimeriahkan oleh tari tauh yang merupakan tarian khas penduduk setempat dalam pesta sesudah tunai. Sehingga tak terasa hari telah larut dan ayam jantan pun telah berkokok sekali.
Maka tersentaklah isteri Pamuncak Tanjung Seri dari tidurnya yang lelap dan pergi melihat pesta itu. Nampaklah bahwa anaknya beserta teman-teman sebayanya masih asyik. Ia bermaksud mengajak anaknya pulang tidur, takut kalau anaknya sakit atau masuk angin karena hari telah hampir pagi. Tetapi gadis remaja yang sedang asyik berpantun dan menari itu tiada mengacuhkan panggilan ibunya. Ia tetap bergembira dengan acaranya, maka ibunya pergi dan beberapa saat kemudian datang lagi ibunya untuk memanggilnya pulang. Ia tak mengacuhkan ibunya malah sebaliknya karena dongkol selalu dipanggil, maka ia berbuat durhaka kepada ibunya, ia marah. Ada seorang pemuda dekatnya dan bertanya kepada dara yang cantik itu siapa gerangan perempuan tua yang memangilnya itu? Mendengar pertanyaan itu tanpa dipikir dan dipetimbangkan, maka dijawabnyalah: "Oo, perempuan itu adalah pesuruh saya."
__ADS_1
Oh, anakku, oh buah hatiku, tempat curahan kasih dan sayang, kata ibunya dalam hati, ketika mendengar bibir mungil anaknya itu mengucapkan kata-kata yang tak disangka akan keluar dari mulut anaknya itu.
Babunya, pesuruhnya, manusia yang tak berarti sedikitpun bagi dirinya, padahal ia dilahirkan oleh ibunya, dibesarkan oleh perempuan buruk rupa ini, ia disusui oleh ibunya ini. Anak celaka rupanya anaknya ini. Telah dibesarkan harimau dalam hidupnya, mengapa ia tega mendengar dirinya seperti ini. Tak terkatakan sedih hati ibunya mendengar ucapan abak daranya itu. Sangat pedih ia mendengarkannya sebagai babunya. Larilah ia meninggalkan pesta durhaka anaknya itu, tak terpandangnya lagi muka para tamu-tamu yang ada waktu itu. Namun begitu dicobanya juga menahan hatinya, tanpa berkata-kata dan melihat anaknya lagi berbaliklah ia dan terus pergi ke tempat tidurnya sambil menangis meratapi kelancangan puteri remaja kesayagannya itu.
Pesta berlangsung terus, waktu berjalan juga. Menjelang subuh berakhirlah pesta anak muda tadi. Setelah itu mereka pulang ke tempat masing-masig dengan kenangan sendiri-sendiri pula. Pada keesokan harinya setelah mereka berkemas-kemas dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa mereka dalam perjalanan pulang ke tempat asal mereka, maka menghadaplah utusan dari Pamuncak Tanjung Seri. Ibu dan anak, menghadap Pamuncak Rencong Talang mohon diri untuk pulang ke negerinya, datang menampakkan muka, pulang menampakkan punggung. Mereka bermaksud akan pulang pada hari itu juga, karena apa yang mereka hajadkan sewaktu datang dahulunya telah mereka laksanakan. Kenduri serta pesta dan, keramaian telah selesai. Mana yang dekat telah pulang, mana yang jauh telah kembali ke tempat asalnya.
Setelah mendengar itu berkatalah Pamuncak Rencong Talang kepada kedua mereka itu: "terima kasih kakanda ucapkan kepada adinda dan kemenakanda yang telah bersusah payah datang kemari melintasi hutan rimba memenuhi undangan kami. Sekarang kalian akan pulang, sebenarnya terkandung maksud untuk menahan kalian semuanya sehari dua hari lagi untuk bersenang-senang, tapi dipikir-pikir mungkin keponakan telah rindu kepada ayahnya Pamuncak Tanjung Seri, oleh karena itu tak maulah hamba menahan kalian berlama-lama. Maka hamba lepaskanlah kalian berangkat hari ini, mudah-mudahan dalam perjalanan nantinya tidak mendapat aral sesuatu pun sampai di rumah. Sampaikanlah salam hamba untuk adinda Pamuncak Tanjung Seri, semoga kita dipanjangkan umur hendaknya oleh Tuhan."
Maka jawab isteri Pamuncak Tanjung Seri, meski dengan hati yang masih mendongkol dan marah karena peristiwa yang tak diduganya yang terjadi pada dirinya semalam. Tetapi tak diperlihatkannya, dan berdoalah ia dalam hatinya, semoga kakanda Pamuncak Rencong Talang tak mendengar berita yang memalukan keluarganya itu, agar jangan dicoret arang di kening suaminya. Maka dicobanya menenangkan dirinya agar jangan juga nampak di wajahnya. "Semoga kakanda melepaskan kami dengan muka yang jernih hati yang suci, karena perjalanan yang jauh yang akan dihadapi. Mohon diri kami serta segala salam dan pesan kakanda pastilah adinda sampaikan, dan semoga kita bertemu pula di masa yang akan datang." Terakhir kami harapkan doa dan restu kakanda untuk melepas kami berangkat, semoga kami selamat di perjalanan. "Kata isteri Pamuncak Tanjung Seri. Ia merasa sendiri bahwa ia telah sanggup menenteramkan hatinya, sehingga ia berbicara dengan tenang.
Setelah mereka minta diri dan mohon do'a restu dari Pamuncak Rencong Talang, maka mereka pun berangkatlah menuju daerah Pamuncak Tanjung Seri yang dilepaskan oleh Pamuncak Rencong Talang beserta dengan sanak keluarganya.
Dikisahkanlah, pada waktu mereka berangkat, mereka dikawal oleh pengawalnya. Mereka berjalan terus dan telah jauh kampung dan negeri tempat tinggal Pamuncak Rencong Talang tertinggal dibelakang dan makin lama tak nampak lagi kampung itu. Pada suatu tempat bertemulah mereka dengan rombongan yang juga baru kembali dari negeri Rencong Talang, yaitu rombongan anak-anak muda yang akan kembali ke tempat asal mereka. Setelah dekat nampaklah salah seorang dari mereka adalah pemuda yang malam tadi menanyakan ibu puteri Pamuncak Tanjung Seri. Setelah dekat merekapun mufakat untuk istirahat sejenak sambil melepaskan lelah dan mereka berhenti dengan terlebih dahulu bertukar sapa. Waktu mereka beristirahat itu terlompat pula pertanyaan dari pemuda yang tadi malam juga yang menanyakan siapakah sesungguhnya perempuan tua yang selalu bersamanya itu.
Tanpa pikir panjang dan ragu hati dijawabnya pula pertanyaan pemuda tadi, katanya: "Perempuan itu adalah babu saya, guna membantu saya dalam perjalanan dan mengurus perlengkapan saya."
Terdiam ibunya mendengar ucapan anak daranya, sedih hati tak terkatakan, hiba tak terucapkan, ditahannya mulutnya agar jangan terlompat kata-kata. Ditahannya hati agar jangan terlompat air mata dari pelupuknya. Sedangkan pemuda-pemuda tadi dan anak daranya terus bercakap-cakap dengan riangnya tentang hal-hal yang menggembirakan hati mereka. Begitulah pula si dara setelah mengadakan dan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati ibu kandungnya sendiri, dengan kata-kata yang sangat menyakitkan dan pedih sekali bagi ibu yang menerimanya, ia seakan-akan tidak meresa apa-apa. Ia malah bercakap-cakap dan berkelakar dengan riang gembiranya. Setelah selesai mereka beristirahat, mereka pun bersiap-siap untuk berangkat menuju tujuan masing-masing, sekali lagi mereka bertukar sapa kata perpisahan. Dikisahkanlah, selama dalam perjalanan isteri Pamuncak Tanjung Seri selalu murung dan ia selalu teringat dengan kata-kata yang telah diucapkan oleh anaknya masih terngiang-ngiang di telinganya. Berkatalah ia dalam hatinya, alangkah lancang dan buruknya sifat anak daranya itu, alangkah sampai hatinya ia tak menakui dirinya sebagai ibunya, ia yang telah melahirkannya serta membesarkannya dengan susah payah. Ia adalah ibu kandungnya sendiri, perempuan yang telah melahirkannya dengan susah payah dan penuh pengorbanan. Sekarang nyatanya setelah ia besar menjadi putri yang cantik jelita, tak mau lagi mengakui perempuan tua yang sudah buruk rupa sebagai ibunya sendiri. Dihinanya ibu kandungnya di hadapan khalayak ramai. Sesungguhnyalah anak itu adalah anak durhaka adanya.
Diceritakanlah sewaktu rombongan tersebut sedang melewati suatu daerah antara Pulau Sangjar engan Lolo dimana daerahnya penuh dengan rawa berlumpur. Si ibu tak tahan lagi membayangkan betapa durhakanya anak itu kepadanya. Tak tahan ia dikejar-kejar bayangan yang menggambarkan betapa kejam hati anak itu kepada dirinya, selagi ia masih bisa berjalan, berpakaian sendiri, sudah begitu tabiat anak kepadanya. Apalagi bila kelak ia telah tua dan tak berdaya lagi mengurus dirinya sendiri, bagaimana jadinya. Maka berdo'alah ia kepada Tuhan, agar anaknya yang durhaka itu, anak yang tidak berperasaan itu, anak tak membalas guna itu ditelan oleh rawa lumpur yang sedang mereka lalui itu.
Rupanya do'a yang diucapkan dengan tulus hati oleh seorang ibu yang didurhakai oleh anaknya sendiri oleh Tuhan, sehingga pada suatu tempat, si dara itu terjerat kakinya oleh rawa berlumpur itu, sehingga makin lama makin dalam jua ia terbenam. Ia menangis dan meraung meminta pertolongan kepada ibu dan pengawalnya, tapi ibunya tiada mengacuhkannya. Maka datanglah para pengawalnya menolong dengan jalan menarik tangan anak gadis itu keatas, tapi usaha mereka itu sia-sia sebab bukannya tertarik ia ke atas malah makin terbenam ia ke dalam lumpur itu. Berpaling ia minta tolong kepada ibunya, tapi dijawab oleh ibunya; "Aku bukan ibumu, aku hanyalah babumu yang buruk dan jelek." Si gadis itu terus juga meraung sambil berkata, "Tolong, tooooloooonggg ibu, aku tidak akan durhaka lagi kepadamu, aku telah berdo'a, maafkanlah aku ibu.
Tapi ibunya tak mau mendengar permintaan anaknya itu. Ketika dilihatnya anak itu sudah tenggelam hingga dagunya, maka datanglah ibunya tapi bukan untuk menolongnya. Ia datang untuk mengambil barang-barang miliknya yang dipakai oleh gadis itu, yaitu sebuah gelang dan sehelai selendang Jambi. Setelah diambilnya barang tersebut, maka tenggelamlah gadis itu bersama dengan tanis dan penyesalannya. Ia tenggelam ke dalam rawa berlumpur dan ditelan oleh bumi. Oleh karena itulah negeri itu dinamai oleh penduduknya setelah kejadian itu dengan nama Lumpur. Dalam perkembangan kampung itu kemudian, berobahlah menjadi Lempur yang berasal dari kata Lumpur.
Dikisahkanlah setelah itu rombongan dan perempuan itu kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju negeri Pamuncak Tanjung Seri. Setelah lama berjalan mereka menuju negerinya, terasalah penat dan letih. Maka merekapun berhentilah disuatu tempat yang ada tebatnya (kolam). Di situlah mereka berisirahat melepas lelah. Maka pergilah perempuan itu ingin mencuci tangan dan badannya. Teringatlah ia pada anaknya yang telah mendurhakainya dan yang telah pergi untuk selama-lamanya. Terlihatlah pula olehnya waktu itu gelang yang diambilnya dari anaknya waktu anaknya akan ditelan oleh bumi. Terpikir olehnya agar jangan lagi teringat terus kepada anaknya itu, maka dibuangnyalah gelang itu ke dalam tebat, setelah kejadian itu dinamailah tebat itu dengan tebat gelang.
Oleh penduduk daerah itu sampai sekarangpun masih disebut tebat gelang. Setelah mereka berhenti beberapa jenak untuk istirahat dan melepaskan lelah, maka bersiaplah pula mereka melanjutkan perjalanan ke arah tujuan. Maka dikisahkanlah setelah mereka menempuh jarak yang jauh yang mendaki gunung dan melalui lembah, terasa pulalah letih dan hauspun, telah pula datang. Sepakat pula mereka beristirahat untuk beberapa lama, di tempat yang cocok. Setelah melihat ke kiri dan ke kanan, maka ditemuilah sebuah tempat yang juga ada tebatnya. Maka disitulah diputuskan untuk berhenti, karena disana dirasakan airnya bersih dan udaranya sejuk nyaman. Dikisahkan sekali ini pun perempuan itu pergi ke tebat untuk mencuci tangan dan membersihkan badannya. Tapi di sini ia pun teringat juga kepada anaknya setelah melihat kain panjang Jambi yang terbawa olehnya itu.
Sekarang ia telah bertekad betul tidak akan mengenang lagi anak durhaka itu, sebab bila setiap saat dia teringat kepada anaknya itu akan timbul rasa jengkel bercampur marah, mengingat tingkah laku anaknya tersebut. Maka selendang itu pun dibuang ke dalam tebat itu. Sampai sekarang tebat itu oleh penduduk daerah itu dinamai tebat Jambi yang berasal dari kata Selendang Jambi.
Setelah itu diceritakanlah, setelah mereka melepaskan lelah dan haus dahaga serta lapar, maka berkemaslah mereka melanjutkan perjalanan menuju negeri Pamuncak Tanjung Seri. Diceritakanlah bahwa beberapa hari setelah itu maka sampailah Perempuan tadi bersama -sama dengan pengawalnya ke negeri Pamuncak Tanjung Seri.
__ADS_1