
Ah, hanya iseng saja aku ingin melanjutkan novel yang satu ini yang dulu pernah mencapai ribuan jumlah view-nya. Penasaran juga, andaikan aku teruskan novel ini, apakah bisa membuat aku menghasilkan uang berjuta-juta?
Okay, check itu out!
Di tengah menjalankan aktivitasnya di atas sebuah treadmill, Aldo menyempatkan diri untuk melihat ke sekelilingnya. Sekonyong-konyong kedua mata Aldo terpicing. Aldo seperti melihat sesosok perempuan yang ia kenal.
Aldo menggelengkan kepalanya. Mana mungkin. Eh, bisa jadi, pikir Aldo dalam hati. Aldo menghentikan sejenak dan segera menghampiri gadis berkuncir kuda tersebut yang menurut Aldo sangat manis.
Entah apa yang dipikirkan Aldo. Padahal Aldo tengah berada di tempat fitness ini bersama pasangannya, Thea, yang agak pencemburu. Thea memang berada di lantai dasar. Istrinya yang tengah hamil muda itu sedang menikmati sarapan paginya di sebuah restoran fast food. Begitu selesai, Thea juga sudah mengabari via chat, Thea akan segera naik ke atas. Sudah tahu Thea berada di dekat dirinya, eh Aldo malah kegenitan. Aldo bergerak cepat menghampiri gadis berwajah Oriental tersebut. Aldo merasa familier dengan wajah gadis tersebut. Gadis itu mengingatkan Aldo dengan momen tersebut.
Bagaimana Aldo bisa lupa. Itu saat-saat paling konyol bagi hubungan Aldo dan Thea. Hubungan mereka nyaris saja bubar karena sebuah girlband. Sampai sekarang Aldo masih sering berpikir apa yang ada di otak Thea. Korslet, kah? Masa tega putus dari Aldo demi sebuah impian menjadi personel sebuah girlband?
__ADS_1
Thea, Thea, kok dulu kamu bisa gitu, aku hampir saja mau bunuh diri kalau kamu beneren mutusin aku, kenang Aldo dalam pikirannya. Thea, apa kamu nggak tahu, betapa berharganya kamu untuk aku?
Gadis berkuncir kuda itu segera menghentikan aktivitasnya. Dengan tersenyum nan nakal, gadis itu berkata, "Ada apa, yah? Apa kita pernah ketemu? Kamu fans aku, yah?"
Aldo tertawa. Astaga, ternyata ini benar-benar gadis yang sama. Gadis yang dulu pernah Aldo tak sengaja berjumpa di Pasar Lama. Setelah beberapa tahun berlangsung, Aldo berjumpa lagi dengan gadis ini. Apakah maksud dari pertemuan ini?
Sekonyong-konyong otak Aldo memutar kembali momen tersebut.
...
Jari telunjuknya mengarah ke gadis itu. "Ka-ka-kamu itu Cindy Gulla, bukan?"
Gadis itu tak langsung menjawab. Hanya berdiam diri. Setelah cukup lama tanpa suara, akhirnya gadis itu tersenyum dan mengangguk. Jari telunjuk diletakan di dekat bibirnya dan berkata, "Sssst... tapi jangan kencang-kencang ngomongnya."
__ADS_1
"Tenang aja lagi." Ia terkekeh. "Oya, kamu sendiri lagi ngapain di sini?"
Aldo benar. Cindy Gulla tak seharusnya khawatir. Di pasar ini, di pagi hari, ia benar-benar bebas menjalani hari-harinya sebagai orang biasa. Sepertinya tak ada satu pun orang di Pasar Lama itu yang mengenali sebagai Cindy Gulla, member JKT48. Rada sangsi juga, para penjual kaki lima, tukang becak, atau ibu-ibu yang berbelanja itu tahu soal JKT48. Di pasar itu juga nyaris tak ditemukan orang-orang yang sebaya Aldo atau Cindy Gulla. Kalaupun ada, mungkin mereka pura-pura tidak tahu atau malah tak mengenali. Wajar sih. Kalau dilihat-lihat, wajah Cindy Gulla lumayan pasaran.
"Cuma nemenin Mama aku belanja," kata Cindy Gulla tersenyum. "Juga mau refreshing aja. Beberapa hari ini aku sibuk sama kegiatan di teater dan sekolah. Oh iya, Kakak yang waktu itu kan?"
Aldo cengengesan sendiri. Tak disangka, Cindy Gulla masih ingat padanya. "Iya, yang waktu itu. Kamu masih ingat aja. Eh tapi manggilnya nggak usah pake 'Kak' dong. Aku sebaya sama kamu, lho. Cuma beda dua tahun dari kamu. Panggil aja aku Aldo."
"Bisa aja deh." Cindy Gulla nyengir. "Oh iya... dari tadi kuperhatikan, kamu lagi ada masalah yah?"
...
"Ini Cindy Gulla, kan?" tanya Aldo.
__ADS_1
"Kamu fans aku, yah?" tanya balik Cindy Gulla.