Like a Doll

Like a Doll
Ilusi Hitam dan Merah


__ADS_3

"Chieko-san. Mungkin ini sudah saatnya aku memberikan apa yang kamu ingin kan saat itu." Sekarang keluarga Izumi dan aku juga Vhylen mengadakan pesta di tepi pantai. Vhylen di sana sibuk menahan godaan dari tubuh semok nya Viona, Alex juga nyonya Isabella bermain air di pantai layaknya ibu dan anak. Anak mereka yang masih bayi di titipkan pada orang tua Izumi. Sedangkan Aran-sensei sibuk memegang kamera merekam semua momen ini agar bisa di kenang kembali. Aku dan Izumi diam-diam kembali ke mansion karena katanya ada sesuatu yang akan ditunjukkan nya.


"Apa itu?"


"Lah kok malah lupa? Bukan nya kamu mau liontin yang sama yang aku pakai saat ini?"


"Ah iya. Aku masih mau kok tapi kenapa gak langsung aja kasih di sana? Kan gak enak ninggalin pesta pas lagi seru-serunya gini."


"Karena barang nya ada di bawah tanah. Masih dalam tahap penyelesaian dan kamu juga harus bersumpah dulu sama aku buat make kalungnya." Aku hanya mengangguk dan Izumi pun mengeluarkan kunci rumahnya kemudian kita masuk ke dalam. Sekitar beberapa langka dari pintu depan, kita berdua berhenti tepat di depan sebuah pot bunga besar. Seingat ku, pot ini sebelumnya tidak ada dan kenapa sekarang tiba-tiba dia tumbuh besar di sini?


"Itu cuma ilusi, kau tau. Biar tamu lain tidak melihat akses pintu masuk terlarang ini." Sejak kapan? Yah, aku tidak peduli lagi sih. Izumi melepaskan liontin nya kemudian dia letakkan di salah satu ranting dari tanaman di dalam pot itu. Beberapa detik kemudian, lubang besar seukuran manusia dewasa terbuka di depan pot itu. Lubang gelap, kosong juga banyak aura tidak menyenangkan keluar dari dalamnya membuat ku sedikit merinding. Apa kita harus masuk kedalam nya demi sebuah liontin?


"Ayo Chieko, lompat."


"Eh? Ke..kedalam sana?"


"Tentu, di mana lagi. Ah apa aku duluan aja? Aku akan memberi mu contoh kemudian kamu menyusul?" Izumi tanpa ragu sedikitpun langsung melompat begitu saja kedalam lubang itu. Di sepanjang jalan, tidak ada suara yang keluar apalagi suara kakinya yang mendarat di dasar lubang ini. Apa ini memang sedalam itu? Apa aku akan baik-baik saja jika melompat? Bagaimana jika aku malah tersangkut atau semacamnya.


"LONCAT LAH, AZUMI!!"


Tanpa pikir panjang lagi, dengan terpaksa aku lompat masuk kedalam. Gelap dan sunyi mulai menyelimuti seluruh badan ku. Lubang yang ada di atas kepalaku perlahan menutup dan menghilang. Cahaya yang satu-satunya bisa setidaknya menerangi sebentar justru lenyap membuat ku menjadi ragu sekali lagi dengan pilihan yang aku ambil ini. Semoga tidak terjadi apapun pada diriku, juga Izumi yang sudah melaju entah sampai mana keberadaan.


15 menit berlalu, aku masih meluncur di lubang ini. Tidak ada apapun di depan ku selain gelap yang mencekam. Butiran pasir ataupun angin tak satupun kurasakan menggores kulitku, padahal di sini aku bisa bernafas. Lama kelamaan, lubang ini menjadi dingin seperti di balut pendingin ruangan di sepanjang dinding lubang tanpa ujung ini. Kira-kira berapa lama lagi aku harus menunggu.


Samar-samar aku melihat setitik cahaya di bawah sepatuku. Aku sudah 25 menit yang lalu masuk ke lubang ini dan akhirnya—mungkin aku akan mencapai dasar dari lubang ini. Cahaya itu semakin besar dan semakin mengisi lubang ini. Di bawah aku juga bisa melihat beberapa sofa besar dan kemudian aku pun terjatuh di atas mereka dengan pendaratan yang mulus.


"Wah, dingin. Ini di mana?"


"Azumi." Di depan ku sudah berdiri Izumi— dengan tampilan yang tidak seperti biasanya. Dia memakai baju yang berbeda saat masuk ke sini. Semua yang di pakainya berwarna hitam dan merah, ada banyak duri hitam dan bunga mawar melilit kaki nya yang mungil. Juga, rambut nya yang berwarna hitam di bagian ujung pangkal rambut nya yang sebelumnya tidak pernah ada. Terlebih dari itu semua, tingginya sekarang sama seperti diriku.


Wajah nya memang Izumi, tapi aura dan tampilan nya seperti bukan dia yang dulu.


"Kemari, Azumi. Kita berganti baju dulu. Pasti sangat mengejutkan bukan perjalanan menuju kemari, tapi itu semua akan terbayarkan kalau kamu mau memakai baju rancangan baru kami." Aku mengikuti langkah kaki Izumi di belakang nya. Ruangan ini sangat dingin namun tidak mengganggu sedikitpun, malah aku bilang kalau dingin ini sebenarnya sungguh terasa nyaman. Aku mungkin akan tertidur di sini cukup lelap, karena aku baru berada di sini belum ada satu menit aku sudah merasa sangat ngantuk sekali. Benar-benar nyaman rasanya berada di sini.


Tapi, itu tidak berlangsung lama. Semakin masuk ke dalam ruangan ini, hawa nya semakin berbeda. Gelap mulai perlahan menyelimuti, dingin yang tadi nya kupikir sangat nyaman sekarang berubah drastis hingga sakit menusuk tulang. Sosok Izumi yang di balut hitam dan merah di mana-mana hanya menampakkan wajah dan rambut nya saja yang seperti berjalan melayang di hadapan ku. Membuatku bergidik ketakutan dan hampir saja kehilangan keseimbangan ku.


"Kamu jangan pingsan lagi, Azumi. Sedikit lagi kita sampai pada tujuan mu saat ini." Wajah dengan rambut itu menoleh, eh, tidak, maksud ku Izumi menoleh ke arah ku saat menyadari langkah ku mulai tidak beres. Menandakan aku ingin jatuh pingsan lagi. Tapi karena melihat sosok nya yang seram sekarang, aku bahkan berkedip pun tidak ingin.

__ADS_1


Sekarang kita memasuki ruangan yang berwarna serba merah seperti darah. Seakan mataku sekarang ini sedang di tenggelamkan dalam darah kental yang masih bersih, tidak tercemar limbah apapun. Tapi berkat itu, sosok Izumi kembali seutuhnya meskipun beberapa bunga nya menyatu dengan warna di dinding ruangan ini. Hawa yang tadinya sangat dingin menusuk, sekarang terasa panas dan membuat kulit seperti terbakar. Namun, itu hanya dapat kurasakan, tapi sebenarnya aku baik-baik saja. Hawanya saja yang sebenarnya terasa demikian dan itu cukup mengganggu. Bagaimana Izumi bisa tetap berjalan dengan pakaian nya yang serba hitam?


"Harap jangan terlalu banyak bertanya dalam pikiran mu, Azumi. Atau 'mereka' bisa mendengar kita. Bersikaplah sewajarnya, sebentar lagi kita akan menemukan pintu dengan bunga mawar di tiap sisinya, jadi sisakan ruang di kepalamu untuk menerima semua yang ada di balik nya." Suara Izumi yang terdengar parau dan serak membuat seisi ruangan ini malah terasa horor dan aku di buat merinding oleh suaranya yang sedikit menggema di sepanjang koridor. Selang beberapa menit, seperti yang dikatakan sebelumnya, kita akan di hadapkan pintu dengan bunga mawar. Pintu yang besarnya kira-kira 200cm dengan lebar 50cm. Aku tidak yakin ingin masuk ke sana, auranya menakutkan dan juga dari ruangan itu, belum terbuka saja sudah tercium aroma tidak menyenangkan singgah ke hidungku.


"Aku ingin kamu berjanji untuk tidak teriak, lari, bertanya yang tidak perlu, menangis apalagi memohon padaku untuk kembali. Karena tanpa mengambil liontin yang kamu inginkan, kamu akan terjebak di sini bersama makhluk-makhluk yang tinggal dalam ruangan ilusi hitam dan merah ini. Mereka bukan lah makhluk halus ataupun makhluk seperti kita. Mereka seperti monster tapi dengan raga manusia, yang haus darah dan ingin menghisap jiwa mu sampai kering. Karena kamu baru pertama kali, aku memberi mu keringanan seperti yang sudah ku katakan di atas. Sebelum masuk, aku mau kamu berjanji dulu." Izumi mengatakan nya demikian. Tatapan nya serius juga penuh harapan padaku agar bisa melakukan apa yang di perintahkan nya barusan. Menurutku, selama itu tidak seram, aku tidak akan menangis apalagi berteriak. Tapi kalau memang seseram itu, aku akan menggigit bibirku sampai berdarah agar tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutku kecuali kalau sedang di suruh bicara sesuatu atau bertanya yang penting saja.


"Bo..boleh aku bertanya?"


"Karena masih diluar, tanyakan saja. Karena kalau sudah di dalam kamu tidak dibolehkan bertanya lagi kecuali di suruh langsung oleh orang yang ada di dalamnya."


"Apa aku akan masuk ke dalam, sendirian? Maka dari itu kamu melarang ku melakukan hal demikian?"


"Tentu saja. Ini adalah urusan mu. Aku hanya pemandu di sini. Pemandu tidak di izinkan masuk ke dalam ruangan hampa. Hanya tamu saja yang punya izin khusus menemui 'beliau'."


"Beliau ini siapa?"


"Kamu akan tau nanti. Sekarang, apa kamu sudah bisa berjanji? Kita tidak punya banyak waktu dan sebentar lagi waktu nya dunia mu untuk makan siang dan dunia ini untuk makan malam." Ternyata di ruangan ini pun aku sedang berada di dunia yang berbeda. Tidak heran sih, sejak tadi memang terasa sunyi. Makhluk yang di maksudnya pun tidak menampakkan sosoknya sepanjang perjalanan kami sampai di depan pintu ini.


"Kalau sudah waktunya makan malam, itu adalah waktu para makhluk yang aku maksudkan tadi akan keluar dan mencari mangsa. Tapi kamu akan baik-baik saja di dalam." Aku akan berhati-hati lagi dalam berpikir. Baru saja aku berfikir soal makhluk itu, dia malah memberitahukan kapan mereka akan keluar. Benar-benar sial. Aku pun memutuskan dengan mental yang kuat, aku bersumpah tidak akan menangis, teriak, lari, bertanya yang tidak perlu, apalagi memohon kepadamu untuk kembali.


Aku meraba-raba sekeliling tapi tidak ada apapun yang kutemukan. Sebisa mungkin aku tidak membuka mulut apapun yang terjadi. Aku akan membukanya jika siapapun yang akan ku temui ini menyuruhku untuk berbicara.


"Selamat datang."


Tiba-tiba ruangan ini menjadi penuh dengan cahaya dari lampu gantung yang ada tepat di atas kepalaku. Suasana nya beda dari nama ruangan tadi. Di sini terlihat berkilau indah karena dinding yang di lapisi emas dan kain merah dimana-mana. Juga, banyak bunga mawar dan ranting berduri yang melilit pilar-pilar besar yang ada di ruangan ini. Di hadapan ku kali ini, ada seorang wanita berambut sangat panjang hingga menyentuh lantai sedang duduk di singgasana sambil mengaduk sesuatu di dalam kuali besar di hadapan nya. Tidak hanya itu, aku juga melihat anak kecil yang tinggi nya seperti Izumi yang aku kenal—tidak, dia memang lah Izumi yang sedang memainkan boneka gotik seperti Izumi yang mengantarku barusan. Tak lupa juga aku melihat dua kerangka yang memakai baju. Rasanya aku tidak asing dengan baju itu, seperti aku baru saja melihatnya tadi pagi. Ah, baju itu milik orang tua Izumi.


Saat aku perhatikan lagi, wanita berambut panjang itu sebenarnya adalah Viona. Tenang lah, Chieko. Jangan bertanya-tanya, kalau tidak itu sama saja dengan melanggar janji yang aku ucapkan barusan. Aku harus bersikap seolah aku belum pernah melihatnya sebelumnya.


"Ada yang bisa Viona lakukan untuk mu?"


Ternyata memang benar, Viona. Aku harus menuruti apa yang di suruh Izumi dewasa di depan. Aku harus menyapa nya seperti menyapa tuan putri. Karena itulah aku memakai baju Lolita yang penuh renda seperti ini.


"Selamat siang, Nona Viona."


"Selamat siang, Azumi Chieko." Viona berdiri dan memberi salam hormat yang sama seperti yang kulakukan tadi. Dia tersenyum penuh arti sembari berjalan ke arahku.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk mu, Mi-chan?"

__ADS_1


Aku harus menjawab apa ya, aku tiba-tiba lupa dialog yang harus ku jawab saat di tanya pertanyaan seperti itu. Berpikirlah, Chieko dan fokus dengan masalah yang menimpamu. Jangan melakukan kesalahan sekecil apapun itu jika tidak mau di mangsa monster yang mungkin sebentar lagi sudah keluar mengendus sana sini mencari mangsa yang akan di hisap jiwanya sampai kering oleh mereka.


"Aku ingin menikmati teh sore dengan mu dan membicarakan perihal liontin kehidupan." Aku berhasil mengingat nya, semoga saja ini jawaban yang tepat karena kata Izumi, sosok yang di sini tidak sama persis dengan seseorang yang sudah aku kenal cukup lama. Dari segi tampilan mungkin mereka persis, tapi tidak untuk kepribadian dan yang satu ini sangat sulit untuk di taklukkan apa lagi untuk pemula seperti ku.


Awalnya Viona terdiam, dia memainkan pangkal rambut nya yang panjang kemudian menjawab.


"Pilihan yang bagus. Aku punya teh yang cocok untuk warna rambut mu. Izumi kecil, tolong siapkan meja dan teh nya ya. Kita kedatangan tamu." Izumi kecil dengan polosnya melompat kesana kesini dan mengambil dua koper besi lantas diberikan nya kepada Viona kemudian dia kembali bermain dengan boneka itu.


Sedangkan Viona, dia melempar koper itu ke atas dan kemudian terbuka menjadi sebuah meja dengan satu set cangkir teh. Koper lain nya ternyata adalah kursi yang akan ku pakai dengan nya duduk berhadapan di dekat meja itu. Canggih banget, tapi aku tidak boleh tergoda. Aku harus bersikap seperti tadi biar Viona merasa senang.


"Meskipun kamu sudah bersumpah, tapi selama kamu dapat izin dariku, sumpah mu di tadi sudah di cabut sepenuh nya. Bertanyalah apapun yang ada di kepala mu dan aku akan menjawab nya sebisa mungkin." Viona mulai menuangkan teh nya ke dua cangkir kemudian kami bersamaan meminum nya sedikit. Teh ini tidak nampak seperti teh malah terlihat seperti jus wortel dan ini sama sekali tidak persis warna rambut ku yang sebenarnya adalah blonde kecoklatan.


Tapi rasanya memang teh dengan citarasa sedikit, aneh? Ada perpaduan antara jeruk juga coklat yang aku rasakan hanya dalam satu teguk. Aneh, terkadang rasanya selalu berubah saat aku mencoba meminum nya. Kali ini terasa seperti yogurt dan strawberry.


"Ini namanya teh ilusi. Dia akan memainkan Indra perasa pada orang yang meminumnya. Semua yang ada di sini sebenar nya juga ilusi. Itulah kenapa tempat ini di namakan Ilusi Hitam dan Merah. Ah, kecuali monster yang tinggal di sini, mereka satu-satunya yang bukan ilusi di sini." Aku tidak mengerti, tapi apa itu berarti semua yang ada di sini itu hanyalah ilusi dan aku sedang berbicara dengan udara yang kupakai untuk bernafas sepanjang hari? Entahlah, aku ingin menanyakan hal itu tapi takut itu malah menjadi kata-kata terlarang baginya.


"Apa aku boleh bertanya?"


"Tentu saja. Aku izinkan."


"Kenapa ruangan ini di sebut ruangan hampa padahal ini tidak terlihat seperti itu. Yah, awalnya aja sih tapi dalam sekejap aura nya berubah lagi. Haha, mungkin yang namanya 'ilusi' semua bisa berubah seketika."


"Menarik." Viona meletakkan cangkirnya ke atas meja, lalu melanjutkan nya.


"Bisa di bilang, ruangan ini menampilkan apa yang ada di pikiran dan hati seseorang yang ingin masuk ke dalam nya. Dia berubah tergantung dia memang benar mengharapkan ini ruangan hampa atau berpikir yang lain. Aku rasa yang kamu pikirkan hanyalah kejayaan dalam masalah mu ini dan ini lah yang ada di dalam pikiran dan hati mu itu. Sebenarnya ini kejadian yang cukup langka kalau aku bilang, selama ini orang yang datang padaku selalu merasa putus asa dan berakhir berbincang padaku di tempat yang seram dan sangat gelap. Dia hanya bisa melihat gigi dan bola mataku karena aku berdandan serba hitam haha." Perasaan aku tidak memikirkan itu, yang ada di pikiran ku ini hanyalah cara agar bisa lolos dari ini semua dan kembali bersama keluarga Izumi yang mungkin saja sedang mencari ku.


"Di dunia ini, seseorang akan menggantikan mu. Tentu saja itu ilusi dari dirimu sendiri yang terbentuk di dunia ini, jadi jangan khawatir kalau kamu akan di cari di dunia mu yang sekarang. Sampai detik ini pun mereka di atas sana tidak satupun yang sadar kalau itu bukan kamu yang sebenarnya. Jika sudah waktu nya kamu kembali, ilusi itu pun akan kembali ke tempat ini."


"Hebat juga ya. Tapi benar-benar di luar nalar ku. Oh ya, bagaimana dengan Liontin Kehidupan yang aku tanyakan tadi?"


"Tenang, aku akan memberikan nya padamu. Tapi sebelum nya, apa kamu mengenali ku?"


"Dan juga aku?"


"Apa kamu mengenal siapa yang saat ini kamu lihat? Hei, Chieko? Apa kamu mengenal kami?" Entah kenapa, kesan nya seperti memaksa sekali pertanyaan kali ini. Apa yang aku harus berikan sebagai jawaban? Selama ini aku pikir semua yang kulakukan akan berjalan lancar tanpa hambatan dan aku pun bisa kembali ke dunia ku. Malah aku di hadapkan pertanyaan yang sama sekali tidak ada dalam petunjuk Izumi dewasa di depan. Apa yang harus ku lakukan? Kalau aku menjawab iya, apa yang akan terjadi?


"JANGAN BERPIKIR TERLALU LAMA DAN BERIKAN AKU JAWABAN MU, BODOH!!"

__ADS_1


__ADS_2