Little Bride

Little Bride
BAB 57


__ADS_3

Sekarang mereka berada di rumah sakit untuk melayat, katanya tidak ada yang mengurus Arini, dikarenakan papa nya entah pergi ke mana, namun sopir yang menabraknya bertanggung jawab untuk mengubur Arini, akan tetapi dari rumah sakit itu, tidak dibawa kemanapun.


“Eh! Terus ini kamar mayat nya di mana?” Tanya Ica celingak-celinguk mencari keberadaannya.


Aliya terlihat serius memperhatikan petunjuk arah yang ada di sana. “Di sana,” balas Aliya, dan diikuti oleh mereka.


Aliya, Ica, Brandon, Aldi dan Elfaro pun berjalan mendekati Kamar mayat, dan kini sudah menemukannya. “Kok gue jadi merinding, ya? Kan, kalau orang jahat meninggal, nanti dia gentayangan lagi,” gumam Aliya berpikir aneh-aneh.


Ica menghembuskan napas panjang, sedangkan Brandon mendukung yang diucapkan oleh Aliya, karena memang tergiang-giang dengan hal tersebut.


“Kita masuk sekarang!” Perintah Elfaro tidak mau berlama-lama di sana juga, dan akhirnya mereka kini membuka pintu tersebut, aroma mayat seketika menyambut Indra penciuman mereka.


“Gimana nggak serem, bau ini yang gue takutin dari dulu,” ucap Aliya menggelengkan kepalanya dengan hidung yang ditutup.


Elfaro melihat nama Arini di sana, tubuhnya yang sudah ditutupi oleh kain putih. Dia langsung membukanya tanpa ragu, sedangkan Ica dan Aliya seketika menjerit melihatnya.


“Udah dibersihkan, jadi nggak usah takut. Sekarang kita berdoa. Lo pada hafal doa nya kan?” ucap Elfaro kepada teman temannya itu.


“Iya, gue hafal,” balas Aldi.


“Gue juga,” kata Brandon tidak mau kalah.


“Kita juga,” jawab Ica dan Aliya.


“Doa dimulai!” Tegas Elfaro dan kini menundukkan kepalanya, diikuti oleh Aliya, Ica, Brandon dan juga Aldi. “Doa selesai,” ucapnya setelah beberapa menit.


Aliya segera mendekati Arini lebih dekat lagi. “Arini! Walaupun lo jahat nih sama semua orang, tapi lo berhak dimaafkan. Jadi, gais! Kalau ada salahnya dia, mohon dimaafkan. Kasihan, kalau mati bawa banyak dosa. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan, karena dunia adalah ujian bagi kita semua, siapapun itu.”


Ica dan Brandon saling memandang, sejak kapan Aliya tiba-tiba menjadi penceramah seperti itu. Bahkan, kata-kata yang dikeluarkannya sangat adem dan menyentuh.


“Al! Ini beneran loe, ya? Kayak kerasukan malaikat,” tutur Aldi menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Terus lo kira gue hantu gitu?” Balas Aliya menghela napas panjang.


“Ya, karena agak beda gitu, iya kan, Don?” Ucap Aldi kepada Brandon yang kini menatap Arini dalam diam, dan dibalas anggukkan kepala dengan pelan.


“Gue tiba-tiba jadi kasihan sama Arini. Nggak tahu, dateng nya dari mana. Gue mau insyap aja, dah! Takut gue mati muda, dan langsung dilempar ke neraka, minimal gue nggak melakukan perundungan lagi dan jadi orang yang baik,” ucap Brandon tiba-tiba.


Aldi mendekati Brandon dan menggoyang tubuh pria itu, agar segera sadar dari mimpi itu. “Don! Loe sehat, kok. Tapi menghayal, ya?”

__ADS_1


“Gue sadar, Aldi, lebay banget loe, tobat makanya. Dunia ini sementara.”


“Tapi, kan kemarin masanya SMA, jadi mencari kenangan sebanyak-banyaknya. Kalau sekarang, kan udah mau masuk kuliah, jadi nggak mungkin seperti itu lagi.”


“Itu lebih bagus,” balas Elfaro menghela napas panjang.


“Ya udah, kita sekarang keluar dari sini,” ucap Ica dan menutup kembali kain yang menutupi Arini.


Mereka semua menganggukkan kepalanya, mereka meninggalkan ruangan tersebut, dan kini sudah berada di luar.


Brandon menarik napas panjang dan tersenyum. “Kayaknya, gue akan bener-bener berubah, deh,” ucap Brandon lagi.


“Lo udah dua kali ngomong gitu, Don! Jadi, kapan kita bisa lihat perubahan lo,” sahut Aldi seperti biasanya.


“Bukan gue aja, kalian semua juga harus tobat.” Brandon memeluk Aldi dan Elfaro sahabat nya itu. “Gue minta maaf, kalau ada salah sama kalian berdua.”


“Oh jadi minta maaf nya ke Aldi sama Elfaro doang,” sindir Aliya ke Brandon.


“Gue juga minta maaf ke kalian ya kalau gue ada salah,” ucap Brandon sambil menatap Aliya dan Ica.


“Salah kamu banyak,” celetus Aliya.


“Ih geli gue dengernya,” cerocos Aldi.


“Ikut campur aja lo,” balas Brandon.


“Brandon! Jangan nakutin kita, deh! Lo nggak mau logout kan seperti Arini? Jadi, takut gue kalau lo beneran seperti itu. Terus nanti si Aliya pacarannya sama siapa, dong.” Ica terlihat panik seketika.


“Nggak, dong! Gue sehat seperti ini,” balas Brandon menghela napas panjang. “Ayo kita pulang sekarang.”


“Tau ih si Ica, lihat nih Brandon sehat seperti ini,” ucap Aliya.


“Iya iya.”


Mereka berjalan di lorong rumah sakit, dan kini saling memandang dengan senyuman berarti.


...****************...


Di rumah sakit, Elfaro terlihat sudah selesai ngelayat ke Arini, dan langsung ke ruangan Adira, yang terlihat jelas gadis itu terbaring dengan tenang, dibantu peralatan yang banyak menopang hidupnya saat ini. Elfaro sudah berjanji kepada Adira, untuk membawakan gadis itu setiap hari mawar putih, dan sekarang dia membelinya. “Bunga yang kemarin aku buang dulu, udah layu. Dan ini yang baru. Semoga bunganya bisa mengeluarkan energi kehidupan,” lirih Elfaro tersenyum.

__ADS_1


Setelah menatanya dengan rapi di meja samping Adira, Elfaro bisa bernapas lega, dan kini dia menatap istrinya itu. Elfaro pun duduk di samping Adira karena dia ingin bercerita kepada sang gadis.


“Belum ada yang tahu kamu sakit, Dir. Aku belum mau cerita apapun ke sekolah. Aku berharap sampai seminggu, kamu udah sadar, dan kembali menatap aku dengan bola mata indah kamu.”


“Aku juga mau cerita, Arini meninggal dunia, tadi beritanya sudah dipublikasikan sama pihak sekolah. Kamu pasti kasihan kan sama dia? Kalau aku nggak sama sekali. Baguslah kalau dia pergi, jadi nggak ada yang jahat.”


“Tapi, kalau memaafkan orang telah pergi katanya baik, jadi aku udah memaafkan semua kesalahannya di dunia. Kalau kamu di sini juga pasti kamu nyuruh aku buat maafin dia kan.”


Tok! Tok!


Suara pintu ruangan diketuk, terlihat di sana Alfino yang masuk dan kini mendekati mereka berdua, dengan membawa buah bersama dengan Farhan yang menemaninya.


“Siang, El! Gue sama Alfino mau jenguk Adira. Gimana keadaan Adira?” Tanya Farhan kepada Elfaro langsung.


“Masih belum sadar, dokter menyatakan Adira koma, dan belum diprediksi entah akan bangun kapan,” balas Elfaro langsung.


Alfino yang mendengar hal itu menghela napas panjang. Dia memperhatikan Adira yang kini tampak tak berdaya di hadapannya. “Gue berharap, Adira secepatnya sembuh. Dan kembali sehat lagi.”


Elfaro menganggukkan kepalanya dan berharap doa Alfino di kabulkan. “Gue mau minta maaf sama loe, Al! Karena apa yang terjadi sekarang, disebabkan keteledoran gue. Bahkan, Adira seperti ini karena menjadi tameng.”


Alfino menepuk bahu Elfaro dan menganggukkan kepalanya. “Nggak apa-apa, Bro. Semoga kedepannya loe sama Adira bisa bersatu lagi, nggak usah hiraukan gue lagi. Cinta Adira bahkan, lebih besar dari apapun itu. Jangan sia-siakan dia. Gue juga mau minta maaf sama loe, nggak seharusnya gue ngajak loe berantem kayak gitu.”


“Makasih, Al. Gue juga uda maafin loe kok, sekarang kita baikan ya,” ucap Elfaro.


“Gue minta sama loe jangan ada dendam ya di diri loe. Karena, untuk saat ini, gue memilih berdamai, karena keadaan dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk dendam kepada siapapun apalagi ke Arini. Arini juga udah nggak ada di dunia ini.”


“Iya Al,” jawab Elfaro.


“Papanya juga sudah bangkrut atas ulahnya si Arini, mungkin hal itu yang membuat Arini ingin pindah alam,” ucap Alfino.


“Memangnya kita bisa pindah alam? Keren dong Arini, gue juga mau dong,” sahut Farhan mendengar perkataan mereka dari tadi.


“Lo nggak usah pindah alam. Sekarang aja seperti penampakan,” sambung Alfino, membuat Farhan menghembus napas panjang dan membenarkan kaca matanya. “Bercanda, Farhan! Loe keren kok,” lanjutnya lagi.


“Pokoknya, seAdira secepatnya sembuh, El! Dia gadis yang baik hati, jadi biarkan saja yang jahat-jahat dulu yang diambil sama sang kuasa. Adira mah jangan.”


“Gue hanya menunggu keajaiban setiap hari, tiba-tiba Adira membuka matanya, dan berbicara seperti dulu.”


“Loe pasti kuat menjalani semua cobaan ini, El! Loe memang pantes sama Adira. Kalian berdua sangat cocok,” ucap Alfino mendukung.

__ADS_1


__ADS_2