Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#22 Belanja bersama ibu mertua


__ADS_3

Alina kini sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Ia datang ke tempat itu tidak sendirian, melainkan ia datang bersama dengan Hanny.


Wanita itu yang mengajak Alina untuk berbelanja bersamanya. Katanya, anggap saja jika itu liburan karena Alina sedang libur bekerja.


Sebenarnya Alina tidak terlalu suka berbelanja, ia tipe wanita hemat yang berbelanja seperlunya. Memang agak aneh, tapi Alina adalah orang yang baru keluar rumah saat ia memang perlu keluar rumah.


Waktunya selama ini Alina gunakan untuk belajar, ia mungkin bukan anak terpandai atau jenius seperti Hero, tapi Alina adalah anak yang rajin dan pekerja keras. Makanya ia bisa mendapatkan nilai yang cukup memuaskan setelah berusaha dengan sangat susah payah.


“Ini kayaknya bagus untuk kamu sayang, kita beli yang ini ya,” ucap Hanny dengan wajah semangatnya, Alina yang melihat hal itu selalu merasa tak enak hati jika ingin menolak kebaikan dari Hanny.


“Bund, Alina jarang memakai gaun. Lebih baik kita belanja kebutuhan bulanan saja,” usul Alina. Dia tipe orang yang sangat suka memakai baju kasual atau baju panjang.


Makanya Alina terkadang terkesan tomboi, tapi ia memiliki wajah yang sangat cantik. Hingga apapun yang ia pakai akan terlihat cocok dan terasa cocok saat ia mengenakan itu.


“Kenapa? padahal gaun ini bagus loh sayang. Bunda belum pernah lihat kamu memakai gaun, sesekali Bunda ingin lihat kamu pakai gaun, apa boleh?” tanya Hanny menatap Alina penuh harap.


“Iya Bun, nanti Alina akan memakai gaun yang Bunda kasih, tapi Alina minta Bunda jangan membeli terlalu banyak gaun ya,” pinta Alina yang langsung diangguki.


Alina dan Hanny berjalan menuju deretan gaun. Ada berbagai macam motif dan jenis model gaun yang tersedia secara lengkap, gaun-gaun yang harganya fantastis dan harganya yang seakan membuat orang melongo saat melihat nominalnya itu, gaun yang berkualitas sangat tinggi itu sengaja di tempatkan di tempat-tempat khusus. Hal itu membuat gaun itu terkesan semakin glamor dan mewah.


“Nah, yang ini bagus kayaknya buat kamu,” Hanny memilih gaun yang sangat simpel dibandingkan gaun yang lain, motifnya pun terlihat sederhana tapi terkesan anggun di saat bersamaan.


Hanny sengaja memilih gaun motif sederhana, karena dari karakter Alina, ia bisa yakin jika Alina tipe orang yang suka hal-hal simpel dan tidak ribet.


“Kalau gitu Alina coba ya Bun,” ucap Alina yang langsung diangguki oleh Hanny dengan semangat.


Hanny hanya diam menunggu Alina di luar ruang ganti, tapi sambil menunggu, Hanny berusaha untuk menghubungi Hero.


“Sayang, kamu sedang apa,” Isi pesan yang ditulis oleh Hanny untuk anaknya, Hero.


...*****...

__ADS_1


Hero yang sedang fokus mengerjakan tugas perusahaan, ia langsung menatap ke arah ponselnya begitu terdengar jika ponsel miliknya itu berdering.


Menunda untuk melanjutkan pekerjaannya di laptop miliknya, Hero lalu melihat isi ponselnya yang ternyata terdapat pesan dari Hanny.


“Hero sedang mengerjakan tugas Bun,” Isi pesan yang langsung Hero kirim pada ibunya.


Tapi tak berapa lama muncul jawaban dari ibunya.


“Maka nya, 'kan sudah bunda bilang, jangan selalu mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Kamu juga perlu asisten untuk membantu kamu dalam mengerjakan pekerjaan di perusahaan,” isi pesan panjang dari Hanny.


Pesan itu berupa sebuah kata kesal karena Sang anak selalu menolak jika ditawarkan seorang asisten yang akan membantunya.


‘Manusia itu tidak bisa dipercaya sepenuhnya Bun, dan Hero lebih suka percaya pada kemampuan Hero sendiri dibandingkan harus mempercayai orang lain,’ ucap Hero kala itu setiap menolak saran Sang ayah.


Entah terbuat dari apa stamina Hero, bahkan bukan hanya Farrel saja yang kagum, orang tuanya bahkan sangat khawatir dengan kesehatan Hero.


“Nanti akan Hero pikirkan lagi,” singkat Hero membalas pesan panjang Sang ibu.


“Hero, kamu ini! kamu nggak takut sakit 'kah? bunda benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan kamu sayang. Tolong terima penawaran ayah kamu ya,” bukan kemarahan yang biasanya Hero terima, justru kata-kata lembut yang masuk indera pendengaran Hero.


“Iya Bun, akan Hero pikirkan lagi,” jawab Hero.


Mungkin karena kejadian 10 tahun yang lalu, dimana ayahnya mengalami kerugian dan hampir mengalami kebangkrutan.


Hal itu, membuat Hero yang masih berusia 16 tahun ikut terjun membantu, awalnya memang Hero tidak diizinkan Sang ayah untuk membantu karena ia masih belum memiliki pengalaman, tapi tanpa diduga jika kebangkitan perusahaan itu sangat bergantung pada dirinya.


Sayangnya saat ayahnya Hero hendak menyerahkan perusahaan langsung pada Hero, sebuah kejadian 2 tahun lalu membuat Sang ayah merasa kecewa akan penolakan Hero yang menolak untuk memimpin perusahaan secara langsung.


Hero justru memilih menjadi seorang dokter, yang mana profesi yang mulia itu kini menjadi profesi yang Bram benci karena Sang Anak lebih memilih menjadi dokter jika dibandingkan untuk memimpin perusahaan.


“Jangan seperti itu sayang, kejadian yang telah berlalu biarkan saja berlalu. Kita memang harus menjadikan sebuah pengalaman sebagai sesuatu hal yang harus kita ingat. Bukankah sangat keterlaluan jika kita tidak bisa sedikit saja berusaha percaya lagi?” tanya Hanny, ia juga ingat betul bagaimana terpuruknya mereka saat itu.

__ADS_1


Hampir setiap orang, entah teman, atau sahabat, keluarga yang mereka bantu mendadak menjauh karena kejadian itu. Tidak ada yang membantu mereka sama sekali, kecuali keluarga Angkasa, yang tak lain adalah keluarga Alina.


Itu awal mula keluarga mereka menjadi dekat, bahkan hingga sekarang.


“Bun, Hero masih memiliki banyak pekerjaan yang harus di urus,” kata Hero yang seakan meminta untuk segera mengakhiri sambungan telepon itu.


Hanny yang paham hanya diam untuk beberapa saat, terdengar pula helaan nafas panjang yang Hanny keluarkan.


“Bunda saat ini ada di butik langganan keluarga kita, kamu bisa 'kan untuk jemput bunda?” tanya Hanny langsung.


Hanny memang seorang Disainer, ia juga memiliki butiknya sendiri yang sudah go internasional. Tapi, sebagai Disainer dia menyukai hal-hal baru, bukan berarti ia akan menjiplak karya orang lain, ia akan memakai karya orang lain yang menurutnya cocok.


Dengan begitu, butik orang itu menjadi cukup terkenal dan diminati, karena sebagai seorang Disainer yang namanya sudah tidak asing lagi.


Hanny terkenal dengan kepribadiannya yang sangat menghargai karya orang lain, ia terkenal dan ia hebat dalam bidangnya, tapi ia tidak pernah untuk bersikap sombong ataupun merasa lebih baik dari yang lainnya.


Kini justru Hero yang hanya diam untuk beberapa saat, ia terlihat berfikir dengan sejenak.


“Bunda di sana sendiri?” tanya Hero seakan sedang menebak-nebak.


“Iya, kamu 'kan tahu jika ayah kamu sekarang masih berada di perusahaan. Jadi bunda tentu sendirian,” jawab Hanny.


“Sendirian? tidak ada siapapun yang temani Bunda selain ayah?”


“Kamu ini kayak polisi yang sedang interogasi saja, bunda ini 'kan bukan kriminal yang perlu di interogasi segala,” kini Hanny mencebik kesal.


Hero diam, ia tidak berkata-kata apa-apa.


Hanny yang tidak mendengar suara anaknya akhirnya memilih angkat suara, ”Jadi? mau antar bunda atau nggak?”


“Baiklah,” jawab Hero setelah ia hanya diam.

__ADS_1


#####


__ADS_2