
...~MADINA~...
{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}
.......
.......
.......
Esok harinya setelah bersiap-siap, Madina segera menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama yang lainnya. Karena kejadian kemarin, hari ini di meja makan hanya ada keheningan tanpa suara sama sekali.
Madina merasa bersalah karena ia merasa bahwa ini semua terjadi karena dirinya. Madina melihat paman dan bibinya yang saling diam tanpa obrolan apapun. Sang sepupu alias Syila juga sedari tadi hanya diam memakan makanannya sambil memainkan handphonenya.
Madina merasa tidak nyaman berada di situasi seperti ini, akhirnya Madina memutuskan untuk berpamitan dan bergegas pergi bekerja. Seperti biasa saat menyalami bibi Risma, sang bibi selalu menepis tangannya.
Sesampainya di tempat laundry...
"Assalamu'alaikum, mbak Farah" ucap Madina saat memasuki ruangan
"Wa'alaikumussalam, Madina karena hari ini driver untuk mengantar laundryan sedang ijin cuti, hari ini kamu saya tugaskan untuk mengantar beberapa pakaian laundry ke tempat pemiliknya masing-masing"
"Nanti saya kasih alamat rumahnya, jadi kamu tinggal nganterin aja!" titah Farah
"Baik mbak, nanti mbak panggil saya saja. Saya mau ke belakang dulu untuk nyuci laundryan yang baru masuk" ucap Madina
"Iya, nanti saya panggil kamu kesini kalau udah siap semua" ucap Farah menimpali
Madina melanjutkan jalannya menuju area belakang, area untuk mencuci dan menjemur baju. Belum sampai 30 menit, Farah sudah memanggil Madina untuk segera mengantarkan pakaian-pakaian laundry yang sudah disiapkan.
"Untuk alamatnya kamu tinggal lihat di kertas ini aja, nanti di setiap plastik pakaiannya udah mbak tempel alamatnya juga, jadi pastikan jangan sampai keliru" ucap Farah menjelaskan
"Baik mbak, kalau gitu saya berangkat dulu, assalamu'alaikum" ucap Madina sambil beranjak keluar membawa beberapa plastik berisis pakaian yang siap untuk diantarkan
Madina mengantarkan semua laundryan menggunakan sepeda motor, karena memang tidak terlalu banyak pakaian yang diantar, jadi cukuplah untuk mengantarkannya menggunakan sepeda motor.
Sesampainya di rumah pertama...
"Assalamu'alaikum" ucap Madina saat sudah berada di depan pintu
"Wa'alaikumussalam, ada apa ya mbak?" jawab seseorang saat sudah berada di depan Madina
"Ini bu, saya mau nganterin laundryan" ucap Madina
"Ohh laundryan, iya mbak berapa totalnya?" tanya perempuan itu kembali
__ADS_1
"Totalnya Rp. 54.000,- bu" jawan Madina sambil menyerahkan nota kepada sang perempuan tersebut
"Ini mbak uangnya, kembaliannya buat mbaknya" ucap perempuan tersebut sambil menyodorkan satu lembar uang berwarna merah
"Nggak perlu bu, saya ada kembaliannya kok" ucap Madina tidak enak
"Gapapa mbak, saya ikhlas" ucap perempuan itu lagi
"Terima kasih banyak bu, kalau begitu saya pamit dulu ya bu, assalamu'alaikum" ucap Madina
"Iya, mbak sama-sama, wa'alaikumussalam" balas perempuan tersebut
Madina melanjutkan perjalanannya, sampai akhirnya tidak terasa semua laundryannya sudah diantar dan saatnya untuk Madina kembali dan ingin melanjutkan cucian yang belum beres tadi.
Tiba-tiba...
dorrr....
"Astaghfirullah, ya Allah kenapa dengan motor ini" ucap Madina sambil memberhentikan kendaraannya
"Ya Allah ternyata bocor, aduh gimana ini, minta tolong siapa ya" ucap Madina lirih dengan mengurut kepalanya pelan
"Mana disini sepi banget, ya Allah siapapun tolong bantuin Madina" ucap Madina
Dari kejauhan Madina melihat sebuah mobil sedang berjalan ke arahnya, Madina berinisiatif untuk menghentikan mobil itu agar bisa menolongnya.
"Pak stopp, pak stopp" teriak Madina sambil melambaikan tangannya di pinggir jalan
Alhamdulillah usaha Madina tidak sia-sia, mobil tersebut berhenti di depan Madina. Melihat itu Madina merasa senang dan segera menuju ke arah pengemudi mobil tersebut.
Belum sampai Madina berjalan, tiba-tiba seseorang yang ada di dalam mobil keluar dari tempat pengemudi.
"Kak Umar?" ucap Madina ketika melihat siapa yang keluar dari pintu pengemudi
"Ada apa? kenapa kamu melambaikan tangan?" tanya Umar saat sudah di depan Madina
"Hmm, kak Umar ini ban motor saya bocor, jadi saya tadi niatnya mau minta tolong"
"Tapi kalau kak Umar nggak bisa gapapa kok, nanti biar saya cari bengkel sendiri saja" ucap Madina tidak enak
"Saya bakal anterin kamu, cuma di dekat sini nggak ada bengkel"
"Bengkel lumayan jauh dari sini" ucap Umar dengan pandangan datar
"Gapapa kak, nanti saya cari sendiri aja, takut ngerepotin kak Umar nanti" ucap Madina kembali
__ADS_1
"Gapapa, lagipula kalau nanti umi tau saya nggak bantuin kamu, pasti saya yang dimarahin" ucap Umar
"Hehe, maaf ya kak jadi ngerepotin" ucap Madina tidak enak
"Gapapa, gini aja motor kamu tinggal aja disini, nanti saya hubungin orang buat bawa motor kamu ke bengkel" ucap Umar
"Baik kalau begitu kak, terima kasih banyak, saya nggak tau kalau tadi kakak nggak lewat sini saya minta bantuan siapa lagi" ucap Madina berterima kasih
"Sama-sama. Sekarang kamu ikut saya ke rumah, kata umi beliau kangen dengan kamu" ucap Umar
"Tapi saya nggak enak kak, kalau harus semobil dengan kakak, takut nanti kak Umar nggak nyaman" ucap Madina
"Gapapa, nanti kamu duduk di belakang aja" jawab Umar
"Baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih kak" ucap Madina
"Iya sama-sama, kita berangkat sekarang" ucap Umar
"Iya kak" jawab Madina
Mereka pun akhirnya pergi dari tempat tersebut dan segera menuju ke rumah Annisa. Kenapa ke rumah Annisa?
Karena, umi Laila dan keluarganya kan sedang menginap di rumah Annisa.
Sesampainya di rumah Annisa...
"Assalamu'alaikum" ucap Umar dari arah luar
"Wa'alaikumussalam" jawab seseorang dari dalam
"Madina" ucap seseorang saat sudah membukakan pintu
"Assalamu'alaikum, umi" ucap Madina saat umi Laila berada di depannya
"Wa'alaikumussalam, ayo masuk umi kangen banget sama kamu" ucap umi Laila sambil menarik tangan Madina dan melupakan sang putra yang sedari tadi tidak diperdulikan keberadaannya
"Ekhemm, umi anak umi disini lho" ucap Umar dengan nada datar
"Ehh, umi lupa ayo masuk nak" ucap Umi sambil menarik tangan sang putra kesayangannya tersebut
"Anak sendiri dilupain, tapi orang lain langsung digeret" ucap Umar sambil menekuk wajahnya
"Iya-iya maaf, umi kan kangen sama Madina" ucap Umi sambil mengelus lembut sang anak
Melihat pemandangan itu membuat Madina rindu dengan sang ibu, rindu belaian kasih sayangnya, rindu canda tawanya, rindu semuanya.
__ADS_1
Tetapi, Madina sadar bahwa sekarang ayah dan ibunya sudah bahagia di surga. Madina hanya bisa mendoakan yang terbaik, dan berdoa supaya suatu saat nanti mereka bisa dipersatukan lagi di akhirat, khususnya di surga Allah SWT.