
Winter berkata santai, "Kenapa aku menyusahkan Maxon? Bukankah aku hanya minta bantuannya saja?"
Wajah Jayden tampak muram, "Bantuan? Apa kau tahu identitas asli Stanley Ding? Dia adalah Raja Bawah Tanah Yunjing, putra haram Kenneth Zhuo! Begitu Kenneth Zhuo menghentakkan kakinya, Yunjing pasti akan gempa!"
Mata Winter bersinar terang, "Putra haram Kenneth Zhuo? Tak heran dia sesombong itu, dulu aku hanya mengira bahwa dia kaya saja, ternyata dia adalah Raja Bawah Tanah Yunjing!"
Dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Maxon, malah merasa bahwa ayah kandung Stanley adalah Kenneth, itu artinya ia harus semakin menggenggam Stanley, oleh karena itu ia segera berlari ke sana.
Jayden pun duduk di sofa dengan diam, ia menyulut sepuntung rokok, lalu menghisapnya dalam-dalam.
Maxon menatapnya dengan tenang, lalu berkata pelan, "Aku saja tidak takut, kenapa kau panik?"
Jayden mengangkat kepalanya, wajahnya tampak kusut, "Kak Maxon, kali ini aku tidak bisa membantumu. Bahkan, Nona Tang pun juga tidak dapat membantumu. Level Kenneth Zhuo sama sekali bukanlah tandingan orang-orang seperti kita!"
"Oh, benarkah?" Wajah Maxon tampak tenang, "Level apa?"
Jayden tersenyum pahit, "Kenneth Zhuo ini, adalah murid dari Tuan Ketiga Xu! Apa kau tahu Tuan Ketiga Xu? Orang seperti dewa! God Realm Master! Adiknya, Tuan Keempat Xu, adalah Walikota Yunjing! Tuan Pertama Xu dan Tuan Kedua Xu, adalah orang-orang terhebat kedua dan ketiga di Provinsi K!"
Maxon berkata pelan, "Memangnya kenapa, aku hanya punya satu nyawa saja, apa aku harus takut padanya?"
Jayden meninju meja dengan keras, dan berkata, "Kak Maxon, segera tinggalkan Yunjing, sekarang!"
"Ingin pergi? Sudah tidak sempat lagi!"
Pintu utama didobrak oleh seseorang, segerombolan orang menerobos masuk ke dalam, orang yang memimpin, adalah Stanley Ding yang tadi ditendang oleh Maxon.
Wajah Stanley tampak kesakitan, ia menatap Maxon, lalu berkata dingin, "Kau tidak lari, punya nyali juga! Tapi, kau pasti akan segera menyesalinya!"
"Oh ya? Orang sepertimu, ingin melawanku?" kata Maxon pelan.
Stanley tertawa terbahak-bahak, "Anak tengil, harus kuakui, nyalimu cukup besar, sampai saat ini, kau masih berani beradu mulut denganku! Menarik, aku sedikit kagum padamu."
Winter berdiri di samping Stanley, ia memeluk lengan Stanley, dan merengek manja, "Kak Stanley, tadi aku hanya cemburu saja, siapa suruh kau disukai oleh banyak wanita, begitu banyak wanita di sampingmu, aku tidak suka. Yang kukatakan tadi juga hanya untuk membuatmu cemburu saja, mana mungkin aku menyukai sampah itu."
Jayden berdiri, dan berkata pada Stanley, "Tuan Muda Ding, apa bisa Anda melakukannya dengan ringan?"
Melakukannya dengan ringan? Maxon menyipitkan matanya, tapi tak berkata apa-apa.
Stanley melirik ke arahnya, "Dengan ringan? Boleh, tapi tergantung bagaimana sikapnya!"
Jayden segera berkata, "Tuan Muda Ding memiliki permintaan apa, katakan saja, asalkan Anda tidak marah."
Stanley mengambil sebuah gelas bir yang sangat besar, lalu ia berikan pada Jayden dan berkata, "Pergilah, isi dengan air kencing sampai penuh."
Jayden tercangang, ia melihat gelas bir itu sejenak, lalu menerimanya dengan diam, dan berjalan ke arah toilet. Stanley menyuruh anak buahnya untuk mengikutinya, dan meyakinkan bahwa dia benar-benar kencing ke dalam gelas itu.
Dua menit kemudian, Jayden kembali dengan membawa segelas kencing, tatapan matanya terarah pada Maxon. Jelas sekali, ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Stanley.
__ADS_1
Stanley tertawa terbahal-bahak, menunjuk gelas kencing itu sambil berkata pada Maxon, "Anak tengil, minum kencing itu, maka hari ini aku akan mematahkan dua kakimu saja. Kalau tidak, aku akan membunuhmu hari ini juga!"
Di antara kerumunan orang itu, ada beberapa orang yang hadir di sana, Laurel Sun, Ivan Zhao, serta Xeno Wang yang tadi diusir oleh Maxon.
Xeno tertawa keras, "Sial! Lawan dong, kenapa kau tidak berani melawan Tuan Muda Ding? Sial, cepat minum kencing itu!"
Laurel juga tersenyum dingin, "Maxon, sudah kuduga, mana mungkin Nona Tang bisa menyukaimu? Bagaimana sekarang, inilah nasib yang sudah seharusnya kau terima."
Ekspresi wajah Ivan tampak rumit, ia tidak tahan untuk membujuknya, "Maxon, tahan sedikit demi ketenangan selamanya, setidaknya jauh lebih baik daripada dipukuli sampai mati, minumlah saja."
Serta beberapa teman Maxon dulu, mereka semua menonton kejadian itu dengan asyik, para wanita juga menutupi hidung mereka dengan tangan mereka, rasanya sangat jijik.
Jayden menghela nafas panjang, "Kak Maxon, masalahnya sudah menjadi seperti ini, nyawalah yang terpenting, apa kalau tidak, minum saja?"
Wajah Maxon sama sekali tidak marah, dia tidak bodoh, sejak Xeno muncul tadi, ia tahu bahwa Jayden Lu bukanlah Jayden Lu yang dulu lagi!
Tapi dia tidak mengerti, apakah yang membuatnya berubah menjadi seperti ini? Bagaimanapun, belum lama ini, ia baru saja membantu Keluarga Lu untuk melewati kesulitan mereka.
"Kejadian hari ini, kau yang mengaturnya?" tanya Maxon tenang.
Wajah Jayden berubah muram, "Kak Maxon, aku tidak mengerti apa yang kau katakan! Kita adalah sahabat, aku tidak ingin kua mati, oleh karena itu aku memohon pada Tuan Muda Ding untuk tidak membunuhmu, tapi kau malah bilang aku yang mengaturnya?"
Laurel tertawa, "Aduh, kau pikir kau siapa? Dengan dirimu yang sekarang ini, apa kau pantas untuk dijebak oleh Tuan Muda Lu?"
Stanley berkata dingin, "Kau minum atau tidak?"
Rachel tiba-tiba berkata, "Lebih baik mati daripada dipermalukan, kalian berbuat seperti ini, apakah tidak keterlaluan?"
Dari semua orang, ternyata hanya Rachel Leng yang baru pertama kali bertemu dengan Maxon lah yang membantu Maxon berbicara.
Jayden berkata pelan, "Rachel, jika dibandingkan dengan nyawa, memangnya kalau merasa malu sedikit saja?"
Rachel mengerutkan alisnya, menatap Maxon, dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Brak!"
Tiba-tiba, Stanley berlutut di atas lantai tanpa sebab, Maxon menepuk kepalanya, lalu Stanley pun membuka mulutnya.
Lalu semua orang pun melihat, Maxon memasukkan air kencing itu ke dalam mulutnya.
"Hoek!"
Ada orang yang langsung muntah, ada juga orang yang berlari untuk menghentikan Maxon. Namun belum sampai mereka mendekat, mereka langsung terjatuh ke atas lantai.
"Ada hantu!" Ada orang yang berteriak demikian, dan segera berlari mundur.
Jayden juga terkejut, apa yang terjadi?
__ADS_1
Segelas air kencing itu pun ditegukkan ke dalam mulut Stanley sampai habis, Stanley sangat jijik dan marah, ia berteriak, lalu terkapar di atas lantai dan muntah.
Maxon melemparkan gelas itu ke lantai, lalu bertanya, "Bagaimana rasanya?"
Mana mungkin Stanley bisa bicara, ia terus muntah tanpa henti. Winter juga pergi menjauh dengan jijik, ia tidak berani mendekat.
Jayden tercengang, lalu segera menunjuk Maxon, "Maxon! Apa kau gila, Kenneth Zhuo tidak akan melepaskanmu, kau mati telak, tidak ada orang yang bisa menyelamatkanmu!"
Maxon tidak menghiraukannya, ia mengusap-usap tangannya, lalu kembali duduk di atas sofa, dan berkata tenang, "Telepon saja Kenneth Zhuo, aku ingin melihat Raja Bawah Tanah itu!"
Stanley sudah mengeluarkan handphone-nya, lalu berteriak ke arah handphone-nya itu, "Aku sudah hampir mati, suruh ayahku untuk menyelamatkanku, cepat......"
Rachel menatap Maxon dengan terkejut, kenapa dia sesantai itu, siapa yang memberinya keberanian itu?
Maxon mengeluarkan handphone-nya, dan menelepon Jeffrey, "Kakak Ketiga, apa kau kenal Kenneth Zhuo?"
Jeffrey baru saja selesai menemani putrinya makan, ia tersenyum dan berkata, "Kenneth Zhuo adalah muridku, kenapa, kau kenal dengannya?"
Maxon, "Agak sedikit masalah, sepertinya sebentar lagi, kita akan bertemu. Kalau dia adalah murid Kakak Ketiga, kurasa aku harus berkata pada Kakak Ketiga terlebih dahulu."
Jeffrey mengerutkan alisnya, "Dasar brengsek ini, membuat masalah denganku lagi! Kau sekarang ada di mana, aku akan segera ke sana!"
Maxon memberikan alamatnya, lalu menutup teleponnya.
Jayden mengerutkan alisnya, "Maxon, aku tidak peduli kau menelepon siapa, tidak ada gunanya! Di Yunjing, tidak ada orang yang berani melawan Kenneth!"
Maxon tidak memedulikannya, ia menghisap rokok dengan santai, tatapan matanya tapak dingin.
Rachel duduk, dan berkata, "Bisa beri aku sepuntung rokok?"
Maxon memberinya, dan berkata, "Perempuan merokok mudah menua."
Rachel tersenyum dingin, "Tidak apa-apa, biasanya aku tidak merokok, sekarang merokok hanya untuk menemanimu."
"Menemaniku?" Maxon merasa terkejut.
Rachel, "Sudah lama tidak melihat orang sepertimu, aku menghormati keberanianmu ini."
Maxon tersenyum, "Bisa dilihat, aku ini orang yang sangat terlatih."
Rachel, "Keluarga Leng kami, bisa dibilang setengah keturunan dunia persilatan, tapi aku tiak berbakat, dalam kehidupan ini aku tidak bisa memasuki alam Qi."
Melihat kedua orang itu berbincang-bincang seperti tak terjadi apapun, Xeno pun tertawa dingin, "Sepertinya orang yang akan segera mati pasti akan menggila. Maxon, kusarankan sebaiknya kau menelepon keluargamu, dan mengatakan pesan-pesan terakhirmu."
Laurel, "Benar, sebaiknya kau menelepon keluargamu, kita tidak akan mengurusi pemakamanmu."
"Berisik!"
__ADS_1
Maxon melambaikan tangannya, tiba-tiba, Xeno dan Laurel pun tidak bisa bicara, bibir mereka berdua terbuka, tapi tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Seketika mereka pun tampak ketakutan, apa yan terajadi? Apa Maxon punya ilmu sihir?