Membangun Kota Di Akhir Dunia

Membangun Kota Di Akhir Dunia
BAB 006


__ADS_3

“Kakak ?” Pada saat ini, suara mengantuk dari seorang gadis kecil tiba - tiba terdengar dari dalam ruangan, seolah - olah dia baru saja terbangun.


Wanita yang berada disamping gadis kecil tersebut dengan cepat melangkah maju dan meraih gadis kecil itu untuk menutup mulut sang gadis agar tidak bersuara, dan terus melihat kearah pintu dengan waspada.


Pergerakan diluar pintu langsung berhenti ketika mendengar suara seorang gadis kecil. Dan pada saat yang sama, guntur dan kilat dari kakak perempuan gadis itu terus berdatangan dengan keras, seolah - olah takut bahwa orang - orang diluar pintu memiliki celah untuk melakukan niat jahat terhadap keluarganya.


“Kamu salah paham, kami tidak memiliki niat buruk sama sekali. Kami baru saja mencari tempat yang pas untuk beristirahat malam karena hari sudah mulai gelap, tidak baik untuk melakukan perjalanan di malam hari, dan ada bahaya dimana - mana.” Dean buru - buru berteriak dengan keras agar orang - orang di dalam pintu mendengar suaranya.


Istri Seno dan anaknya, orang tua Dean, dan ketiga anak yang mereka bawa juga berjalan ke dalam. 


Melihat ada wanita hamil, anak - anak, serta orang tua dalam kelompok penyintas di sisi yang berlawanan. Keluarga Alina jelas terkejut, dan akhirnya kekuatan serangan guntur dan kilat berkurang banyak tetapi tetap bertahan untuk berjaga - jaga.


“Maaf mengganggumu, tapi hari ini sudah gelap dan kami tidak bisa pergi terlalu jauh dimalam hari. Jadi jangan khawatir bahwa kami benar - benar tidak memiliki niat buruk sama sekali. Bisakah kamu membiarkan kami tinggal disini untuk satu malam dan kami akan pergi lebih awal besok pagi.” Istri Seno melangkah maju untuk menjadi penengah antara kedua kelompok dan berkata dengan tulus.


Orang - orang di dalam pintu tetap diam.


“Lupakan saja, jangan mempermalukan orang lain dan menakuti anak - anak, mari kita pergi keluar dan berjalan sebentar untuk mencari tempat bermalam.” Ibu Dean juga menanggapi.


Dean menganggukkan kepalanya diam - diam, seluruh keluarga sudah sangat lelah setelah seharian berada dalam perjalanan dan tidak memiliki tenaga untuk berkonflik dengan orang lain. Jadi mereka tidak akan memperdulikan kelompok lain yang ada di dalam gudang dan berbalik untuk pergi mencari tempat lain.


Tepat ketika mereka akan pergi keluar dari pintu gudang, salah satu orang yang berada di dalam pintu berkata, “Kalian tetap disini, tidak ada tempat perlindungan yang aman di sekitar sini.”


Orang yang berbicara jelas adalah seorang gadis.


Setelah gadis itu berbicara, dia menutup pintu ruangan kecil. Semua orang tau bahwa artinya dia dan orang - orang di dalam menerima berbagi tempat untuk bermalam tapi tidak ingin saling mengganggu satu sama lain.


Dean dan kelompoknya menghela nafas lega, semua orang sudah lelah dan mereka benar - benar tidak memiliki tenaga lagi untuk mencari tempat bermalam lainnya.


Mereka menemukan salah satu sudut untuk menetap, Dean dan kelompoknya mengeluarkan makanan kering dan sebotol air dari tas mereka.

__ADS_1


Setiap orang memiliki sepotong makanan kering dan setiap orang hanya bisa meminum seteguk air.


Ketiga pria muda dalam kelompok, Dean, Seno, dan Dino. Makan sambil berdiskusi tentang siapa yang menjaga di paruh pertama, kedua, dan ketiga malam.


Pada saat ini, orang - orang di dalam pintu juga berjaga - jaga dengan waspada, dan dari waktu ke waktu menempelkan telinga ke pintu untuk mendengar gerakan - gerakan dari orang di luar.


“Lina, ada begitu banyak orang di pihak mereka, apakah berbahaya bagi kita jika mereka tetap tinggal ?” Ibu Alina berbicara dengan lemah.


Lina yang disebut adalah Alina yang belum lama ini meninggalkan Kota Harapan. Dia kembali ke pangkalan untuk membawa ayah, ibu serta saudara perempuannya keluar dari pangkalan dan pindah ke Kota Harapan. Butuh banyak usaha untuk membawa keluarganya pindah kesana, tetapi untungnya Alina menemukan sebuah mobil yang dapat dikendarai untuk sementara waktu.


Butuh dua hari untuk melakukan perjalanan dari pangkalan ke Kota Harapan, dan mobil benar - benar kehabisan bahan bakar dan di serang habis - habisan oleh tanaman mutan.


Ketika langit sudah mulai gelap, jarak antara Alina dan keluarganya saat ini dengan Kota Harapan masih cukup jauh. Jadi keluarga mereka hanya bisa menghabiskan satu malam lagi di perjalanan.


Melihat bahwa kelompok orang diluar masih membawa wanita hamil, anak - anak, dan orang tua. Dia sedikit tidak tega membiarkan mereka keluar untuk mencari tempat bermalam lain. Sudah gelap, dan jika orang - orang itu mencari tempat lain di luar, bukan kah itu sama saja dengan membunuh mereka. 


Alina memandang lagi gadis kecil pemalu diantara sekelompok orang itu, dan wanita hamil dengan perut yang besar. Alina menghela nafas, sepertinya mereka adalah orang - orang baik yang tidak akan meninggalkan kerabat demi sepotong makanan kering.


“Itu tidak mungkin, kita adalah satu keluarga, bagaimana bisa aku meninggalkanmu dan ayah disana untuk menderita ? kita harus selalu bersama.” Alina kata dengan tegas, keluarga adalah garis bawahnya sampai kapanpun.


“Kakak sangat kuat, dia pasti bisa mengusir orang jahat.” Gadis kecil di ruangan itu berkata sambil mengangkat tinju kecilnya, matanya dipenuhi dengan rasa kepercayaan terhadap sang kakak.


Setelah berbicara, gadis kecil itu mengeluarkan setengah dari kue bunga yang dibawa kakaknya ketika keluar sebelumnya (kue yang diberikan oleh Walikota Althea), dia dengan enggan merobek sepotong kue di tangannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya, gadis kecil itu menyipitkan matanya dengan gembira merasakan kue bunga yang lezat di dalam mulutnya.


Ibu Alina tersenyum dengan lembut melihat putri kecilnya makan dengan gembira, dan menepuk pelan kepala putrinya, berharap bahwa tempat yang dijelaskan oleh sang putri sulung benar - benar akan sangat baik sehingga keluarga mereka tidak perlu khawatir sepanjang hari, dan putri sulungnya tidak perlu bekerja keras untuk mereka sepanjang waktu.


“Kakak, apakah wanita cantik yang kamu sebutkan benar - benar dapat menyulap makanan dan membiarkan kita tinggal dirumah yang indah ?” Gadis kecil itu bertanya dengan nada yang penuh antisipasi.


Alina mengangguk dan menjawab, “Itu benar.”

__ADS_1


Ketika mereka pergi tidur di malam hari, gadis kecil itu tertidur dengan senyum kecil di bibirnya, memimpikan kue bunga yang tidak ada habisnya dan tenda baru untuk keluarga mereka yang terdiri dari empat orang tinggal.


Di pagi hari, kedamaian pagi pecah oleh suara - suara berisik dari orang - orang di luar.


“Itu tikus bunga.” Pada saat ini, Seno, yang sedang bergiliran untuk menjaga malam melihat bayangan - bayangan hitam dari kejauhan yang berlari ke arah mereka, dan berteriak untuk membangunkan kelompoknya dan kelompok orang - orang di dalam pintu dengan penuh peringatan.


Teriakan keras Seno membangunkan semua orang yang berada di dalam gudang termasuk keluarga Alina.


Pada hari - hari terakhir, binatang mutan yang lebih kecil lebih sulit untuk dihadapi, karena mereka sering muncul dalam kelompok.


Alina dan keluarganya juga mendengar apa yang terjadi diluar, wajah mereka berubah drastis dan mereka dengan cepat berkemas dan bersiap untuk pergi.


Ada ketukan diluar pintu, Dean, yang berdiri di depan pintu berkata, “Ada tikus mutan di luar dan sedang menuju ke arah gudang ini.”


Alina tertegun dan tidak berharap bahwa Dean akan datang untuk mengingatkan mereka.


“... Terima kasih.”


Dean tidak banyak berbicara dan pergi dengan tergesa - gesa. 


Ketika Alina berkemas dan membawa keluarganya keluar dari gudang, Dean dan rombongannya telah pergi dari gudang. Melihat tikus mutan yang semakin dekat, Alina tidak bisa menahan perasaan mati rasa di kulit kepalanya.


Kekuatan guntur dan kilat menyala di tangannya, siap untuk menghadapi kerumunan tikus mutan dengan putus asa, ada butiran halus keringat di dahinya yang menandakan bahwa dia sangat gugup, dia telah melindungi keluarganya dua hari terakhir dan dia menderita banyak luka, tapi dia merahasiakannya. 


Tadi malam, ketika dia menghadapi Dean, itu sudah menjadi akhir dari pertempuran yang dapat dia tanggung. Dan sekarang, dia merasa lebih tidak berdaya untuk berurusan dengan begitu banyak tikus mutan sendirian, dan dia sudah mulai berfikir tentang bagaimana caranya dia mengirim orang tua dan saudara perempuannya pergi jauh dari tempat ini dan menghindari tikus mutan.


“Masuk ke mobil.” Saat Alina sedang berfikir tentang bagaimana caranya keluar dari masalah ini, dia mendengar suara disertai klakson minibus yang tidak jauh, dan Dean menjulurkan kepalanya dari kursi pengemudi.


Tertegun selama beberapa saat, Alina tanpa ragu membawa orang tua dan saudara perempuannya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dan tikus mutan dibelakangnya mencium bau daging dari mobil itu kemudian mengejarnya.


__ADS_2